Politisi dan Jembatan Tanpa Sungai: Sebuah Seni Janji Tanpa Realita

Share:

Jika ada satu hal yang membuat politisi begitu unik dan mengesankan, itu adalah kemampuan mereka untuk menjanjikan sesuatu yang bahkan tidak pernah dibutuhkan. Nikita Khrushchev, dalam kutipannya yang legendaris, menggambarkan fenomena ini dengan sangat tepat: “Politisi itu semuanya sama. Mereka berjanji membangun jembatan meskipun sebenarnya tidak ada sungai di sana.” Ah, sungguh bentuk kreativitas tingkat tinggi yang hanya bisa dimiliki oleh mereka yang duduk di kursi kekuasaan!

Mari kita renungkan sejenak. Setiap musim pemilu, kita disuguhi pertunjukan janji-janji spektakuler yang seolah akan membawa kita ke negeri dongeng. Ada yang berjanji akan menurunkan harga kebutuhan pokok hingga titik nol, seakan-akan inflasi bisa dikendalikan dengan kata-kata ajaib. Ada pula yang berjanji menciptakan jutaan lapangan kerja dalam semalam, seperti dewa yang bisa memunculkan kota baru dengan satu jentikan jari. Tak ketinggalan, mereka yang menjanjikan pembangunan infrastruktur megah di tempat yang bahkan belum memiliki populasi manusia—karena, mengapa tidak?

Tentu, kita harus mengakui bahwa ada politisi yang benar-benar ingin membangun jembatan di atas sungai yang nyata. Mereka bekerja keras, berusaha merealisasikan janji mereka, meskipun badai kritik dan birokrasi selalu menghadang. Namun, sayangnya, spesies ini semakin langka dan hampir punah. Yang lebih sering kita temui adalah mereka yang menguasai seni berjanji tanpa peta, merancang proyek tanpa studi, dan berbicara tanpa berpikir.

Yang paling mengagumkan adalah bagaimana janji-janji ini dikemas dengan begitu meyakinkan. Ada janji pendidikan gratis, tapi sekolah tetap minta sumbangan ini-itu. Ada janji subsidi, tapi tiba-tiba muncul pajak baru untuk menutup anggaran yang bocor. Tak lupa janji kesehatan gratis, namun antrian di rumah sakit tetap mengular seperti ular piton kelaparan. Semuanya terdengar indah di atas kertas, tapi di dunia nyata? Ah, mungkin kita hanya perlu lebih bersabar dan percaya bahwa suatu hari nanti, jembatan tanpa sungai itu akan berguna.

Bagaimana dengan janji para politisi Maluku? Baik yang di daerah, apalagi yang di pusat? Sejak dulu, kita mendengar berbagai janji manis tentang pembangunan yang merata, kesejahteraan nelayan, perbaikan infrastruktur di pulau-pulau terpencil, hingga janji menjadikan Maluku sebagai pusat ekonomi maritim Indonesia. Namun, realitanya? Jalanan di banyak daerah masih berlubang seperti keju Swiss, konektivitas antar-pulau masih menjadi tantangan besar, dan nelayan kita tetap harus berjuang sendiri tanpa kepastian dukungan yang memadai. Janji-janji tentang kesejahteraan rakyat seringkali hanya menjadi bahan kampanye, sementara realisasi di lapangan masih jauh dari harapan.

Jadi, saat musim kampanye tiba dan para calon pemimpin mulai berlomba-lomba menjanjikan keajaiban, mari kita tetap realistis. Jangan langsung terpesona oleh janji spektakuler yang terdengar seperti dongeng. Sebab, pada akhirnya, yang kita butuhkan bukanlah jembatan yang megah di atas lahan kosong, melainkan kepemimpinan yang benar-benar memahami apa yang dibutuhkan rakyat.

Sampai saat itu tiba, mari kita nikmati pertunjukan sirkus politik ini dengan sejumput skeptisisme dan secangkir kopi. Karena, siapa tahu, mungkin suatu hari nanti kita benar-benar melihat jembatan yang dibangun tanpa sungai, sekadar untuk memenuhi janji yang tak pernah ditanyakan oleh siapa pun.

error: Content is protected !!