Negara Dalam Mode Baris-Berbaris

BERKAS NO. SPPI–KDKMP/2026–04 · DIBUKA 17 JUN · STATUS: DALAM EVALUASI RAHASIA? TIDAK. DIABAIKAN? IYA.

Negara dalam
mode baris-berbaris

Dari rak mie instan koperasi desa sampai kamar asrama Sekolah Rakyat, satu resep yang sama sedang diuji coba: kalau ada yang dianggap tak disiplin, kirim tentara. Lima orang sudah jadi ongkos percobaan pertama, dan tidak satu pun dari mereka pernah berniat jadi prajurit.

4 PESERTA SIPIL TEWAS DALAM LATSARMIL 35.476 CALON MANAJER KOPERASI SEDANG DIGEMBLENG 45 HARI 1.000 TARUNA AKMIL DISIAPKAN UNTUK 178 SEKOLAH RAKYAT TARGET 4.000 ASN JADI KOMPONEN CADANGAN TAHUN INI 4 PESERTA SIPIL TEWAS DALAM LATSARMIL 35.476 CALON MANAJER KOPERASI SEDANG DIGEMBLENG 45 HARI 1.000 TARUNA AKMIL DISIAPKAN UNTUK 178 SEKOLAH RAKYAT TARGET 4.000 ASN JADI KOMPONEN CADANGAN TAHUN INI

Mereka mendaftar untuk mengurus koperasi desa. Yang mereka dapat adalah barak, jadwal subuh, dan latihan menembak. Lima orang di antara puluhan ribu peserta tidak pernah pulang.

Program ini bernama Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia, disingkat SPPI — calon manajer untuk Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih. Isinya jualan sembako, mie instan, air mineral, mungkin pupuk dan elpiji bersubsidi. Tapi sebelum boleh memegang kasir, 35.476 peserta harus lulus dulu 45 hari Latihan Dasar Kemiliteran di 67 satuan pendidikan TNI — 30 hari kedisiplinan dan bela negara, 15 hari sisanya baru materi manajerial.

Dalam tiga puluh hari pertama itu, di tengah gelombang panas Juni, lima orang jatuh sakit dan tidak tertolong.

Log Kasus

Lima nama, lima lokasi, satu alasan resmi

Kementerian Pertahanan menyebutnya sebagai kejadian yang “tidak berhubungan satu sama lain” — beda lokasi, beda penyebab medis. Tapi berjajar dalam satu rentang sembilan hari, polanya cukup untuk membuat DPR turun tangan.

17 JUN
Yonanda Muhammad TaufiqSatdik Puslatpur Kodiklatad, Baturaja, OKU
Henti jantung
18 JUN
Anisa MuyassarohSatdik Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan
Heat stroke / henti jantung
22–23 JUN
Novia Rahmadhani SihotangSatdik Pusbahasa Kodiklatau, Jakarta
Komplikasi tuberkulosis
25 JUN
Muhammad Rifki Renaldi GunawanSatdik Yon Parako 465 DKI Jakarta
Sesak napas, kondisi menurun
27 JUN
Nola Dya SariSatdik Dudik Bela Negara Kalimantan
Sesak napas

Semua peserta yang meninggal sebelumnya dinyatakan lolos seleksi kesehatan. Kemhan bilang itu artinya prosedur sudah benar. Pertanyaan yang belum terjawab: kalau prosedurnya benar, kenapa lima orang yang sudah dinyatakan sehat justru mati dalam latihan yang katanya hanya soal disiplin dan kerja sama tim, bukan kemiliteran tempur?

Pertanggungjawaban

Apa yang sudah — dan belum — dilakukan negara

Sejauh ini responsnya konsisten dan sangat administratif: ucapan belasungkawa, pendampingan keluarga, pengantaran jenazah, “pemenuhan hak-hak peserta sesuai ketentuan yang berlaku” — frasa yang terdengar rapi tapi tidak pernah dijelaskan nominalnya. Tidak ada pengumuman sanksi terhadap penyelenggara satuan pendidikan. Tidak ada audit independen yang dipublikasikan. Yang ada adalah “evaluasi menyeluruh” yang dilakukan oleh pihak yang sama yang menjalankan programnya — Kemhan mengevaluasi Kemhan, dengan ditemani Panitia Seleksi Nasional.

“Pelatihan ini bukan untuk membentuk prajurit.”

— Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, Karo Infohan Kemhan

Kalimat itu diucapkan setelah korban ketiga, lalu diulang lagi setelah korban kelima. Ironi yang tidak perlu dijelaskan: institusi yang berulang kali menegaskan dirinya tidak sedang mencetak tentara, tetap memilih kurikulum, instruktur, dan medan latihan tentara untuk menjalankannya.


Pola yang Berulang

Bukan kebetulan — ini sebuah resep

Latsarmil Kopdes bukan eksperimen tunggal. Ia satu dari tiga gerakan paralel yang, bila dijajarkan, membentuk satu kebijakan tak tertulis: setiap kali ada masalah karakter sipil, jawabannya adalah seragam loreng.

01

Latsarmil Kopdes

35.476 calon manajer koperasi desa digembleng 45 hari di satuan pendidikan TNI sebelum dipercaya menjual sembako dan mie instan ke tetangganya sendiri.

02

Komcad ASN

Target 4.000 pegawai negeri sipil tahun ini ditempa menjadi Komponen Cadangan — birokrat yang dipersiapkan negara sebagai kekuatan tambahan pertahanan semesta.

