Hari ini, 29 Maret 2026, pada Minggu yang keempat dalam kalender gerejawi masa sengsara, sebanyak 14.810 jiwa berdiri di hadapan Tuhan dan jemaat-Nya di 770-an gedung gereja yang tersebar di 34 Klasis Gereja Protestan Maluku (GPM) — dari ujung Seram hingga kepulauan terluar Maluku Utara. Mereka mengucapkan pengakuan iman. Mereka menerima peneguhan Sidi. Angka itu lebih besar dari penduduk banyak kota kecamatan di Maluku. Angka itu tumbuh setiap tahun: 13.413 jiwa di 2024, 13.925 jiwa di 2025, dan kini 14.810 di 2026. Sebuah pertumbuhan yang seharusnya membanggakan — namun sekaligus mengusik pertanyaan yang tidak nyaman: setelah peneguhan usai, setelah pesta selesai, setelah meja makan bersih dari hidangan, apakah yang sesungguhnya berubah dalam diri orang-orang muda itu?
Pertanyaan itu bukan sinis. Pertanyaan itu adalah jantung dari seluruh ritus Sidi itu sendiri.
Sidi Bukan Tamat Sekolah
Dalam teologi Reformed yang menjadi tulang punggung GPM, Sidi — dari kata Latin confirmatio, peneguhan — bukan perayaan kelulusan. Ia bukan wisuda iman. Ia adalah sebuah pengakuan publik yang berat: bahwa seseorang yang telah dibaptis pada masa kanak-kanak, yang telah diajar dalam Sekolah Minggu dan Tunas Pekabaran Injil sejak usia nol tahun, yang telah menempuh proses Katekhisasi, kini dengan sadar, dengan sukarela, dan dengan tanggung jawab penuh — memilih untuk mengikrarkan dirinya sebagai milik Kristus dan anggota penuh jemaat-Nya.
Mantan Ketua MPH Sinode GPM, Pendeta Elifas T. Maspaitella, menegaskan hal ini berulang kali: peneguhan Sidi adalah puncak dari Pendidikan Formal Gereja, tanda kedewasaan iman yang lahir dari proses panjang yang dimulai bahkan sebelum seorang anak bisa membaca. Sidi bukan tradisi tahunan yang harus diikuti karena teman-teman sebaya ikut. Sidi adalah sebuah keputusan eksistensial — tentang siapa kamu, kepada siapa kamu menyerahkan hidupmu, dan apa yang akan kamu lakukan dengan hidupmu itu.
“Sidi harus dipahami bukan tradisi gerejawi, tapi itu cara gereja merespons dan menyiapkan warga gereja untuk memberi jawaban iman secara bertanggung jawab tentang pilihan-pilihan masa depannya.”— Pdt. Nick Rutumalessy, Klasis Kota Ambon
Jika demikian berat dan dalamnya makna Sidi, maka mestinya suasana hari ini adalah suasana yang berat dan dalam pula. Seperti seseorang yang hendak menikah: ada sukacita, tentu — tetapi ada juga kesungguhan yang membuat lutut sedikit gemetar. Ada kegembiraan, ya — tetapi juga kesadaran bahwa sesuatu telah berubah selamanya.
Ketika Altar Bersaing dengan Meja Makan
Namun realitas berbicara berbeda. Di Ambon, di Saparua, di Ternate, di kampung-kampung pesisir Seram, momen Sidi sudah lama bergeser — dan gereja sendiri tidak bisa berpura-pura tidak melihatnya. Sidi telah menjadi saat di mana keluarga berlomba: siapa yang paling banyak menghidangkan makanan, siapa yang paling ramai undangannya, siapa yang dekorasi rumahnya paling indah. Anak yang diteguhkan menjadi figuran di panggung pesta yang sesungguhnya sudah dirancang jauh sebelum katekhisasi selesai.
Pengeluaran pesta sidi di Kota Ambon saja rata-rata berkisar antara satu hingga lima juta rupiah per keluarga. Dikalikan dengan ratusan calon sidi per klasis, uang yang berputar dalam satu hari peneguhan bisa mencapai ratusan juta rupiah — untuk sebuah pesta yang seringkali berakhir dengan orang-orang dewasa yang mabuk, dan anak-anak yang lelah dan bingung tentang apa yang sebenarnya baru saja mereka lalui.
