Komunitas Adat Jargaria: Penerima Penghargaan RRI 2025 di Nepal untuk Penyelamatan Alam dan Budaya

Share:

Senin malam 30 Juni 2025, Rights and Resources Initiative (RRI) memperingati 20 tahun perjuangan memajukan hak atas tanah, hutan, dan sumber daya bagi masyarakat Adat, keturunan Afrika, dan komunitas lokal, termasuk perempuan dan generasi muda di dalamnya. Untuk merayakan tonggak sejarah ini, RRI meluncurkan Penghargaan Aksi Kolektif RRI perdana, yang memberikan penghormatan kepada komunitas di Afrika, Asia, dan Amerika Latin atas inovasi, ketangguhan, dan komitmen mereka terhadap kelestarian alam, mata pencaharian berkelanjutan, dan pelestarian pengetahuan tradisional. Salah satu komunitas yang menjadi sorotan adalah Komunitas Adat Jargaria di Kepulauan Aru, Indonesia, yang telah menjadi pelopor gerakan lingkungan melalui #SaveAru, sebuah perjuangan luar biasa untuk melindungi hutan dan warisan budaya mereka.

Mika Ganobal dan Rosina Gaelagoy berdiri teguh di panggung internasional, mewakili suara rakyat adat Kepulauan Aru yang penuh semangat dan keberanian. Mereka menerima penghargaan bergengsi Right and Resources Initiative Award 2025 di Nepal, sebagai pengakuan atas perjuangan tanpa kenal lelah dalam melindungi kehidupan dan warisan alam Kepulauan Aru dan Tanah Jargaria.

Dengan sepenuh hati, mereka memperjuangkan keberlangsungan ekologi dan budaya, melawan ancaman kehancuran akibat kerakusan industri ekstraktif yang begitu merusak. Kisah mereka adalah bukti nyata bahwa tekad, keberanian, dan cinta terhadap tanah air mampu menginspirasi dunia untuk turut serta menjaga keberlanjutan bumi kita. Ini adalah kisah kepahlawanan bagi masyarakat adat, sebuah panggilan untuk kita semua agar turut berjuang dan menjaga keindahan serta kekayaan alam Nusantara yang tak ternilai.

RRI Collective Action Award

Selama dua dekade terakhir, Rights and Resources Initiative (RRI) telah menjadi pilar pendukung bagi masyarakat keturunan Afrika, Pribumi, dan komunitas lokal dalam memperjuangkan hak atas tanah mereka, melindungi lingkungan, dan menjaga kekayaan pengetahuan leluhur. Tahun ini, kita merayakan perjalanan penuh perjuangan dan keberhasilan dengan bangga memperkenalkan Penghargaan Aksi Kolektif RRI yang pertama—a journey simbolik dari kekuatan, ketahanan, dan inovasi yang tak tergoyahkan.

Penghargaan ini bukan hanya tentang menghormati pencapaian komunitas di seluruh Afrika, Asia, dan Amerika Latin; ini adalah perayaan atas kisah keberanian, kreativitas, dan tekad mereka dalam menghadapi tantangan global. Mereka menunjukkan kepada dunia bahwa melindungi hak atas tanah dan sumber daya bukan hanya soal keadilan sosial, tetapi juga langkah vital dalam menyelamatkan iklim dan menjaga keanekaragaman hayati bumi.

Komunitas yang dianugerahi Penghargaan Aksi Kolektif RRI adalah contoh nyata bahwa kekuatan kolektif dan pengetahuan tradisional mampu menciptakan perubahan besar. Mereka:

Melindungi ekosistem penting yang menopang kehidupan dan memastikan keanekaragaman hayati berkembang pesat. Mengadvokasi hak-hak mereka dengan model tata kelola yang berbasis kolektif dan partisipatif. Melawan perubahan iklim melalui praktik berkelanjutan yang berakar dalam pengetahuan leluhur. Merevitalisasi warisan budaya, menghubungkan generasi masa lalu, dan memperkuat identitas mereka di tengah dunia yang terus berubah. Penghargaan ini adalah pengakuan atas keberanian mereka yang sering tak terlihat dan tak dihargai oleh dunia luar, tetapi memiliki dampak besar bagi planet kita. Mereka adalah pahlawan yang menginspirasi kita semua untuk bertindak, berjuang, dan melestarikan bumi ini untuk generasi mendatang. Mari kita terus dukung dan kontroborasi kisah hebat ini, karena setiap langkah mereka adalah cahaya harapan yang menerangi jalan kita menuju dunia yang lebih adil, lestari, dan penuh harapan.

