Dunia sepak bola Indonesia, khususnya Maluku, kehilangan salah satu putra terbaiknya. Pada 28 Juni 2023, Sani Tawainella, legenda dan inspirator sepak bola dari Tulehu, Maluku, menghembuskan napas terakhirnya. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, namun warisannya akan terus bersinar terang.
Sani Tawainella bukan hanya seorang mantan pesepak bola. Ia adalah pejuang sejati yang mendedikasikan hidupnya untuk olahraga yang dicintainya, bahkan ketika hidup mengharuskannya menjadi tukang ojek demi keluarga. Namun, di balik kerasnya perjuangan hidup, semangat Sani untuk membangun sepak bola di tanah kelahirannya tak pernah padam.
Dari Anak Kampung ke Panggung Nasional
Sani Tawainella lahir pada 17 Maret 1979 di Tulehu, sebuah desa kecil di Pulau Ambon. Sebagai mantan pemain Timnas Pelajar U-15 Indonesia, ia memahami kerasnya perjuangan di lapangan. Namun, panggilan sejatinya bukan hanya bermain, melainkan membimbing generasi muda. Di tengah ketegangan sosial pasca-konflik Maluku, Sani mendirikan Sekolah Sepak Bola (SSB) Tulehu Putra. Dengan sumber daya terbatas, ia melatih anak-anak di lapangan sederhana, sering kali tanpa sepatu atau peralatan memadai.
Pada tahun 1993, di usianya yang baru 14 tahun, Sani meninggalkan kampung halamannya, Tulehu, Maluku, untuk mengejar mimpi di Sekolah Ragunan, Jakarta. Bekal yang ia bawa bukanlah uang saku melimpah atau perlengkapan mewah, melainkan hanya ratusan ribu rupiah dan stoples ikan cakalang buatan sang ibu. Di Tulehu, anak laki-laki yang tidak bisa bermain sepak bola akan merasa terasing, itulah sebabnya sejak kecil mereka sudah berlatih dengan perlengkapan seadanya. Sani pun demikian. Demi menjadi pesepak bola profesional, ia bahkan menyempatkan diri berlatih di geladak kapal selama empat hari perjalanan Ambon-Jakarta.
Setibanya di Sekolah Ragunan, Sani disambut oleh dua sahabat lamanya, Dedi Umarella dan Imran Nahumarury, yang sudah tiba lebih dulu. Mereka bukan hanya satu kampung, tetapi juga pernah satu tim membela pelajar Maluku di Pekan Olahraga Pelajar Bandung. Bakat Sanita segera terendus pemandu bakat Sekolah Ragunan. Pria kelahiran 17 Maret 1979 ini bahkan sempat dipanggil memperkuat Tim Nasional Indonesia di ajang Asian School di Brunei Darussalam, di mana Indonesia berhasil menembus final. Momen ini memperkuat keyakinannya untuk menjadi pesepak bola nasional dan mencari nafkah dari olahraga yang dicintainya.
Tahun 1994, Sani harus melihat sahabatnya, Imran Nahumarury, menyusul Dedi Umarella untuk bergabung dengan program PSSI Ibarti dan Primavera di Italia. Setahun berselang, Sani menghadapi masa sulit. Ia gagal lolos seleksi Timnas Indonesia untuk kejuaraan di Iran karena cedera. Kondisi ini memaksanya pulang kampung sejenak untuk memulihkan diri.
Setelah pulih, Sani kembali ke Ragunan dan berada di ujung kelulusan. Pada tahun 1996, ia mulai menapaki jenjang karier profesional. Klub pertama yang ia datangi adalah Persitara, namun ia memutuskan pindah ke Bogor untuk berlatih bersama Persikabo. Sayangnya, meski giat berlatih, Sani tak kunjung mendapatkan kontrak. Di Bogor, ia bahkan kesulitan mencari makan, sering meminta daun singkong kepada warga untuk direbus dan dimakan dengan nasi.
