Piala Dunia FIFA 1938 di Prancis mencatat sejarah penting bagi dunia sepak bola Asia. Untuk pertama kalinya, tim dari wilayah Asia berhasil lolos ke putaran final Piala Dunia. Tim tersebut adalah Hindia-Belanda (Indonesia). Meskipun perjalanan mereka singkat, partisipasi ini menjadi tonggak awal bagi keterlibatan Asia dalam sepak bola internasional.
Latar Belakang Hindia-Belanda di Piala Dunia 1938
Setelah Mesir menjadi wakil pertama Benua Afrika di Piala Dunia 1934 di Italia, FIFA berharap Asia juga diwakili di Piala Dunia 1938 di Prancis. FIFA mengundang Jepang dan Hindia Belanda untuk kualifikasi. Hindia Belanda, yang diwakili oleh NIVB (Nederlandsch-Indische Voetbal Bond), bergabung dengan FIFA pada 24 Mei 1924, lima tahun setelah didirikan.

Karena konflik berkepanjangan, NIVB digantikan oleh NIVU (Nederlandsch-Indische Voetbal Unie) pada pertengahan 1935. NIVU menggantikan NIVB, bukan PSSI (Persatuan Sepakraga Seluruh Indonesia) yang dibentuk pada 1930. Perselisihan antara NIVU dan PSSI mereda setelah kesepakatan antara Johannes van Mastenbroek dan Soeratin Sosrosoegondo, perwakilan PSSI, di Yogyakarta pada Januari 1937.
Indonesia yang saat itu dikenal sebagai Hindia-Belanda (Dutch East Indies) lolos ke Piala Dunia tanpa memainkan satu pertandingan pun dalam babak kualifikasi. Tim ini mendapat keuntungan karena lawan mereka, Jepang, menarik diri akibat ketegangan politik menjelang Perang Dunia II. Amerika Serikat yang kemudian dijadwalkan sebagai lawan juga gagal hadir. Dengan demikian, Indonesia langsung melaju ke putaran final sebagai perwakilan Asia, dan menjadi negara Asia pertama yang mengikuti Piala Dunia 1938 di Prancis.
Para Pemain dan Komposisi Tim
Untuk menyaring tim Piala Dunia, NIVU mengadakan seleksi di beberapa kota. Karena keterbatasan waktu dan biaya, seleksi hanya dilakukan di Pulau Jawa. PSSI memprotes karena tidak dilibatkan, namun pelatih tim Hindia Belanda, Mastenbroek, bersama timnya, tetap melanjutkan.
Seminggu setelah seleksi di Surabaya, Komisi Teknik NIVU, yang terdiri dari Mastenbroek, RE Weiss, J Koenekoop, dan AP van Lingen, menetapkan tim untuk mewakili Hindia Belanda di Piala Dunia. Pada awalnya Komisi Teknik hanya memilih sebelas pemain inti dan lima cadangan. Kemudian, komposisi tim mengalami sedikit perubahan, menjadi 17 pemain dengan enam cadangan.
Sebagian besar pemain tim Hindia-Belanda berasal dari komunitas Indo-Eropa, dengan beberapa pemain pribumi. Ada delapan keturunan Belanda, tiga Tionghoa, tiga Maluku, dua Sumatera, dan seorang Jawa. Pelatihnya, Johannes van Mastenbroek, berupaya memaksimalkan kemampuan tim dalam waktu persiapan singkat.

