Lanjutan Estafet Pertanian: Prof. Pattiselano Kembali Pimpin Fakultas Pertanian Unpatti 2025-2029

Share:

Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon kembali mengukuhkan komitmennya terhadap sektor pertanian maritim di Indonesia Timur. Melalui proses pemilihan yang demokratis, Prof. Dr. Ir. August Erenst Pattiselano, M.Si., resmi terpilih kembali untuk memimpin Fakultas Pertanian (Faperta) Unpatti sebagai Dekan untuk periode kedua, 2025-2029.

Pemilihan kembali ini bukan hanya sekadar suksesi jabatan, melainkan sebuah mandat kepercayaan yang kuat dari seluruh civitas akademika Faperta Unpatti untuk melanjutkan transformasi dan pengembangan yang telah dirintisnya pada periode sebelumnya.

Lintasan Karier dan Kompetensi Inti: Fondasi Visi Strategis

Profil Prof. Dr. Ir. August Ernst Pattiselanno MSi tidak dapat dipahami secara mendalam tanpa melacak lintasan akademik dan profesionalnya yang membentang dari awal karier hingga mencapai posisi puncak sebagai Dekan Fakultas Pertanian (FAPERTA) Universitas Pattimura (Unpatti). Latar belakang multidimensionalnya, yang merangkum ilmu sosial, teknik pertanian, dan manajemen, menjadi fondasi intelektual yang kokoh bagi visi strategis yang ia bangun. Kelahirannya di Manado pada tanggal 21 Agustus 1969 menempatkannya dalam generasi yang menyaksikan transformasi besar-besaran dalam sistem pendidikan dan pembangunan nasional, sebuah konteks yang mungkin mempengaruhi pemikiran dan pendekatannya dalam kepemimpinan akademis.

Lintasan pendidikannya merupakan cerminan dari minat intelektualnya yang luas dan berorientasi pada solusi praktis. Ia memulai dengan gelar Sarjana Sosiologi Pedesaan dari Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado pada tahun 1992. Pilihan disiplin ilmu ini bukanlah kebetulan; ia menunjukkan adanya ketertarikan awal pada analisis struktur sosial, budaya, dan ekonomi di tingkat pedesaan, yang kemudian menjadi landasan bagi pemahamannya tentang tantangan pertanian di Indonesia. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikannya ke jenjang Magister dengan gelar Magister Manajemen dan Sumberdaya dari Unsrat Manado pada tahun 2002. Pendidikan ini memberinya alat-alat manajerial dan strategis untuk mengelola sumber daya secara efektif, sebuah keterampilan yang sangat vital bagi seorang administrator universitas seperti dekan. Terakhir, ia meraih gelar Doktor dalam bidang Sosiologi Pedesaan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 2008. Gelar doktor ini memperdalam pemahamannya tentang dinamika sosial di pedesaan, menjadikannya seorang ahli dalam konteks sosio-ekonomi pertanian. Gabungan dari tiga gelar ini—Sosiologi Pedesaan, Manajemen, dan Sosiologi Pedesaan lagi—menciptakan sebuah perspektif unik yang tidak hanya memahami aspek teknis pertanian tetapi juga konteks sosial, politik, dan budayanya. Keahlian ini sangat relevan dengan konsep ‘Pertanian Kepulauan’ yang ditekankan dalam strategi fakultas, karena pertanian kepulauan tidak bisa dilepaskan dari kearifan lokal, struktur sosial masyarakat adat, dan hubungan antar pulau yang kompleks.

