Pembantaian Ambon lebih dikenal dalam literatur internasional sebagai Amboyna Massacre. Peristiwa tragis ini terjadi di Ambon pada tahun 1623. Kejadian ini menjadi simbol keganasan kolonialisme Belanda di kepulauan Maluku dan menandai babak baru. Babak baru ini muncul dalam perebutan dominasi perdagangan rempah-rempah di kawasan tersebut. Artikel ini akan mengulas latar belakang, kronologi, dan dampak dari peristiwa ini.
Latar Belakang: Konflik di Tengah Perburuan Rempah-rempah
Pada abad ke-17, Maluku dikenal sebagai “Kepulauan Rempah-rempah” karena menjadi penghasil utama cengkeh, pala, dan fuli. Rempah-rempah dari wilayah ini sangat bernilai di pasar Eropa, sehingga menarik perhatian kekuatan kolonial seperti Portugis, Inggris, dan Belanda.
Belanda, melalui Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), berusaha memonopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku. Namun, penduduk setempat melawan langkah ini. Inggris juga bersaing sengit dengan Belanda karena memiliki kepentingan dagang di kawasan tersebut. Ketegangan antara Belanda dan Inggris semakin memuncak ketika keduanya mendirikan benteng di Ambon.
Kronologi Pembantaian
Pada awal Februari 1623, Herman van Speult, gubernur VOC di Ambon, menerima laporan tentang dugaan konspirasi. Konspirasi ini melibatkan pedagang Inggris, samurai Jepang, dan warga lokal untuk merebut kendali atas Benteng Victoria. Kecurigaan ini muncul setelah seorang tentara lokal melaporkan aktivitas mencurigakan di sekitar benteng.
Penangkapan dan Interogasi
Sebagai langkah preventif, van Speult memerintahkan penangkapan sejumlah orang yang diduga terlibat. Sebanyak 20 orang ditahan, terdiri dari 10 pedagang Inggris, 9 warga Jepang, dan 1 orang Portugis. Para tahanan dibawa ke Benteng Victoria untuk diinterogasi.
Interogasi dilakukan dengan metode penyiksaan brutal untuk mendapatkan pengakuan. Metode yang digunakan termasuk strappado, di mana korban diikat tangannya dan digantung hingga sendi-sendi mereka terlepas. Metoda penyiksaan lainnya adalah waterboarding. Hal ini dilakukan dengan menyiramkan air ke kepala yang dibungkus dengan kain. Metode ini membuat mereka berulang kali hampir mati lemas. Beberapa tahanan juga mengalami pemukulan, penusukan, dan ancaman eksekusi langsung jika tidak mengakui keterlibatan mereka. Dalam kondisi fisik dan mental yang lemah, banyak tahanan yang akhirnya “mengaku” atas tuduhan tersebut meskipun tidak ada bukti kuat.
Belanda mencurigai pedagang Inggris yang berbagi pos perdagangan dengan mereka. Kecurigaan samar ini menjadi nyata ketika terjadi penangkapan seorang tentara bayaran muda Jepang bernama Shichizo pada 23 Februari 1623. Dia ketahuan mengajukan pertanyaan yang mencurigakan tentang pertahanan benteng Victoria. Dia diinterogasi dengan cara penyiksaan. Saat itulah dia mengakui adanya konspirasi dengan tentara bayaran Jepang lainnya. Mereka berencana merebut benteng dan membunuh gubernur. Berbekal pengakuan Shichizo, kemudian ditangkap sepuluh tentara bayaran Jepang yang tersisa di garnisun yang mengaku ikut serta dalam persekongkolan itu.
Penyidikan dipimpin oleh Isaaq de Bruyn, seorang bawahan Van Speult. Dia adalah seorang pengacara pajak, otoritas hukum utama di pulau itu. Pada 26 Februari, fokus dialihkan ke pos perdagangan kecil Perusahaan Hindia Timur Inggris (East India Company/EIC) di Ambon. Penyidik mulai memeriksa Abel Price karena dia disebut sebagai penghubung utama antara Jepang dan rekan konspirator mereka. Price mengaku berperan dalam konspirasi yang bertujuan merebut kastil. Ia juga berencana membunuh orang Belanda di bawah pimpinan Gabriel Towerson. Towerson adalah kapten berusia 49 tahun dari pos perdagangan Inggris di Ambon.
