Di panggung musik Indonesia, nama Bob Tutupoly bagaikan bintang yang tak pernah redup. Dengan suara emasnya yang hangat dan lagu-lagu penuh makna, ia menorehkan sejarah panjang yang menginspirasi generasi. Dari Widuri yang mendunia hingga perjuangan cinta yang mengharukan, kisah hidup Bob adalah perpaduan bakat, keteguhan, dan pesona seorang entertainer sejati. Mari kita telusuri perjalanan hidup sang legenda yang meninggalkan jejak abadi di hati penggemar.
Namun, perjalanan Bob Tutupoly menuju puncak bukanlah kisah instan. Ia adalah perpaduan bakat, ketekunan, dan petualangan panjang yang dimulai dari Surabaya, berakar di Maluku, dan melanglang hingga Amerika Serikat.
Masa Kecil dan Awal Bermusik
Bobby Willem Tutupoly lahir pada 13 November 1939 di Surabaya, Jawa Timur, dalam keluarga berdarah Ambon yang penuh talenta seni. Ayahnya, Adolf Laurens Tutupoly, seorang prajurit TNI yang mahir memainkan suling, dan ibunya, Elisabeth Wilhemmina Henket-Sahusilawane, seorang penyanyi gereja, mewariskan jiwa seni kepadanya. Sebagai anak kedua dari lima bersaudara, Bob kecil tumbuh dengan disiplin militer namun juga kepekaan terhadap musik.
Bakatnya terlihat sejak dini. Masih duduk di bangku SMP, Bob sudah tampil di Radio Republik Indonesia (RRI) Surabaya, melantunkan Serenade dengan penuh percaya diri. Ia juga pernah menyanyi di hadapan Presiden Soekarno saat masih SD, sebuah momen yang membuktikan pesonanya bahkan di usia belia. Di SMA, ia bergabung dengan Kwartet Jazz dan merekam lagu-lagu daerah Maluku seperti Mande-Mande di Lokananta, menandai langkah pertamanya menuju dunia musik profesional.
Melaju di Panggung Nasional
Pada 1960-an, Bob mulai menapaki karier yang gemilang. Bergabung dengan The Jazz Riders pimpinan Bill Saragih, ia menjelajahi genre jazz dan pop. Bersama Pattie Bersaudara, Bob merekam hits seperti Lidah Tak Bertulang, Tiada Maaf Bagimu, dan Tinggi Gunung Seribu Janji pada 1965. Suaranya yang merdu dan penjiwaan yang mendalam membuatnya digemari, bahkan meraih predikat Penyanyi Kesayangan Siaran ABRI (1966–1969) serta Golden Records berkat penjualan piringan hitam yang fantastis.
Namun, panggilan dunia membawanya ke Amerika Serikat pada 1969. Di sana, ia bernyanyi bersama The Midnighters di San Francisco, Los Angeles, hingga kasino-kasino glamor di Las Vegas. Meski sempat bekerja di Yamaha Buena Park dan menjadi humas di Restoran Ramayana New York, hatinya tetap rindu Indonesia. Pada 1976, Bob pulang dan langsung menggebrak dengan Widuri, lagu ciptaan Slamet Adriyadi yang menjadi anthem cinta abadi dan dikenal hingga Asia Tenggara.
Kisah di Balik Widuri: Mengubah Lagu “Jelek” Menjadi Legenda
Lagu Widuri bukan sekadar melodi cinta yang abadi, tetapi juga kisah tentang insting, keberanian, dan semangat memberi kesempatan. Di balik kesuksesan lagu ini, Bob Tutupoly, sang maestro, pernah menghadapi momen yang nyaris membuat karya legendaris ini tak pernah lahir. Cerita ini dimulai dari sebuah dapur rekaman, ketika seorang anak muda lugu dari Jawa Tengah meminta Bob menyanyikan lagunya, Slamet Adriyadie dialah pencipta lagu Widuri.
Bob Tutupoly, yang saat itu sudah memiliki banyak pengalaman di dunia musik, mengenang momen itu dengan tawa kecil. “Ada anak satu masuk, lugu dari Jawa Tengah, minta saya nyanyikan lagunya,” ujarnya. Namun, di tengah proses rekaman, rekannya, Isharianto, yang berdiri di belakangnya, berbisik skeptis, “Jangan, itu jelek lagunya.” Isharianto tak yakin lagu itu layak dipilih. Tapi Bob, dengan insting seorang seniman sejati, memilih untuk tak mendengar. “Saya tidak suka seperti itu. Saya tidak mendengar, saya ambil,” katanya tegas.
