Menelusuri Jejak Dr. Fairchild: Ekspedisi Cheng Ho dan Surga Pulau di Maluku

Share:

Di penghujung tahun 1930-an, ketika usia senja mulai menyapa, Dr. David Grandison Fairchild mendapatkan satu kesempatan terakhir untuk menjelajahi surga tropis di Timur Jauh. Kali ini, ia tidak berlayar dengan kapal biasa, melainkan dengan sebuah jung Tiongkok “Cheng Ho” yang dibangun khusus—dilengkapi dengan perpustakaan dan laboratorium untuk mengakomodasi misinya sebagai penjelajah botani.

Bersama sang istri, Marian, Fairchild memulai perjalanan melintasi lautan luas, mengunjungi negeri-negeri yang seakan sedang berubah di bawah bayang-bayang era modern. Mereka singgah sejenak di Jepang lalu melanjutkan pelayaran ke Filipina sebelum memasuki kepulauan Hindia Belanda (kini Indonesia). Dari Sulawesi hingga Bali, dari Jawa hingga Maluku, mereka menapaki pulau-pulau yang kaya akan keanekaragaman hayati, termasuk beberapa tempat yang belum pernah dikunjungi oleh ilmuwan sebelumnya.

Bagi Fairchild, perjalanan ini bukan sekadar eksplorasi botani—ini adalah perjalanan menelusuri keajaiban dunia yang hampir tak tersentuh, sebuah kesempatan langka untuk merekam dan memahami keindahan flora tropis sebelum banyak di antaranya lenyap ditelan zaman. Dari hutan hujan yang lebat hingga kebun rempah yang harum, ia menemukan tanaman-tanaman yang kelak akan memperkaya dunia.

Inilah kisah tentang petualangan terakhir seorang ilmuwan besar, yang dalam setiap langkahnya, berusaha mengabadikan keajaiban alam sebelum ia sendiri menjadi bagian dari sejarah.

Petualangan Seorang Penjelajah Botani

Dr. David Grandison Fairchild adalah salah satu penjelajah botani paling berpengaruh dalam sejarah. Selama lebih dari setengah abad, ia mengumpulkan lebih dari 70.000 spesies tanaman dari seluruh dunia, memperkenalkan berbagai tanaman pangan dan hias yang kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dari mangga, alpukat, hingga berbagai varietas palem, kontribusinya terhadap ilmu botani tak tertandingi.

David Grandison Fairchild (7 April 1869 – 6 Agustus 1954) adalah seorang ahli botani dan penjelajah tumbuhan asal Amerika. Ia memainkan peran kunci dalam pengenalan lebih dari 200.000 spesies tanaman eksotis serta berbagai jenis tanaman pangan ke Amerika Serikat.

Diantara tanaman tersebut terdapat kacang kedelai, pistachio, mangga, nektarin, kurma, bambu, dan ceri berbunga. Beberapa varietas gandum, kapas, dan beras yang ia perkenalkan juga menjadi sangat penting bagi perekonomian.

Fairchild lahir di Lansing, Michigan, dan dibesarkan di Manhattan, Kansas. Ia berasal dari keluarga Fairchild, keturunan Thomas Fairchild dari Stratford, Connecticut. Fairchild menyelesaikan studinya di Kansas State College of Agriculture, meraih gelar BA pada tahun 1888 dan MS pada tahun 1889, dimana ayahnya, George Fairchild, menjabat sebagai presiden. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Iowa State dan Rutgers di bawah bimbingan pamannya, Byron Halsted, yang dikenal sebagai ahli biologi terkemuka. Pada tahun 1915, ia menerima gelar kehormatan D.Sc. dari Oberlin College.

Kariernya sebagai penjelajah tanaman dimulai pada tahun 1889 ketika ia bergabung dengan Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA). Setelah beberapa tahun meneliti penyakit anggur, ia berangkat ke Stasiun Zoologi Naples di Italia dengan dukungan Smithsonian Institution. Dalam perjalanan, ia bertemu dengan filantropis Barbour Lathrop, yang memberinya kesempatan untuk menjelajahi dunia dan menemukan tanaman-tanaman baru.

Fairchild akhirnya menerima tawaran Lathrop dan memperdalam ilmu botani di Jerman sebelum berlayar ke Asia Tenggara. Ia menghabiskan waktu di Kebun Raya Buitenzorg (sekarang Kebun Raya Bogor) dan melakukan perjalanan panjang melintasi Pasifik Selatan. Perjalanan-perjalanan ini menjadi awal dari karier panjangnya sebagai pengumpul tanaman, yang membawanya ke berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Kapal junk Cheng Ho yang digunakan oleh Dr. Fairchild – [worldenoughblog.wordpress.com]

Ekspedisi Cheng Ho: Berburu Tanaman di Surga Tropis

Pada tahun 1939-1940, Fairchild melakukan perjalanan ke Kepulauan Maluku dengan kapal jung Tiongkok Cheng Ho. Perjalanan ini menjadi salah satu ekspedisi botani paling penting dalam hidupnya. Kepulauan Maluku, yang dikenal sebagai “Kepulauan Rempah-Rempah,” telah lama menjadi pusat perdagangan dunia karena kekayaan flora dan faunanya.