Kegagalan demi kegagalan terus menghampirinya. Sani mencoba peruntungan di Samarinda bersama Persisam Samarinda, namun lagi-lagi gagal lolos seleksi. Akhirnya, setelah terus-menerus menuai kemalangan, ia memutuskan kembali ke Tulehu.
Pada tahun 2006, Sani diberikan kepercayaan untuk menjadi pelatih kepala tim nasional Maluku U-15, sebuah langkah berani di tengah tantangan dan dinamika wilayah yang masih mengalami segregasi. Namun, semangat dan tekad Sani tidak terpengaruh oleh ketidakpastian. Ia membangun sebuah tim yang tidak hanya berbakat, tetapi juga berakar dalam keberagaman—menggabungkan pemain dari latar belakang agama yang berbeda dan memperkuat pesan persatuan melalui sepak bola. Melalui perjuangan tanpa kenal menyerah, tim muda Maluku ini tampil penuh semangat dan akhirnya mencapai puncak kejayaan secara dramatis, menumbangkan tim ibukota dalam laga yang penuh tensi dan adu penalti yang menegangkan di Stadion Jalak Harupat Bandung.
Keberhasilan mereka lebih dari sekadar gelar juara; ini adalah bukti keberanian, tekad, dan kekuatan persatuan dalam keberagaman. Banyak dari mereka yang kini telah menapak karier profesional di berbagai klub tanah air dan bahkan meraih kontrak dari klub luar negeri. Lebih dari itu, mereka menjadi inspirasi dan simbol harapan, mengharumkan nama Indonesia di panggung internasional. Di antara mereka yang menorehkan prestasi gemilang adalah Alfin Tuasalamony, Hendra Bayauw, Rizky Pellu, Pangky dan Pingky Pasamba, Kasim Tuasalamony, Ami Dida, Riskandi Lestaluhu, Akbar Marasabessy, Harir Lestaluhu, Sedek Sanaky, Fahmi Kotta, Irsal Lestaluhu, Pando, Asrul Risahondua, Imran Lestaluhu, Rizky Tawainella, Syaiful Ohorella, dan Salim Ohorella.

Kisah yang Diabadikan dalam Film
Kisah hidup Sani Tawainella yang penuh inspirasi bahkan diabadikan dalam layar lebar. Film “Cahaya dari Timur Beta Maluku” (2014) dengan apik menggambarkan perjuangan Sani dalam sepak bola dan upayanya meredam konflik. Karakter Sani yang kuat dan penuh semangat dihidupkan dengan cemerlang oleh aktor Chicco Jerikho, membuat kisahnya dikenal lebih luas oleh masyarakat Indonesia.
Pada tahun 1995, Sani Tawainela, pemuda berdarah Maluku, terpilih sebagai anggota tim nasional junior Indonesia untuk bertanding di Piala Junior Asia di Brunei Darussalam. Namun, nasib membawanya kembali ke kampung halamannya di Maluku, menghentikan mimpinya menjadi pesepakbola profesional. Pada tahun 2000, Sani mencari nafkah sebagai pengemudi ojek di Tulehu, sebuah kota pesisir berjarak 30 km dari Ambon, di tengah krisis Ambon yang mencekam. Konflik antara komunitas Muslim dan Kristen menyebabkan banyak korban jiwa dan memisahkan keluarga, dengan banyak warga terpaksa mengungsi.
Ketika kerusuhan meluas ke Tulehu, Sani melihat anak-anak mulai terpengaruh, berlari menuju lokasi kericuhan mengikuti orang dewasa. Suatu hari, sebuah bola milik anak-anak pantai menggelinding ke kakinya. Ia tanpa sengaja memperlihatkan keahlian juggling-nya, memukau anak-anak itu. Keesokan harinya, mereka memintanya mengajari bermain bola, tetapi ia menolak, merasa gagal sebagai pemain. Namun, saat tiang listrik dibunyikan sebagai tanda kerusuhan, dan anak-anak berlari menuju bahaya, Sani berubah pikiran. Ia mengajak mereka bermain bola di pantai, tanpa sepatu, untuk menjauhkan mereka dari kekerasan.
