Multatuli di Ambon: Pengalaman, Perlawanan, dan Kelahiran Sebuah Karya Besar

Share:

Eduard Douwes Dekker, atau yang lebih dikenal dengan nama pena Multatuli, adalah seorang penulis dan pejuang sosial yang lahir pada tahun 1820 di Amsterdam. Nama Multatuli berasal dari bahasa Latin yang berarti “Aku sudah banyak menderita,” sebuah refleksi dari pengalaman hidupnya yang penuh dengan kekecewaan dan perjuangan. Multatuli bukan hanya seorang penulis, tetapi juga seorang pejabat kolonial yang menyaksikan langsung ketidakadilan yang dilakukan pemerintah Belanda terhadap rakyat pribumi di Hindia Belanda.

Jejak Multatuli di Ambon

Pada tahun 1851, Multatuli ditugaskan sebagai Asisten Residen di Ambon. Pengalamannya di Ambon sangat membentuk pemikirannya tentang kolonialisme. Sebagai seorang pejabat, ia dikenal sebagai sosok yang adil dan tidak tunduk pada kepentingan borjuis maupun pejabat tinggi yang korup. Sikapnya yang tegas dan berpihak pada rakyat membuatnya sering berbenturan dengan sistem yang ada.

Rumah Multatuli di Ambon, sekitar tahun 1910 (Koleksi Museum Multatuli).

Di Ambon, Multatuli melihat bagaimana penduduk lokal mengalami penderitaan akibat eksploitasi dan kebijakan kolonial yang tidak adil. Pajak yang tinggi, kerja paksa, serta penindasan oleh para pejabat Belanda terhadap rakyat pribumi menjadi pemandangan sehari-hari. Ia menyaksikan secara langsung bagaimana tanah-tanah yang subur dipaksa digunakan untuk kepentingan pemerintah kolonial, sementara rakyat menderita kelaparan. Selain itu, ia juga melihat bagaimana orang-orang kaya dan pejabat tinggi hidup dalam kemewahan, sementara masyarakat kecil harus bekerja tanpa upah yang layak.

Sebagai seorang yang berintegritas, Multatuli berusaha menentang sistem ini. Ia mencoba menerapkan kebijakan yang lebih manusiawi dan mengurangi beban rakyat. Namun, upayanya sering kali mendapat tentangan dari pejabat yang lebih tinggi dan pemilik modal yang memiliki kepentingan dalam eksploitasi sumber daya lokal. Keputusannya untuk menentang ketidakadilan ini menyebabkan konflik dengan atasannya, yang akhirnya membuatnya mengundurkan diri dari jabatannya.

Perjalanan Dekker ke Belanda

Pada 24 Juli 1852, Dekker dan istrinya meninggalkan Ambon dengan kapal De Harmonie. Perjalanan mereka dimulai dengan singgah di Banda, di mana mereka bertemu beberapa orang Belanda yang memberikan titipan pesan untuk dibawa ke Belanda. Dari Banda, kapal melanjutkan pelayaran menuju Batavia, meskipun rutenya tidak diketahui secara pasti. Kemungkinan besar mereka juga sempat singgah di Surabaya. Pada awal September, Dekker tiba di Batavia dan Buitenzorg (Bogor), tempat di mana ia mendapatkan berbagai tugas tambahan untuk diselesaikan di Belanda.

Pada 15 September 1852, kapal De Harmonie berlayar dari Batavia menuju Belanda melalui Tanjung Harapan. Kapal ini merupakan kapal layar terkecil yang melakukan perjalanan tersebut. Selama pelayaran, hanya Dekker dan istrinya yang menjadi penumpang. Perjalanan ini tidak mudah; ia harus menghadapi kondisi kapal yang kurang baik, termasuk seorang perwira pertama yang sering mabuk. Bahkan, Dekker sering kali mengambil alih tugas jaga untuk memberikan kapten kapal yang sudah tua kesempatan beristirahat.