Sejak tahun 1993, Prof. Pattiselanno telah aktif mengajar di Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian (Sosek) dan Jurusan Budidaya Pertanian di FAPERTA Unpatti, serta di Program Studi Magister Agribisnis. Keberadaannya di kelas menunjukkan komitmennya terhadap fungsi pendidikan inti universitas. Mata kuliah yang ia ampukan bersifat multidisipliner dan berorientasi analitis, mencakup Sosiologi Pedesaan, Kajian Agraria, Perubahan Sosial, Metodologi Penelitian Sosial, Filsafat dan Metodologi Penelitian, dan Modal Sosial. Pilihan mata kuliah-mata kuliah ini secara eksplisit mencerminkan latar belakang akademiknya dan menunjukkan bahwa ia ingin membangun kapasitas intelektual mahasiswa dalam memahami realitas pertanian di luar sekadar aspek teknis. Dengan mengajarkan metodologi penelitian, ia tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga menanamkan semangat kritis dan inovatif di kalangan mahasiswanya. Kemampuannya untuk mengajar berbagai topik ini menunjukkan fleksibilitas intelektual dan kedalaman pemahaman yang ia miliki, yang esensial untuk memimpin sebuah fakultas dengan beragam jurusan dan prodi.

Namun, keunggulan Prof. Pattiselanno yang paling signifikan terletak pada rekam jejaknya dalam penelitian dan konsultasi kebijakan yang berdampak nyata. Pengalamannya sebagai ketua atau anggota tim dalam proyek-proyek strategis menunjukkan kemampuannya untuk mentranslasikan pengetahuan akademis menjadi produk kebijakan dan rekomendasi praktis yang dapat ditindaklanjuti. Salah satu proyek terbesarnya adalah Masterplan Pertanian Maluku pada tahun 2019, sebuah inisiatif yang bertujuan untuk merumuskan arah strategis pembangunan pertanian di wilayah administratifnya sendiri, Maluku. Proyek ini menuntut analisis mendalam terhadap potensi sumber daya, tantangan struktural, dan peluang pasar, yang sejalan dengan keahliannya dalam sosiologi dan manajemen. Selain itu, ia juga terlibat dalam penyusunan Dokumen Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Kabupaten Maluku Barat Daya pada tahun 2020. KLHS adalah instrumen penting dalam perencanaan pembangunan berkelanjutan yang memastikan bahwa aspek lingkungan dan sosial dievaluasi secara sistematis. Partisipasinya dalam proyek ini menegaskan komitmennya terhadap pertanian yang berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan iklim. Proyek lain yang ia pimpin adalah Penyusunan Peta Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan pada tahun 2021. Inisiatif ini memiliki implikasi strategis yang besar, terutama dalam konteks ketahanan pangan nasional. Kemampuannya untuk memimpin proyek-proyek sebesar ini menunjukkan bahwa ia bukan sekadar teoretisi, melainkan seorang pragmatis yang efektif. Ia memiliki kredensial untuk tidak hanya merancang agenda, tetapi juga memvalidasi dan mengimplementasikannya, sebuah kualitas yang sangat dicari dalam kepemimpinan akademis modern.

Secara keseluruhan, latar belakang akademik dan karier Prof. Pattiselanno membentuk narasi seorang pemimpin visioner yang didasari oleh nilai-nilai etis dan moral. Ia tidak hanya memiliki kredensial intelektual yang kuat, tetapi juga rekam jejak yang terbukti dalam menghasilkan dampak nyata bagi pembangunan pertanian. Keahliannya dalam analisis sosial-ekonomi dan pengalaman praktis dalam penelitian kebijakan adalah prasyarat mutlak untuk mengimplementasikan agenda-agenda kompleks seperti ‘Pertanian Kepulauan’ atau Revitalisasi Komoditas Unggulan Maluku. Ia memiliki kredensial untuk tidak hanya merancang, tetapi juga memvalidasi dan mengimplementasikan program-program yang ia pimpin. Ini adalah fondasi yang kuat yang akan ia gunakan untuk memimpin FAPERTA Unpatti menuju era baru yang lebih transformatif dan berdampak.

