Demonstrasi Ricuh di Maluku Utara: Gubernur Sherly Tjoanda Temui Massa dan Serap Aspirasi

Share:

Ternate, 2 September 2025 – Gelombang demonstrasi melanda Maluku Utara pada Senin, 1 September 2025, melibatkan mahasiswa, pengemudi ojek online, dan masyarakat umum di Pulau Morotai, Ternate, dan Pulau Taliabu. Aksi ini merupakan bagian dari protes nasional yang menyoroti kinerja DPR RI, kenaikan tunjangan anggota dewan, serta reformasi Polri pasca-kematian tragis pengemudi ojek online, Affan Kurniawan, di Jakarta. Demonstran juga menyuarakan isu lokal seperti sengketa lahan, pendidikan gratis, dan perbaikan infrastruktur.

Di Pulau Morotai, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Pasifik menggelar aksi damai di depan kantor bupati. Dipimpin oleh Ketua BEM Rifaldi Madjid, massa menuntut penolakan kenaikan pajak, pengesahan RUU Masyarakat Hukum Adat, dan penyelesaian sengketa lahan dengan TNI AU. Aksi berlangsung tertib dengan pengawalan ketat Polres Morotai hingga massa membubarkan diri.

Di Ternate, demonstrasi di depan gedung DPRD Kota Ternate berlangsung ricuh. Mahasiswa dari berbagai kampus menyuarakan penolakan terhadap kenaikan tunjangan DPR, RUU KUHP, serta menuntut pendidikan gratis dan penolakan reklamasi lahan. Massa melempar batu ke arah polisi, yang merespons dengan gas air mata dan water cannon, mengakibatkan 16 orang ditangkap, termasuk dua pelajar SMP dan SMA. Aksi baru bubar pada pukul 18:30 WIT setelah negosiasi intens.

Di Pulau Taliabu, Gerakan Pemuda Marhaenisme (GPM) menggelar aksi di kantor Dinas PUPR dan kantor bupati. Massa bertemu Wakil Bupati La Ode Yasir, menyampaikan aspirasi terkait kebijakan pemerintah yang dianggap tidak pro-rakyat dan keadilan atas kasus Affan Kurniawan. Aksi ini berlangsung damai.

Tanggapan Gubernur Sherly Tjoanda terhadap Tuntutan Demonstran

Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos, menunjukkan respons cepat dengan menemui massa di Ternate di tengah situasi ricuh, didampingi Wakil Gubernur Sarbin Sehe, Walikota Ternate, Ketua DPRD Provinsi dan Kota, serta Forkopimda. Dalam unggahan Instagram resminya pada 1 September 2025, Gubernur Sherly menyampaikan:

Gubernur Sherly menegaskan bahwa 17 tuntutan yang disampaikan telah diterima, dengan beberapa di antaranya menjadi kewenangan daerah dan lainnya akan diteruskan ke Pemerintah Pusat. Ia juga menyebutkan komunikasi dengan aparat hukum terkait kasus 11 warga Halmahera Timur (Haltim) agar diproses secara adil dan transparan. Gubernur mengapresiasi TNI, Polri, dan Pemerintah Kota Ternate atas pengawalan aksi, meskipun sempat terjadi eskalasi, dan menyerukan penyampaian aspirasi secara damai untuk menjaga stabilitas ekonomi masyarakat.

Demonstrasi ini mencerminkan keresahan terhadap kebijakan pemerintah dan ketimpangan ekonomi, dengan kasus Affan Kurniawan sebagai pemicu utama. Pihak kepolisian menyatakan penggunaan gas air mata sesuai prosedur untuk mengendalikan situasi. Situasi di Maluku Utara kini telah kondusif, dengan harapan tindak lanjut konkret dari pemerintah terhadap aspirasi masyarakat.


“Kritik bukan musuh, tapi cermin. Dalam rumah besar Indonesia ada mahasiswa yang bersuara, mama-mama jualan, ojol cari order, TNI-Polri jaga aman, dan pemerintah kejar pembangunan. Semua punya peran. Mari berdemokrasi dengan empati, cari titik temu, dan tetap damai.”
error: Content is protected !!