Taman Bermain Investor: Refleksi atas Masa Depan Maluku yang Kian Rawan Dimiliki Orang Lain

Share:

Pernahkah kita duduk di pinggir pantai di sore hari, menatap gugusan pulau di kejauhan, sambil merenung: “Untuk siapa sebenarnya tanah ini?”

Maluku adalah tanah yang saya cintai. Tempat saya menua, membesarkan cucu, menulis, dan merekam jejak-jejak sejarah yang perlahan menghilang. Tapi beberapa waktu terakhir, saya gelisah. Ada perubahan besar yang datang seperti angin dari arah tak terduga—angin modal, investasi, izin tambang, proyek pariwisata, dan pengembangan wilayah yang katanya demi “kemajuan”. Tapi dalam hati kecil saya bertanya, kemajuan untuk siapa?

Maluku yang Kaya, Tapi Tanpa Daya Tangkal

Semua orang tahu bahwa Maluku kaya. Laut kita penuh ikan, tanah kita menumbuhkan pala yang pernah memikat dunia, dan isi bumi kita menyimpan logam-logam strategis. Tapi kekayaan seperti ini, bila tak dijaga, malah mengundang predator. Wilayah kaya tanpa daya tangkal—baik itu militer, politik, hukum, atau sosial budaya—akan menjadi sasaran empuk. Dan hari ini, Maluku sedang mengarah ke sana.

Kita bisa melihatnya dari banyak hal:

  • Izin tambang yang tiba-tiba muncul di pulau-pulau kecil.
  • Investor pariwisata yang membeli pantai, lalu memagari akses masyarakat.
  • Kapal asing yang melintasi laut Banda tanpa pengawasan.
  • Kontrak-kontrak besar yang diteken di Jakarta, tapi dampaknya terasa di kampung-kampung yang sunyi di Aru atau Buru.

Yang lebih menyakitkan, seringkali masyarakat lokal tidak tahu apa-apa. Mereka hanya mendengar kabar dari jauh: “Tanah ini sudah masuk peta konsesi.” Atau lebih miris lagi: “Itu sudah bukan punya kita.”

Belajar dari Raja Ampat

Saya teringat pada Raja Ampat di Papua Barat. Dulu, tempat itu menjadi simbol keberhasilan konservasi laut berbasis komunitas. Tapi hari ini, kawasan itu juga menjadi destinasi eksklusif, mahal, dan terkadang terasa asing bagi penduduk aslinya.

Apakah kita akan membiarkan Maluku menjadi seperti itu?

Pulau-pulau cantik seperti Seram, Tanimbar, atau Kei berisiko berubah jadi “resort cluster” yang lebih banyak didatangi oleh pesawat charter dan kapal pesiar daripada oleh anak-anak bangsa sendiri. Tanah adat bisa saja dibeli, laut adat bisa dibisniskan. Dan pelan-pelan, kita hanya jadi penonton, bukan pelaku.

Siapa yang Bermain di Taman Ini?

Saya suka menyebut Maluku sebagai taman surgawi—tempat di mana laut dan gunung saling bersapa, tempat budaya dan alam berjalan berdampingan. Tapi kini taman itu seperti berubah menjadi taman bermain investor. Para pemain besar datang dengan modal, dokumen, dan janji. Mereka tertawa sambil mengatur peta investasi. Tapi rakyat kecil hanya berdiri di pinggir, memegang plakat kecil bertuliskan “tanah warisan leluhur kami”.

Saya tak menolak investasi. Kita butuh kemajuan. Tapi bukan kemajuan yang dibangun dengan menggusur identitas, mencabut masyarakat dari akar budaya, dan menjadikan mereka hanya tenaga kerja kasar di atas tanahnya sendiri.

Sudah Saatnya Maluku Memperkuat Daya Tangkal

Maluku harus punya daya tangkal. Bukan hanya dalam bentuk pangkalan militer atau kapal patroli, tetapi juga dalam bentuk:

  • Kekuatan hukum adat. Sasi dan pela-gandong jangan hanya jadi upacara simbolis. Ia harus hidup, dihormati, dan diakui negara.
  • Ekonomi rakyat yang berdaulat. Nelayan, petani, penenun, dan pelaku UMKM harus didukung agar mereka bisa bersaing, bukan tergilas.
  • Kebijakan yang berpihak pada masyarakat lokal. Izin-izin besar harus dikaji ulang. Kontrak tambang dan pariwisata harus transparan dan diawasi publik.
  • Pendidikan kritis bagi generasi muda. Supaya mereka tahu bahwa tanah ini punya sejarah, punya jiwa, dan punya harga diri yang tak bisa dibeli.

Menolak Jadi Figuran di Tanah Sendiri

Saya menulis ini bukan karena benci pada investor. Tapi karena saya ingin Maluku berdiri tegak—tidak sebagai panggung hiburan orang luar, tapi sebagai rumah bermartabat bagi rakyatnya. Saya tak ingin cucu saya tumbuh di tanah yang sepenuhnya telah dimiliki orang lain, dan hidup hanya sebagai figuran dalam kisah besar yang tak mereka tulis.

Taman ini indah. Tapi jangan biarkan hanya orang luar yang bermain di dalamnya. Mari kita jaga taman ini bersama. Untuk anak cucu. Untuk masa depan.

“Tanah yang tidak diperjuangkan akan diambil orang lain. Budaya yang tidak dihormati akan dipermalukan. Dan masa depan yang tidak direncanakan akan ditentukan oleh mereka yang lebih siap.”

JM

error: Content is protected !!