Pattimura dan Peristiwa Tragis di Saparua: Sebuah Tinjauan Sejarah dan Sastra

Share:

Ketika Felicia, tokoh dalam novel “De Tienduizend Dingen” karya Maria Dermoût, kembali ke Pulau Ambon setelah lama pergi, ia dan putranya Willem disambut oleh seorang lelaki tua, seorang perempuan tua, dan beberapa anak besar di teluk luar kota. Mereka menaiki perahu kecil menuju kebun Kleyntjes di teluk dalam. Di sana, sang nenek tua akhirnya memanggil cucunya bukan dengan nama “Wullum,” tetapi “Himpies.” Nama itu mengingatkan pada sosok misterius dalam sejarah Maluku yang dikenal sebagai “anak Saparua,” meskipun kebenaran kisahnya masih diperdebatkan.

Latar Belakang Pemberontakan 1817

Pada tahun 1816, Kerajaan Belanda menghadapi tugas untuk merebut kembali kekuasaan di kepulauan Nusantara setelah periode pemerintahan Inggris. Sebuah ekspedisi dengan dua ribu tentara, beberapa pejabat, dan tiga komisaris jenderal dikirim untuk mengambil alih administrasi dari Inggris. Namun, pemulihan kekuasaan ini bukanlah tugas mudah. Di Ambon, Nicolaas Engelhard dan J.A. van Middelkoop ditunjuk untuk memulihkan ketertiban. Sementara itu, di Saparua, yang terletak di timur Ambon, Johannes Rudolph van den Berg yang berusia 27 tahun ditunjuk sebagai residen bersama istri dan empat anaknya. Van den Berg tiba di Saparua pada 15 Maret 1817 tanpa pengalaman administratif.

Pada 14 Mei 1817, pemberontakan meletus di bawah kepemimpinan Thomas Matulessy, yang lebih dikenal sebagai Pattimura. Sebagai warga Saparua, Pattimura pernah bertugas di tentara Inggris dan mencapai pangkat sersan mayor. Pada 16 Mei, ia dan ratusan pengikutnya menyerang Benteng Duurstede, tempat Van den Berg dan keluarganya berlindung. Setelah pertempuran sengit dari pagi hingga sore, pemberontak berhasil menerobos pertahanan dan membunuh semua orang yang mereka temui di dalam benteng.

Ketika kabar ini sampai di Ambon, Belanda mengirim lebih dari 200 tentara di bawah komando Mayor Beetjes untuk menumpas pemberontakan. Namun, ekspedisi ini gagal total. Pada 20 Mei, sebagian besar pasukan Belanda dibantai di pantai Saparua, termasuk sang mayor. Hanya 30 tentara yang berhasil melarikan diri. Pemberontakan segera menyebar ke pulau-pulau sekitar, termasuk Nusa Laut, pesisir selatan Seram, dan Semenanjung Hitu di Ambon. Akhirnya, pada 3 Agustus, Benteng Duurstede direbut kembali oleh Belanda, dan dalam beberapa bulan berikutnya, pemberontakan berhasil ditumpas sepenuhnya.

Novel ini berlatar di pulau terbesar di Maluku, Ambon, tempat Dermoût tinggal dari tahun 1910 hingga 1914. Ketika ia menulis karya tersebut empat puluh tahun kemudian, ia tinggal bergantian di Arnhem dan Den Haag. Pada musim semi tahun 1955 dia menyelesaikan naskah tersebut. Penulis telah mengemukakan bahwa sejumlah cerita yang dimasukkan ke dalam novel itu ‘benar’, tetapi karakter-karakter yang terkandung di dalamnya tidak dapat dilihat sebagai ‘potret’ orang-orang nyata dalam arti sempit. Agaknya dia sudah membuat sketsa dan catatan selama berada di Maluku, yang dimasukkan ke dalam novel


Helena Anthonia Maria Elisabeth Dermoût-Ingerman, penulis Indo-Belanda, lahir di Pekalongan-Jawa, Indonesia, 15 Juni 1888 dan meninggal di Den Haag, Belanda, 27 Juni 1962.

Pattimura sendiri ditangkap pada 12 November 1817. Pada hari yang sama, Jean Lubbert van den Berg, putra bungsu residen yang berusia lima tahun, ditemukan masih hidup setelah dirawat oleh penduduk lokal. Ia kemudian diserahkan kembali kepada Belanda. Lima minggu kemudian, pada 16 Desember, Pattimura dan tiga rekannya dihukum mati di dekat Benteng Nieuw Victoria di Ambon.

Pattimura dalam Narasi Sejarah dan Sastra

Peristiwa ini menjadi topik kontroversial dalam historiografi Indonesia dan Belanda. Berbagai sumber memberikan versi yang berbeda tentang penyebab utama pemberontakan. Salah satu faktor yang mencolok adalah bahwa para pemberontak adalah umat Kristen yang merasa hak-hak keagamaan mereka dibatasi oleh pemerintah kolonial. Hal ini dikemukakan oleh pendeta I.H. Enklaar dalam bukunya tentang Joseph Kam, seorang penginjil terkemuka di Maluku.