Visi Kepemimpinan Periode 2025–2029: Narasi Transformasional Berbasis Nilai

Penetapan Prof. Dr. Ir. August Ernst Pattiselanno MSi sebagai Dekan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura untuk periode 2025-2029 bukanlah sekadar seremoni administratif, melainkan momen penetapan amanah yang disampaikan melalui pidato-pidato yang sarat makna. Wawasannya menunjukkan bahwa ia memandang kepemimpinan akademik bukan sebagai sekadar posisi formal, melainkan sebagai sebuah kepercayaan moral dan profesional yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab untuk mendorong perubahan yang nyata dan berkelanjutan. Narasi kepemimpinannya didasarkan pada tiga pilar fundamental yang saling terkait erat: penguatan kolaborasi internal, peningkatan kualitas Tridharma, dan alignment dengan visi strategis universitas yang lebih luas. Pendekatan ini menempatkannya sebagai seorang pemimpin proaktif yang tidak hanya menerima amanah, tetapi juga secara aktif merumuskannya kembali dengan bahasa yang bernuansa nilai dan strategis.

Pilar pertama dari visi kepemimpinannya adalah penguatan kolaborasi inter-departemen. Di tengah kompleksitas isu-isu pertanian modern yang sering kali melampaui batas disiplin ilmu, Prof. Pattiselanno menyoroti pentingnya sinergi dan kerja sama yang solid di antara unit-unit internal fakultas. Ini adalah respons langsung terhadap tantangan umum di institusi akademis di mana silo-silo departemen dapat menghambat inovasi dan efisiensi. Dengan menekankan kolaborasi, ia berharap dapat menciptakan lingkungan akademik yang lebih kooperatif, di mana dosen dan staf dapat berbagi pengetahuan, sumber daya, dan ide untuk menghasilkan karya-karya yang lebih berkualitas dan relevan. Ini adalah langkah fundamental untuk membangun fondasi institusional yang kuat sebelum bergerak ke langkah-langkah eksekusi yang lebih canggih.

Pilar kedua adalah peningkatan kualitas Tridharma, yaitu Tri Dharma Perguruan Tinggi yang mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Ini adalah fungsi inti setiap universitas, dan Prof. Pattiselanno menegaskan komitmennya untuk meningkatkan kualitas ketiganya secara bersamaan. Untuk pendidikan, ini berarti tidak hanya mengedepankan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat, tetapi juga memastikan proses pembelajaran yang inovatif dan siswa yang berkualitas. Untuk penelitian, ini berarti mendorong publikasi internasional, pengembangan riset yang berdampak, dan kolaborasi dengan lembaga penelitian lain. Dan untuk pengabdian kepada masyarakat, ini berarti memastikan bahwa hasil penelitian dan keahlian para dosen dapat diimplementasikan untuk memberikan solusi nyata bagi masalah-masalah yang dihadapi oleh petani dan masyarakat pedesaan. Peningkatan Tridharma ini menjadi mesin penggerak utama bagi kemajuan fakultas dan kontribusinya terhadap pembangunan.

Pilar ketiga dan yang paling strategis adalah memastikan semua unit di dalam fakultas selaras dengan visi dan misi Universitas Pattimura secara keseluruhan. Prof. Pattiselanno secara eksplisit menyatakan bahwa tujuan akhir dari semua upaya ini adalah untuk meningkatkan kontribusi FAPERTA terhadap pembangunan pertanian di tingkat regional dan nasional. Ini menunjukkan adanya kesadaran strategis bahwa kesejahteraan sebuah fakultas tidak dapat dipisahkan dari kesejahteraan institusi induknya dan, yang lebih penting lagi, dari urgensi pembangunan daerah dan negara. Dengan melakukan alignment, ia berusaha memastikan bahwa setiap aktivitas di FAPERTA—mulai dari penelitian, pengajaran, hingga pengabdian—secara langsung mendukung tujuan-tujuan yang lebih besar, sehingga menciptakan efisiensi dan fokus yang maksimal. Pendekatan ini mengubah fakultas dari sekumpulan unit yang bekerja secara independen menjadi sebuah organisasi yang terintegrasi dan bergerak ke arah yang sama.