Dalam perjalanan, Dekker mencatat berbagai pemikiran dan renungan tentang politik, sastra, dan keinginannya untuk lebih memahami budaya Eropa. Ia berencana mengunjungi Prancis dan bertemu dengan tokoh-tokoh politik dan seni. Ia juga mencatat ide-ide untuk novel dan esainya di masa depan. Catatan ini menjadi cikal bakal dari konsep-konsep yang kemudian muncul dalam Max Havelaar dan Ideën.

Setelah perjalanan panjang selama lima bulan yang diwarnai dengan badai dan penyakit, Dekker akhirnya tiba di Belanda pada akhir Desember 1852. Pada malam Natal, mereka tiba di Hellevoetsluis, menyelesaikan salah satu tugas yang diberikan kepadanya. Menurut catatan keluarganya, mereka bahkan harus tidur di sebuah bilik sempit di kapal sebelum melanjutkan perjalanan ke Amsterdam, tempat di mana Dekker akhirnya kembali ke tanah kelahirannya setelah bertahun-tahun di Hindia Belanda.

Puisi Perpisahan Multatuli

Sebelum meninggalkan Ambon, Multatuli menuliskan sebuah puisi perpisahan untuk seorang koleganya, Albert Antoine Gijsberti Hodenpijl. Puisi ini sarat dengan pesan moral dan sindiran yang mencerminkan pandangan hidupnya:

Sebuah Pidato untuk Gijs
(dibaca dengan serius dan penuh penekanan)

Kebajikan tertinggi tak selalu ditemukan dalam pangkat atau usia
Kitab paling tebal tak selalu mengajarkan kebijaksanaan tertinggi
Kadang, orang yang diam adalah yang paling cerdik dan berani
Kadang, kecerdasan besar tersembunyi dalam buku anak-anak sederhana.

Maka biarlah buku anak-anak ini, dengan tulus direkomendasikan
Dan melaluinya, Anda dapat melihat kebajikan dan kehormatan
Pelajarilah dari si bodoh, bahwa siapa yang menindas saudaranya
Pada akhirnya akan binasa dalam duka dan penderitaan.

Biarkan si Moriaan menjadi teladan bagimu
Meski engkau tak perlu menelanjangi dirimu sepertinya
Jangan pernah sombong, angkuh, atau bodoh,
Atau pada akhirnya… nasib pot Nicolaas menantimu.

Jangan berburu dengan kacamata tanpa tujuan,
Hingga keselamatan terakhirmu bergantung pada lompat sumur,
Jangan remehkan sup yang hambar, seperti si kecil Hein,
Atau akhirnya, kau akan kaku seperti ikan kering.

Jangan menghisap jari seperti Reiniertje,
Atau kehilangan jari akan menjadi saksi dosamu,
Jangan bermain dengan korek api, atau nasibmu seperti Paulien,
Lihatlah dalam buku ini, bagaimana anak-anak kucing menangis.

Jangan menggoyangkan kursi atau menarik taplak meja,
Atau kau akan menggali kuburmu sendiri dari benda-benda yang berjatuhan,
Ibu akan terkejut, Ayah marah,
Dan sebagai tambahan, segalanya hancur berantakan.

Maka, jangan biarkan rambutmu tumbuh liar,
Sebab mungkin segera akan menjadi sarang masyarakat kecil,
Potonglah kukumu dan sisir rambutmu dengan baik,
Maka akhirnya, Gijs, engkau akan menjadi bijak dan berbudi luhur.

Hiduplah dengan riang, kaya, sehat, bahagia, dan nikmati hidup,
Dan ingatlah dari waktu ke waktu akan dirimu,

Douwes Dekker.

Kelahiran Max Havelaar

Setelah meninggalkan jabatannya, Multatuli menuliskan pengalaman dan kritik tajamnya terhadap sistem kolonial Belanda dalam novel Max Havelaar (1860). Buku ini menjadi salah satu karya sastra paling berpengaruh dalam sejarah kolonialisme dan memperlihatkan secara gamblang penderitaan rakyat di bawah kekuasaan Belanda.