Kedelapan pemain keturunan Belanda adalah: Dorst Beuzekom (Hercules, Batavia) sebagai kiper cadangan. Frans Meeng (SVBB, Batavia), G. van den Burgh (VVV, Djokja), dan G. Faulhaber (GoAhead, Semarang) adalah pemain tengah, dimana Meeng dipercayakan untuk mengatur jalannya pertandingan. Jack Samuels (Excelsior, Soerabaja) dan J Harting (HBS, Soerabaja) sebagai pemain belakang. Kemudian ada R. Telroe (HBS. Soerabaja), dan Henk Sommers (Hercules, Batavia) sebagai pemain depan.
Tiga orang keturunan Tionghoa adalah: Mo Heng Tan (TNH, Malang) sebagai penjaga gawang utama, serta dua orang penyerang, See Han Tan (Gie Hoo, Soerabaja), dan Hong Djien Tan (Tjong Hwa, Soerabaja).
Tiga pemain keturunan Maluku adalah: Frans Hukom (Sparta, Bandoeng) sebagai bek atau gelandang bertahan. Ia dikenal dengan gaya permainannya yang keras dan disiplin. Hans Taihuttu (Jong Ambon, Batavia), penyerang yang dikenal dengan kecepatannya. Ia seringkali digunakan untuk strategi serangan balik. Isaac “Tjaak” Pattiwael (Jong Ambon, Batavia), penyerang berbakat yang hampir mencetak gol dalam pertandingan melawan Hungaria, meski akhirnya dianulir.
Tiga pemain pribumi lainnya, yaitu dua orang Sumatera dan seorang Jawa. Achmad Nawir (HBS, Soerabaja) kapten tim yang bermain sebagai gelandang bertahan. Nawir adalah seorang dokter muda dengan penampilan unik saat pertandingan. Gelandang timnas ini mengenakan kacamata, menjadikannya salah satu pemain sepak bola langka yang melakukannya. Sutan Anwar (VIOB, Batavia) adalah gelandang kreatif dengan kemampuan umpan yang akurat. Ia memiliki visi yang baik dalam menciptakan peluang. Suvarte Soedarmadji (HBS, Soerabaja), penyerang dengan kecepatan tinggi. Soedarmadji dikenal dengan pergerakan tanpa bolanya yang sulit ditebak.
Jalan Panjang Menuju Reims-Prancis
FIFA menyatakan timnas Hindia Belanda harus bertanding kualifikasi melawan AS pada 26 Mei 1938 di Rotterdam. JD Hoen dari NIVU menilai keputusan itu tidak adil. Namun, tim AS menolak bertanding di Eropa, sehingga Hindia Belanda lolos ke Piala Dunia 1938 tanpa bertanding. Mereka menjadi negara Asia pertama yang mencapai putaran final, yang merupakan debut dan juga terakhir bagi Hindia Belanda dan Indonesia.
Sebelum keberangkatan, tim berkeliling Pulau Jawa untuk menguji kemampuan melawan tim-tim terkuat, dimulai dari Solo, Malang, hingga Batavia. Di Surabaya, sebelum menghadapi Soerabaiasche Voetbal Bond (SVB) pada 18 April 1938, mereka memperkenalkan boneka Billiken berwarna oranye sebagai maskot tim.
Setelah uji coba terakhir melawan klub VBO (Voetbalbond Batavia en Omstreken) di Batavia, Nawir dan tim berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, pada 27 April 1938, menggunakan kapal MS Baloeran dari Rotterdamsche Lloyd. Mereka juga singgah di Pelabuhan Belawan, Medan pada tanggal 30 April, untuk melakoni uji coba melawan klub Oost Sumatra Voetbal Bond (OSVB), dan menang dengan skor 4-2.
Perjalanan laut sejauh 11.000 km berakhir di Pelabuhan Marseille, Prancis, pada tanggal 17 Mei, tetapi tim tidak langsung ke Reims untuk pertandingan melawan Hungaria. Rombongan Hindia Belanda malah menuju Den Haag dengan kereta api Parijschen pada 18 Mei 1938, disambut oleh Karl Lotsy, Direktur KNVB, dan sejumlah pejabat serta penggemar.

