Di tengah dinamika pembangunan sumber daya manusia dan penguatan nilai-nilai kebangsaan di Indonesia Timur, nama Prof. Dr. Thomas Pentury, M.Si menempati posisi penting sebagai akademisi sekaligus birokrat yang mengusung nilai inklusivitas, profesionalisme, dan spiritualitas. Ia telah menorehkan jejak bermakna dalam dunia pendidikan tinggi dan kehidupan beragama di Indonesia.
Ia adalah cendekiawan statistika multivariat yang tidak hanya unggul di ranah akademik, tetapi juga visioner dalam memajukan pendidikan tinggi keagamaan Kristen. Dengan keahlian analitis dan dedikasi pada pelayanan, Prof. Pentury telah menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan dan keimanan, menginspirasi banyak orang untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Profil Singkat
Prof. Dr. Thomas Pentury, M.Si., lahir di Ambon pada 17 Mei 1963. Sosok yang akrab disapa Thomy Pentury ini merupakan akademisi dan birokrat Kristen asal Maluku yang memiliki kontribusi besar dalam dunia pendidikan dan kehidupan beragama di Indonesia. Ia merupakan anak ke-5 dari 9 bersaudara, dari orang tua Jan Obeth Pentury dan Jacoba Pentury. Ia tumbuh dalam keluarga yang menanamkan nilai-nilai pendidikan dan keimanan Kristen yang kuat.
Menikah dengan Kemi Sitaniapessy dan dikaruniai dua anak: Joshua Gilbert Pentury dan Vanessa Livina Pentury. Di tengah kesibukannya sebagai dosen dan pejabat publik, ia dikenal sebagai pribadi yang rendah hati, komunikatif, dan teguh dalam nilai-nilai iman Kristen.
Perjalanan pendidikannya dimulai dari bangku SD Rehoboth 1 Ambon, lalu melanjutkan ke SMP Negeri 3 Ambon, dan menamatkan SMA Negeri 1 Ambon pada tahun 1984. Kecintaannya terhadap ilmu pasti mengantarnya menempuh studi S1 Pendidikan Matematika di Universitas Pattimura, tempat yang kelak menjadi ladang pengabdiannya selama puluhan tahun. Sejak muda, Thomas menunjukkan bakat intelektual, terutama dalam bidang matematika dan statistika, yang kemudian menjadi fondasi kariernya.
Setelah meraih gelar sarjana pada tahun 1989, ia melanjutkan pendidikan S2 di bidang Biostatistika di Universitas Airlangga, Surabaya, yang diselesaikannya pada tahun 1997. Semangat belajar dan riset yang tinggi mendorongnya untuk melanjutkan ke jenjang doktoral di universitas yang sama. Ia berhasil meraih gelar doktor di bidang Matematika dan Sains pada tahun 2003, dengan spesialisasi di bidang statistika multivariat.
Karena kepakarannya, pada tahun 2006 ia dikukuhkan sebagai Guru Besar (Profesor) dalam bidang statistika — sebuah pencapaian yang mengukuhkan posisinya sebagai salah satu akademisi terkemuka dari Indonesia Timur.

Kepemimpinan di Universitas Pattimura
Prof. Dr. Thomas Pentury memiliki perjalanan kepemimpinan yang kaya dan berdampak di Universitas Pattimura. Ia memulai karir akademiknya sebagai Ketua Jurusan Matematika di Fakultas MIPA dari tahun 2004 hingga 2006, menunjukkan komitmen awalnya dalam pengembangan bidang pendidikan dan penelitian. Selanjutnya, ia dipercaya memegang peran sebagai Ketua Badan Kerjasama Universitas Pattimura dari tahun 2006 hingga 2007, serta Sekretaris Badan Penjamin Mutu selama 2007-2008, yang menunjukkan kepercayaan terhadap kemampuannya dalam meningkatkan kualitas dan koordinasi di lingkungan universitas.
Pada tahun 2008, Thomas Pentury menjabat sebagai Pjs Sekretaris Lembaga Penelitian Universitas Pattimura, memperkuat peranannya dalam pengembangan penelitian di institusi tersebut. Tidak lama kemudian, ia dipercaya sebagai Dekan Fakultas MIPA dari 2008 hingga 2011, di mana ia memimpin fakultas tersebut dalam berbagai inovasi dan peningkatan mutu pendidikan. Puncaknya, pada tahun 2012, Prof. Dr. Thomas Pentury diangkat sebagai Rekor Universitas Pattimura, sebuah posisi strategis yang diembannya hingga 2016, selama mana ia aktif memajukan universitas melalui berbagai inovasi dan pengembangan institusional.
