Ronny Pattinasarany, yang dijuluki “Si Pembangkang,” bukanlah nama asing dalam sejarah sepak bola Indonesia. Dari bocah nakal yang doyan merokok di sudut-sudut Makassar, ia menjelma menjadi legenda Timnas Indonesia dengan gaya bermain elegan dan sikap pemberani. Namun, di balik gemerlap kariernya, Ronny menyimpan kisah dramatis penuh air mata—perjuangan sebagai ayah yang rela mengorbankan segalanya demi menyelamatkan anak-anaknya dari jerat narkoba.
Masa Kecil: Bocah Mbeling yang Doyan Merokok
Ronald Hermanus Pattinasarany lahir pada 9 Februari 1949 di Makassar, Indonesia, dari kedua orang tua berdarah Ambon, Maluku. Sejak kecil, Ronny dikenal sebagai anak yang nakal. Ia sering bolos sekolah, berkelahi, dan menghabiskan waktu di sudut-sudut kota untuk merokok bersama teman-temannya. “Kalau mau nikmat merokok, ya cari yang jauh dari rumah biar aman,” ujar Ronny dalam sebuah wawancara, mengenang masa kecilnya yang penuh petualangan liar. Ia bahkan pernah mencuri rokok dari warung tetangga, sebuah kebiasaan yang nyaris membuatnya dihukum berat oleh ayahnya, Nus Pattinasarany, yang juga seorang pemain sepak bola di era sebelum kemerdekaan.
Namun, di tengah kenakalannya, Ronny memiliki mimpi besar: menjadi pemain sepak bola. Bakatnya mulai terlihat ketika ia bergabung dengan PSM Junior pada 1966, di usia 17 tahun. Dua tahun kemudian, ia menembus skuad senior PSM Makassar, menandai langkah awalnya menuju kejayaan. Siapa sangka, bocah mbeling yang doyan merokok itu kelak menjadi salah satu gelandang terbaik Indonesia, dengan umpan akurat dan kemampuan merebut bola yang halus namun mematikan.
Berikut adalah narasi yang telah diubah menjadi sub bagian berjudul “Ronny Bersama PSM” dengan sedikit penyesuaian untuk mempertahankan alur dan konteks, sesuai dengan gaya artikel sebelumnya:
Ronny Bersama PSM: Awal Kejayaan Sang Pembangkang
Rumah keluarga Pattinasarany yang berdekatan dengan lapangan sepak bola Mawas di Makassar menjadi saksi bisu bagaimana lingkungan itu membentuk bakat Ronny. Lapangan Mawas, yang dikenal melahirkan banyak pemain andal Makassar, menjadi tempat Ronny kecil mengasah kemampuan sepak bolanya. Talenta alami yang ia miliki, ditambah didikan disiplin dari ayahnya, Nus Pattinasarany, memuluskan langkahnya berkarier di dunia sepak bola.
Pada usia 17 tahun, Ronny sudah menembus skuad PSM Makassar. Namanya mulai dikenal publik sepak bola nasional saat melakoni debut melawan Persipura di Stadion Mattoangin. Gaya permainan Ronny yang elegan mewarnai PSM, sebuah tim yang mengandalkan permainan cepat dan keras. Sosoknya langsung menonjol berkat umpan pendek dan jauh yang akurat, serta kemampuan merebut bola dari kaki lawan dengan cara halus tanpa mencederai.
Kiprah Ronny bersama PSM mencapai puncaknya pada Piala Soeharto 1974. Meski usianya baru 25 tahun, Ronny sudah menjadi pemain senior sekaligus kapten Juku Eja. Saat itu, PSM diperkuat mayoritas pemain muda dan diprediksi sulit bersaing dengan tim-tim besar seperti PSMS Medan, Persija Jakarta, dan Persebaya Surabaya, yang dihuni pemain-pemain Timnas Indonesia. Namun, bersama Ronny, PSM mampu membalikkan anggapan tersebut. Mereka meraih trofi juara setelah mengalahkan Persebaya dan Persija dengan skor sama 2-1, serta bermain imbang 1-1 melawan PSMS Medan. Ronny sendiri mencetak dua gol dalam tiga laga, sementara pencetak gol PSM lainnya adalah Anwar Ramang (2 gol) dan Abdi Tunggal (1 gol).
