Beta Meliput, Beta Berkisah, Beta Menangis

Usai Tahun Baru 1999

Hari keempat di awal tahun 1999, persis tanggal 4 Januari, beta berangkat ke Jakarta karena mendapat undangan meliput pelantikan Rektor Unpatti waktu itu, Prof. Dr. Mus Huliselan, di Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Bersama beberapa staf rektorat Unpatti, beta sebagai wartawan harian Suara Maluku berangkat dengan pesawat dan menginap di salah satu penginapan tak jauh dari kawasan Senen, Jakarta Pusat.

Selesai acara pelantikan, beta diberi uang tiket pesawat dan jasa meliput untuk kembali ke Ambon pada 6 Januari 1999. Namun karena masih ingin melepas rindu dengan keluarga, kerabat dan teman-teman yang sudah merantau dan bekerja di Jakarta, beta memilih tidak pulang dengan pesawat tetapi dengan kapal Pelni yang kebetulan akan menuju Ambon pada 7 Januari.

Sambil menunggu kapal, beta bertemu keluarga dan teman-teman semasa sekolah di Ambon. Saat berkeliling Jakarta, naluri jurnalis beta muncul. Naluri itu membuat beta mencoba memantau situasi dan kondisi Jakarta pasca insiden kerusuhan massal 1998, dan kerusuhan di kawasan Ketapang antara para preman Ambon atau anggota PAM Swakarsa dengan warga setempat. Peristiwa kerusuhan itu terjadi pasca lengsernya penguasa Orde Baru, Presiden Soeharto.

Sisa-sisa ketegangan dan kesiagaan masih terlihat di beberapa kawasan strategis Jakarta, seperti Monas, daerah sekitar Istana Negara, Menteng, terutama di ruas jalan menuju Jalan Cendana tempat kediaman pribadi Presiden Soeharto, Bundaran Hotel Indonesia dan lainnya. Di lokasi-lokasi itu, pagar duri melingkar diletakkan menutup setengah badan jalan, ada juga panzer dan tank, serta aparat TNI-Polri dengan senjata panjang mengawasi kendaraan dan orang yang lalu-lalang.

Situasi dan kondisi Jakarta itu sempat beta tulis dalam sebuah catatan perjalanan dan dimuat di harian Suara Maluku. Beta sengaja menulisnya karena tuntutan reformasi dan aksi demo besar-besaran menurunkan Presiden Soeharto di Jakarta juga berimbas di Ambon dengan aksi demo yang akhirnya menjadi peristiwa kekerasan antara mahasiswa dan tentara di jalan-jalan utama seperi Urimesing, Trikora, Valentein, Ahmad Yani sampai Pardeis. Kejadian itu dikenal sebagai “Peristiwa November Kelabu”.

Tiba saatnya tanggal 7 Januari 1999, beta harus kembali ke Ambon dengan menumpang KM Rinjani. Sekitar pukul 13.00, beta menuju pelabuhan Tanjung Priok dengan taksi. Karena tidak membawa banyak barang dan membeli tiket kelas 1, beta tidak tergesa-gesa naik ke kapal. Saat diumumkan bahwa kapal beberapa menit lagi akan berangkat, beta naik ke kapal dan mencari kamar kelas 1 sesuai tiket yang dipegang.

Namun suasana dalam kapal menuju ke Ambon, yang biasanya penuh dengan canda dan tawa orang-orang Ambon yang saling mengenal, bertutur sapa, saling bercerita, tertawa lepas dan gembira, ternyata tidak terlihat sama sekali. Yang ada adalah kesan tegang, diam, dan berkelompok, terutama para pemuda dengan wajah sangar, susah senyum dan lainnya bercampur menjadi satu. Suasana ini membuat beta sebagai jurnalis bertanya dalam hati, ada apa sebenarnya? Karena penasaran, beta mencoba melihat-lihat dari dek ke dek dengan harapan ada pemuda Ambon yang beta kenal untuk bertanya.