Ini adalah prestasi luar biasa bagi tim yang sebagian besar pemainnya adalah amatir dan belum pernah bepergian ke luar negeri. Bagi banyak dari mereka, perjalanan ke Eropa adalah pengalaman pertama, dan perjalanan dengan kapal ke Prancis memakan waktu beberapa minggu, di mana mereka berlatih dan mempersiapkan diri untuk pertandingan.
KNVB menyiapkan Hotel Duinoord di Wassenaar untuk rombongan. Selain dilatih Bob Glendenning, tim Hindia Belanda bertanding dua kali melawan HBS Den Haag dan VV Haarlem, dengan hasil satu seri 2-2 dan satu menang 5-3.
Liputan Surat Kabar Belanda
Beberapa surat kabar di Belanda, seperti Limburgsch Dagblad, De Indische Courant, dan Het Volksdagblad, meliput kedatangan tim Hindia Belanda dan persiapan mereka sebelum ke Prancis.
Limburgsch Dagblad menulis liputannya “para pesepakbola ini tampak giat berlatih untuk mencapai kondisi terbaik. Sebisa mungkin, pelatihan dilakukan di atas kapal di bawah bimbingan pemimpin teknis Mastenbroek, tetapi pelatihan intensif dan serius baru bisa dimulai di Belanda. Beruntung, mereka memiliki pelatih nasional KNVB, Bob Glendenning, yang siap membimbing mereka untuk meningkatkan permainan mereka.”
“Sebisa mungkin, pelatihan dilakukan di atas kapal, tetapi pelatihan intensif dan serius baru bisa dimulai di Belanda”
De Indische Courant
Het Volksdagblad menceritakan sedikit tentang penjaga gawang Hindia Belanda. “Kiper Mo Heng mengalami cedera pergelangan tangan yang bisa menimbulkan banyak masalah. X-ray yang diambil di atas kapal, tetapi karena gerakan kapal, hasilnya sering tidak jelas, sehingga konsultasi dengan spesialis sangat dianjurkan. Tinggi badannya yang pendek menjadi kendala sebagai penjaga gawang, tetapi ia mengimbanginya dengan aktivitas, reaksi cepat, dan antusiasme.”

De Indische Courant membahas semangat tim. “Para pemain lain memberikan semangat dalam latihan kelompok kecil, terutama dalam kerjasama tim, mendorong dan bertahan. Meskipun sulit menilai kekuatan pemain dari latihan ini, Mastenbroek memperkirakan kekuatan tim setara dengan rata-rata klub kelas satu Belanda. Kondisi saat ini juga berpengaruh; cuaca dingin berdampak pada mereka yang terbiasa dengan panas tropis. Makanan pun menjadi faktor penting. Oleh karena itu, kami akan berangkat ke Reims lebih awal untuk meminimalkan risiko.”
David dan Goliat
Susunan starting 11 Hindia-Belanda adalah: Mo Heng Tan (GK), Achmad Nawir (C), Sutan Anwar, Hong Djien Tan, Frans Hukom, Frans Meeng, Tjaak Pattiwael, Jack Samuels, Suvarte Soedarmadji, Henk Sommers, dan Hans Taihuttu. Dengan pemain cadangan: Van den Burgh, Faulhaber, Telroe, Harting, See Han Tan, Faulhaber, dan Beuzekoom, dibawah pimpinan pelatih Johannes van Mastenbroek. Formasi yang dimainkan adalah 5-3-2 yang menekankan pertahanan yang kokoh, dengan 5 bek, dan masih memungkinkan serangan balik.
Pertandingan berlangsung pada 5 Juni 1938, menarik perhatian karena kedua kapten adalah dokter—Sarosi merupakan salah satu pemain terhebat Hongaria, sementara Achmad Nawir adalah kapten Hindia Belanda.
Sejak pukul 15.00, Place Drouet d’Erlon di Kota Reims dipenuhi orang-orang. Di kafe-kafe, banyak yang membahas tim Hindia Belanda. Dua jam kemudian, pada pukul 17.00, wasit Roger Conrie (Prancis) meniup peluit tanda dimulainya pertandingan Hindia Belanda melawan Hungaria.
[Joefa’s World Cup History]
Ini adalah penampilan kedua Hungaria di final Piala Dunia, dengan pemain kunci seperti Gyorgy Sarosi, Vilmos Kohut, dan Geza Toldi, veteran Piala Dunia 1934. Tabloid Prancis, Le Miroir Des Sports, menyebut pertandingan ini seperti David melawan Goliat karena tim Hindia Belanda kalah postur.
Meskipun kalah fisik, tim Hindia Belanda yang dilatih Johannes van Mastenbroek menunjukkan kemampuan teknik yang baik. “Pemain Hindia Belanda tampil luar biasa dengan teknik menggiring bola dan berani bertarung di udara,” tulis Le Miroir. Dengan penuh semangat, Nawir, Sutan Anwar, Isaak Pattiwael, Tan Hong Djien, dan lainnya memberikan perlawanan.
“Pemain Hindia Belanda tampil luar biasa dengan teknik menggiring bola dan berani bertarung di udara,”
Le Miroir
Sayangnya, Hungaria lebih unggul. Gol Vilmos Kohut pada menit ke-13 diikuti Geza Toldi dua menit kemudian, dan gol Gyorgy Sarosi pada menit ke-28, serta Gyula Zsengeller pada menit ke-35 meruntuhkan semangat tim Hindia Belanda. sementara Hungaria menguasai permainan. Pada babak kedua, gawang Indonesia kembali kebobolan oleh Gyula Zsengeller (76′), dan Gyorgy Sarosi (89′).