Keputusan Bob bukan sekadar impulsif, melainkan cerminan filosofinya: memberi kesempatan pada karya orang lain. “Berilah kesempatan, jangan bilang jelek. Jadi saya belum dengar, tapi saya sudah ambil,” tuturnya. Namun, saat akhirnya mendengar sang pencipta memainkan lagu itu dengan gitar, Bob merasa ada yang kurang. “Waktu aku ambil, baru aku dengar lagunya, dan nggak becus, jadi jelek gitu,” kenangnya sambil tersenyum. Permainan gitar yang sederhana dan aransemen awal yang mentah membuat lagu itu terdengar jauh dari istimewa.
Tapi Bob Tutupoly bukan tipe yang menyerah. Ia melihat potensi di balik kekurangan itu. Bersama rekan-rekannya, ia mulai meramu ulang Widuri. Prosesnya tak mudah—membutuhkan kerja keras dan sentuhan kreatif untuk menyempurnakan melodi dan aransemen. Hasilnya? Sebuah mahakarya yang tak hanya meledak di Indonesia, tetapi juga menjadi anthem cinta yang menggema hingga Asia Tenggara. Widuri, yang awalnya dicap “jelek,” bertransformasi menjadi lagu yang mendefinisikan karier Bob dan menyentuh hati jutaan pendengar.
Kisah Widuri adalah bukti bahwa di tangan seorang visioner seperti Bob Tutupoly, bahkan karya yang tampak biasa bisa menjadi luar biasa. Dengan keberanian mengambil risiko dan semangat kolaborasi, Bob mengajarkan bahwa keindahan sejati lahir dari kepekaan dan kerja keras. Hingga kini, setiap nada Widuri mengingatkan kita pada legenda yang tak pernah ragu memberi kesempatan—dan menciptakan keabadian.
Widuri bukan sekadar lagu; ia adalah cerminan jiwa Bob Tutupoly. Dengan lirik puitis dan melodi yang menyentuh, lagu ini melambungkan namanya ke puncak popularitas. Tak hanya di Indonesia, Widuri menggema di ASEAN, menjadikan Bob duta musik Tanah Air. Pada 1978, ia mewakili Indonesia dalam pertukaran artis ASEAN bersama Grace Simon, dan pada 1980, ia menjuarai Festival Lagu Populer serta tampil di Festival Internasional Budokan Hall, Jepang.
Album-album seperti The Best Song of Bob Tutupoly Widuri dan Tembang Kenangan Pop Indonesia Vol. 6 “Kerinduan” memperkuat posisinya sebagai maestro. Lagu Kerinduan juga menjadi salah satu karya monumental yang masih dinyanyikan hingga kini. Bob bukan hanya penyanyi; ia adalah pendongeng yang menghidupkan setiap nada dengan emosi.
Panggung Hiburan: Dari Kuis hingga Layar Lebar
Bob Tutupoly bukan hanya suara, tetapi juga wajah familiar di televisi dan layar lebar. Pada 1980-an, ia memandu acara kuis populer di TVRI seperti Pesona 13, Silih Berganti, dan Ragam Pesona. Di era 1990-an hingga 2000-an, Tembang Kenangan di Indosiar menjadi jembatan nostalgia bagi penggemar musik lawas, dengan Bob sebagai pembawa acara yang penuh karisma.
Sebagai aktor, Bob tampil dalam film Gli Innamorati Della Becak (1958), Penasaran (1977), dan Sebelah Mata (2008), memerankan karakter yang sering terhubung dengan dunia musik. Multitalentanya membuatnya dicintai lintas generasi, seperti yang dikatakan Tantowi Yahya, “Bob adalah entertainer sejati.”
Cinta Sejati dan Perjuangan
Di balik gemerlap panggung, kisah cinta Bob dengan Rosmayasuti Nasution, mantan Miss Jakarta 1972, adalah drama yang mengharukan. Keduanya bertemu di New York, tetapi perbedaan agama menjadi rintangan besar. Setelah persidangan selama sembilan bulan, mereka akhirnya menikah pada 15 April 1977. Dari pernikahan ini, lahirlah putri mereka, Sasha Karina Tutupoly, yang menjadi saksi kehangatan keluarga mereka.

