Slogan “Smart City” sering menjadi andalan dalam visi-misi kepala daerah, termasuk di Kota Ambon. Konsep ini menawarkan harapan besar untuk menciptakan kota yang modern, efisien, dan berkelanjutan melalui pemanfaatan teknologi digital. Namun, apakah visi tersebut benar-benar terwujud di Kota Ambon, atau hanya sekadar janji politik?
Faktanya, di Kota Ambon, implementasi Smart City masih jauh dari ideal. Internet gratis memang tersedia di beberapa kantor pemerintahan, tetapi di tempat umum aksesnya terbatas, baik dari segi kecepatan maupun bandwidth. Di sekolah dan perguruan tinggi, infrastruktur internet sering kali harus dibiayai sendiri, menunjukkan bahwa Smart City belum benar-benar inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.

Siapa Pencetus Konsep Smart City?
Konsep smart city telah menjadi isu besar di bergbagai penjuru dunia saat ini. Konsep ini pada awalnya diciptakan oleh perusahaan Internatonal Business Machines (IBM) pada tahun 1990-an setelah sebelumnya sempat dibahas para ahli dunia dengan nama digital city. IBM memberikan pengertian awal bahwa smart city adalah kota yang setiap instrumennya berhubungan dan berfungsi secara cerdas. Kemudian pengertian ini di perluas dan memberikan jaminan untuk membuat semakin banyak kota di seluruh dunia memiliki konsep yang cerdas dengan mengimplementasikan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam pengembangan dan pengelolaan kota untuk meningkatkan kualitas hidup warganya.
Apa Itu Smart City?
Sebelum membahas lebih jauh, penting untuk memahami apa yang dimaksud dengan Smart City. Secara umum, Smart City adalah konsep pengelolaan kota yang mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi layanan publik, transparansi, dan kualitas hidup masyarakat. Komponen utama Smart City meliputi:
- Smart Governance: Pemerintahan berbasis teknologi untuk pelayanan publik yang cepat dan transparan.
- Smart Infrastructure: Infrastruktur yang mendukung konektivitas dan aksesibilitas.
- Smart Environment: Pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan dengan teknologi.
- Smart People: Masyarakat yang teredukasi dan melek digital.
- Smart Mobility: Sistem transportasi yang terintegrasi dan efisien.
- Smart Economy: Pemanfaatan teknologi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi lokal.
Namun, implementasi di lapangan sering kali hanya terbatas pada digitalisasi layanan publik tanpa memperhatikan komponen lain, termasuk akses masyarakat terhadap teknologi itu sendiri.
Realitas Smart City di Kota Ambon
- Jaringan Internet yang Terbatas
Internet gratis hanya tersedia di kantor pemerintahan, sementara di ruang publik seperti taman kota atau pasar, aksesnya terbatas atau bahkan tidak ada. Hal ini menunjukkan bahwa Smart City di Kota Ambon belum menyentuh kebutuhan masyarakat secara luas. - Minimnya Dukungan untuk Pendidikan
Sekolah-sekolah dan perguruan tinggi harus mengalokasikan dana sendiri untuk infrastruktur digital, seperti jaringan internet dan perangkat teknologi. Ini menjadi beban tambahan bagi lembaga pendidikan, yang seharusnya mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah dalam mewujudkan visi Smart City. - Digitalisasi yang Setengah Hati
Digitalisasi layanan publik memang telah dimulai, seperti pengurusan dokumen secara daring. Namun, sistem ini sering kali tidak didukung oleh infrastruktur yang memadai, seperti server yang sering bermasalah atau koneksi internet yang lambat, sehingga pelayanan menjadi tidak optimal. - Kurangnya Edukasi Digital
Banyak masyarakat, terutama di pinggiran kota, yang belum melek teknologi. Tanpa edukasi digital yang memadai, manfaat dari Smart City hanya dirasakan oleh segelintir kelompok yang memiliki akses dan pemahaman teknologi. - Tidak Ada Integrasi yang Jelas
Konsep Smart City seharusnya mengintegrasikan berbagai sektor, seperti transportasi, lingkungan, dan ekonomi, ke dalam satu sistem yang saling terhubung. Di Kota Ambon, inisiatif ini masih belum terlihat.
Pemahaman Keliru Tentang Smart City
Kesalahan utama dalam implementasi Smart City di Kota Ambon adalah anggapan bahwa digitalisasi layanan publik sudah cukup untuk mewujudkan kota pintar. Padahal, tanpa infrastruktur yang merata, edukasi digital, dan keterlibatan masyarakat, Smart City hanya akan menjadi slogan tanpa substansi.
Apa yang Harus Dilakukan?
- Memperluas Infrastruktur Digital
Pemerintah harus memastikan akses internet yang terjangkau dan berkualitas di seluruh wilayah kota, termasuk di sekolah, perguruan tinggi, dan ruang publik. - Edukasi Digital untuk Masyarakat
Program pelatihan teknologi harus menjadi bagian dari implementasi Smart City agar seluruh masyarakat, termasuk yang berada di pinggiran kota, dapat memanfaatkan teknologi secara produktif. - Peningkatan Kapasitas Layanan Publik
Sistem digital untuk layanan publik harus didukung oleh infrastruktur teknologi yang kuat, seperti server yang andal dan jaringan internet cepat. - Kolaborasi dengan Swasta
Pemerintah Kota Ambon dapat bekerja sama dengan perusahaan teknologi untuk mempercepat pembangunan infrastruktur digital dan menyediakan layanan berbasis teknologi yang inovatif. - Monitoring dan Evaluasi
Implementasi Smart City harus dievaluasi secara berkala untuk memastikan bahwa setiap program berjalan sesuai rencana dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Kesimpulan
Smart City bukan sekadar digitalisasi layanan publik, melainkan transformasi menyeluruh yang menyentuh semua aspek kehidupan kota. Pemerintah Kota Ambon harus berkomitmen untuk mewujudkan visi Smart City yang benar-benar inklusif dan berkelanjutan. Tanpa langkah nyata yang mendukung infrastruktur, edukasi, dan integrasi teknologi, Smart City hanya akan menjadi janji politik yang tak pernah terwujud.