Meski dicap pengecut oleh sebagian warga karena menghindari konflik, Sani berkomitmen melatih anak-anak setiap sore, mengajak Raffi, teman sesama anggota timnas junior 1995, untuk membantu. Mereka melatih anak-anak berbakat seperti Alvin Tuasalamoni, Hendra Adi Bayau, dan Salembe, anak penjual ikan yang selalu menggiring bola. Dedikasinya seringkali membuat ia harus menolak order ojek, yang memicu ketegangan dengan istrinya, Hapsa, karena penghasilan hariannya menurun. Raffi menyarankan mendirikan Sekolah Sepak Bola (SSB), tetapi prioritas Sani adalah menjaga anak-anak dari tawuran.
Tekanan keuangan dan keluarga membuat Sani sering terlambat ke latihan, memicu kritik dari Raffi soal kedisiplinannya—kelemahan yang dulu menghalangi Sani masuk pelatihan PSSI di Italia. Suatu hari, Sani melewatkan latihan demi pekerjaan ojek dengan bayaran besar. Saat itu, kerusuhan terjadi, dan Kasim, salah satu anak asuhnya, terluka akibat bom molotov. Raffi memarahi Sani atas kelalaiannya, membuat dirinya merenung dan introspeksi.
Lima tahun kemudian, ketika konflik Ambon mereda, tim Sani dan Raffi berkembang dengan bola dan sepatu yang lebih layak. Raffi mendorong pembentukan SSB untuk mengikuti John Mailoa Cup, tetapi Sani masih kesulitan secara finansial dengan dua anak dan kebutuhan yang meningkat. Ketegangan dengan Hapsa memuncak, dan ketika kepala desa mengumumkan pembentukan SSB Tulehu Putra, Sani terpukul mengetahui Raffi diklaim sebagai pendirinya. Merasa dikhianati, Sani menghadapi Raffi, yang menawarkan kompensasi tetapi menolak mengakui peran Sani. Kecewa, Sani berhenti melatih dan menyerahkan ban kapten kepada Jago, pemain andalannya, sambil berpesan agar tim tetap semangat.
Namun, takdir berkata lain. Joseph Matulessy, guru olahraga dari SMA Paso, sebuah sekolah Kristen, menawarkan Sani posisi pelatih untuk persiapan John Mailoa Cup. Meski kepala sekolah awalnya keberatan karena Sani seorang Muslim, Joseph meyakinkan bahwa Sani akan mencerminkan rekonsiliasi antaragama. Sani menerima tawaran itu, dan gaji barunya meringankan beban keluarga. Ketika Salembe dan Alvin bergabung dengan tim SMA Paso, ketegangan muncul dengan tim Tulehu Putra, tetapi Sani dan Joseph berupaya menjaga keutuhan tim.
John Mailoa Cup mempertemukan Tulehu Putra (dipimpin Raffi) dan SMA Paso (dipimpin Sani) di final. Pertandingan berlangsung sengit, menampilkan bakat luar biasa dari kedua tim, tetapi Tulehu Putra menang. Meski kalah, kemampuan Sani diakui oleh pemerintah daerah, yang menunjuknya sebagai pelatih kepala tim Maluku untuk turnamen nasional U-15 di Jakarta. Raffi, yang ditunjuk sebagai asisten, menolak bergabung karena merasa lebih berhak menjadi pelatih kepala.
