Kata Sebelum Batu
Menteng Membakar Luka Lama
Sebuah teguran soal knalpot bising berubah jadi kerusuhan yang menewaskan satu orang dan melukai dua lainnya. Tapi di balik narasi “gara-gara nasi uduk” yang dijaga rapi oleh pemerintah dan kepolisian, video-video yang beredar merekam sesuatu yang lebih tua dan lebih gelap: teriakan bernada rasial yang diarahkan ke warga keturunan Indonesia Timur.
Pukul sepuluh pagi, suasana Jalan Matraman Dalam masih seperti hari Minggu biasa. Ada gerobak nasi uduk, pembeli yang duduk di kursi plastik, dan suara knalpot yang digeber terlalu keras oleh dua pengendara motor yang lewat. Seseorang menegur. Sepele. Dua belas jam kemudian, jalan itu sudah dipenuhi batu, api, dan satu tubuh yang tidak lagi bernyawa.
Kepolisian menyebutnya sesederhana itu: sebuah teguran yang berujung emosi, emosi yang memanggil bala bantuan, dan bala bantuan yang berubah jadi kerusuhan. Namun narasi resmi ini punya lubang yang tidak bisa ditambal begitu saja — lubang yang muncul begitu warganet mulai membagikan rekaman video dari lokasi kejadian, dan lubang itu berbau rasisme.
Yang Terekam Kamera, Bukan Terekam Berita Acara
Di video-video amatir yang beredar luas, dua kelompok warga terlihat berhadapan dari sisi pagar yang berbeda, saling melempar batu sambil berteriak. Sejumlah keterangan yang menyertai video tersebut menyebut rekaman itu memperlihatkan detik-detik awal sekelompok warga mendatangi permukiman yang dihuni warga asal Ambon. Dalam kegaduhan itu, muncul teriakan-teriakan yang tidak sekadar provokasi kerusuhan biasa — melainkan cercaan yang menyasar identitas etnis, memakai kata-kata merendahkan martabat manusia dan bahkan doa buruk yang ditujukan pada asal daerah tertentu.
Inilah yang membedakan Matraman dari ribuan tawuran antarwarga lain yang terjadi tiap tahun di Jakarta. Bukan cuma soal siapa mukul siapa duluan. Ada garis etnis yang sengaja ditarik oleh sebagian pelaku di lapangan, dan garis itu terekam jelas — meski kemudian nyaris seluruhnya menghilang dari keterangan resmi.
Kronologi: Dari Knalpot ke Kerusuhan
- Dua pengendara motor menggeber knalpot di dekat gerobak nasi uduk di Matraman Dalam. Seorang warga menegur karena bising. Teguran itu tak diterima.
- Kedua pengendara kembali membawa serta beberapa rekan. Gerobak dagangan dirusak, sejumlah warga dipukul. Polisi kemudian menetapkan empat orang dari kelompok ini — bukan warga Matraman — sebagai tersangka perusakan.
- Amarah warga sekitar tersulut. Pengejaran dan bentrokan fisik pecah hingga ke ujung Jalan Tambak, di depan sebuah gereja. Beberapa laporan menyebut dua orang diduga asal Ambon tewas pada tahap ini, sebelum keterangan resmi menyatakan satu korban jiwa.
- Situasi memanas kembali. Massa dari kubu yang merasa diserang mendatangi ulang lokasi, kali ini membawa senjata tajam. Aksi lempar batu meluas, empat sepeda motor terbakar.
- Sejumlah massa dari komunitas Indonesia Timur mendatangi Mapolsek Menteng, menuntut penangkapan pelaku dan proses hukum yang cepat serta tidak pandang bulu.
- Polda Metro Jaya menetapkan tujuh tersangka. Kedua pihak dipertemukan dan dimediasi di Polda Metro Jaya. 221 personel gabungan Polri–TNI dikerahkan menjaga lokasi.
- Gubernur DKI Jakarta dan Menteri HAM RI, dalam pernyataan terpisah, sama-sama menegaskan peristiwa ini tidak boleh dikaitkan dengan isu etnisitas maupun rasisme.
Bantahan yang Datang Terlalu Cepat
Yang mencolok dari respons resmi bukan isinya, tapi kecepatannya. Belum genap dua hari sejak kerusuhan pecah, dua pejabat negara sudah tampil di depan kamera untuk memastikan satu hal yang sama: ini bukan rasisme.
Gubernur DKI Jakarta
Pramono Anung meminta publik tidak mengaitkan bentrokan ini dengan isu etnisitas apa pun, menegaskan keberagaman di Jakarta selama ini terjaga dengan baik dan tidak ingin isu semacam itu mengganggu ketenteraman kota.
Menteri HAM RI
Natalius Pigai menyatakan peristiwa Matraman murni tindak kriminal di lapangan, tanpa kaitan dengan rasisme maupun konflik antarsuku dan etnis.