Selain ketiga pilar utama tersebut, Prof. Pattiselanno juga menunjukkan pendekatan manajerial yang partisipatif dan desentralisasi tanggung jawab. Dalam pidatonya saat mengukuhkan para Koordinator Program Studi untuk periode 2025-2029, ia menekankan beberapa hal penting yang menunjukkan tingkat kepercayaan dan harapan yang tinggi kepada manajemen level bawah. Ia meminta para Koordinator Prodi untuk memahami visi dan misi fakultas, yang berarti mereka bukan sekadar administrator rutin, tetapi harus menjadi duta dan pelaku transformasi yang sadar akan tujuan besar. Lebih lanjut, ia meminta mereka untuk mengelola sumber daya yang ada secara optimal, sebuah tantangan yang menuntut kreativitas dan efisiensi. Ia juga mendorong mereka untuk terus berinovasi dan beradaptasi demi kemajuan akademik dan kesejahteraan mahasiswa, yang menunjukkan keyakinan bahwa inovasi berasal dari berbagai level dalam organisasi. Terakhir, ia menekankan perlunya menjalankan tugas dengan penuh dedikasi dan profesionalisme, yang merupakan standar etis yang tinggi untuk para pemimpin akademik. Pendekatan ini, jika berhasil diimplementasikan, berpotensi menciptakan lingkungan yang lebih demokratis dan bersemangat, di mana setiap unit merasa memiliki peran dan tanggung jawab dalam pencapaian visi kolektif.

Narasi kepemimpinan Prof. Pattiselanno ini, yang berpusat pada amanah, kolaborasi, Tridharma, dan alignment strategis, menempatkannya sebagai seorang visioner akademis. Ia tidak hanya memikirkan cara-cara untuk mengelola fakultas secara efisien, tetapi juga bagaimana memposisikan fakultas sebagai agen perubahan yang progresif. Dengan menekankan aspek moral dan profesional dari kepemimpinan, ia menetapkan tone dan budaya baru yang diharapkan dapat menginspirasi seluruh komunitas FAPERTA untuk bekerja sama mencapai tujuan yang lebih besar. Visi ini, meskipun masih bersifat umum dan strategis, memberikan cetak biru yang jelas mengenai arah kepemimpinannya selama lima tahun ke depan. Keberhasilannya akan bergantung pada kemampuannya untuk mentranslasikan visi abstrak ini menjadi program-program konkret dan indikator kinerja yang terukur.

Evolusi Agenda Strategis: Dari Implementasi Dasar Menuju Optimisasi Institusional

Membandingkan kepemimpinan Prof. Dr. Ir. August Ernst Pattiselanno MSi antara periode pertamanya (2021–2025) dan rencana untuk periode keduanya (2025–2029) mengungkapkan sebuah narasi evolusi strategis yang signifikan. Analisis ini menunjukkan bahwa periode pertama lebih bersifat fase implementasi dan penataan fondasi, sementara periode kedua berfokus pada optimisasi strategis, eksekusi lanjutan, dan penguatan kolaborasi. Transisi ini bukanlah perubahan fundamental, melainkan sebuah perkembangan logis yang menunjukkan pemahaman yang matang terhadap dinamika institusional dan kebutuhan ekosistem pertanian yang lebih luas.

Periode pertama kepemimpinannya, yang dimulai pada Desember 2021, dapat dikategorikan sebagai fase fondasi dan penataan struktural. Pelantikan dirinya sebagai Dekan menggantikan Prof. Dr. Ir. J.M. Matinahoru dilakukan oleh Rektor Unpatti Prof. Dr. M.J. Saptenno pada 28 Desember 2021. Pada saat itu, fokus utama tampaknya adalah membangun kembali dan menata ulang struktur manajerial fakultas agar siap menjalankan visi baru. Sambutan Rektor Unpatti pada acara pelantikan saat itu memberikan gambaran jelas mengenai tiga pilar strategis yang diamanatkan untuk FAPERTA: (1) pengembangan konsep ‘Pertanian Kepulauan’ yang dirancang khusus untuk wilayah Timur Indonesia, (2) peningkatan minat calon mahasiswa melalui sosialisasi aktif ke sekolah-sekolah menengah, dan (3) penataan organisasi internal untuk mendukung implementasi delapan indikator kinerja utama Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) serta penerapan Tridharma yang inovatif. Fase ini tentu saja krusial. Tanpa fondasi yang kokoh—baik dalam hal struktur organisasi, personel manajerial, maupun posisi strategis fakultas dalam ekosistem pendidikan tinggi—visi-Visi besar seperti MBKM atau ‘Pertanian Kepulauan’ tidak akan bisa direalisasikan. Oleh karena itu, periode 2021-2025 adalah waktu yang penting untuk memastikan semua blok bangunan sudah berdiri dengan baik.