03

Akmil ke Sekolah Rakyat

Mulai Agustus, 1.000 taruna tingkat I dan II dikirim ke 178 Sekolah Rakyat — bukan mengajar membaca, tapi menyetrika seragam, melipat sprei, menyemir sepatu.

Yang terakhir paling jujur soal skalanya: anak-anak dari keluarga miskin yang baru pindah ke asrama dianggap butuh “pembinaan kedisiplinan” — dan yang dianggap paling kompeten mengajarkannya bukan guru, bukan pekerja sosial, bukan psikolog anak, melainkan taruna calon perwira yang sendiri masih berstatus siswa. Alasannya, menurut Kapuspen TNI, adalah menanamkan jiwa kepemimpinan dan cinta tanah air pada siswa. Tidak dijelaskan mengapa pelajaran menyemir sepatu memerlukan instruktur berseragam TNI dan bukan, katakanlah, kakak asuh sipil yang dilatih khusus untuk itu.

35.476Peserta Latsarmil Kopdes
1.000Taruna Akmil ke Sekolah Rakyat
4.000Target ASN Komcad 2026
5Nyawa, sejauh ini
Pertanyaan yang Lebih Pelan

Siapa yang sebenarnya diuntungkan?

Ada satu pertanyaan yang lebih sulit dibuktikan dibanding pertanyaan medis dan kurikulum: apakah ekspansi peran TNI ke ranah sipil ini juga ekspansi anggaran?

Jawaban jujurnya: tidak ada dokumen anggaran khusus Latsarmil yang dipublikasikan terpisah dan bisa diaudit publik. Yang ada hanya angka besar di sekelilingnya — Kementerian Pertahanan mengantongi alokasi terbesar di antara semua kementerian dan lembaga tahun ini, dan setiap program baru yang melibatkan puluhan ribu peserta, puluhan satuan pendidikan, instruktur, logistik, dan rujukan rumah sakit, pasti punya mata anggaran sendiri di baliknya — entah dari pos Kemhan/TNI atau dari kementerian mitra yang menumpang programnya di sana.

↑ klik teks gelap untuk membuka catatan redaksi

Rumor bahwa ini “proyek baru” bagi TNI/Polri bukan tuduhan yang absurd — pola dwifungsi semacam ini punya sejarah panjang di Indonesia, dan setiap perluasan peran militer ke sektor sipil hampir selalu membawa serta perluasan anggaran serta posisi struktural baru. Tapi sejauh ini itu tetap pola yang masuk akal untuk dicurigai, bukan fakta yang sudah dibuktikan dengan dokumen. Bedanya penting: kecurigaan publik berhak ada, tapi kepastian publik belum ada — dan ketidaktahuan itu sendiri adalah bagian dari masalahnya, karena artinya tidak ada yang bisa dimintai pertanggungjawaban atas angka yang tidak pernah dibuka.


Dua Berkas, Belum Ditutup

Yang dikatakan negara, dan yang belum dijawabnya

Versi Resmi

  • Latsarmil dirancang membentuk karakter, disiplin, integritas, kepemimpinan — bukan mencetak prajurit.
  • Seluruh peserta lolos seleksi kesehatan sebelum berangkat, sesuai prosedur yang berlaku.
  • Evaluasi menyeluruh sedang berjalan: skrining kesehatan, pengawasan medis, deteksi dini, prosedur penanganan darurat.
  • Program Akmil di Sekolah Rakyat sejalan dengan Inpres No. 8/2025 dan permintaan awal Kemensos sendiri kepada TNI/Polri.

Yang Belum Dijawab

  • Mengapa kurikulum manajerial koperasi (15 hari) lebih singkat dari kurikulum bela negara (30 hari)?
  • Siapa yang akan disanksi, dan dengan mekanisme apa, jika evaluasi menemukan kelalaian prosedur?
  • Berapa anggaran riil program ini, dan dari pos mana — sesuatu yang belum pernah diumumkan secara terbuka?
  • Mengapa pembentukan karakter sipil — di koperasi maupun sekolah — secara default diserahkan ke institusi militer, bukan tenaga ahli sipil yang relevan?

Tidak ada yang menuduh pemerintah berniat jahat. Tapi niat baik yang dieksekusi dengan satu alat tunggal — disiplin gaya militer, untuk setiap soal, di setiap sektor — pada akhirnya berhenti menjadi solusi dan mulai menjadi refleks. Refleks itu sudah memakan lima nyawa. Bulan depan, ia akan masuk ke 178 asrama berisi anak-anak dari keluarga paling miskin di negeri ini. Berkas ini belum ditutup — dan mungkin memang belum seharusnya ditutup, sampai ada yang berani membuka angkanya ke publik.

BERKAS TERBUKA
Disusun dari rilis resmi Kementerian Pertahanan RI, Mabes TNI, Kementerian Sosial RI, serta pemberitaan Kompas.com, Tempo.co, Republika, CNN Indonesia, CNBC Indonesia, Tirto, Suara.com, RRI, dan Jatim Times sepanjang 17–29 Juni 2026.

Artikel ini adalah analisis dan opini berbasis fakta yang tersedia secara publik, bukan dokumen investigasi resmi. Angka dan kutipan pejabat merujuk pada keterangan tertulis dan siaran pers yang telah diterbitkan media nasional.
Share:
error: Content is protected !!