Persoalannya, kedua pernyataan ini datang dari posisi yang punya kepentingan besar untuk menutup isu SARA secepat mungkin — menjaga citra ibu kota yang “aman, nyaman, tenteram”, dan mencegah preseden konflik horizontal yang lebih luas. Tak satu pun dari pernyataan itu menjelaskan isi teriakan yang terekam video, atau menjawab langsung apa yang membuat sebagian pelaku memilih mendatangi permukiman berdasarkan asal daerah penghuninya, bukan sekadar mengejar dua pengendara motor yang jadi pemicu awal.
Luka yang Sudah Ada Sebelum Nasi Uduk
Bagi sebagian warga lama Matraman, apa yang terjadi pada 26 Juli bukan sesuatu yang datang dari ruang kosong. Seorang warga yang enggan disebut namanya mengaku gesekan antara warga sekitar dengan komunitas asal Maluku di kawasan itu sudah berlangsung sejak era 1980–1990-an — luka lama yang selama puluhan tahun ditekan agar tak meledak terbuka, sebelum kembali muncul ke permukaan dalam beberapa hari terakhir.
Fakta yang berulang
3–4 dekade
Rentang waktu yang disebut sejumlah warga lokal sebagai usia dari ketegangan sosial antara warga Matraman dan komunitas Indonesia Timur di kawasan tersebut — jauh lebih tua dari sekadar perkara knalpot bising dan gerobak nasi uduk.
Fakta ini penting justru karena ia berlawanan langsung dengan bingkai “kriminal murni” yang buru-buru dipasang pemerintah. Ketegangan struktural yang mengendap selama puluhan tahun tidak meledak karena knalpot motor. Knalpot motor hanyalah korek api; bahan bakarnya sudah lama tersedia.
Simpang Siur Identitas, Bukti Betapa Rentannya Isu Ini
Dalam 48 jam pertama pascakejadian, muncul pula pertarungan narasi soal siapa sebenarnya yang diserang. Sebagian unggahan di media sosial mengoreksi bahwa kelompok yang menjadi sasaran bukan warga asal Maluku/Ambon, melainkan warga asal Nusa Tenggara Timur, khususnya Kupang. Hingga berita-berita awal ditulis, kepolisian sendiri belum memberi keterangan resmi soal identitas etnis kelompok yang terlibat.
Suara yang Menolak Dibungkam
Sementara pejabat sibuk meredam isu etnis, komunitas Indonesia Timur di Jakarta justru mendesak pengusutan yang lebih terbuka — termasuk soal serangan terhadap rumah tinggal yang juga menjadi tempat usaha bagi anak-anak muda Maluku di sekitar lokasi. Ketua Umum Maluku Satu Rasa–Salam Sarane Bersatu, Robi Tutuarima, mendesak polisi segera menangkap para pelaku pengeroyokan yang videonya telanjur tersebar luas, sembari menyoroti perilaku massa yang menurutnya mencerminkan gejala mob mentality.
Tokoh masyarakat asal Halmahera Utara, Mesak, melangkah lebih jauh: ia menuntut Gubernur DKI Jakarta dan Kapolda Metro Jaya bertanggung jawab penuh atas konflik ini, meminta pengusutan dilakukan secara transparan dan tanpa pandang bulu, sekaligus mengingatkan bahwa tidak boleh ada satu kelompok masyarakat pun yang harus hidup dalam ketakutan akibat kekerasan kolektif.
Dua Realitas yang Berjalan Berdampingan
Yang tersisa dari peristiwa Matraman bukan cuma satu nyawa yang hilang dan tujuh tersangka yang sudah ditahan. Yang tersisa adalah dua realitas yang berjalan berdampingan tanpa pernah benar-benar bertemu.
Di satu sisi, negara — lewat Gubernur DKI dan Menteri HAM — ingin peristiwa ini selesai sebagai berita kriminal biasa: knalpot bising, emosi tersulut, tujuh orang ditahan, kasus ditutup, kota kembali kondusif. Di sisi lain, video yang sudah terlanjur ditonton ratusan ribu kali merekam sesuatu yang tidak bisa dihapus oleh pernyataan pers mana pun: suara orang-orang yang meneriakkan kebencian berbasis identitas etnis kepada tetangga mereka sendiri, di ibu kota yang katanya sudah “aman, nyaman, dan terbuka bagi siapa saja.”
Damai yang diumumkan di ruang mediasi Polda Metro Jaya mungkin cukup untuk menghentikan lemparan batu berikutnya. Tapi ia tidak otomatis menghapus kata-kata yang sudah lebih dulu dilempar — dan pertanyaan tentang kata-kata itulah yang, sejauh ini, belum benar-benar dijawab oleh siapa pun yang berwenang menjawabnya.