Anarki di Alifuru: Menyingkap Sejarah Lain Maluku yang Liar dan Merdeka

Share:

Apa jadinya jika sejarah Maluku ditulis bukan dari sudut pandang para raja, sultan, atau pemerintah kolonial, melainkan dari kisah orang-orang kampung, kepala suku, dan masyarakat adat yang hidup tanpa negara? Inilah tawaran utama dari buku provokatif karya Bima Satria Putra, Anarki di Alifuru: Sejarah Masyarakat Tanpa Negara di Kepulauan Maluku.

Ini bukan utopia fiksi, melainkan kisah nyata masyarakat Alifuru di Kepulauan Maluku, yang dengan sengaja memilih hidup tanpa negara. Dalam buku “Anarki di Alifuru: Sejarah Masyarakat Tanpa Negara di Kepulauan Maluku”, Bima Satria Putra mengajak kita menyelami sejarah pinggiran yang jarang disentuh: dunia masyarakat adat Maluku yang menolak belenggu kekuasaan, dari kesultanan hingga kolonialisme. Dengan pendekatan anarkis yang segar, buku ini bukan sekadar catatan sejarah, tetapi juga seruan untuk mempertanyakan narasi “kemajuan” modern yang sering kali menghancurkan.

Buku setebal 122 halaman ini terbit Agustus 2024 oleh Pustaka Catut, dan secara radikal membalik narasi sejarah yang biasa kita terima di sekolah-sekolah.

Sejarah dari Pinggiran: Menjelajahi Dunia Alifuru

Bima Satria Putra, seorang peneliti independen dari Kalimantan Tengah, membawa kita ke Kepulauan Maluku Tengah dan Selatan—dari Banda hingga Aru, dari Seram hingga Kei—yang ia sebut sebagai “Dunia Alifuru.” Berbeda dengan “Dunia Maluku” yang berpusat pada kesultanan Ternate-Tidore atau kolonial Eropa, Dunia Alifuru adalah ruang masyarakat tanpa negara, yang hidup otonom dengan sistem sosial egaliter. Buku ini, bagian dari Proyek Suku Api, menantang historiografi arus utama yang terpaku pada penguasa dan penakluk, dengan fokus pada mereka yang ditaklukkan: masyarakat adat yang menolak tunduk. Maluku dipilih sebagai fokus kedua setelah Kalimantan, dengan rencana melanjutkan ke Jawa.

Buku ini terbagi menjadi tiga bagian yang mengalir seperti perjalanan laut di kepulauan:

  1. Ruang Non-Negara: Mengutip laporan awal penjelajah Eropa seperti Tomé Pires, Bima menggambarkan masyarakat Banda yang dipimpin oleh “orang kaya”—tetua yang berkuasa melalui konsensus, bukan otoritas tunggal. Mereka adalah pedagang rempah yang makmur, namun menolak hierarki kaku.
  2. Pembentukan Negara: Bagian ini menceritakan bagaimana kesultanan dan kolonial Belanda perlahan menggerus ruang otonom Alifuru melalui penaklukan, pajak, dan pengendalian militer. Namun, banyak masyarakat Alifuru menghindar, memilih hidup di pedalaman atau berpindah-pindah.
  3. Jurus Mardika: Di sinilah Bima bersinar, menunjukkan bagaimana Alifuru secara aktif mencegah pembentukan negara. Sistem Siwa-Lima, misalnya, adalah aliansi simbolis yang menjaga keseimbangan otonomi antar-kampung. Praktik redistribusi kekayaan—seperti pesta besar atau penghancuran harta saat pemakaman—mencegah akumulasi yang bisa melahirkan elit penguasa.

Puisi penutup, Hena Masa Waya, menggema seperti mantra: “Kita semua tanpa kecuali sama saja seperti Raja.” Ini bukan hanya puisi, tetapi cerminan falsafah Alifuru yang egaliter, yang melihat setiap individu sebagai penguasa atas dirinya sendiri.

Mengapa Buku Ini Istimewa?

Bima menulis dengan semangat seorang pencerita yang juga aktivis. Ia menggabungkan sumber primer (laporan penjelajah Eropa) dengan teori anarkis dari James C. Scott dan Pierre Clastres, menciptakan narasi yang kaya namun tetap mudah dicerna. Kekuatan buku ini terletak pada:

  • Perspektif Baru: Bima menggeser lensa sejarah dari istana kesultanan ke kampung-kampung Alifuru, menawarkan sudut pandang yang jarang ada dalam literatur Indonesia.
  • Konteks Kontemporer: Buku ini bukan sekadar sejarah, tetapi cermin untuk memahami marjinalisasi masyarakat adat saat ini, dari ekspansi tambang hingga krisis iklim. Kutipan Alfred Russel Wallace tentang ketimpangan perdagangan global terasa relevan hingga kini.
  • Semangat Anarkis: Diterbitkan oleh Pustaka Catut dengan izin penggandaan bebas, buku ini mencerminkan nilai yang dibelanya: pengetahuan untuk semua, tanpa batas.

Namun, buku ini bukan tanpa kelemahan. Ketergantungan pada sumber Eropa—yang sering bias dan merendahkan—membatasi kedalaman perspektif lokal. Aplikasi teori anarkisme Scott, yang lebih cocok untuk dataran tinggi Asia, kadang terasa kurang pas untuk konteks kepulauan. Selain itu, aspek seperti dinamika gender atau ekonomi lokal kurang dieksplorasi, yang bisa memperkaya analisis.

Relevansi untuk Hari Ini

Di tengah deru mesin pembangunan yang menggusur hutan dan adat, Anarki di Alifuru adalah pengingat bahwa ada cara lain untuk hidup: otonom, setara, dan selaras dengan alam. Bima mengutip Walter Benjamin, mengajak kita menarik “rem darurat” dari lokomotif kapitalisme yang tak terkendali. Konsep Siwa-Lima atau musyawarah Alifuru bisa menjadi inspirasi untuk komunitas modern yang mencari alternatif tata kelola.

Bagi aktivis, buku ini adalah amunisi untuk memperjuangkan hak masyarakat adat. Bagi akademisi, ini adalah undangan untuk mengeksplorasi historiografi anarkis lebih lanjut. Dan bagi pembaca awam, ini adalah perjalanan menarik ke Maluku yang liar, merdeka, dan penuh makna.

Kesimpulan: Bacaan yang Menggugah

Anarki di Alifuru adalah lebih dari sekadar buku sejarah; ini adalah manifesto untuk memahami kebebasan dari lensa masyarakat pinggiran. Meski ada keterbatasan, Bima Satria Putra berhasil menghidupkan Dunia Alifuru dengan penuh semangat, membuat kita bertanya: apakah “kemajuan” selalu berarti meninggalkan otonomi dan kesetaraan? Jika kamu ingin menyelami sejarah yang menantang status quo, buku ini wajib ada di rakmu. Dan hei, versi digitalnya gratis di archive.org—sesuai dengan jiwa anarkisnya!
🔗 https://archive.org/details/@arsip_bawah_tanah

Rekomendasi: Baca bersama Orang-orang Kalah (Roem Topatimasang) untuk konteks modern, atau dalami teori anarkis dengan The Art of Not Being Governed (James C. Scott). Apa pun pilihannya, bersiaplah untuk melihat Maluku—dan dunia—dengan mata baru.


“Masyarakat tanpa negara telah eksis dan menjadi ciri umum dari sejarah manusia di seluruh permukaan bumi.

Bima Satria Putra, Anarki di Alifuru
error: Content is protected !!