Berbeda dengan periode pertama, Prof. Pattiselanno yang kini menjabat untuk periode 2025-2029 tampaknya melompati tahap penataan struktur dasar dan langsung masuk ke tahap operasionalisasi dan optimisasi visi yang telah dirumuskan. Pidatonya yang baru-baru ini (September 2025) menunjukkan kesadaran bahwa struktur manajerial sudah ada, dan tugasnya kini adalah memaksimalkan potensi dari fondasi yang telah dibangun. Analisis perbandingan ini mengidentifikasi beberapa indikator evolusi agenda yang signifikan.

Indikator pertama adalah pergeseran dari visi umum ke eksekusi spesifik. Di periode pertama, ‘Pertanian Kepulauan’ adalah sebuah visi yang diamanatkan oleh atasan dan menjadi tema besar yang harus dikembangkan. Namun, di periode kedua, visi ini digarisbawahi kembali, namun kali ini dengan menyebutkan contoh-contoh implementasi yang lebih konkret, seperti pengembangan agropolitan berbasis kearifan lokal. Perubahan ini menandakan pergeseran dari tahap pendefinisian konsep menjadi pencarian model-model implementasi praktis yang sesuai dengan kondisi lokal. Ini menunjukkan bahwa Prof. Pattiselanno memahami bahwa untuk ‘Pertanian Kepulauan’ menjadi nyata, ia harus ditranslasikan ke dalam program-program yang dapat diukur dan diterapkan.

Indikator kedua adalah pergeseran dari fokus internal ke alignment eksternal yang lebih intensif. Di periode 2021-2025, fokus utama tampaknya adalah penataan organisasi internal, seperti pelantikan Ketua Jurusan dan Koordinator Program Studi, serta mempersiapkan mekanisme untuk MBKM. Namun, di periode 2025-2029, fokusnya bergeser ke arah membangun dan memperkuat sinergi dengan ekosistem yang lebih luas. Hal ini tercermin dari pidatonya yang menyebutkan pentingnya alignment antara Fakultas Pertanian UNPATTI dan agenda-agenda pertanian nasional dan regional, seperti kebijakan food estate Presiden Prabowo Subianto, Revitalisasi komoditas unggulan Provinsi Maluku (pala, cengkeh, sagu), dan pengembangan agropolitan. Pergeseran ini menunjukkan pemahaman yang matang bahwa keberhasilan sebuah fakultas pertanian tidak hanya bergantung pada internalisasi, tetapi juga pada kemampuannya untuk berintegrasi dan berkontribusi pada agenda pembangunan yang lebih besar. Ini adalah tanda kepemimpinan yang lebih dewasa dan strategis.

Indikator ketiga adalah evolusi dari pendekatan manajemen. Di periode pertama, mungkin lebih dominan pendekatan top-down, di mana visi dan arahan datang dari atas. Namun, di periode kedua, pendekatannya tampak lebih partisipatif dan desentralisasi tanggung jawab. Pidato pengukuhan Koordinator Prodi pada Februari 2025 secara eksplisit meminta mereka untuk “memahami visi dan misi,” “mengelola sumber daya secara optimal,” dan “terus berinovasi”. Permintaan ini menunjukkan adanya kepercayaan yang lebih besar kepada manajemen level bawah dan pengakuan bahwa mereka adalah ujung tombak dari implementasi visi. Ini adalah perubahan pola pikir yang penting, di mana pemimpin tidak hanya memberikan arahan, tetapi juga mendorong dan memfasilitasi inisiatif dari bawah.

