Ambon dalam Cengkeraman Banjir dan Longsor: Menilik Penyebab dan Urgensi Mitigasi Berkelanjutan

Kota Ambon kembali mengalami ujian yang cukup berat. Beberapa hari terakhir di awal bulan Juni tahun 2025, kondisi cuaca ekstrem berupa hujan deras disertai angin kencang telah terjadi secara terus-menerus, yang kemudian memicu terjadinya banjir di beberapa wilayah kota dan tanah longsor di berbagai titik. Kejadian-kejadian alam ini tidak hanya mengganggu berbagai aktivitas warga yang tinggal di kota ini, tetapi juga menyebabkan kerugian secara material seperti kerusakan properti dan barang-barang milik warga, sekaligus mengancam keselamatan dan nyawa masyarakat.

Bencana semacam ini seakan menjadi pemandangan yang biasa di kota Ambon, dan sayangnya, ini bukan kali pertama kejadian tersebut terjadi. Bahkan, kemungkinan besar, kondisi ini akan terus berulang di masa depan jika tidak ada upaya serius untuk mengatasinya. Lalu, sebenarnya apa yang menyebabkan kota Ambon seolah selalu akrab dan tidak terlepas dari bencana hidrometeorologi yang begitu sering terjadi ini? Dan yang lebih penting lagi, bagaimana kita dapat keluar dari siklus bencana ini agar kota Ambon tidak terus-menerus menghadapi tantangan yang sama berulang kali?

Akar Masalah: Kombinasi Faktor Alam dan Antropogenik

Banjir dan longsor di Ambon adalah hasil dari kombinasi kompleks antara faktor alam dan aktivitas manusia.

  • Faktor Alam:
    • Hujan Lebat dan Cuaca Ekstrem. Ambon seringkali diguyur hujan dengan intensitas sangat tinggi, terutama saat peralihan musim atau pengaruh cuaca ekstrem seperti saat ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat intensitas hujan tinggi di Ambon, dengan prediksi puncak hujan pada Juni, Juli, dan Agustus 2025, sejalan dengan siklus hujan 30 tahunan. Hujan deras selama berjam-jam menyebabkan luapan sungai dan genangan di wilayah seperti Jalan AY Patty dan Desa Tawiri.
    • Topografi dan Lokasi Rawan. Topografi Ambon yang berbukit dan curam menjadikan air hujan sulit meresap dan cenderung langsung mengalir ke dataran rendah, mempercepat terjadinya banjir bandang dan memicu longsor. Penelitian menunjukkan Kecamatan Teluk Ambon memiliki wilayah paling luas dengan kerawanan banjir tinggi. Daerah pesisir dan bantaran sungai di kecamatan seperti Sirimau dan Nusaniwe juga rentan terhadap banjir dan longsor.
    • Kondisi Geologi. Struktur tanah di beberapa wilayah Ambon juga rentan terhadap pergerakan, terutama jika sudah jenuh air. Ini membuat lereng bukit mudah longsor saat terkena hujan deras.
  • Faktor Antropogenik (Ulah Manusia):
    • Alih Fungsi Lahan. Pembangunan yang tidak terkontrol, terutama di area perbukitan dan daerah resapan air, mengurangi kemampuan tanah untuk menyerap air. Hutan dan vegetasi yang seharusnya menjadi “penjaga” air kini berganti menjadi permukiman atau lahan pertanian.
    • Tata Ruang yang Kurang Optimal. Penataan kota yang belum sepenuhnya sesuai dengan karakteristik geografis Ambon memperparah masalah. Banyak permukiman berdiri di bantaran sungai atau lereng rawan longsor.
    • Kerusakan Infrastruktur. Ambruknya talud di Kelurahan Karang Panjang pada awal Juni 2025 menunjukkan rapuhnya infrastruktur penahan di beberapa wilayah. Talud yang baru dibangun pada Januari 2025 tidak mampu menahan tekanan air dan tanah yang labil akibat hujan.
    • Sistem Drainase Buruk. Tersumbatnya selokan oleh sampah, seperti yang terjadi di Jalan Jenderal Sudirman, memperparah genangan air. Kurangnya pemeliharaan sistem drainase kota membuat air hujan tidak dapat mengalir dengan baik.
    • Kurangnya Kesadaran Lingkungan. Kebiasaan membuang sampah ke sungai dan saluran air menjadi pemicu utama penyumbatan, mempercepat genangan air dan banjir. Minimnya reboisasi di lereng-pereng bukit juga mempercepat aliran air hujan dan meningkatkan risiko longsor.

Dampak dan Penanganan

Hingga tanggal 8 Juni 2025, bencana berupa banjir dan longsor masih terus berlangsung dan telah melanda sebanyak 114 lokasi atau titik berbeda di Kota Ambon. Dari jumlah tersebut, wilayah Kecamatan Sirimau menjadi yang paling terdampak dengan mencapai 79 titik kejadian, sementara Kecamatan Nusaniwe menyusul dengan 26 titik, serta daerah lainnya yang juga terkena dampak. Salah satu kelurahan yang paling rawan mengalami bencana ini adalah Kelurahan Batu Meja, yang tercatat sebagai lokasi dengan jumlah titik terdampak paling besar, yaitu mencapai 34 titik. Banjir yang terjadi menyebabkan beberapa rumah warga, seperti di Desa Tawiri, terendam air, sehingga mengganggu kehidupan masyarakat setempat. Selain itu, kondisi ini juga menimbulkan gangguan pada lalu lintas di pusat kota, terutama di jalan utama seperti Jl. A.Y. Patty, yang menjadi jalur padat dan penting.

