Pamflet dan Propaganda
Setelah persidangan dan eksekusi, VOC tidak hanya berhenti pada kekerasan fisik. Untuk membenarkan tindakan mereka, Belanda melancarkan perang propaganda dalam bentuk pamflet yang disebarkan di Eropa. Dalam pamflet ini, VOC menggambarkan Inggris sebagai pihak yang berkhianat dan menuding mereka sebagai perencana utama konspirasi di Ambon. Mereka ingin mengalihkan perhatian dari brutalitas tindakan VOC. Publik Eropa diyakinkan bahwa eksekusi tersebut sah dan diperlukan untuk menjaga stabilitas perdagangan. Pamflet-pamflet ini menjadi alat penting dalam narasi kolonial Belanda. Mereka berusaha memperkuat citra VOC sebagai penjaga ketertiban dan hukum di wilayah kolonial. Di balik itu terdapat kepentingan ekonomi dan politik yang besar. Di sisi lain, Inggris juga merilis pamflet balasan. Pamflet ini mengecam VOC atas kekejaman mereka. Ini memicu persaingan propaganda yang semakin memperkeruh hubungan kedua negara.
Ketika berita tentang kasus tersebut sampai ke Eropa sekitar bulan Mei 1624, hal itu langsung memicu kemarahan. Emosi memuncak dengan diterbitkannya serangkaian pamflet yang menghasut. Kedua belah pihak berusaha mengutuk Belanda sebagai tiran berdarah. Mereka juga mengutuk Inggris sebagai pengkhianat yang tidak setia. Sementara kedua perusahaan tersebut mendorong versi kasus mereka sendiri, Perusahaan Hindia Timur Inggris memperoleh keberhasilan terbesar. Dengan ukuran apa pun, Perusahaan Hindia Timur Inggris melancarkan kampanye propaganda yang sangat berhasil terhadap mitranya dari Belanda. Hal ini dibahas dengan cemerlang dalam buku terbaru Alison Games, Inventing the English Massacre: Amboyna in History and Memory. Buku ini menunjukkan bagaimana generasi penulis Inggris berikutnya menggunakan “Amboyna” sebagai singkatan. Istilah ini menyampaikan kekejaman dan pengkhianatan tanpa komentar atau elaborasi. Mereka begitu yakin bahwa pembaca mereka akan memahami arti kata tersebut.
Kampanye propaganda tersebut mengambil banyak bentuk. Perusahaan Hindia Timur Inggris memesan sebuah “gambar yang sangat besar.” Di dalamnya dipaparkan beberapa penyiksaan dan eksekusi berdarah yang dilakukan terhadap rakyat kita di Amboyna. Namun, instrumen utamanya adalah pamflet cetak. Publikasi ini relatif murah dan dicetak berulang-ulang. Pamflet sering kali berisi ilustrasi orang Inggris yang disiksa secara brutal.
Tembakan pertama perang pamflet dilepaskan oleh para pendukung VOC dalam sebuah publikasi pendek. Waerachtich Verhael vande Tidinghen ghecomen wt de Oost-Indien pertama kali diterbitkan pada bulan Juli 1624. Kemudian, pamflet ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Judulnya adalah A True Declaration of the News that Came Out of the East Indies. Diyakini secara luas sebagai karya seorang pejabat senior Belanda. Pamflet tersebut mengecam “konspirasi keji”. Pamflet ini juga menawarkan pembelaan yang terukur terhadap proses hukum. Perusahaan Inggris segera bereaksi. Mereka menugaskan sebuah kisah nyata tentang tindakan yang tidak adil, kejam, dan biadab terhadap Inggris di Amboyna di Hindia Timur. Gubernur dan dewan Belanda di sana melakukan tindakan tersebut. Kisah ini disusun berdasarkan kesaksian yang diberikan oleh segelintir orang yang selamat dari pengadilan yang telah berhasil sampai ke Inggris.
Implikasi Lokal
Setelah eksekusi, VOC melanjutkan operasi pembersihan terhadap siapa saja yang dicurigai memiliki hubungan dengan para terdakwa. Banyak warga lokal yang tidak bersalah ikut menjadi korban dalam tindakan represif ini. Desa-desa yang dianggap tidak setia kepada VOC dihancurkan, dan beberapa pemimpin lokal ditangkap atau dieksekusi tanpa pengadilan yang adil.
Kekerasan ini menimbulkan trauma mendalam di kalangan masyarakat Ambon. Selain itu, tindakan VOC menanamkan rasa tidak percaya di antara penduduk lokal. Mereka memecah belah solidaritas komunitas. VOC memperkuat dominasi kolonial dengan cara memanfaatkan rasa takut sebagai senjata utama. Namun, kekejaman ini juga memicu resistensi di beberapa wilayah. Gerakan perlawanan seringkali tidak terorganisir dengan baik. VOC telah menghancurkan banyak jaringan sosial dan politik di kawasan tersebut.
Dampak Peristiwa
1. Hubungan Inggris-Belanda Memburuk
Pembantaian ini memicu ketegangan diplomatik yang signifikan antara Inggris dan Belanda. Pemerintah Inggris mengecam tindakan VOC. Insiden ini menjadi salah satu alasan untuk mengurangi hubungan perdagangan dengan Belanda di kawasan Asia Tenggara.
2. Penurunan Kepercayaan pada VOC
Meski VOC berhasil mempertahankan monopoli di Maluku untuk beberapa waktu, peristiwa ini menodai reputasi mereka di mata dunia internasional. Metode kekerasan yang mereka gunakan menegaskan sisi gelap kolonialisme Belanda.
3. Penguatan Dominasi VOC di Maluku
Setelah berhasil menyingkirkan Inggris dari Ambon, Belanda memperkuat cengkeramannya atas perdagangan rempah-rempah di kawasan tersebut. Namun, tindakan represif mereka menyisakan luka mendalam bagi penduduk lokal dan menambah resistensi terhadap penjajahan.
Refleksi Sejarah
Pembantaian Ambon adalah pengingat pahit akan kekejaman yang dapat muncul dalam ambisi kolonial. Peristiwa ini mencerminkan bagaimana kekuatan imperial tidak segan menggunakan kekerasan untuk mempertahankan kepentingannya, seringkali dengan mengorbankan kemanusiaan dan keadilan.
Dalam konteks modern, mengenang peristiwa ini penting. Ini adalah bagian dari upaya memahami sejarah kolonialisme di Nusantara. Kita perlu menyadari dampaknya terhadap identitas serta keberagaman masyarakat Indonesia.
Kesimpulan
Pembantaian Ambon bukan hanya lembaran gelap dalam sejarah Maluku, tetapi juga cerminan dari dinamika global pada masa kolonial. Peristiwa ini mengajarkan kita untuk menghargai nilai kemanusiaan dan pentingnya berdialog dalam menyelesaikan konflik tanpa kekerasan. Di balik tragedi tersebut, masyarakat Maluku tetap berdiri teguh sebagai simbol keberanian dan ketahanan menghadapi tekanan kolonial. Mengenang peristiwa ini membantu kita menghormati perjuangan mereka yang menjadi korban. Kita juga melanjutkan warisan perjuangan untuk keadilan dan kebebasan di masa kini.
Sumber: AMBOINA, 1623 “Fear and Conspiracy on The Edge of Empire” – ADAM CLULOW – 2019