Meskipun tidak ada data kuantitatif yang tersedia untuk mengevaluasi pencapaian target-target periode pertama—seperti apakah target peningkatan peminat mahasiswa tercapai atau efektivitas program MBKM—analisis kualitatif ini memberikan gambaran yang jelas mengenai evolusi strategis Prof. Pattiselanno. Ia tampaknya menggunakan periode pertamanya untuk membangun fondasi institusional yang stabil dan memposisikan FAPERTA di bawah payung visi yang jelas. Sekarang, dengan fondasi yang kokoh, ia berfokus pada eksekusi yang lebih canggih, kolaborasi eksternal yang lebih intensif, dan pemberdayaan manajemen level bawah untuk mencapai hasil yang lebih signifikan dan berdampak. Transisi ini menunjukkan kemampuan adaptif dan strategis seorang pemimpin yang terus berevolusi untuk menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

Sinergi Strategis: Integrasi Fakultas Pertanian Unpatti dengan Agenda Pembangunan Regional dan Nasional

Salah satu aspek paling menonjol dari visi kepemimpinan Prof. Dr. Ir. August Ernst Pattiselanno MSi adalah komitmennya untuk mengintegrasikan Fakultas Pertanian Unpatti secara erat dengan agenda pembangunan pertanian di tingkat provinsi dan nasional. Ini menunjukkan pemahaman yang mendalam bahwa peran universitas tidak boleh terisolasi, melainkan harus menjadi mitra strategis dalam mewujudkan visi pembangunan yang lebih luas. Analisis terhadap pidatonya dan kegiatan yang ia hadiri mengungkapkan adanya keselarasan yang kuat antara prioritas fakultasnya dengan kebijakan-kebijakan yang sedang gencar diterapkan oleh pemerintah pusat dan daerah, terutama di wilayah Maluku.

Ketika Prof. Pattiselanno menghadiri acara pelantikan DPC IKAPATTI Fakultas Pertanian Unpatti pada Mei 2025, ia secara aktif menyoroti pentingnya penyelarasan antara universitas dengan agenda-agenda pertanian yang lebih besar. Acara ini menjadi platform untuk menunjukkan bahwa FAPERTA Unpatti tidak hanya berfokus pada kepentingan internalnya, tetapi juga secara sadar menyesuaikan diri dengan konteks eksternal yang lebih luas. Ia menyebutkan secara spesifik tiga elemen utama dari agenda tersebut: (1) kebijakan Food Estate yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto, (2) Revitalisasi komoditas unggulan Provinsi Maluku yang difokuskan pada pala, cengkeh, dan sagu, serta (3) pengembangan model agropolitan yang berbasis pada kearifan lokal. Penyebutan ketiga agenda ini secara simultan menunjukkan bahwa ia tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga secara strategis memilih area-area yang memiliki potensi dampak tertinggi.

Hubungan dengan kebijakan Food Estate adalah contoh paling jelas dari sinergi ini. Food Estate adalah program strategis nasional yang bertujuan untuk meningkatkan produksi pangan dan menjaga ketahanan pangan nasional. Meskipun program ini seringkali menjadi subjek perdebatan, keberadaannya memberikan momentum dan fokus yang besar pada isu-isu pertanian skala besar. Dengan secara eksplisit menyebutkan kebijakan ini, Prof. Pattiselanno menempatkan FAPERTA Unpatti sebagai entitas yang siap berkontribusi pada agenda nasional tersebut. Fakultasnya, dengan keahlian dalam sosiologi pedesaan, agraria, dan manajemen, dapat memberikan analisis kritis, dukungan teknis, dan pengembangan kurikulum yang relevan untuk mendukung implementasi Food Estate, baik dalam aspek teknis pertanian maupun dampak sosial-ekonominya terhadap masyarakat lokal.

