Odoardo Beccari adalah seorang naturalis dan penjelajah asal Italia yang dikenal atas kontribusinya dalam ilmu botani dan zoologi. Selama ekspedisinya di Nusantara pada abad ke-19, Beccari mengunjungi berbagai wilayah di Maluku, Ambon, Ternate, Buru, dan Seram, mengumpulkan spesimen tumbuhan dan hewan yang hingga kini menjadi referensi penting dalam dunia ilmiah.
Meskipun menghadapi berbagai tantangan, termasuk penyakit tropis, kecelakaan kapal, dan kondisi lingkungan yang ekstrem, Beccari tetap bertahan dan berhasil mendokumentasikan kekayaan alam yang luar biasa dari kepulauan ini. Artikel ini akan membahas perjalanan eksplorasinya di Maluku dan bagaimana ekspedisinya berkontribusi terhadap ilmu pengetahuan.
Riwayat Hidup Odoardo Beccari

Odoardo Beccari lahir di Florence, Italia, pada 16 November 1843. Ia kehilangan ibunya, Antonietta Minucci, segera setelah kelahirannya, dan ayahnya, Giuseppe Beccari, meninggal pada tahun 1849 ketika Odoardo baru berusia enam tahun. Sejak kecil, ia diasuh oleh pamannya, Mmuccio Minucci.
Odoardo Beccari meninggal dunia pada 25 Oktober 1920 di Florence pada usia 77 tahun, meninggalkan warisan besar dalam dunia botani dan eksplorasi tropis.
Pada April 1853, ia masuk ke Collegio ‘Ferdinando’ di Lucca, di mana kecintaannya pada botani mulai tumbuh berkat bimbingan Wakil Rektor dan Prefek Studi, Abbe Ignazio Mezzetti, serta Profesor Botani di Lyceum Lucca, Cesare Bicchi. Menyadari bakat besar Beccari, Bicchi bahkan mendedikasikan spesies tanaman baru untuknya, Tulipa beccariana, yang menjadi salah satu dari banyak spesies flora dan fauna yang kelak dinamai untuk menghormatinya.
Pada tahun 1861, ketika berusia 18 tahun, Beccari mulai belajar di Fakultas Ilmu Alam, Universitas Pisa. Ia awalnya tertarik pada kriptogam, sejenis tumbuhan tidak berbunga, dan namanya muncul dalam daftar kolektor ‘Erbario Crittogamico Italiano’. Ia begitu menonjol dalam studinya sehingga Profesor Pietro Savi menunjuknya sebagai asisten pada Januari 1863, meskipun ia masih menjadi mahasiswa.
Namun, merasa tidak puas dengan metode konservatif Savi, Beccari pindah ke Universitas Bologna, di mana ia memperoleh gelar dalam Ilmu Alam pada 1 Juli 1864 dengan tesis tentang struktur lumut Arnoldia cyathodes. Sebelum lulus, ia telah merencanakan perjalanan panjang ke daerah tropis untuk penelitian ilmiah.
Petualangan dan Eksplorasi Ilmiah
Pada Juni 1864, saat berada di laboratorium Profesor Giovanni Capellini, ia bertemu dengan Markis Giacomo Doria, seorang naturalis muda yang juga memiliki semangat eksplorasi. Mereka memutuskan untuk melakukan ekspedisi bersama, dan dengan saran dari naturalis Inggris terkenal, John Ball, mereka memilih Kerajaan Sarawak di Kalimantan sebagai tujuan ekspedisi.
Sebagai persiapan, Beccari menghabiskan Februari hingga April 1865 di pusat botani Inggris seperti British Museum di London dan Kew Gardens, di mana ia bertemu dengan para ahli botani terkenal, termasuk Joseph Dalton Hooker, Charles Darwin, dan Sir James Brooke, Raja Sarawak, yang menjamin dukungan penuh untuk penelitiannya.