Tak hanya unggul di lapangan, Ronny juga dikenal piawai memotivasi rekan-rekannya sebelum bertanding. Bek PSM saat itu, Mallawing, memiliki kenangan tak terlupakan bersama Ronny. Sehari sebelum menghadapi Persebaya, saat seluruh tim peserta makan bersama, Ronny memanggil Mallawing secara khusus. Ia menunjuk seorang pemain Persebaya dan meminta Mallawing mematikan pergerakannya. Mallawing tampil trengginas dan berhasil menjalankan tugasnya. Setelah pertandingan, Ronny memberikan ucapan selamat sambil menyebut nama pemain itu. “Saya terkejut bukan main. Sampai lemas rasanya. Ternyata pemain itu adalah Abdul Kadir, bintang Timnas Indonesia,” kenang Mallawing.
Pada 1970, Ronny dipanggil memperkuat Timnas Junior untuk menghadapi Kejuaraan Asia di Manila, langkah awal yang menjadikannya langganan timnas di berbagai ajang junior. Setelah membawa PSM berjaya di Piala Soeharto 1974, Ronny meninggalkan Makassar dan melanjutkan kariernya dengan bergabung ke klub Galatama, Warna Agung, pada 1978, membuka babak baru dalam perjalanan sepak bolanya.

Karier sebagai Pemain: Elegansi dan Keberanian di Lapangan
Ronny dikenal sebagai gelandang dengan gaya bermain elegan, sering berposisi sebagai sweeper. Ia mampu memberikan umpan pendek dan jauh yang akurat, serta merebut bola dari lawan tanpa melukai. Julukan “Si Pembangkang” melekat padanya bukan hanya karena gaya bermainnya yang berani, tetapi juga karena sikapnya yang lantang melawan ketidakadilan, bahkan terhadap manajemen sepak bola.
PSM Makassar (1966–1978)
Ronny debut bersama PSM senior pada 1968 melawan Persipura di Stadion Mattoangin, Makassar. Dengan permainan cepat dan keras, ia menjadi pilar PSM dan membantu klub ini meraih Piala Soeharto pada 1974, sebuah prestasi besar pada masa itu. Kemampuannya di lapangan membuatnya menjadi salah satu pemain kunci selama lebih dari satu dekade.
Warna Agung (1978–1982)
Pada 1978, Ronny pindah ke klub Galatama, Warna Agung, di mana kariernya semakin menanjak. Ia meraih penghargaan Pemain Terbaik Galatama dua musim berturut-turut (1979 dan 1980). Pada periode ini, ia terpilih menjadi kapten Timnas Indonesia (1980–1985), sebuah tanggung jawab besar yang menunjukkan kepercayaan terhadap kepemimpinannya.
Tunas Inti (1982–1983)
Setelah hanya satu musim di Tunas Inti, Ronny memutuskan gantung sepatu pada 1983 untuk beralih profesi sebagai pelatih, mengakhiri karier bermainnya yang penuh prestasi.
Karier Internasional
Ronny menjadi langganan Timnas Indonesia sejak 1970, saat ia pertama kali dipanggil untuk Timnas Junior di Kejuaraan Asia di Manila. Bersama Timnas senior, ia mencatatkan 31 penampilan dan mencetak 6 gol. Prestasi internasionalnya meliputi:
- Medali Perak SEA Games 1979 dan 1981.
- Pemain All Star Asia 1982.
- Olahragawan Terbaik Nasional 1976 dan 1981.
Era 1970-an hingga 1980-an adalah masa keemasan sepak bola Indonesia di Asia, dan Ronny menjadi salah satu pilar penting tim Merah-Putih.
Karier sebagai Pelatih: Meneruskan Dedikasi
Setelah pensiun sebagai pemain, Ronny beralih menjadi pelatih dan melatih beberapa klub ternama di Indonesia:
- Persiba Balikpapan
- Krama Yudha Tiga Berlian
- Persita Tangerang
- Makassar Utama
- Persitara Jakarta Utara
- Persija Jakarta
- Petrokimia Putra Gresik: Prestasi terbaiknya sebagai pelatih terjadi di klub ini, dimana ia berhasil membawa Petrokimia meraih gelar Surya Cup, Petro Cup, dan menjadi runner-up Tugu Muda Cup pada akhir 1990-an.