Tim Hindia Belanda sempat mencetak gol balasan melalui Tjaak Pattiwael, namun gol tersebut dianulir. Saat wasit Conrie meniup peluit panjang sebagai tanda berakhirnya pertandingan, Hungaria unggul 6-0. Meski demikian, para pemain Indonesia tetap mendapat apresiasi karena semangat mereka dalam menghadapi lawan yang jauh lebih kuat.
Pemain Asal Maluku
M.J. Hans Taihuttu

- Klub : Jong Ambon – Batavia
- Posisi : Forward (pemain depan)
- Lahir : 1909 (29 tahun)
- Meninggal : –
Johan Taihuttu bermain sebagai penyerang dan berasal dari Maluku. Ia dikenal memiliki gaya permainan yang agresif dan daya juang tinggi di lapangan. Sebagai salah satu pemain muda berbakat, Taihuttu memperkuat tim dengan energi dan semangatnya.
Isaac “Tjaak” Pattiwael

- Klub : Jong Ambon – Batavia
- Posisi : Forward (pemain depan)
- Lahir : 23 February 1914 (24 tahun)
- Meninggal : 16 Maret 1987 (73 tahun)
Pattiwael adalah salah satu pemain Maluku yang menjadi penyerang utama tim Hindia-Belanda. Ia dikenal karena kecepatannya dan kemampuannya dalam menyerang. Dalam pertandingan melawan Hungaria, Pattiwael hampir mencetak gol, tetapi gol tersebut dianulir oleh wasit. Meski demikian, kontribusinya tetap menjadi catatan penting dalam sejarah. Setelah kembali ke Batavia/Jakarta, Isaac Pattiwael terus berkiprah di bidang olahraga, yaitu mendirikan persekutuan olahraga Maluku, dengan mengumpulkan anak-anak Maluku yang berprestasi di bidang olahraga.
Frederikus Gerardus Hukom

- Klub : Sparta – Bandoeng
- Posisi : Defender (bek)
- Lahir : Makassar, 28 September 1915 (23 tahun)
- Meninggal : 3 Juli 1989 (74 tahun)
Frans Hukom adalah pemain bertahan serba bisa. Ia dikenal memiliki fisik yang kuat dan kemampuan membaca permainan yang baik. Hukom sering ditempatkan sebagai gelandang bertahan atau bek tengah untuk menjaga keseimbangan tim. Sebagai pemain yang tenang dan penuh dedikasi, ia menjadi salah satu figur penting di lini belakang Hindia-Belanda. Setelah Indonesia Merdeka, Frans Hukom bermain untuk tim Makassar dalam kompetisi Voetbal Unie in de Verenigde Staten van Indonesië. Sebagai anggota KNIL, ia akhirnya dipulangkan ke Belanda pada 1951 dan kemungkinan tinggal di Den Haag. Di Belanda, Hukom menghabiskan masa tuanya tanpa kembali ke Indonesia. Ia meninggal pada 1989 dan dimakamkan di pemakaman Eikelenburg, dekat Den Haag.
Pengaruh dan Warisan
Kehadiran pemain asal Maluku di tim Hindia-Belanda menandai representasi yang penting dalam sejarah sepak bola Indonesia. Mereka bukan hanya menunjukkan kemampuan olahraga di tingkat dunia, tetapi juga menjadi simbol kebanggaan regional dan nasional.
Warisan ini terus dikenang sebagai bagian dari perjalanan awal sepak bola Indonesia, yang kini telah menjadi olahraga paling populer di tanah air. Perjuangan mereka di Piala Dunia 1938 menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya untuk terus mengembangkan sepak bola Indonesia di kancah internasional.
Access ChatGPT, Claude, Gemini Pro , Kling AI, LLaMA, Mistral, DALL.E, LLaMa & more—all from a single dashboard.
No subscriptions or no monthly fees—pay once and enjoy lifetime access.
Automatically switch between AI models based on task requirements.
And much more … hamsterkombat.expert/AIIntelliKit