Rasa penasaran itu akhirnya terjawab setelah beta bertemu teman semasa sekolah di SMP 6 Ambon, namanya Samsudin Rumakat. Kami bersalaman, berpelukan dan saling bertanya tentang banyak hal. Dari Samsudin dan beberapa kenalan lainnya di kapal, beta mendapatkan informasi mengapa sesama penumpang terutama anak-anak muda Ambon di dalam kapal terlihat tidak kompak, tegang dan duduk berkelompok. Beta semakin penasaran setelah memperhatikan dengan seksama pemuda Ambon duduk berkelompok sesuai dengan agama yang mereka anut. Yang “Salam” (Islam) duduk berkelompok di dek lain atau posisi anjungan lain, demikian halnya yang “Sarane” (Kristen).

Menurut mereka, ketidakkompakan anak-anak Ambon yang terlihat di atas kapal dikarenakan mayoritas pemuda yang pulang menuju Ambon adalah mereka yang berprofesi sebagai preman dan debt collector di Jakarta. Kebanyakan dari mereka mengalami nasib sial akibat bertugas sebagai PAM Swakarsa dan kerusuhan Ketapang, sehingga menimbulkan saling kecurigaan dan dendam sesama pemuda Ambon sendiri. Alasan mereka pulang berbondong-bondong adalah untuk merayakan Lebaran atau Idul Fitri, sedangkan yang Kristen karena tidak sempat pulang waktu Natal dan Tahun Baru.

Selama pelayaran dari Pelabuhan Tanjung Priok, masuk Tanjung Perak Surabaya, Makassar, Bau-Bau hingga Ambon, suasana ketegangan tetap terasa. Ketidaknyaman pun menghinggapi beta saat berjalan-jalan di atas kapal atau ke restoran. Yang mengagetkan, di lorong-lorong kamar kelas 1 yang biasanya lengang dan sepi ternyata penuh dengan anak-anak muda Ambon yang tidur atau duduk berkelompok sambil main kartu.

Tanggal 11 Januari 1999, KM Rinjani merapat di pelabuhan Yos Sudarso Ambon. Banyaknya preman asal Ambon ternyata bukan hanya di kapal yang akan turun, tetapi juga di dermaga pelabuhan yang menjemput rekan-rekannya. Saat itu bahkan sempat terjadi bentrokan antarpemuda di dermaga. Untung polisi segera menghalau mereka keluar dari area pelabuhan.

Para pemuda Ambon yang pulang kampung dari Jakarta mulai terlihat di beberapa kawasan seperti Terminal dan Pasar Mardika, kompleks Pertokoan Pelita (sekarang lokasi Monumen Gong Perdamaian Dunia), Ambon Plaza dan kawasan lainnya. Intensitas tindak kriminal pun mulai terasa meningkat, terutama tindakan kekerasan dan pemalakan.

Suatu malam, setelah tiba di Ambon, beta bersama beberapa teman makan nasi kuning dan begadang di jalan A.M. Sangadji dekat kawasan Simpang. Tiba-tiba dua pemuda berlari dari arah pelabuhan dan menghampiri kami. Salah satunya menanyakan apakah ada yang pakai sepeda motor. Kami jawab tidak ada. Ketika ditanya mengapa berlari tergesa-gesa, pemuda itu menceritakan bahwa dia dan temannya dipukuli dan mau ditikam oleh orang BBM di Pasar Mardika. Saat ditanya lagi apa itu artinya BBM, jawabnya itu singkatan Buton, Bugis, Makassar.

“Kalo ada sepeda motor, tolong antar katong ke Kudamati, panggil anak-anak turun supaya dong jang biking diri jawara di Ambon nih. Masa BBM mau kuasai pasar dan terminal di Ambon,” begitu kata pemuda tersebut. Setelah bicara demikian, kedua pemuda itu lantas bergegas meninggalkan kami di tempat nasi kuning dan menuju Tugu Trikora untuk menaiki angkot jurusan Kudamati.