Saat tiba di Maluku pada April 1940, Fairchild dan timnya hanya memiliki sedikit waktu untuk eksplorasi. Mereka mengunjungi Pulau Ambon, Buru, Manipa, Mandioli, Halmahera, dan Ternate—semua terkenal dengan tanaman eksotis yang hanya tumbuh di wilayah ini.

Salah satu penemuan terpentingnya adalah pohon pala (Myristica fragrans) dan cengkeh (Syzygium aromaticum), dua komoditas yang pernah membuat Maluku menjadi pusat perhatian dunia. Ia juga mencatat pohon Hernandia yang tumbuh megah di salah satu pulau, serta palem langka Pigafetta, yang tingginya dapat mencapai 30 meter dengan pertumbuhan yang sangat cepat.

Selain tanaman rempah-rempah, Fairchild juga tertarik dengan pohon berbunga dan tanaman pangan lokal. Ia mendokumentasikan berbagai jenis pisang, keladi, dan umbi-umbian yang menjadi makanan pokok masyarakat setempat. Sayangnya, karena meningkatnya ancaman perang, ekspedisinya harus dipercepat. Ia meninggalkan Maluku dengan perasaan tak puas, bertanya-tanya apa yang akan terjadi dengan pulau-pulau indah ini di masa depan.

Menelusuri Jejak Fairchild: Perjalanan Modern di Maluku

Pada tahun 2022, tim dari Fairchild Tropical Botanic Garden (FTBG) yang dipimpin oleh Dr. Carl Lewis melakukan perjalanan 21 hari untuk mengeksplorasi kembali Kepulauan Maluku dengan kapal layar kayu Ombak Putih. Mereka mengunjungi dua belas pulau yang sama yang pernah dikunjungi Fairchild, serta beberapa pulau baru yang belum sempat dijelajahinya.

Salah satu penemuan paling menarik dalam perjalanan ini adalah banyaknya tanaman yang pernah didokumentasikan Fairchild yang masih bertahan hingga hari ini. Beberapa pohon pala dan cengkeh yang ia amati masih tumbuh subur, menunjukkan betapa lestarinya ekosistem Maluku.

Mereka juga menemukan bahwa sebagian besar hutan di Maluku tetap hijau dan subur, meskipun beberapa wilayah telah mengalami dampak dari pertambangan dan deforestasi. Di Pulau Halmahera, misalnya, beberapa bagian hutan telah dibuka untuk penambangan nikel. Namun, di pulau-pulau lain seperti Bacan dan Obi, masih terdapat hutan hujan kuno yang kaya akan spesies langka.

Salah satu momen paling emosional dalam perjalanan ini adalah ketika tim menemukan pohon Hernandia yang sangat mirip dengan yang difoto Fairchild 80 tahun sebelumnya. Dengan berpose di tempat yang sama, mereka merasa seolah-olah sedang berdiri di antara masa lalu dan masa kini, menghubungkan dua ekspedisi yang terpisah oleh hampir satu abad.

Warisan Fairchild dan Masa Depan Kepulauan Maluku

Fairchild tidak hanya melakukan ekspedisi di Maluku, tetapi juga di berbagai belahan dunia. Ia memperkenalkan lebih dari 30.000 spesies tanaman ke Amerika Serikat, termasuk bunga sakura, pistachio, mangga India Timur, alfalfa, alpukat, bambu, lobak pedas (horseradish), kedelai Tiongkok, nektarin, dan kurma. Ia juga mendirikan The Kampong di Coconut Grove, Florida, tempat ia membudidayakan tanaman tropis hingga akhir hayatnya.

Banyak perjalanannya yang dibiayai oleh dermawan seperti Barbour Lathrop dan Allison Armor, yang bahkan membangun laboratorium botani terapung untuk membantunya menjelajahi pesisir dan kepulauan di seluruh dunia. Dari tahun 1924 hingga 1927, ia terus berlayar ke Afrika, Ceylon, Kepulauan Maluku, Indonesia, Amerika Selatan, dan Hindia Barat.

Ketika Fairchild meninggalkan Kepulauan Rempah pada tahun 1940, ia menulis dalam bukunya Garden Islands of the Great East:

“What is to be the future of this island paradise, I wonder—this sparsely settled archipelago of the Great East, unrivalled in beauty, in climate, in fertility—when once the universal highway overhead has brought it closer, and the insanities of war have passed?”

Kini, lebih dari delapan dekade kemudian, pertanyaan itu masih relevan. Kepulauan Maluku tetap menjadi salah satu tempat dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia, tetapi juga menghadapi tantangan akibat eksploitasi sumber daya alam.

Perjalanan modern ini bukan hanya tentang mengenang Fairchild, tetapi juga tentang memahami pentingnya melestarikan warisan alam yang ia kagumi. Dengan meningkatnya kesadaran akan perlindungan lingkungan, ada harapan bahwa hutan-hutan Maluku dapat tetap lestari untuk generasi mendatang.

Sebagaimana Fairchild dulu membawa pulang tanaman eksotis ke dunia Barat, para ilmuwan dan pecinta alam saat ini dapat membawa pulang pelajaran berharga: bahwa melestarikan alam sama pentingnya dengan menemukannya.

error: Content is protected !!