Di tengah gemerlap panggung nasional yang menanti, sebuah kisah perjuangan yang ironis datang dari Efrita Trifena Lamerkabel, finalis Miss Youth Indonesia 2025 yang membawa nama harum Provinsi Maluku. Prestasinya sebagai duta daerah ternyata tidak diiringi dengan dukungan yang semestinya dari pemerintah provinsinya sendiri. Sebuah situasi yang sangat miris, di mana ia terpaksa mencari jalan lain untuk mewujudkan mimpinya.
Efrita, yang diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda Maluku, menghadapi kenyataan pahit: tidak ada dukungan finansial dari Pemerintah Provinsi Maluku untuk memfasilitasi perjalanannya ke Jakarta. Padahal, di ibu kota, ia akan bergabung dengan finalis dari seluruh Indonesia untuk mengikuti masa karantina dan berkompetisi di ajang yang menekankan pada kecerdasan, kepribadian, dan kepedulian sosial.
Ketiadaan dukungan dari pemerintah daerahnya sendiri tentu menjadi sebuah pukulan. Sebagai seorang perwakilan yang membawa identitas dan harapan Maluku, dukungan dari “rumah” adalah hal yang krusial, tidak hanya secara materiil tetapi juga moril.
Namun, di tengah kekecewaan tersebut, secercah harapan datang dari sumber yang tidak terduga. Adalah Komandan Pangkalan TNI Angkatan Udara (Danlanud) Pattimura, Kolonel Pnb Sugeng Sugiharto, yang menunjukkan kepeduliannya. Melihat kegigihan dan potensi yang dimiliki Efrita, Danlanud Pattimura turun tangan.
Beliau memfasilitasi keberangkatan Efrita ke Jakarta dengan memberinya tumpangan di pesawat angkut militer, Hercules C-130. Sebuah gestur mulia yang memastikan mimpi Efrita untuk berlaga di panggung nasional tidak padam begitu saja.




“Jadilah inspirasi bagi generasi muda Maluku lainnya untuk berani bermimpi dan berprestasi,” demikian pesan Kolonel Sugeng kepada Efrita, seperti yang dikutip dari berbagai sumber. Dukungan dari TNI AU ini menjadi bukti nyata bahwa semangat untuk memajukan generasi muda bisa datang dari mana saja, bahkan ketika institusi yang paling diharapkan justru abai.
Kisah Efrita Trifena Lamerkabel adalah cerminan dari dua sisi mata uang: di satu sisi adalah potret perjuangan seorang anak bangsa yang gigih, dan di sisi lain adalah gambaran kepedulian institusi pemerintah daerah yang patut dipertanyakan. Semoga perjuangan Efrita di Jakarta membuahkan hasil yang membanggakan dan kisahnya dapat membuka mata banyak pihak tentang pentingnya mendukung talenta-talenta daerah yang berjuang untuk mengharumkan nama kampung halamannya.
Limitations is Unlimited: Keterbatasan Tanpa Batas
“Inilah yang ingin saya sampaikan melalui partisipasi saya di Miss Youth Indonesia 2025, dan juga melalui kampanye saya Luka itu Indah. Saya ingin melihat anak muda yang memiliki keunikan, kelemahan, dan luka – baik fisik maupun mental – serta korban perundungan, bersinar dengan cara mereka sendiri. Saya adalah bukti hidup dari hal ini, telah hidup dengan kantong kolostomi selama 14 tahun, menjalani 7 operasi, dan memiliki sekitar 700 jahitan di perut saya. Pengalaman ini membuat saya menjadi sasaran bullying dan cemoohan. Namun, 7 operasi dan 700 jahitan ini telah mengajarkan saya arti perjuangan dan pengorbanan. Luka-luka saya membuat saya menyadari bahwa keunikan adalah anugerah, dan menjadi Miss Youth Maluku 2025 adalah bukti bahwa saya bisa bersinar dan berbagi cahaya saya dengan banyak orang.”
“Perasaan saya mewakili Maluku tetapi naik Hercules, happy-happy saja. Karena menurut saya, semua yang saya lakukan ini untuk membawa nama Maluku.”
Efrita Trifena Lamerkabel