Pada akhirnya seluruh konspirator tersingkap. Ini termasuk pengawas budak dan prajurit dari pemukiman di Luhu di dekat Semenanjung Hoamoal. Mereka adalah bagian dari konspirasi besar yang melibatkan Towerson dan kaki tangannya dari Jepang.
Profil Tahanan:
- Pedagang Inggris: Kelompok terbesar adalah pedagang dari British East India Company (EIC). Gabriel Towerson, pemimpin operasi dagang Inggris di Ambon, dan Abel Price seorang tukang cukur/dokter yang bekerja di EIC.
- Samurai Jepang: Sembilan tahanan adalah warga Jepang yang bekerja sebagai samurai bayaran. Mereka sering disewa oleh pihak-pihak kolonial maupun pedagang untuk menjaga keamanan di kawasan perdagangan. Ada dua tentara bayaran Jepang yang diinterogasi dan ditangkap, Shichizō dan
Sidney Miguel. - Seorang Portugis: Salah satu tahanan adalah seorang pria Portugis. Dia adalah Pedro Conje, seorang mantan budak. Dia pernah bekerja pada British East India Company (EIC).
Selain itu, beberapa warga lokal juga menjadi target tindakan represif VOC. Walaupun tidak dijatuhi hukuman mati, banyak di antara mereka yang ditangkap, diinterogasi, atau menjadi korban intimidasi pasca eksekusi.
Persidangan Kilat
Setelah pengakuan diperoleh, para tahanan dihadapkan pada persidangan yang berlangsung dalam waktu singkat. Proses hukum ini dilakukan di bawah kendali penuh Herman van Speult, yang berperan sebagai hakim sekaligus eksekutor keputusan. Tidak ada prosedur pembelaan yang layak. Para terdakwa tidak diberi akses untuk mendatangkan saksi atau bukti. Ini dapat meringankan tuduhan terhadap mereka.
Persidangan ini lebih menyerupai formalitas untuk mengesahkan keputusan yang sudah ditentukan sebelumnya. Para terdakwa, yang sudah mengalami penyiksaan fisik dan mental, dipaksa mengakui tuduhan pengkhianatan dan persekongkolan melawan VOC. Akhirnya, semua terdakwa dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati, meskipun tidak ada bukti konkret yang menguatkan tuduhan tersebut.
Menurut catatan pengadilan Belanda, sebagian besar tersangka mengakui bahwa mereka bersalah seperti yang dituduhkan, dengan atau tanpa disiksa. Karena tuduhannya adalah pengkhianatan, mereka yang telah mengaku dijatuhi hukuman mati. Pengakuan diperlukan untuk hukuman berdasarkan hukum Romawi Belanda. Pengadilan terdiri dari gubernur dan Dewan VOC di Amboina. Namun, empat orang Inggris dan dua orang Jepang yang dihukum kemudian diampuni.
Eksekusi
Pada 9 Maret pagi hari, para narapidana digiring ke lapangan terbuka di depan benteng. Di sana dua puluh satu orang yang terdiri dari sepuluh orang Inggris, sepuluh orang Jepang dan satu orang Portugis, dieksekusi. Mereka dipenggal, satu demi satu, dengan satu tebasan pedang. Kepala kapten Inggris, Gabriel Towerson, ditusuk di tiang. Ini agar semua orang dapat melihatnya.
Tubuh para korban kemudian dipamerkan di berbagai tempat di sekitar benteng. Kepala mereka dipasang di tiang sebagai peringatan kepada siapa saja yang berani menentang kekuasaan VOC. Eksekusi ini tidak hanya menjadi alat penghukuman tetapi juga propaganda kekuatan VOC untuk menanamkan rasa takut di kalangan penduduk lokal.