Pada usia 22 tahun, Beccari berangkat dari Southampton pada 4 April 1865. Ia singgah di Mesir, Yaman, Sri Lanka, dan Singapura sebelum tiba di Kuching, Sarawak, pada 19 Juni 1865. Di sana, ia dan Doria mulai mengumpulkan spesimen botani dan zoologi di hutan-hutan Kalimantan.
Beccari kemudian melakukan ekspedisi ke berbagai daerah tropis lainnya, termasuk Maluku, Sulawesi, dan Papua. Ia dikenal sebagai salah satu peneliti paling produktif tentang flora Malesia, mengumpulkan spesimen tumbuhan, binatang, dan membuat ilustrasi rinci dari apa yang ditemukannya.
Karya Ilmiah dan Warisan
Beccari tidak hanya seorang ilmuwan, tetapi juga seorang seniman dan penulis. Karyanya yang terkenal, Nelle foreste di Borneo (1902), adalah salah satu buku terbaik tentang botani tropis, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai Wanderings in the Great Forests of Borneo (1904).
Sepanjang hidupnya, ia mendedikasikan penelitian terhadap palem dan flora Malesia, dan menerbitkan berbagai makalah ilmiah. Ia juga menyusun catatan perjalanannya di Nuova Guinea, Selebes e Molucche (1924), yang diterbitkan secara anumerta oleh putranya, Nello Beccari.
Odoardo Beccari meninggal dunia pada 25 Oktober 1920 di Florence pada usia 77 tahun, meninggalkan warisan besar dalam dunia botani dan eksplorasi tropis.
Kedatangan di Ambon dan Ekspedisi Awal ke Buru & Seram
Pada 7 Maret 1872, Beccari tiba di Ambon bersama rekannya, Count Luigi Maria D’Albertis. Mereka diterima dengan baik oleh Kapten P.F. Kraal dan istrinya, Amalia Malan, seorang wanita keturunan Italia.
Setelah singgah sebentar di Ambon, mereka melakukan perjalanan singkat ke Buru dan Seram untuk mengumpulkan informasi sebelum kembali ke Ambon untuk merencanakan ekspedisi mereka ke Papua Barat.
Mereka menyewa sebuah schooner kecil bernama “Burung-Laut”, berbobot 25 ton, dengan delapan kru, sebelum berlayar menuju Papua Barat pada 21 Maret 1872.
Kembali ke Ambon dan Ekspedisi ke Kepulauan Aru & Kei
Setelah ekspedisi awal di Papua Barat, Beccari kembali ke Ambon pada 5 Desember 1872 untuk beristirahat dan mengatur koleksi spesimennya.
Pada 8 Februari 1873, ia memulai ekspedisi ke Kepulauan Aru, meskipun dalam perjalanan ia terkena cacar. Setelah berhasil tiba di Pulau Wokam, ia mendirikan pangkalan penelitian dan mengumpulkan berbagai spesimen tumbuhan dan hewan.
Pada 6 Juli 1873, ia melanjutkan perjalanannya ke Kepulauan Kei dengan menggunakan perahu layar Bugis. Namun, kapal mereka mengalami kandas di pantai timur Pulau Kei Besar. Beruntung, Beccari dapat menyelamatkan seluruh koleksinya dan melanjutkan penelitian di Pulau Kei Kecil sebelum kembali ke Ambon pada 23 Oktober 1873.
Di Ambon, ia kembali tinggal di rumah keluarga Kraal untuk beristirahat dan mempersiapkan ekspedisi berikutnya.
Ekspedisi ke Buru, Ternate, dan Sulawesi
Pada 5 November 1873, Beccari melanjutkan perjalanannya ke Buru dan Ternate dengan kapal uap Koning Willem III, sebelum melanjutkan ekspedisi ke Sulawesi.
Setelah beberapa bulan meneliti di Sulawesi Tenggara, Beccari mendapat informasi bahwa sebuah kapal perang Sumatra dari Angkatan Laut Kerajaan Belanda sedang mencarinya akibat rumor bahwa ia dalam bahaya karena serangan perompak di sekitar Kendari.