Beta dan teman-teman waktu itu sempat kaget dan ketawa dengan istilah BBM. Karena yang lazim istilah itu artinya bahan bakar minyak. Tetapi faktanya, setelah istilah itu didengar dari kedua pemuda bertampang preman itu, keesokan dan seterusnya istilah orang BBM semakin santer disebut-sebut.

Ketika konflik Ambon mulai pecah pada 19 Januari 1999, perasaan dan penasaran beta tentang kedatangan banyak anak-anak muda Ambon di atas KM Rinjani semakin jelas keterkaitannya. Media massa, baik elektronik dan cetak, para pengamat dan berbagai tokoh mulai menganalisis dan berpendapat soal pemicu konflik. Di antaranya ada yang menyebutkan bahwa itu merupakan dampak dari Kerusuhan Ketapang di Jakarta yang melibatkan preman asal Ambon dan adanya kecemburuan orang pribumi terhadap orang BBM.

Terlepas dari silang sengketa informasi tentang pra-kondisi konflik, 19 Januari 1999 menjadi kisah pribadi beta bersama istri dan anak. Nyawa beta bersama keluarga “diselamatkan” sahabat Zairin ‘Embong’ Salampessy. Beta dan Embong sama-sama bekerja di Suara Maluku. Beta lebih dulu bergabung di Suara Maluku. Embong saat itu sedang menekuni hobinya sebagai pelukis jalanan. Namanya menjadi dipanggil Embong (bahasa jawa Timur = jalan) juga karena dia hidup di jalan. Oleh sejumlah orang, dia waktu itu dianggap aneh, lebih-lebih ketika memilih trotoar di kawasan A.Y. Patty sebagai studio dan show room. Tapi dari pinggir jalan A.Y. Patty Ambon itulah, riwayat karirnya bermula. Tahun 2004, koran Suara Maluku memintanya membuat karikatur sampai menjadi jurnalis. Embong sangat siap karena di kampusnya dia adalah aktivis pers kampus yang mengusai seni fotografi dan artistik koran secara otodidak. Di Suara Maluku, dia langsung sejajar dengan kami yang sudah lebih dulu di situ karena dia memilih jalur dan style di luar mainstream. Embong lebih fokus meliput pinggir jalan, pinggir laut, pinggir kota, orang kampung, dan jarang masuk kantor pemerintah. Liputannya dipublikasikan dalam bentuk feature dan selalu menempati ruang utama di Suara Maluku. Beta dengan Embong semakin dekat dan akrab, terutama ketika beta yang spesialis liputan olahraga, dan ketika itu menjabat redaktur olahraga, berangkat dengan dia meliput Pekan Olahraga Nasional (PON) 1996. Sejak itu, keakraban kami seperti kakak-adik.

Kisah Embong menyelamatkan beta saat awal konflik 1999 itu memang tidak secara langsung. Tapi upayanya membatalkan kunjungan beta ke rumahnya itulah yang beta anggap sebagai penyelamatan. Ketika itu, beta, istri dan anak pertama akan memberi ucapan selamat kepada Embong dan keluarganya yang tinggal di perbatasan Mardika-Batu Merah. Ketika hendak mengendarai sepeda motor, tiba-tiba dering telepon berbunyi. Istri beta angkat telepon karena beta sudah siap di atas sepeda motor. Dia lantas bilang bahwa Embong minta tunda dulu kedatangan kami karena ada insiden antara Mardika-Batu Merah. Sebenarnya bentrok antara dua kawasan itu seperti sudah menjadi “tradisi”.

Bentrok di sana hampir tiap tahun terjadi tapi hanya berlangsung sebentar. Karena itu, beta sebenarnya tidak terlalu terpengaruh informasi bentrok dua kawasan itu. Beta tetap siap-siap untuk meluncur dengan keluarga ke rumah Embong. Tapi tak berapa lama kemudian, Embong kembali menelepon dan minta batalkan saja rencana kedatangan ke rumahnya, karena situasi dan kondisi sudah tidak seperti perkelahian biasanya. Ketika itu sudah terjadi pembakaran rumah dan teriakan simbol-simbol agama.