Berikut adalah tiga komunitas inspiratif yang telah menunjukkan dedikasi luar biasa dalam melindungi alam dan melestarikan pengetahuan leluhur untuk generasi mendatang:

Komunitas Adat Jargaria, Kepulauan Aru, Indonesia

Komunitas Adat Jargaria, yang dikenal sebagai Jar Juir (orang-orang Aru), telah menjadi tulang punggung gerakan #SaveAru, salah satu gerakan lingkungan akar rumput paling berpengaruh di Indonesia. Selama lebih dari 30 tahun, masyarakat Aru telah melawan ancaman perampasan lahan korporasi dan kerusakan lingkungan. Puncak perjuangan mereka terjadi antara 2013 dan 2015, ketika mereka berhasil membangun dukungan nasional dan internasional untuk melindungi lebih dari 500.000 hektar hutan dari rencana PT Menara Group untuk mengubahnya menjadi perkebunan tebu raksasa.

Gerakan #SaveAru dimulai ketika masyarakat Aru menyadari ancaman terhadap tanah leluhur mereka, yang dikenal sebagai Jargaria. Dengan dukungan aktivis dari Ambon yang dipimpin oleh Pendeta Jacky Manuputty, mereka membangun kampanye media sosial dengan tagar #SaveAru, meskipun menghadapi tantangan konektivitas internet di wilayah terpencil. Pesan tulisan tangan dikirim melalui perahu dari pedalaman Aru ke Dobo, kemudian disebarkan melalui SMS dan media sosial, menciptakan gelombang dukungan global. Foto-foto dari seluruh dunia dengan tulisan “#SaveAru” dipamerkan dalam spanduk besar yang diarak di jalanan Dobo, menguatkan semangat para aktivis.

Pada tahun 2022, perjuangan panjang mereka membuahkan hasil dengan pengakuan hukum bagi Masyarakat Adat Aru Ursia-Urlima melalui undang-undang baru, sebuah kemenangan dari dekade pengorganisasian lokal. Namun, ancaman baru muncul, seperti rencana perdagangan karbon oleh Melchor Group dan izin penebangan oleh PT Wana Sejahtera Abadi, yang mendorong koalisi #SaveAru untuk terus menyerukan perlindungan hutan.

Ada dua figur yang tidak boleh dilupakan, yaitu Dolfintje Gaelagoy dan Mika Ganobal.

Dolfintje Gaelagoy, yang akrab disapa Mama Do, adalah sosok pejuang gigih dari komunitas adat Marafenfen di Kecamatan Aru Selatan, Kepulauan Aru-Maluku. Ia tidak hanya seorang guru yang mencurahkan hidupnya untuk mendidik generasi muda, tetapi juga seorang pahlawan yang berjuang keras mempertahankan tanah dan warisan adatnya. Di tengah tekanan dan intimidasi dari oknum aparat yang ingin mengkriminalisasi perjuangannya, Mama Do tetap berdiri teguh, menunjukkan keberanian luar biasa sebagai satu-satunya perempuan adat dari komunitas Marafenfen yang berjuang demi hak-haknya. Sayangnya, perjuangannya harus berakhir saat pandemi COVID-19 melanda pada Juli 2021, yang menaklukkan Mama Do, meninggalkan duka mendalam dan kisah inspiratif tentang keberanian dan keteguhan hati yang tak terlupakan.

Mika Ganobal adalah seorang pegawai negeri sipil dan aktivis lingkungan dari Kepulauan Aru, Maluku, Indonesia. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh kunci dalam Gerakan #SaveAru yang berhasil mencegah rencana pembukaan perkebunan tebu seluas hampir 500.000 hektar oleh PT Menara Group pada tahun 2013-2014. Saat ini, Mika menjabat sebagai Camat Aru Utara Timur dan tetap aktif dalam upaya pelestarian lingkungan, termasuk memerangi pembalakan liar dan mempromosikan pendidikan lingkungan di kalangan anak-anak melalui kegiatan seperti penanaman mangrove di SMP Negeri Gwamar, Dobo.