Lebih spesifik lagi, penyebutan Revitalisasi Komoditas Unggulan Maluku—pala, cengkeh, dan sagu—menunjukkan pemahaman yang tajam terhadap kebutuhan ekonomi regional. Komoditas-komoditas ini bukan hanya produk pertanian, tetapi juga identitas ekonomi dan budaya bagi masyarakat Maluku. Prof. Pattiselanno memahami bahwa revitalisasi tidak hanya soal peningkatan produktivitas, tetapi juga soal membangun rantai nilai, memperluas akses pasar, dan mempromosikan produk-produk ini secara lebih luas. Dengan menempatkan prioritas ini di atas meja, ia memberikan sinyal kuat bahwa FAPERTA Unpatti siap menjadi pusat inovasi dan penelitian untuk mengatasi tantangan-tantangan spesifik yang dihadapi oleh komoditas-komoditas ini. Ini bisa berupa pengembangan varietas baru yang lebih tahan hama, teknologi budidaya yang lebih efisien, atau analisis pasar untuk meningkatkan nilai jual produk.

Terakhir, fokusnya pada pengembangan agropolitan berbasis kearifan lokal adalah manifestasi dari filosofi ‘Pertanian Kepulauan’ yang ia tekankan. Konsep agropolitan berusaha mengintegrasikan sektor pertanian dengan sektor non-pertanian (industri, jasa, pariwisata) dalam suatu kawasan untuk menciptakan kesejahteraan yang holistik. Dengan menekankan ‘berbasis kearifan lokal’, Prof. Pattiselanno menunjukkan pendekatan yang humanis dan berkelanjutan. Ini berarti pengembangan agropolitan tidak hanya didasarkan pada modernisasi dan efisiensi, tetapi juga pada pelestarian budaya, nilai-nilai sosial, dan pengetahuan tradisional masyarakat. Keahlian Prof. Pattiselanno dalam sosiologi pedesaan sangat cocok untuk memimpin inisiatif semacam ini, karena ia mampu memahami dinamika sosial, struktur kepemilikan lahan, dan hubungan antar komunitas yang menjadi tulang punggung dari kearifan lokal. Ini adalah pendekatan yang berpotensi memberikan solusi pertanian yang lebih adaptif dan berkelanjutan untuk kondisi geografis kepulauan Indonesia yang unik.

Dengan memposisikan FAPERTA Unpatti dalam konteks sinergi ini, Prof. Pattiselanno secara efektif menciptakan peluang bagi fakultas untuk mendapatkan dukungan finansial, kolaborasi dengan lembaga pemerintah, dan relevansi yang lebih tinggi. Ini juga memberikan konteks yang jelas bagi mahasiswa dan dosen, sehingga penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dapat secara langsung berkontribusi pada solusi nyata bagi masalah-masalah yang dihadapi oleh provinsi dan negara. Sinergi strategis ini bukan hanya tentang keuntungan institusional, tetapi juga tentang memastikan bahwa Fakultas Pertanian Unpatti benar-benar menjadi bagian integral dari mesin pembangunan pertanian di Indonesia Timur.

Evaluasi Potensial dan Gaps Informasi dalam Rencana Strategis

Meskipun visi dan rencana strategis yang dikemukakan menunjukkan arah yang jelas dan ambisi yang tinggi, sebuah evaluasi yang komprehensif dan objektif memerlukan pengakuan terhadap celah informasi (gaps) yang ada dalam sumber informasi yang tersedia. Teridentifikasi beberapa area ketidakpastian yang signifikan yang perlu dipertimbangkan untuk memahami sepenuhnya potensi dan tantangan yang akan dihadapi oleh Fakultas Pertanian Unpatti selama periode 2025-2029. Tanpa data tambahan, evaluasi terhadap efektivitas kepemimpinannya akan tetap bersifat parsial.

