Pada abad ke-16, dua kekuatan besar maritim dunia, Spanyol dan Portugal, bersaing sengit untuk menguasai wilayah baru. Maluku dengan kekayaan rempah-rempahnya menjadi pusat rivalitas ini. Kedua negara ini mengandalkan keahlian pelayaran dan teknologi canggih untuk menjelajahi dunia, tetapi klaim mereka sering kali tumpang tindih. Salah satu perjanjian penting yang menjadi tonggak sejarah kolonialisme Eropa adalah Perjanjian Zaragoza yang ditandatangani pada tahun 1529. Perjanjian ini tidak hanya membagi wilayah kolonial. Perjanjian ini juga memberikan dampak besar bagi sejarah kawasan Asia Tenggara. Maluku termasuk dalam kawasan ini dan terkenal sebagai “Kepulauan Rempah-Rempah.” Perjanjian ini menegaskan peran Maluku sebagai kunci geopolitik global, membagi dunia dan menentukan arah kolonialisme di Asia Tenggara.
Latar Belakang Perjanjian Zaragoza
Perjanjian Zaragoza muncul sebagai tindak lanjut dari Perjanjian Tordesillas (1494). Perjanjian ini membagi dunia menjadi dua zona eksplorasi dan kolonisasi antara Spanyol dan Portugal. Pembagian dilakukan berdasarkan garis meridian yang ditarik oleh Paus Alexander VI. Namun, garis pembagian dalam Perjanjian Tordesillas hanya berlaku untuk wilayah barat Samudra Atlantik. Garis ini berlaku sampai ke “ujung” dunia yang diketahui kala itu. Sementara wilayah di sebelah timur, terutama di Asia Tenggara, belum jelas. Sementara itu, Kepulauan Maluku menjadi incaran utama kedua negara karena merupakan sumber rempah-rempah berharga seperti pala, cengkih, dan lada.
Ekspedisi Ferdinand Magellan (1519-1522), yang disponsori oleh Spanyol, berhasil mencapai Maluku dan mengklaimnya sebagai bagian dari wilayah Spanyol. Di sisi lain, Portugal telah lama hadir di kawasan itu. Mereka melakukan jalur pelayaran ke timur. Portugal mengklaim wilayah yang sama berdasarkan jalur pelayaran mereka di sekitar Tanjung Harapan. Perselisihan ini memunculkan konflik diplomatik yang membutuhkan penyelesaian formal.
Perjanjian Zaragoza ditandatangani oleh wakil resmi dari dua kerajaan besar, Spanyol dan Portugal. Dari pihak Spanyol, perjanjian ini diratifikasi oleh Kaisar Charles V, yang juga merupakan Raja Spanyol saat itu. Sedangkan dari pihak Portugal, perjanjian ini diwakili oleh Raja João III. Proses negosiasi melibatkan diplomat dan ahli hukum dari kedua belah pihak untuk memastikan kejelasan garis pembagian wilayah.
Peran Kaisar Charles V (Spanyol):
Charles V adalah pemimpin Kekaisaran Romawi Suci sekaligus Raja Spanyol. Dalam konteks Perjanjian Zaragoza, ia mewakili Spanyol yang sebelumnya mengklaim Kepulauan Maluku berdasarkan perjalanan Ferdinand Magellan.
Charles V bersedia untuk menyerahkan klaimnya atas Maluku. Dia ingin mempertahankan hubungan damai dengan Portugal. Dia juga ingin memperoleh kompensasi finansial. Kompensasi tersebut dapat mendukung ambisi politik dan ekonominya di wilayah lain, terutama di benua Amerika.
Peran Raja João III (Portugal):
João III dikenal sebagai “Raja yang Saleh.” Ia merupakan penguasa Portugal. Dia memfokuskan kebijakan luar negerinya pada perdagangan maritim dan ekspansi kolonial.
Portugal, yang telah memiliki kehadiran kuat di Maluku, ingin mengamankan monopoli perdagangan rempah-rempah. Melalui Perjanjian Zaragoza, João III memastikan dominasi Portugal atas wilayah tersebut dengan membayar kompensasi emas kepada Spanyol.