Di Jakarta, Sani menghadapi tantangan baru. Salembe, yang kehilangan ayahnya akibat konflik, berselisih dengan rekan setimnya yang ayahnya polisi, mengganggu keharmonisan tim. Kekurangan dana juga menjadi masalah, tetapi komunitas Tulehu bersatu mendukung. Ibu Alvin menggadaikan perhiasannya, jemaat gereja Paso menyumbang, dan Hapsa mengorbankan dana sekolah anaknya. Namun, tim kalah 2-1 melawan DKI Jakarta pada pertandingan pertama karena kurang kompak.
Patah semangat dan mendengar Hapsa kembali ke Ambon, Sani hampir meninggalkan tim. Namun, nasihat dari Sofyan Lestaluhu (diperankan mendiang Glenn Fredly) untuk menciptakan “kenangan manis” setelah kepahitan konflik menginspirasinya bertahan. Di babak kedua pertandingan berikutnya, Sani memotivasi tim untuk bersatu sebagai warga Maluku, bukan Tulehu atau Paso. Semangat baru ini membawa kemenangan, dengan gol dari Salemba dan Saiful Ohorella, hingga akhirnya mencapai final melawan DKI Jakarta.
Final berlangsung ketat. DKI unggul lewat penalti, tetapi Maluku menyamakan skor melalui Saiful Ohorella. Pertandingan ditentukan lewat adu penalti, dan Jago mencetak gol penentu kemenangan. Warga Maluku merayakan di gereja, masjid, dan warung kopi, bersatu melupakan sentimen agama. Kemenangan ini mempersatukan komunitas yang terpecah akibat konflik.
Meredam Konflik Melalui Sepak Bola
Salah satu jejak paling berkesan dari Sani adalah kemampuannya menyatukan anak-anak dari berbagai latar belakang agama melalui si kulit bundar. Di tengah riuhnya konflik sosial yang pernah melanda Maluku, Sani hadir sebagai jembatan, menggunakan sepak bola sebagai alat pemersatu. Dedikasinya berbuah manis ketika tim Maluku berhasil menjuarai Piala Medco 2006, sebuah bukti nyata kekuatan persatuan yang ia tanamkan.
Sebagai asisten pelatih di Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Maluku, tangan dingin Sani telah mencetak banyak talenta berbakat. Nama-nama seperti Alfin Tuasalamony, Rizky Pellu, dan Hendra Adi Bayau adalah sebagian kecil dari mutiara yang berhasil ia poles hingga bersinar di kancah sepak bola profesional Indonesia.
Warisan yang Tak Lekang
Sani Tawainella berpulang pada usia 44 tahun akibat stroke, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, anak-anak didiknya, dan komunitas sepak bola Maluku. Namun, warisannya terus hidup. SSB Tulehu Putra tetap menjadi tempat anak-anak Maluku mengejar mimpi, dan semangat Sani masih terasa di setiap tendangan bola di lapangan Tulehu. Ia juga diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil di Dinas Pemuda dan Olahraga Maluku, sebuah pengakuan atas dedikasinya.
Pada momentum bersejarah Hari Olahraga Nasional ke-34, di Stadion Moch Soebroto, Kota Magelang, Jawa Tengah, 9 September 2017, Kemenpora memberikan penghargaan kepada Sani sebagai Tokoh Inspiratif Bidang Olahraga. Penghargaan ini bukan hanya sekadar pengakuan, tetapi juga sebagai cerminan semangat, dedikasi, dan inspirasi yang membakar semangat para generasi muda untuk terus berkarya dan berprestasi di dunia olahraga.
Sani mengajarkan bahwa sepak bola bukan hanya permainan, tetapi alat untuk menyatukan, membangun, dan menginspirasi. Ia adalah bukti bahwa dari desa kecil, dengan hati besar, seseorang bisa mengubah dunia. Seperti cahaya dari timur, Sani Tawainella akan selalu dikenang sebagai pahlawan sepak bola Maluku yang menyalakan harapan di tengah kegelapan.
Tenanglah disana Sani Tawainella. Karyamu abadi, cahayamu akan terus menerangi.