Masa kepemimpinan Prof. Pentury di Universitas Pattimura (Unpatti) berlangsung di tengah tantangan besar: peningkatan kualitas pendidikan, pengembangan riset, dan pemulihan semangat akademik pasca konflik horizontal yang sempat melanda Maluku. Ia tampil sebagai sosok pemimpin yang tidak hanya membenahi tata kelola universitas secara administratif, tetapi juga membangun kembali kepercayaan publik terhadap Unpatti sebagai lembaga pendidikan unggulan di Kawasan Timur Indonesia.
Beberapa pencapaian penting selama masa jabatannya:
- Mendorong akreditasi institusi dan program studi secara nasional.
- Penguatan jejaring kerjasama dengan universitas dalam dan luar negeri.
- Pengembangan riset berbasis kearifan lokal, termasuk potensi kelautan, kehutanan, dan budaya kepulauan.
- Membangun kampus yang inklusif, di mana keberagaman agama dan etnis diakomodasi dalam suasana akademik yang damai.
Selama masa jabatannya, Thomas Pentury fokus pada pengembangan institusi, termasuk pendirian dan penguatan Fakultas Kedokteran Unpatti, yang menjadi tonggak penting bagi pendidikan tinggi di Maluku. Dibawah kepemimpinannya, Unpatti tidak hanya tumbuh dalam jumlah mahasiswa dan dosen bergelar doktor, tetapi juga mengalami lonjakan dalam kontribusi ilmiah dan keterlibatan sosial di masyarakat Maluku.
Dirjen Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama RI (2017–2021)
Setelah menyelesaikan masa jabatan sebagai Rektor, Prof. Pentury dipercaya menjabat sebagai Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen di Kementerian Agama RI, menjadi orang Maluku pertama yang menduduki posisi ini. Periode ini memperluas kiprahnya dari dunia akademik ke ranah birokrasi nasional, terutama dalam isu-isu keagamaan yang sangat strategis bagi keutuhan bangsa. Jabatan ini diembannya hingga Desember 2021, dan selama periode tersebut, ia menghadirkan sejumlah terobosan dalam penguatan pendidikan dan pelayanan keagamaan Kristen di Indonesia.
Program dan Kontribusi Pemikiran
- Pendidikan Tinggi Keagamaan Kristen. Mendorong peningkatan kualitas perguruan tinggi keagamaan Kristen melalui Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia (BMPTKKI). Salah satu pencapaiannya adalah penegerian Sekolah Tinggi Agama Kristen (STAK) Mesias Kota Sorong dan peluncuran program doktor Agama dan Kebudayaan di Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) pada 2019.
- Kita Cinta Papua (KCP). Program ini diterapkan di perguruan tinggi umum untuk mempromosikan pendidikan inklusif dan penguatan SDM di Papua, mencerminkan komitmennya terhadap pembangunan di wilayah Indonesia Timur.
- Regulasi Akademik. Memperjuangkan kepatuhan terhadap regulasi pendidikan tinggi, seperti Peraturan Menteri Agama No. 23 Tahun 2004, yang menegaskan bahwa gelar seperti Master of Ministry (M.Min) atau Doctor of Dignity (D.Dig) tidak diakui secara resmi. Ia juga mengklarifikasi tuduhan di media sosial tentang pemberian gelar profesor yang tidak sesuai prosedur, menegaskan integritasnya dalam menjaga standar akademik.
- Pelayanan dan Infrastruktur. Meresmikan tiga Sekolah Menengah Teologia Kristen (SMTK) di Papua Barat pada 2020 dan mendorong modernisasi pelayanan gereja melalui keterlibatan pemuda milenial.
- Mengarusutamakan Moderasi Beragama sebagai prinsip utama dalam seluruh aktivitas dan kehidupan di lingkungan gereja maupun lembaga pendidikan Kristen. Upaya ini dilakukan untuk menciptakan suasana yang harmonis, toleran, dan saling menghormati antar umat beragama maupun antar sesama warga dalam komunitas Kristen.
- Memperkuat sinergi dan kerjasama yang harmonis antara pemerintah dan gereja menjadi sebuah langkah penting. Sinergi ini khususnya difokuskan pada pengembangan program-program pendidikan yang mencakup aspek moral, penguatan rasa kebangsaan, serta pemberdayaan umat secara menyeluruh agar dapat berkontribusi secara positif bagi bangsa dan masyarakat.
- Mendorong dan memfasilitasi revitalisasi serta pengembangan Sekolah Teologi Kristen agar mampu beradaptasi dengan tantangan zaman dan meningkatkan kualitas pendidikan teologi serta pembinaan iman umat. Dalam kerangka ini, integrasi nilai-nilai Pancasila ke dalam pendidikan rohani juga perlu dilakukan secara lebih kokoh agar mampu memperkuat karakter dan nasionalisme di kalangan umat dan generasi muda.
- Meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana bantuan keagamaan. Hal ini mencakup laporan keuangan yang jelas dan terpercaya, sehingga seluruh dana yang disalurkan, baik untuk pembangunan gereja maupun untuk program beasiswa, dapat dipertanggungjawabkan dengan baik dan memberikan manfaat yang maksimal bagi masyarakat yang membutuhkan.
Pemikiran tentang Pertumbuhan Gereja
Dalam salah satu kuliah umumnya di Sekolah Tinggi Teologi Rahmat Emanuel (STT REM) pada 2019, Prof Pentury menyampaikan data statistik tentang pertumbuhan gereja di Indonesia. Ia menyebutkan bahwa pertumbuhan gereja didominasi oleh migrasi (43,4%), kelahiran (23,8%), dan misi penginjilan (hanya 2,1%). Menurutnya, rendahnya kontribusi misi penginjilan menunjukkan perlunya strategi pelayanan yang lebih efektif, terutama dengan melibatkan generasi muda dalam pendekatan yang relevan dengan zaman.
Salah satu warisan penting dari masa jabatannya adalah inisiatif penyusunan roadmap penguatan umat Kristen di Indonesia Timur, termasuk perhatian khusus terhadap wilayah-wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).
Pandangan Progresif tentang Moderasi Beragama
Sebagai Dirjen Bimas Kristen yang bertugas di tengah masyarakat Indonesia yang plural, Thomas Pentury memiliki pandangan progresif tentang moderasi beragama. Pemikirannya berakar pada pengalaman hidupnya di Maluku, sebuah wilayah yang pernah dilanda konflik antaragama pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an. Berikut adalah inti pemikirannya:
- Harmoni dalam Keberagaman: Thomas menekankan bahwa moderasi beragama bukan sekadar toleransi, tetapi sebuah sikap aktif untuk membangun harmoni antarumat beragama. Ia percaya bahwa keberagaman agama di Indonesia adalah anugerah yang harus dijaga melalui dialog, kerja sama, dan saling menghormati.
- Pendidikan sebagai Jembatan: Ia memandang pendidikan, khususnya pendidikan tinggi keagamaan, sebagai alat untuk menanamkan nilai-nilai moderasi. Dalam berbagai kesempatan, ia mendorong perguruan tinggi keagamaan Kristen untuk mengintegrasikan kurikulum yang mempromosikan pemahaman lintas agama dan budaya.
- Peran Pemuda Milenial: Thomas melihat generasi milenial sebagai kunci dalam memajukan moderasi beragama. Ia mendorong gereja untuk menggunakan teknologi dan media sosial sebagai sarana untuk menyebarkan pesan damai dan inklusivitas, sehingga pelayanan gereja tetap relevan di era digital.
- Konteks Maluku dan Papua: Berasal dari Maluku dan aktif di Papua, Thomas memahami dinamika sosial di wilayah-wilayah multikultural. Ia mempromosikan pendekatan kontekstual dalam pelayanan keagamaan, di mana nilai-nilai Kristen dihidupi dalam harmoni dengan budaya lokal dan agama lain.
- Keadilan dan Kesetaraan: Dalam pandangannya, moderasi beragama juga berarti memastikan kesetaraan akses terhadap pendidikan dan pelayanan publik bagi semua kelompok agama. Program seperti Kita Cinta Papua mencerminkan komitmennya untuk mengurangi kesenjangan sosial di wilayah tertinggal.
Pemikiran ini tidak hanya diwujudkan dalam kebijakan, tetapi juga dalam tindakan nyata, seperti kunjungan ke berbagai komunitas agama di Papua dan Maluku untuk membangun dialog dan kerja sama. Ia juga aktif dalam konferensi nasional, seperti Konferensi BMPTKKI 2019 dengan tema “Moving to the Next Level,” yang menekankan pentingnya kolaborasi antaragama untuk kemajuan pendidikan.
Dalam paparannya di forum-forum nasional, ia sering menegaskan:
“Pancasila adalah titik temu terbaik antara iman dan kebangsaan. Moderasi beragama bukan pelemahan iman, tetapi pematangan spiritual.”
Logika Publik: Pemurnian dari Manipulasi
Di tengah hiruk-pikuk debat media sosial, perseteruan politik, dan hiruk informasi yang membanjiri ruang digital, Prof. Thomas Pentury, menyodorkan sebuah pemikiran jernih: pentingnya memurnikan logika publik. Dalam tulisannya yang terbit di Kompasiana (9 Juni 2023), ia mengajak kita merenung—apakah suara publik hari ini masih berakar pada akal sehat, atau justru hanyut dalam logika yang telah tercemar?