Negosiasi yang dilakukan oleh para diplomat kedua kerajaan menghasilkan garis demarkasi baru. Garis ini memastikan Portugal menguasai Maluku. Spanyol memusatkan eksplorasinya di Filipina dan Amerika. Perjanjian ini mencerminkan kompromi besar di tengah persaingan kolonial dan memperlihatkan betapa pentingnya rempah-rempah dalam geopolitik abad ke-16.
“Dalam Perjanjian Zaragoza, dunia dibagi tidak hanya oleh garis imajiner, tetapi juga oleh kepentingan ekonomi dan politik yang membentuk sejarah global.”
Isi dan Ketentuan Perjanjian Zaragoza

Pada 22 April 1529, Spanyol dan Portugal sepakat untuk menandatangani Perjanjian Zaragoza, yang menyelesaikan sengketa mengenai klaim atas Kepulauan Maluku. Poin-poin utama dari perjanjian adalah:
- Garis Demarkasi Timur. Perjanjian menetapkan garis demarkasi baru sejauh 297,5 liga (sekitar 1.500 km) sebelah timur Kepulauan Maluku. Garis ini membatasi wilayah eksplorasi dan kolonisasi Portugal dan Spanyol di Asia.
- Hak Milik Portugal. Spanyol setuju untuk menyerahkan klaimnya atas Kepulauan Maluku kepada Portugal, yang telah mendirikan benteng dan koloni di kawasan tersebut. Hal ini memperkuat monopoli perdagangan rempah-rempah Portugal di kawasan tersebut.
- Kompensasi Finansial. Sebagai imbalannya, Portugal membayar 350.000 ducat emas kepada Spanyol. Uang ini merupakan bentuk “kompensasi” bagi Spanyol untuk meninggalkan klaim mereka atas Maluku.
- Wilayah Filipina. Spanyol mempertahankan hak mereka atas Filipina. Filipina berada di sebelah barat garis Tordesillas. Namun, perjanjian ini menganggapnya berada di wilayah eksplorasi Spanyol.
Dampak Geopolitik Perjanjian Zaragoza
“Orang Maluku adalah tuan atas tanah mereka, tetapi mereka sekarang berada di bawah bayang-bayang kekuatan asing.”
(Pigafetta – anggota ekspedisi Magellan)
Perjanjian Zaragoza tidak hanya menyelesaikan sengketa klaim antara Spanyol dan Portugal. Ini juga menetapkan batas-batas pengaruh kolonial. Penetapan ini membentuk peta geopolitik dunia modern. Berikut adalah implikasi utama dari garis demarkasi yang ditetapkan oleh perjanjian ini:
- Bagaimana Garis Demarkasi Membagi Pengaruh Kolonial. Garis demarkasi yang ditentukan dalam Perjanjian Zaragoza bukan hanya sekadar garis imajiner. Garis ini menjadi instrumen politik. Tujuannya adalah memastikan dua kekuatan Eropa terbesar saat itu, Spanyol dan Portugal, tidak bersaing secara langsung dalam ekspansi wilayah mereka. Di satu sisi, garis ini memberikan kontrol penuh kepada Portugal atas Maluku, yang secara strategis merupakan sumber rempah-rempah paling berharga. Di sisi lain, Spanyol memanfaatkan Filipina untuk memperluas pengaruhnya di Pasifik dan Asia Timur.
- Dominasi Portugal di Asia Tenggara. Portugal mengonsolidasikan kekuasaan mereka di Maluku dengan membangun benteng seperti Fort São João Baptista di Ternate (Benteng Kastela). Mereka juga memanfaatkan hubungan dengan beberapa penguasa lokal untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah, termasuk cengkih dan pala. Dominasi ini bertujuan untuk mengendalikan pasar global, yang sangat bergantung pada permintaan Eropa.
- Fokus Spanyol di Filipina dan Amerika. Sementara Portugal menguasai Maluku, Spanyol mengalihkan fokus ke Filipina. Filipina dianggap sebagai pintu gerbang untuk memperluas pengaruh mereka di Asia Timur. Filipina menjadi basis strategis untuk misi penyebaran agama Katolik di Asia. Selain itu, Filipina berperan sebagai jalur perdagangan antara Asia dan Amerika melalui Galleon Manila. Spanyol juga memperluas kolonisasi mereka di Amerika Tengah dan Selatan, memanfaatkan kekayaan tambang dan sumber daya alam lainnya.