Yang aneh, menurut Embong, meski dia dan keluarganya adalah Muslim yang taat dan bapaknya adalah kepala sekolah Madrasah Tsanawiyah Negeri, namun massa dari arah Batu Merah, di antaranya sejumlah orang berbadan tegap, dan berambut cepak, hendak menyerang dan membakar rumah keluarganya. Embong juga sempat meminta bantuan mencari taksi untuk mengevakuasi keluarganya.

Mendapat kabar sudah terjadi pembakaran, beta membatalkan niat untuk pergi bersilaturahmi itu. Beta bersyukur kepada Tuhan karena Embong meminta beta membatalkan niat pergi ke rumahnya, meski beta sebelumnya agak ngotot untuk tetap pergi. Rencananya waktu itu setelah ke rumah Embong beta akan melanjutkan perjalanan ke Batu Merah Kampung untuk bersilaturahmi ke rumah Mama Yam, bidan kampung yang turut menjaga istri beta ketika melahirkan anak pertama di RSUD. Selanjutnya beta akan ke kediaman dua sahabat lain dari Suara Maluku, yakni M. Kiat dan Ahmad Ibrahim yang juga tinggal di kawasan Batu Merah. Entah apa yang terjadi pada beta dan keluarga jika Embong tidak mengabarkan situasi dan kondisi yang terjadi ketika itu.

Sejak kerusuhan awal itu, beta dan Embong masih sempat beberapa kali bertemu di Kantor Gubernur, namun dia akhirnya memutuskan untuk bergabung bersama teman-teman aktivis lainnya di Tim Relawan Kemanusiaan (TRK). Tapi kiprah Embong bersama TRK dalam aksi kemanusiaan, yang mengharuskannya untuk nekat keluar masuk daerah segregasi Salam-Sarane, membuat nyawanya dan nyawa keluarganya terancam. Di TRK ketika itu hanya Embong yang Muslim. Dalam perkembangannya kemudian, mereka merekrut sejumlah relawan Salam. Namun karena Embong yang paling senior saat itu di antara relawan yang Salam, dialah yang paling aktif bersama rekan-rekannya yang Sarane untuk melakukan dan memberikan bantuan-bantuan kemanusiaan.

Oleh teman-temannya di Jaringan Baileo Maluku, Embong dan keluarganya akhirnya dievakuasi ke luar Ambon. Awalnya dia memimpin teman-teman relawan di Yogyakarta melakukan aksi-aksi kemanusiaan melalui Emergency Team Baileo Maluku Pos Yogya, lalu dia bergabung di Tim Advokasi untuk Penyelesaian Kasus (Tapak) Ambon di Jakarta sebagai koordinator, mengganti rekannya Nus Ukru yang pulang ke Ambon untuk kembali berkiprah dengan teman-teman mereka di Jaringan Baileo Maluku.

Selama di Tapak Ambon, Embong dan rekan-rekannya banyak melakukan advokasi di level nasional maupun internasional. Beberapa kali dia tercatat sebagai anggota delegasi NGO Indonesia yang berangkat ke sidang Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (HAM) PBB di Geneva Swiss. Tapak Ambon juga sempat merilis sebuah buku tentang tragedi kemanusiaan di Ambon. Kini beta dan Embong bersama lagi di Ambon, setelah dia kembali dengan niat memajukan dunia fotografi di Maluku melalui Maluku Photo Club (MPC), sebuah keahlian yang dulu digunakannya untuk memberi warna pada terbitan-terbitan harian Suara Maluku.

Di Malino Ada Tangis Haru

12 Februari 2002, beta teringat sebuah kota kecil berhawa sejuk yang berlokasi di perbukitan di Sulawesi Selatan, bernama Malino. Meski hanya kota wisata kecil, namun sejak jaman penjajahan Belanda, Malino sudah terkenal karena adanya perjanjian antara penguasa Belanda dan para tokoh perintis kemerdekaan RI di sana.

Share:
error: Content is protected !!