Max Havelaar berkisah tentang seorang pejabat Belanda bernama Max Havelaar yang ditugaskan di Lebak, Jawa Barat. Dalam kisah ini, Havelaar melihat sendiri bagaimana para bupati dan pejabat lokal bekerja sama dengan pemerintah kolonial dalam mengeksploitasi rakyatnya. Ia berusaha membela kaum pribumi dan menegakkan keadilan, tetapi justru dihadapkan pada perlawanan dari sesama pejabat yang merasa kepentingannya terganggu. Pada akhirnya, Havelaar gagal dalam perjuangannya dan justru diasingkan oleh sistem yang korup.

Buku ini juga menampilkan berbagai tokoh dengan latar belakang berbeda. Salah satu karakter utama dalam novel adalah Batavus Droogstoppel, seorang pedagang kopi yang sinis dan hanya peduli pada keuntungan pribadi. Droogstoppel menjadi simbol dari masyarakat Belanda yang acuh tak acuh terhadap kezaliman yang terjadi di tanah jajahan. Ia melambangkan bagaimana kelas borjuis di Belanda menikmati hasil eksploitasi di Hindia Belanda tanpa memikirkan penderitaan yang terjadi di baliknya.

Selain menggambarkan penderitaan rakyat, novel ini juga memuat berbagai sindiran terhadap sikap para pejabat kolonial yang tidak kompeten, korup, dan hanya mementingkan kepentingan pribadi. Multatuli menggunakan bahasa yang tajam dan penuh emosi, menunjukkan betapa frustrasi dan kecewanya ia terhadap sistem kolonial yang menindas rakyat pribumi. Dalam banyak bagian novel, ia bahkan menulis secara langsung kepada pembaca Belanda, menantang mereka untuk tidak berpura-pura buta terhadap kenyataan yang terjadi di Nusantara.

Max Havelaar adalah sebuah novel karya Multatuli (nama pena yang digunakan penulis Belanda Eduard Douwes Dekker). Novel ini pertama kali terbit pada 1860, yang diakui sebagai karya sastra Belanda yang sangat penting karena memelopori gaya tulisan baru. Buku ini ditulis oleh Multatuli hanya dalam tempo sebulan pada 1859 di sebuah losmen di Belgia. Setahun kemudian, tepatnya pada 1860, roman itu terbit untuk pertama kalinya.

Tahun 2012, Penerbit Padasan kembali menerbitkan “Max Havelaar” berdasarkan buku sebelumnya yang diterjemahkan oleh H.B. Jassin, yang diterbitkan Penerbit Djambatan pada tahun 1972.

Warisan Multatuli

Meskipun Max Havelaar mendapat kritik dari banyak pejabat kolonial, buku ini menjadi pemicu kesadaran di Eropa mengenai kekejaman sistem kolonialisme. Karya ini bahkan menjadi inspirasi bagi gerakan anti-kolonial di Indonesia pada abad ke-20. Multatuli sendiri menghabiskan sisa hidupnya di Eropa dan meninggal di Jerman pada tahun 1887. Namun, gagasan dan perjuangannya tetap hidup, menginspirasi banyak orang untuk terus melawan ketidakadilan.

Kisah Max Havelaar membuktikan bahwa sastra dapat menjadi senjata yang ampuh dalam menentang ketidakadilan. Perjalanan Multatuli di Ambon dan pengalamannya di Hindia Belanda bukan hanya catatan sejarah, tetapi juga pengingat bahwa perjuangan melawan penindasan adalah tugas bersama yang harus terus diperjuangkan. Dengan menyoroti peran seorang individu dalam menghadapi sistem yang korup, kisah ini tetap relevan dalam berbagai konteks, termasuk dalam dunia modern saat ini, di mana ketidakadilan masih menjadi isu yang harus diperangi.

error: Content is protected !!