Dalam literatur kolonial, salah satu sumber utama tentang peristiwa ini adalah tulisan Maurits Ver Huell (1787–1860), seorang perwira angkatan laut Belanda yang terlibat dalam penumpasan pemberontakan. Bukunya Herinneringen van eene reis naar de Oost-Indiën (1835–1836) memberikan gambaran tentang suasana di Maluku pada masa itu. Ia mengklaim sebagai saksi atas penyerahan kembali anak Van den Berg yang selamat, meskipun banyak detail dalam narasinya yang ditulis bertahun-tahun setelah kejadian dan mungkin tidak sepenuhnya akurat.

‘Penemuan kembali Jean Lubbert van den Berg yang selamat.’ Cat air oleh Q.M.R. Ver Huell (fragmen).

Jean Lubbert van den Berg, si “anak dari Saparua”, menulis memoarnya pada tahun 1875. Dia menggambarkan bagaimana dia selamat dari pembantaian itu, meskipun mengalami luka parah. Dia diselamatkan oleh seorang budak bernama Salomo, yang membawanya ke Thomas Matulesia. Matulesia akhirnya mengizinkan Salomo untuk merawat anak itu. Jean Lubbert kemudian hidup di hutan selama beberapa bulan sebelum akhirnya diserahkan kembali kepada Belanda.

Dalam sastra anak-anak, tragedi ini hampir tidak meninggalkan jejak. Salah satu contoh langka adalah buku Een kijkje in de Nederlandsche bezittingen karya G. van Sandwijk, yang hanya menyebutkan peristiwa ini secara singkat. Namun, pada tahun 1978, Johan Fabricius menerbitkan novel De schreeuw van de witte kakatoe, yang menceritakan kisah Jean Lubbert yang kembali ke Saparua sebagai orang tua. Fabricius menggambarkan pemberontakan dengan cara yang lebih simpatik terhadap orang-orang Maluku, mencerminkan sikap kritis terhadap kolonialisme pada masa itu.

Karya sastra paling menonjol yang terinspirasi oleh tragedi Saparua adalah cerita pendek De juwelen haarkam karya Maria Dermoût. Dalam cerita ini, Dermoût menggambarkan kembalinya Ver Huell ke Belanda setelah petualangannya di Hindia. Dia membawa serta sebuah sisir berhiaskan permata yang diduga milik istri Van den Berg. Cerita ini penuh dengan keraguan dan simpati tersembunyi terhadap pemberontakan, mencerminkan kompleksitas moral dari peristiwa tersebut.

Salah satu bagian yang paling dramatis dalam catatannya adalah penggambaran pembantaian di Benteng Duurstede. Ia menulis tentang bagaimana istri residen dan anak-anaknya menghadapi kematian mereka di tangan pemberontak. Narasi ini penuh dengan unsur melodrama dan stereotip kolonial tentang “kebrutalan pribumi,” yang sering ditemukan dalam literatur Belanda pada masa itu.

Kesimpulan: Mitos dan Fakta Seputar Pattimura

Sejak peristiwa tahun 1817, sosok Pattimura telah menjadi simbol perlawanan rakyat Maluku terhadap kolonialisme. Meskipun banyak aspek dari pemberontakan ini masih diperdebatkan, semangat perjuangan Pattimura tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Maluku.

Dalam dunia sastra, peristiwa ini diinterpretasikan dengan berbagai sudut pandang. Bagi Belanda, Pattimura digambarkan sebagai pemberontak brutal yang bertanggung jawab atas pembantaian warga Eropa. Sebaliknya, dalam historiografi Indonesia, ia adalah pahlawan yang berjuang untuk keadilan. Perbedaan narasi ini menunjukkan bagaimana sejarah dapat ditafsirkan secara berbeda tergantung pada perspektif penulis dan konteks politik zamannya.

Tragedi Saparua dan pemberontakan Pattimura telah meninggalkan jejak yang mendalam dalam sastra. Dari catatan sejarah Ver Huell hingga memoar Jean Lubbert, dan dari cerita anak-anak hingga karya sastra yang lebih kompleks seperti karya Maria Dermoût, setiap penulis memberikan interpretasi unik mereka sendiri. Seiring waktu, ada kecenderungan untuk lebih memahami perasaan dan motivasi “pihak lain”, mencerminkan perubahan dalam pandangan terhadap kolonialisme dan sejarah.

Peristiwa Pattimura juga mengingatkan kita bahwa sejarah bukan hanya tentang pertempuran dan tokoh besar, tetapi juga tentang nasib individu yang terperangkap dalam arus besar perubahan zaman. Kisah anak Van den Berg yang selamat dari pembantaian, misalnya, menjadi simbol dari kekacauan dan tragedi perang, yang nasibnya ditentukan oleh kebetulan sejarah.

Mengingat betapa kuatnya warisan Pattimura dalam budaya Maluku dan Indonesia, penting bagi kita untuk terus menggali sejarah dengan perspektif yang lebih luas. Baik dalam literatur kolonial maupun dalam narasi nasional, peristiwa ini tetap menjadi titik penting dalam memahami hubungan antara kolonialisme, perlawanan, dan identitas Maluku dalam sejarah Indonesia.

error: Content is protected !!