Senja Karier dan Warisan Abadi
Di usia senja, Bob tetap setia pada musik. Pada 2019, ia merayakan 80 tahun hidupnya dengan konser megah 80th Celebration of Bob Tutupoly, dihadiri oleh Tompi, Glenn Fredly, dan Vina Panduwinata. Meski kesehatan menurun akibat stroke ringan dan ia sering menggunakan kursi roda, semangatnya tak pernah pudar. Ia masih bernyanyi dengan hati, seperti dikatakan putrinya, Sasha, “Papa selalu bahagia saat bernyanyi.”
Bob Tutupoly menghembuskan napas terakhir pada 5 Juli 2022 pukul 00:03 WIB di RS Mayapada, Jakarta Selatan, di usia 82 tahun. Jenazahnya disemayamkan di Rumah Duka RS Siloam dan dimakamkan pada 7 Juli 2022 di TPU Tanah Kusir, diiringi alunan Widuri yang penuh kenangan. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi banyak musisi yang terinspirasi olehnya.
Diskografi
Diskografi ini mencerminkan perjalanan panjang dan beragam Bob Tutupoly dalam dunia musik Indonesia, dari era jazz hingga pop klasik. Karya-karyanya terus dikenang dan dinikmati oleh berbagai generasi pendengar.
🎵 Album Studio
- Hush – Not A Word To Mary (1968) – bersama The Pro’s
- Salah Duga (1970) – bersama The Comets
- Bob Tutupoly Vol. 1 (1975)
- Bob Tutupoly Vol. 2 (1976) – bersama De Meicy
- Bob Tutupoly Vol. 3 (1977) – bersama Panca Nada
- Penantian Tak Bertepi (1982) – bersama Purnama Sultan
- Yang Mempesona (1988)
- Satukanlah (1999) – duet dengan Yuni Shara
- Matahari Namamu (2000)
- Dambaku Dambamu (2000)
- Salahku Sendiri (2000)
- Hilang Sejuta Rasa (2000)
- Pertama Bercinta (2000)
- Antara Bulan dan Bintang (2000)
- Dia Bukan Milikmu (2000)
- Denganmu Kudapatkan Kedamaian (2000)
- Kau (2000)
- Trio Legendaris Pria (2016) – bersama Kris Biantoro dan Jack Marpaung

🎶 Single Populer
- “Tiada Maaf Bagimu” / “Tinggi Gunung Seribu Janji” (1965) – bersama Pattie Bersaudara
- “Lidah Tak Bertulang” / “Kau Yang Kusayang” (1966)
- “Widuri” / “Kerinduan” (1976)
- “Kau Yang Terindah” / “Kisah Cinta” (1977)
- “Symphoni Yang Indah” (1980)
- “Aku Tak Percaya” / “Kau Yang Terindah” (1988)
- “Widuri 2000” / “Widuri 2000 Remix” (2000)
💿 Album Kompilasi & Kolaborasi
- The Best of Bob Tutupoly
- Album Emas: Bob Tutupoly
- Seleksi Album Emas Bob Tutupoly
- Memori Indah Vol. 01
- Broery Pesolima Bersama D’Lloyd – kolaborasi dengan Broery Pesolima dan D’Lloyd
🌟 Penampilan Tamu
- This Conversation and Swing It Bob (2004) – tampil dalam album kedua Mocca, Friends
Jika Anda tertarik untuk mendengarkan lagu-lagu Bob Tutupoly, Anda dapat menemukannya di platform musik digital seperti Youtube, Spotify dan Qobuz.
Abadi dalam Nada dan Cinta
Bob Tutupoly bukan sekadar penyanyi; ia adalah simbol cinta, perjuangan, dan dedikasi pada seni. Lagu-lagunya seperti Widuri, Lidah Tak Bertulang, dan Kerinduan tetap hidup di hati penggemar, menjadi pengingat bahwa musik sejati tak pernah usai. Seperti janji Sasha, nama Bob Tutupoly akan terus dikenang sebagai legenda yang mengajarkan kebaikan melalui nada.
Lebih dari sekadar penyanyi, Bob Tutupoly adalah jembatan antara Timur dan Barat, masa lalu dan masa kini. Ia membuktikan bahwa dari akar budaya yang kuat, seorang anak bangsa bisa menyentuh langit dan tetap membumi.
“Cinta itu seperti Widuri, tak pernah lekang oleh waktu”
BOB TUTUPOLY