Pada Oktober 2024, Monika Maritjie Kailey mewakili masyarakat Aru di COP16 CBD di Cali, Kolombia, menegaskan urgensi perlindungan biodiversitas di Kepulauan Aru, yang mencakup 156.000 hektar mangrove, 550.000 hektar hutan tropis dataran rendah, dan ekosistem karst yang kaya.

Berakar pada budaya, identitas, dan prinsip Mata Belang (tanggung jawab bersama untuk melindungi daratan dan lautan), perlawanan Jargaria melibatkan tetua, perempuan, dan pemuda. Filosofi lokal seperti Sita Kaka Walike mengatur hubungan sosial dan pengelolaan sumber daya alam, sementara budaya Sasi—larangan mengambil sumber daya alam secara sembarangan—memastikan kelestarian hutan dan laut.

Seperti yang diungkapkan para pemimpin komunitas:

“Gerakan #SaveAru adalah gerakan organik yang muncul dengan sendirinya berdasarkan kesadaran Masyarakat Adat Kepulauan Aru.”

Kolektif Adat Xukuru do Ororubá, Brasil

Di Brasil, Kolektif Adat Xukuru do Ororubá mendedikasikan diri untuk meregenerasi Wilayah Suci mereka di Caatinga Biome yang kering. Dengan menggabungkan produksi pangan dan restorasi hutan, mereka menjaga pengetahuan leluhur dan mempromosikan kesejahteraan seluruh kehidupan di tanah mereka. Mereka percaya: “Memulihkan wilayah adalah upaya kolektif yang melibatkan manusia dan non-manusia, mengakui peran tumbuhan, hewan, batu, dan makhluk spiritual yang memukau.”

Pencapaian mereka:

  • Menanam lebih dari 50.000 pohon dalam setahun terakhir dan merevitalisasi 360 hektar lahan terdegradasi.
  • Memulihkan 14 mata air untuk menjaga pasokan air komunitas.
  • Mengintegrasikan lebih dari 100 spesies tanaman, fokus pada keanekaragaman obat, gizi, dan ekologi.

Konservasi Maasai Nashulai, Kenya

Nashulai Maasai Conservancy, didirikan pada 2016 oleh para pemilik tanah Maasai dari delapan desa, adalah konservasi pertama di Afrika Timur yang dikelola masyarakat Adat. Mereka melindungi tanah leluhur dari perubahan iklim dan komodifikasi lahan, memadukan pengetahuan Adat dengan praktik inovatif untuk koeksistensi antara satwa liar, pastoralisme, dan kehidupan manusia.

Pencapaian mereka:

  • Delapan desa Maasai bersatu di bawah model konservasi.
  • 5.000 hektar lahan dipulihkan dan dikelola.
  • 28.520 orang didukung melalui program pemberian makanan.
  • Lebih dari 2.000 anak dididik tentang budaya dan konservasi.

Seperti yang dikatakan perwakilan Nashulai: “Kisah sejati Maasai adalah tentang hubungan kami dengan tanah kami, rakyat kami, dan satwa liar yang berbagi tempat ini bersama kami.”

Menginspirasi Perubahan melalui Aksi Kolektif

Penghargaan Aksi Kolektif RRI 2025 adalah panggilan untuk mendukung perjuangan komunitas seperti Jargaria, Xukuru do Ororubá, dan Nashulai. Komunitas Adat Jargaria, dengan gerakan #SaveAru, menunjukkan bahwa ketangguhan, kearifan lokal, dan solidaritas global dapat melawan ancaman terhadap alam dan budaya. Dari hutan tropis Aru hingga savana Kenya dan Caatinga Brasil, komunitas ini menginspirasi kita untuk menjaga bumi tetap hidup dan beragam. Mari bergabung dalam perjuangan mereka untuk masa depan yang berkelanjutan.

“Mereka anggap kami bodoh. Tapi kenyataannya: kami berhasil mengusir si raksasa itu. Kami, anak-anak Aru.”

MIKA GANOBAL

THE WARDEN OF JARGARIAN FOREST || Forest Watch Indonesia
error: Content is protected !!