- Transformasi Perdagangan Global. Perjanjian Zaragoza adalah simbol awal dari globalisasi ekonomi. Spanyol dan Portugal membagi dunia berdasarkan jalur perdagangan. Langkah ini membentuk sistem perdagangan internasional yang terintegrasi. Sayangnya, sering kali ini disertai dengan eksploitasi dan kekerasan terhadap wilayah jajahan mereka.
“Tanah yang diberkati Tuhan dengan kekayaan cengkih dan pala, tetapi penuh dengan kekuatan penguasa lokal yang saling bersaing.”
(Antonio Galvão – seorang navigator Portugis)
Perspektif Lokal
Sementara Perjanjian Zaragoza ditulis di atas meja negosiasi, dampaknya terasa langsung di Maluku. Perspektif lokal mengungkapkan berbagai perubahan signifikan yang dialami oleh masyarakat di kawasan ini:
- Perubahan Sosial dan Ekonomi di Maluku. Dominasi Portugal membawa dampak besar pada masyarakat Maluku. Sistem monopoli memaksa petani lokal untuk menjual hasil rempah-rempah dengan harga murah. Ekonomi tradisional yang berbasis barter perlahan digantikan oleh ekonomi uang. Selain itu, pengaruh agama Katolik dan budaya Eropa mulai memengaruhi tradisi lokal, menciptakan perubahan dalam struktur masyarakat.
- Perlawanan Lokal terhadap Monopoli Kolonial. Di bawah tekanan monopoli, kerajaan-kerajaan lokal seperti Ternate dan Tidore mulai melakukan perlawanan terhadap dominasi Portugal. Tokoh-tokoh seperti Sultan Baabullah dari Ternate menjadi simbol perjuangan lokal melawan kekuatan asing. Konflik ini sering melibatkan strategi diplomasi dengan kekuatan kolonial lain seperti Spanyol, untuk menyeimbangkan kekuatan di kawasan.
- Pengaruh Diplomasi dan Strategi Lokal. Masyarakat Maluku tidak hanya pasif dalam menghadapi penjajahan. Penguasa lokal memainkan peran penting dalam menjalin aliansi, baik dengan penjajah maupun dengan kerajaan tetangga, untuk melindungi kepentingan mereka. Ini terlihat dalam bagaimana kerajaan-kerajaan Maluku memanfaatkan konflik antara Spanyol dan Portugal untuk mendapatkan keuntungan strategis.
- Warisan Budaya dan Sejarah. Meskipun penuh dengan eksploitasi, periode kolonial ini juga meninggalkan warisan yang beragam di Maluku. Arsitektur gereja-gereja tua, tradisi keagamaan, dan pengaruh bahasa adalah sebagian kecil dari jejak Portugal di wilayah ini. Warisan ini menciptakan identitas budaya yang unik di Maluku hingga hari ini.
“Apa yang kita tanam untuk hidup, kini hanya menjadi emas bagi mereka.”
Signifikansi Sejarah
Perjanjian Zaragoza adalah salah satu contoh bagaimana kolonialisme Eropa menggunakan diplomasi untuk menguasai wilayah baru. Perjanjian ini menjadi pelengkap Perjanjian Tordesillas dan menunjukkan betapa pentingnya rempah-rempah dalam politik global pada masa itu. Selain itu, perjanjian ini menyoroti bagaimana Spanyol dan Portugal membentuk peta dunia modern berdasarkan kepentingan kolonial mereka.
Bagi Maluku, Perjanjian Zaragoza mencerminkan awal dari kolonialisme Eropa yang intensif. Portugal melanjutkan monopoli perdagangan rempah-rempah, sementara komunitas lokal mengalami dampak dari campur tangan asing, termasuk konflik internal dan tekanan ekonomi.
Kesimpulan
Perjanjian Zaragoza 1529 adalah bukti bahwa sejarah kolonialisme bukan hanya tentang penaklukan, tetapi juga diplomasi dan negosiasi antar kekuatan besar. Perjanjian ini menetapkan batas wilayah yang jelas. Hal ini tidak hanya menyelesaikan konflik antara Spanyol dan Portugal. Itu juga menciptakan dampak yang bertahan lama di Asia Tenggara, khususnya di Kepulauan Maluku. Namun, bagi masyarakat lokal, perjanjian ini lebih mencerminkan awal dari era eksploitasi dan dominasi asing atas kekayaan mereka.