Beccari akhirnya menerima tawaran untuk kembali ke Makassar, sebelum akhirnya menuju Ternate pada 11 November 1874 untuk melanjutkan penelitiannya.
Ekspedisi Beccari di Ternate
Di Ternate, Beccari menghabiskan 20 hari mengumpulkan spesimen botani dan zoologi di sekitar hutan pegunungan. Pemerintah Belanda membangun pondok penelitian di lereng gunung berapi, yang dinamakan “Paradisino“, sebagai tempat tinggal dan pusat penelitiannya.
Beccari awalnya berencana menjadikan Ternate sebagai basis ekspedisi berikutnya ke Papua Barat, tetapi ia menyadari bahwa logistik dan dukungan yang tersedia tidak memadai. Akhirnya, pada 4 Desember 1874, ia meninggalkan Ternate dan kembali ke Ambon.
Ekspedisi ke Papua Barat dari Ambon
Setelah kembali ke Ambon pada 7 Desember 1874, Beccari mulai merencanakan ekspedisi kedua ke Papua Barat, yang kali ini didukung oleh Pemerintah Genoa.
Ia menyewa kapal brig-schooner “Deli”, dengan 10 kru, serta membawa 8 asisten dan seorang anak laki-laki untuk membantu pengumpulan spesimen.
Pada 22 Januari 1875, ia berlayar dari Ambon menuju Sorong, dan selama ekspedisi ini ia mengunjungi berbagai lokasi di Papua Barat, termasuk Dorei, Waigeo, Japen, dan Pegunungan Arfak.
Namun, ekspedisi ini harus dihentikan lebih awal akibat serangan penyakit beri-beri yang menewaskan beberapa kru kapalnya. Beccari akhirnya kembali ke Ternate pada 4 Agustus 1875, di mana ia menghabiskan tiga bulan untuk mengatur koleksi ilmiahnya sebelum kembali ke Italia.
Warisan Ilmiah Beccari di Maluku
Ekspedisi Beccari di Maluku, Ambon, Ternate, Buru, dan Seram memberikan kontribusi luar biasa terhadap ilmu pengetahuan, terutama dalam bidang botani dan zoologi.
Beberapa pencapaiannya meliputi:
- Mengumpulkan ratusan spesimen tumbuhan dan hewan, banyak di antaranya merupakan spesies yang belum dikenal sebelumnya.
- Melakukan pemetaan topografi dan mendokumentasikan flora serta fauna di berbagai kepulauan.
- Mendirikan pondok penelitian “Paradisino” di Ternate sebagai basis ilmiahnya.
- Meninggalkan koleksi yang hingga kini digunakan sebagai referensi dalam studi botani dan sejarah alam.
Meskipun menghadapi berbagai kesulitan, termasuk penyakit tropis, kecelakaan kapal, dan lingkungan yang berbahaya, Beccari tetap bertahan dan berhasil mencatatkan namanya sebagai salah satu penjelajah ilmiah terbesar di Nusantara.
Kesimpulan
Ekspedisi Odoardo Beccari di Maluku tidak hanya menghasilkan dokumentasi ilmiah yang sangat berharga, tetapi juga membuka wawasan tentang kekayaan biodiversitas dan ekosistem unik di wilayah ini.
Perjalanannya di Ambon, Ternate, Buru, dan Seram menunjukkan tantangan yang dihadapi oleh para ilmuwan di abad ke-19 dalam meneliti wilayah yang belum terjamah, sekaligus menyoroti pentingnya penelitian lapangan dalam memahami keanekaragaman hayati.
Saat ini, Maluku masih menyimpan banyak misteri ilmiah yang menunggu untuk dieksplorasi, sebagaimana yang dilakukan Beccari lebih dari satu abad yang lalu. Semangat eksplorasi dan dedikasi ilmiahnya tetap menjadi inspirasi bagi para peneliti modern yang ingin memahami lebih jauh tentang kekayaan alam Indonesia.