Baginya, logika publik bukan sekadar argumen rasional. Ia adalah fondasi moral dan etika yang seharusnya memayungi diskusi, kebijakan, bahkan arah masa depan bangsa. Tapi logika ini kian kabur. Ia dikaburkan oleh ujaran manipulatif, diseret oleh kepentingan sempit, dan ditumpulkan oleh informasi palsu yang terus beredar tanpa saring.
Prof. Pentury tidak sekadar mengkritik; ia menawarkan jalan keluar yang bijak dan aplikatif. Ia menyerukan empat langkah pemurnian logika publik: pertama, menyediakan kerangka debat yang adil, di mana setiap suara punya ruang untuk didengar. Kedua, menyaring argumen-argumen yang tak rasional dan tak berdasar, karena demokrasi tidak seharusnya tunduk pada kebisingan belaka. Ketiga, membangun dialog yang inklusif, yang membuka pintu bagi pandangan minoritas dan suara yang selama ini terpinggirkan. Dan keempat, menjauhkan diskusi dari distorsi yang lahir dari dominasi kelompok atau kepentingan tertentu.
Dalam nada yang reflektif namun tegas, beliau menegaskan bahwa jika logika publik dibiarkan keruh, maka demokrasi akan berjalan pincang. Sebaliknya, jika dimurnikan—dibersihkan dari racun manipulasi dan hoaks—maka ia bisa menjadi cahaya penuntun yang adil dan benar bagi bangsa ini.
Di balik tulisannya itu, kita melihat sosok pendidik sejati: bukan hanya mendidik di kampus dan birokrasi, tetapi juga mendidik kesadaran publik—agar kita tidak kehilangan akal sehat dalam menyikapi zaman yang kian riuh.
Jejak Prof. Thomas Pentury adalah cerminan dari bagaimana pendidikan, keimanan, dan visi untuk kebaikan bersama dapat mengubah kehidupan banyak orang. Dari seorang pemuda Ambon yang berdedikasi pada ilmu pengetahuan, ia menjelma menjadi pemimpin yang menginspirasi di panggung nasional. Pemikirannya tentang moderasi beragama mengajak kita untuk merangkul keberagaman sebagai kekuatan, bukan pembatas. Warisannya akan terus hidup dalam institusi yang ia bangun, kebijakan yang ia wujudkan, dan nilai-nilai yang ia tanamkan.
Publikasi
- Analysis of the Rasulan Tradition in Christian Religious Education Perspective and Its Implication for Evangelism, 2024
International Journal of Future Management Research (IJFMR) Volume 6, Edisi 6 (November–Desember 2024). - Christianity and Plurality in Indonesia: Theological and Ideological Synergy for Religious and National Moderation, 2022
International Conference on Theology, Humanities, and Christian Education (ICONTHCE 2021) dan dipublikasikan dalam Advances in Social Science, Education and Humanities Research. - Mozaik Moderasi Beragama dalam Perspektif Kristen, 2019
BPK Gunung Mulia bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen, Kementerian Agama RI. - Lukman Hakim Saifuddin dan Moderasi Beragama, 2019
Kontribusi dalam Buku “Lukman Hakim Saifuddin: Gagasan-Kinerja: Moderasi Beragama dan Transformasi Kelembagaan Pendidikan”
Warisan dan Inspirasi
Prof. Thomas Pentury adalah sosok yang menggabungkan kecemerlangan akademik, kepemimpinan visioner, dan komitmen terhadap pelayanan masyarakat. Sebagai Rektor Unpatti, ia memperkuat pendidikan tinggi di Maluku. Sebagai Dirjen Bimas Kristen, ia memperjuangkan kualitas pendidikan keagamaan dan harmoni antarumat. Pemikirannya tentang moderasi beragama tetap relevan sebagai panduan untuk membangun Indonesia yang inklusif dan damai.
Hingga kini, Thomas Pentury diakui sebagai salah satu cendekiawan terkemuka dari Indonesia Timur. Integritasnya dalam menjaga standar akademik, kepekaannya terhadap keberagaman, dan dedikasinya untuk memajukan pendidikan dan pelayanan Kristen menjadikannya teladan bagi generasi muda, khususnya di Maluku dan Papua.
Penutup
Jejak Prof. Thomas Pentury adalah cerminan dari bagaimana pendidikan, keimanan, dan visi untuk kebaikan bersama dapat mengubah kehidupan banyak orang. Dari seorang pemuda Ambon yang berdedikasi pada ilmu pengetahuan, ia menjelma menjadi pemimpin yang menginspirasi di panggung nasional. Pemikirannya tentang moderasi beragama mengajak kita untuk merangkul keberagaman sebagai kekuatan, bukan pembatas. Warisannya akan terus hidup dalam institusi yang ia bangun, kebijakan yang ia wujudkan, dan nilai-nilai yang ia tanamkan.