Untuk mengantisipasi dan menanggapi situasi darurat ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Ambon telah melakukan penyaluran bantuan tanggap darurat guna membantu masyarakat yang terkena dampak langsung. Sementara itu, pihak Kementerian Sosial juga telah memberikan bantuan tahap 1 dan tahap 2 kepada para korban longsor sebagai bagian dari upaya pemulihan dan penanganan pascabencana. Pemerintah kota Ambon sendiri telah menetapkan status siaga darurat bencana hingga tanggal 4 Juni 2025 sebagai langkah antisipasi, dan masih membuka kemungkinan untuk memperpanjang status tersebut sesuai dengan perkembangan situasi dan kebutuhan di lapangan.

Mitigasi: Bukan Sekadar Respons Bencana, tapi Gaya Hidup

Mitigasi bencana seringkali hanya menjadi topik hangat saat bencana sudah terjadi atau ada potensi besar. Padahal, mitigasi seharusnya menjadi bagian integral dari perencanaan pembangunan dan gaya hidup masyarakat sehari-hari. Artinya, upaya pengurangan risiko bencana harus dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya saat darurat.

Langkah-langkah mitigasi yang bisa dilakukan, antara lain:

  1. Penguatan Tata Ruang Berbasis Bencana. Penegakan aturan tata ruang yang melarang pembangunan di daerah rawan bencana dan menjaga area resapan air.
  2. Reboisasi dan Penghijauan. Penanaman kembali pohon, khususnya di daerah perbukitan dan sepanjang aliran sungai, untuk memperkuat struktur tanah dan meningkatkan daya serap air. Program reboisasi harus didukung oleh regulasi ketat terhadap deforestasi.
  3. Normalisasi dan Pemeliharaan Sungai/Drainase. Pengerukan sedimen, pelebaran saluran, dan pembersihan rutin drainase dari sampah agar aliran air lancar. Program ini harus melibatkan masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan.
  4. Edukasi dan Sosialisasi Berkelanjutan. Peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan, dan memahami tanda-tanda bahaya bencana. BPBD mendorong kesiapsiagaan berbasis keluarga, seperti menyiapkan rute evakuasi, mematikan listrik, dan memprioritaskan evakuasi kelompok rentan. Sosialisasi ini harus dilakukan sepanjang tahun, bukan hanya saat musim hujan.
  5. Pemanfaatan Teknologi. Pemasangan sistem peringatan dini banjir dan longsor, serta pemetaan daerah rawan bencana, dapat membantu warga dan pemerintah bertindak cepat saat hujan lebat terjadi.
  6. Pembangunan Infrastruktur Tahan Bencana. Pembangunan rumah dan fasilitas umum dengan standar yang memperhitungkan potensi bencana. Pembangunan talud dan bendungan kecil perlu mempertimbangkan daya tahan terhadap hujan ekstrem. Audit rutin terhadap infrastruktur yang ada juga penting untuk mencegah kerusakan mendadak.

Pemerintah Kota Ambon telah mengimbau warga untuk waspada, terutama di bantaran sungai dan lereng gunung, serta menghindari pohon besar saat banjir lebat. Namun, tanpa komitmen jangka panjang untuk mitigasi, bencana serupa akan terus berulang.

“Beta Par Ambon, Ambon Par Samua”: Tagline yang Tergerus Realita?

Tagline “Beta Par Ambon, Ambon Par Samua” yang secara harfiah berarti “Saya Untuk Ambon, Ambon Untuk Semua.” Ini adalah ungkapan mendalam tentang rasa memiliki, tanggung jawab, dan kebersamaan. Filosofi ini seharusnya mewakili semangat kolektif untuk membangun dan menjaga Ambon agar menjadi kota yang sejahtera dan aman bagi seluruh warganya, tanpa memandang suku, agama, atau golongan.

Tagline/slogan ini seringkali hanya menggema lantang saat musim kampanye pemilu. Para calon pemimpin berlomba-lomba menggunakannya untuk menarik simpati, menjanjikan perubahan dan kemajuan. Akan tetapi, setelah pesta demokrasi usai dan mereka menduduki kursi kekuasaan, semangat “Beta Par Ambon, Ambon Par Samua” seolah meredup. Kebijakan pembangunan seringkali terfragmentasi, fokus pada proyek-proyek jangka pendek, dan kurang memperhatikan aspek keberlanjutan serta mitigasi bencana yang krusial.

Ketika banjir dan longsor melanda, barulah kita teringat akan pentingnya persatuan dan gotong royong. Slogan itu kembali disebut, seolah menjadi pengingat akan janji-janji yang belum terwujud. Ini menunjukkan adanya jurang antara retorika politik dan implementasi nyata.

Penting bagi kita, sebagai masyarakat Ambon, untuk terus menuntut akuntabilitas dari para pemimpin. Kita harus mengingatkan mereka bahwa “Beta Par Ambon, Ambon Par Samua” bukan hanya sekadar slogan manis di spanduk kampanye, melainkan komitmen nyata untuk menjaga keberlanjutan kota dan melindungi setiap warganya dari ancaman bencana, dengan mitigasi sebagai pondasi utama. Hanya dengan begitu, Ambon Manise bisa benar-benar menjadi surga bagi semua yang mendiaminya.


Bagaimana menurut Anda, langkah konkret apa yang paling mendesak untuk dilakukan pemerintah Kota Ambon saat ini dalam menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi?


BANJIR BESAR TERJANG KOTA AMBON, 2 MEI 2025 || FIX ONE NEWS
Share:
error: Content is protected !!