Sidi yang artinya “penuh” dan “sempurna” — ironinya justru sering dirayakan dengan cara yang kosong dan berlebihan.
JM
Gereja menyebutnya dengan kata yang indah: ugahari. Hidup sederhana, bersahaja, tidak berlebihan. Sinode GPM sudah berkali-kali menyerukan hal ini. Dalam setiap pembukaan musim peneguhan Sidi, anjuran itu diulangi: jangan membuat jamuan besar, jangan membebankan keluarga, simpanlah uang untuk kesehatan dan pendidikan anak. Namun anjuran itu kerap terbentur dinding budaya yang sama tebalnya dengan dinding gereja: malu kalau tidak bikin acara. Nanti orang bilang apa? Beta pung anak satu-satunya yang sidi tahun ini.
Di sinilah ketegangan itu terasa paling nyata. GPM dihadapkan pada sebuah dilema klasik: antara otoritas moral gereja dan kekuasaan budaya komunitas. Gereja hanya bisa menganjurkan — karena apa yang terjadi di luar gedung gereja setelah kebaktian selesai bukan lagi yurisdiksi pendeta mana pun.
Siapa yang Sesungguhnya Disiapkan?
Ada pertanyaan yang lebih mendasar dan lebih meresahkan yang perlu diajukan hari ini. Bukan hanya tentang pesta yang berlebihan — tetapi tentang kualitas proses pembentukan iman itu sendiri.
Katekesasi GPM berlangsung selama berbulan-bulan. Calon Sidi menjalani malam pembedahan diri — sebuah sesi refleksi spiritual yang intens — sebagai bagian dari persiapan. Mereka belajar tentang doktrin gereja, tentang Alkitab, tentang panggilan hidup Kristen. Ini semua baik. Namun pertanyaannya adalah: apakah proses itu cukup menghujam? Apakah ia cukup mengguncang? Atau ia hanya menjadi formalitas yang harus diselesaikan agar gereja mengeluarkan “tiket” untuk naik ke altar pada hari Minggu peneguhan?
Seorang remaja usia 15 tahun yang menghafal Pengakuan Iman Rasuli dengan lancar, yang bisa menjawab pertanyaan katekismus dengan benar, belum tentu adalah seorang pemuda yang sungguh-sungguh bergulat dengan pertanyaan: Untuk apa aku hidup? Kepada siapa aku bertanggung jawab? Bagaimana imanku membentuk cara aku memperlakukan orang lain, menggunakan uang, menghadapi kegagalan?
Pendewasaan iman bukan tentang jawaban yang benar pada saat ujian katekhisasi. Ia adalah tentang keberanian untuk hidup sesuai jawaban itu — setiap hari, di luar tembok gereja, di tengah dunia yang tidak selalu ramah pada nilai-nilai Injil.
14.810 — Bukan Statistik, Tetapi Tanggung Jawab
Angka 14.810 itu besar. Terlalu besar untuk sekadar dikagumi. Ia adalah beban — beban pastoral yang harus dipikul bersama oleh Sinode GPM, oleh para pendeta, oleh para penatua dan diaken, oleh keluarga-keluarga Kristen di Maluku dan Maluku Utara.
Sebab setelah hari ini, 14.810 orang muda itu akan kembali ke dunia nyata mereka. Mereka akan kembali ke sekolah-sekolah yang penuh dengan tekanan sosial. Ke lorong-lorong kota yang menawarkan segala macam identitas pengganti. Ke media sosial yang lebih persuasif dari khotbah mana pun. Ke lingkungan pergaulan yang mungkin tidak peduli sama sekali dengan apa yang mereka ucapkan di altar tadi pagi.
Di situlah ujian sesungguhnya dimulai. Bukan di altar, dengan pakaian rapi dan keluarga menyaksikan. Melainkan di warnet pukul sebelas malam, di ujung sebotol bir yang ditawarkan teman, di momen ketika seseorang yang lebih lemah membutuhkan pembelaan namun semua orang memilih diam.