Namun, menjelang akhir 1990-an, Ronny membuat keputusan mengejutkan dengan mengundurkan diri dari dunia kepelatihan di puncak kariernya, memilih fokus pada keluarganya setelah dua anaknya, Benny dan Yerry, terjerat kecanduan narkoba.
Perjuangan sebagai Ayah: Pertarungan Melawan Narkoba
Di balik gemerlap kariernya, Ronny menghadapi cobaan berat dalam kehidupan pribadinya. Ia menikah dengan Stella Maria pada 29 November 1977, dan pasangan ini dikaruniai tiga anak: Robenno Pattrick (Benny), Henry Jacques (Yerry), dan Tresita Diana (Cita). Mereka juga mengangkat seorang keponakan, Pieter Pattinasarany, sebagai anak. Namun, pada akhir 1990-an, Ronny dihadapkan pada kenyataan pahit: Benny dan Yerry terjerat kecanduan narkoba.
Keputusan Ronny untuk meninggalkan dunia kepelatihan di puncak kariernya bukanlah tanpa alasan. Ia memilih berjuang demi anak-anaknya, sebuah pertarungan yang jauh lebih berat daripada laga di lapangan. Bersama Stella, Ronny dengan sabar mendampingi Benny dan Yerry, bahkan rela mengantar mereka ke bandar narkoba untuk membeli barang demi menghindari rasa sakit yang mereka alami—meskipun ia sangat menentang tindakan tersebut. “Ngapain ngurusin bandar, jauh lebih baik ngurusin anak. Saya berusaha berebut kasih sayang dengan bandar,” ujar Ronny dalam buku historikal yang dirilis pada ulang tahun pernikahan ke-29 mereka pada 2006. Kisah ini menggambarkan betapa besar pengorbanannya sebagai ayah, rela menanggalkan ego dan karier demi menyelamatkan anak-anaknya dari jerat yang menghancurkan.
Peran di PSSI: Dedikasi hingga Akhir Hayat
Setelah berhasil membimbing anak-anaknya keluar dari kecanduan, Ronny kembali ke dunia sepak bola dan mengambil peran penting di PSSI: Direktur Pembinaan Usia Muda PSSI (2006), Wakil Ketua Komisi Disiplin (Komdis) PSSI (2006), dan Anggota Tim Monitoring Timnas (2007).
Namun, takdir berkata lain. Pada Desember 2007, Ronny didiagnosis menderita kanker hati. Ia menjalani pengobatan intensif, termasuk empat kali ke Guangzhou, China, tetapi penyakitnya terus memburuk. Ronny menghembuskan napas terakhir pada 19 September 2008 pukul 13:30 WIB di Rumah Sakit Omni Medical Center, Pulo Mas, Jakarta Timur, pada usia 59 tahun.
Warisan dan Pengaruh: Legenda di Lapangan dan Kehidupan
Ronny Pattinasarany, “Si Pembangkang,” adalah simbol keberanian dan dedikasi dalam sepak bola Indonesia. Rekan-rekannya, seperti Bambang Nurdiansyah, mengenangnya sebagai sosok yang lantang membela teman-temannya, bahkan terhadap manajemen PSSI. Pelatih Benny Dollo menyebutnya sebagai orang yang “seratus persen memberikan hidupnya untuk bola.” Gaya bermainnya yang elegan, kepemimpinannya sebagai kapten Timnas, dan prestasi kepelatihannya di Petrokimia Putra menjadikannya legenda sejati.
Namun, kisah Ronny tidak hanya tentang sepak bola. Perjuangannya melawan kecanduan narkoba anak-anaknya menunjukkan sisi lain dari seorang legenda: seorang ayah yang rela mengorbankan segalanya demi keluarga. Warisannya sebagai salah satu pemain terbaik Indonesia pada era keemasan sepak bola Asia terus dikenang, terutama oleh komunitas sepak bola Makassar dan Ambon. Ronny Pattinasarany adalah bukti bahwa seorang bocah mbeling dari Makassar dapat menjadi pahlawan—di lapangan, di hati keluarganya, dan di hati bangsa.