Pertama, area ketidakpastian yang paling krusial adalah hasil kinerja dan pencapaian target selama periode kepemimpinan yang pertama, yaitu 2021–2025. Tidak ada informasi yang tersedia mengenai apakah target-target yang ditetapkan saat itu berhasil dicapai. Misalnya, apakah upaya untuk meningkatkan minat mahasiswa berhasil menaikkan jumlah pendaftar atau lulusan? Seberapa efektif program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) terintegrasi ke dalam kurikulum dan apa dampaknya terhadap kesiapan kerja lulusan? Data kuantitatif seperti angka pendaftar, angka lulusan, indeks prestasi rata-rata, jumlah publikasi internasional, atau alokasi anggaran penelitian selama periode tersebut sangat diperlukan untuk mengevaluasi efektivitas strategi implementasi di awal. Tanpa data ini, sulit untuk menilai apakah transisi ke fase optimisasi di periode kedua ini didasarkan pada fondasi yang benar-benar kuat atau apakah ada tantangan yang belum terselesaikan dari masa lalu.

Kedua, visi strategis Prof. Pattiselanno, meskipun kuat secara konseptual, masih bersifat umum dan strategis. Sumber yang ada memberikan garis besar prioritas seperti penguatan Tridharma, kolaborasi, dan alignment dengan agenda nasional dan regional. Namun, detail program kerja yang spesifik untuk setiap tahun dalam periode 2025-2029 masih belum tersedia. Rencana aksi yang konkret—termasuk alokasi anggaran yang dialokasikan untuk setiap prioritas, rencana penelitian prioritas yang diidentifikasi, program pengabdian masyarakat yang dirancang secara rinci, dan strategi pemasaran untuk meningkatkan peminat—dibutuhkan untuk mengubah visi menjadi kenyataan. Tanpa dokumen Rencana Kerja dan Anggaran atau Rencana Induk Fakultas yang lebih rinci, spekulasi mengenai bagaimana visinya akan direalisasikan akan tetap bersifat spekulatif.

Ketiga, tidak ada data mengenai respon dari berbagai pemangku kepentingan internal dan eksternal terhadap kepemimpinan dan visi Prof. Pattiselanno. Bagaimana para staf, dosen, dan mahasiswa di FAPERTA merespons amanah dan visinya? Apakah visi ini diadopsi secara luas di kalangan civitas akademika? Apakah ada kendala atau dukungan yang signifikan dari pihak eksternal, seperti pemerintah daerah Provinsi Maluku, industri pertanian, atau asosiasi profesi? Memahami dinamika internal seperti moralitas, motivasi, dan adopsi visi di kalangan staf dan dosen sangat penting untuk keberhasilan transformasi. Demikian pula, memetakan jaringan kolaborasi dan tingkat dukungan dari mitra eksternal akan memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai potensi dan kendala dalam eksekusi agenda eksternal.

Keempat, data demografis dan historis mahasiswa di FAPERTA Unpatti tidak tersedia. Meskipun ada niat untuk meningkatkan peminat melalui sosialisasi ke SMA/SMK, tidak ada data historis mengenai jumlah mahasiswa, distribusi jurusan, tingkat kelulusan, atau lokasi kerja lulusan. Data ini sangat penting untuk mengevaluasi keberhasilan strategi pemasaran dan rekruitmen secara objektif. Tanpa baseline data ini, sulit untuk mengukur apakah upaya-upaya yang akan dilakukan di periode 2025-2029 benar-benar efektif dalam menarik dan mempertahankan talenta terbaik.

Ke depan, tantangan terbesar bukan hanya pada implementasi visi, tetapi pada kemampuan mengukur dampak nyata: apakah “Pertanian Kepulauan” benar-benar meningkatkan kesejahteraan petani Maluku? Apakah kolaborasi dengan pemerintah dan sektor swasta mampu menciptakan rantai nilai yang adil? Dan yang paling penting—apakah Fakultas Pertanian Unpatti mampu menjadi pusat inovasi yang relevan, bukan hanya di peta akademik, tetapi di kehidupan nyata masyarakat?

🌾 Jayalah Faperta Universitas Pattimura !


Share:
error: Content is protected !!