Sidi yang sejati bukan yang dirayakan paling meriah — melainkan yang paling terasa dalam keputusan-keputusan kecil sehari-hari yang tidak ada yang menyaksikannya.
JM
Kepada GPM: Sebuah Cermin
Refleksi ini tidak bermaksud meremehkan Sidi. Justru sebaliknya — ia menempatkan Sidi pada posisi yang seharusnya: sebuah peristiwa yang terlalu penting untuk dirayakan dengan pesta semata.
Kepada GPM dan seluruh jajaran penggembalaannya: angka 14.810 itu adalah berkat sekaligus tantangan. Berkat, karena artinya gereja masih dipercaya sebagai ruang pembentukan iman. Tantangan, karena semakin besar jumlahnya, semakin sulit memastikan bahwa setiap jiwa yang diteguhkan benar-benar telah siap — bukan sekadar hadir secara fisik di altar, melainkan hadir secara utuh dalam tekad dan pengertian.
Kepada keluarga-keluarga yang merayakan: sukacita itu sah dan indah. Namun tanyakan kepada diri sendiri — apakah pesta yang sedang kalian persiapkan itu untuk anak kalian, atau untuk citra kalian di mata tetangga? Apakah investasi terbesar kalian hari ini adalah pesta itu, atau adalah percakapan jujur dan dalam dengan anak kalian tentang apa artinya hidup sebagai seorang Kristen yang dewasa?
Dan kepada 14.810 orang muda yang hari ini berdiri di altar — dengan segala hormat dan kasih: pengakuan yang kalian ucapkan hari ini adalah yang paling serius yang pernah kalian ucapkan dalam hidup kalian, meskipun kalian mungkin belum sepenuhnya menyadarinya. Dunia akan segera menguji apakah pengakuan itu nyata. Bukan dengan ujian tertulis. Melainkan dengan hidup itu sendiri — dengan kesempatan untuk jujur ketika berbohong lebih mudah, untuk membela ketika diam lebih aman, untuk memberi ketika menyimpan lebih menguntungkan.
Itulah Sidi yang sesungguhnya. Bukan yang selesai hari ini — melainkan yang baru saja dimulai.
Penutup: Antara Angka dan Jiwa
Setiap tahun angka Sidi GPM naik. Ini menggembirakan. Namun gereja yang bijak tidak hanya menghitung jiwa yang diteguhkan — ia juga menghitung jiwa yang bertumbuh, jiwa yang bertahan, jiwa yang kembali ketika terjatuh. Dan untuk itu, tidak ada statistik yang cukup. Tidak ada laporan klasis yang memadai. Yang diperlukan adalah komunitas iman yang sungguh-sungguh hadir dalam kehidupan orang-orang muda ini — bukan hanya pada Minggu peneguhan, tetapi pada Senin pagi yang berat, pada masa-masa ketika iman terasa jauh dan dunia terasa dekat.
Semoga 14.810 sidi baru GPM hari ini — dari Ambon hingga Ternate, dari Seram hingga Bacan — tidak hanya mendapatkan peneguhan dari gereja, tetapi juga mendapatkan pendampingan yang berkelanjutan dari gereja. Semoga mereka tidak sekadar menjadi angka dalam laporan tahunan Sinode. Semoga mereka menjadi jiwa-jiwa yang sungguh hidup dalam imannya — sederhana, berani, dan setia.
Sebab itulah yang dimaksud dengan ugahari. Dan itulah yang dimaksud dengan dewasa dalam iman. Ugahari adalah kata serapan Sanskerta yang berarti bersahaja, sederhana, sedang-sedang saja, tidak berlebihan, atau cukup. Ini merujuk pada gaya hidup yang mengekang hawa nafsu, bersyukur, dan melepaskan diri dari konsumerisme. Ugahari mencerminkan keseimbangan spiritual dan kesederhanaan sehari-hari.
Refleksi ini ditulis pada Minggu subuh, 29 Maret 2026 —
hari di mana 14.810 jiwa mengucapkan pengakuan imannya
di hadapan Tuhan dan jemaat-Nya.