Ale Rasa Beta Rasa: Menyusun Sejarah Bersama di Ambon

Share:

Pada saat yang sama, kita jangan berasumsi bahwa kebenaran historis itu sendiri yang membunuh. Kadang-kadang, ketika kita mengulangi kembali sebuah pengalaman buruk, hal itu justru mematahkan belenggu-belenggu emosionalnya. Tiba-tiba kita merasa pengalaman itu menjadi jauh. Tiba-tiba orang malah berkata heran: “Ah, begitulah perasaanku saat itu. Aku begitu penuh kebencian. Hari sudah berubah.”

Lagi pula, tidak semua aspek dari cerita ini membawa trauma, tidak semua merusak kemanusiaan. Ada yang justru membawa harapan baru, bahkan membuat kita tertawa saking lucunya. Perang saudara di Ambon juga membuahkan banyak cerita yang sungguh heroik. Misalnya pedagang perempuan dari Wisma Atlit yang membuka kembali hubungan dagang antara Mardika dan Batu Merah (walau lewat tangan ketiga). Misalnya pekerja kesehatan yang membagi bantuan kepada pengungsi dari agama mana pun. Misalnya orang Ambon yang ibunya Kristen dan ayahnya Muslim yang bingung tidak tahu harus bermusuhan dengan siapa. Cerita-cerita ini pun jangan sampai hilang, termasuk cerita sejarah Lembaga Antar-Iman ini sendiri.

Kemudian, saya ingin melontarkan tiga cara untuk menceritakan kembali kejadian-kejadian masa lalu. Semuanya bersifat amat praktis. Proses ini tidak memerlukan S3 di bidang sejarah. Tidak ada guru dalam proses ini, hanya pelajar. Sejarah itu bukanlah sebuah hasil, melainkan sebuah proses. Proses penyusunan sejarah adalah sebuah proses yang membawa pembaruan, pembebasan, pembukaan.

Penyusunan sejarah semacam ini sebaiknya dikerjakan bersama-sama, tidak secara perorangan atau terlalu akademis. Ini harus menjadi sebuah idaman bersama. Caranya bisa melalui sebuah komisi kebenaran dan rekonsiliasi, didirikan oleh DPRD tingkat propinsi, atau bisa melalui sebuah komisi antar-agama, atau komisi NGO, atau oleh LAIM sendiri, mungkin dibantu beberapa sejarawan profesional.

Pertama, carilah kata-kata yang benar. Sejarah pertama-tama adalah kata. Harus ada cerita nyata. Kita semua ingin tahu apa yang terjadi. Dengarkan kata-kata orang yang mengalaminya langsung, rekam, dan diskusi. Apakah ada yang sempat menulis buku harian? Apakah ada yang menulis surat waktu itu, yang bersedia membuka isi surat tersebut kepada umum? Mulailah dengan mendengarkan.

Pendengar seyogyanya menyeberang batas. Orang Kristen harus minta orang Muslim untuk bercerita, lalu direkam. Orang Muslim harus minta orang Kristen bercerita, lalu merekam atau mencatat ceritanya, dan diskusi bersama. Orang Tulehu harus minta orang Waai bercerita apa yang mereka alami. Orang Mardika harus minta orang Batu Merah bercerita. Bisa bercerita secara perorangan, atau bisa bercerita secara berkelompok. Tanyalah, bagaimana pengalaman tinggal di kamp pengungsi, sambil melihat rumah sendiri pada jarak hanya satu kilometer tapi tak terjangkau karena ada orang beragama lain tinggal di dalamnya. Tanyalah, bagaimana tetangga tiba-tiba menjadi musuh. Tanyalah, apa yang ia ajari kepada anak sendiri selama kerusuhan. Mintalah seorang pejuang garis depan menceritakan perasaannya ketika pertama kali melihat darah melekat pada mayat. Tanyalah, di mana mereka menguburkan anak sulung yang gugur dalam pertempuran, dan pergi lihatlah makamnya.

Buatlah rekaman abadi – di atas kertas, atau di video, atau cukup suaranya saja. Cerita-cerita nyata, kalau perlu lengkap dengan fotonya. Kata-kata ini harus tetap disimpan untuk generasi berikut. Tujuan utamanya adalah agar mereka benar-benar merasa muak terhadap yang namanya perang saudara.

Siapa yang harus diminta bercerita? Mendengar cerita juga harus demokratis. Bukan cerita orang penting yang dinomor-satukan, tetapi justru orang biasa. Dengarkanlah terutama cerita orang-orang lemah. Carilah cerita kaum ibu, bagaimana cara mereka menghidupi keluarga. Jeroen Adam menulis disertasi tentang itu di Ghent, Belgia. Carilah juga cerita tentang kejahatan seksual. Ini sering terjadi pada saat pertempuran. Dengarkanlah bagaimana pengalaman anak-anak, termasuk pejuang anak yang dinamakan ‘agas’ atau ‘linggis’.

Upaya khusus juga harus dikerjakan untuk mendengarkan cerita dari orang-orang yang membawa perdamaian. Tonny Pariela pada 2008 menulis sebuah disertasi yang bagus mengenai hal ini. Kita memerlukan lebih banyak cerita sejenis. Masih banyak hal baru belum terungkap di sini.

Selain cerita dari orang-orang biasa, harus ada informasi yang leng-kap dan teliti mengenai banyak hal, sebab pada saat itu begitu banyak keluar informasi yang tidak akurat. Buatlah peta yang menunjukkan semua kampung yang sempat dibakar seluruh atau sebagiannya, jangan lupa kampung kecil seperti Larat dan Ngat di Kei Besar. Buatlah peta lain yang menunjukkan lokasi dan tanggal pertempuran-pertempuran besar; peta lain menunjukkan lokasi perbatasan antara wilayah merah dan putih dari waktu ke waktu. Buat juga peta lain yang menunjukkan rute-rute dagang baru yang dikembangkan pada saat pertempuran mengamuk – banyak daya-upaya untuk mencari jalan baru.

Kedua, murnikan perasaan. Sejarah tidak hanya berisi kata. Peringatan penuh ritual juga bisa menjadi bagian yang penting. Peringatan adalah kesempatan untuk membiarkan perasaan mengalir – rasa sedih, rasa nostalgia, rasa syukur, rasa malu, bahkan rasa manis. Manusia adalah makhluk adat. Adat-istiadat lama dapat saja dibangkitkan kembali serta diberi makna baru. Orang Ambon pintar beradat. Bisa dengan lagu, dengan musik, atau bahkan tanpa bunyi sama sekali – hanya dengan mengheningkan cipta di depan beberapa foto, dengan bunga.

Tanggal 19 Januari hari ini adalah tanggal penting. Kita memperingati tanggal ini dengan berbicara tentang apa yang telah terjadi 15 tahun yang lalu. Apakah tanggal ini perlu dijadikan peringatan tahunan? Apakah mungkin? Tujuannya harus jelas – tanggal 19 Januari bisa menjadi momen untuk berkata: “Inilah yang terjadi. Jangan sampai terulang lagi.” Peringatan yang dibawa oleh perasaan-perasaan murni seperti ini memiliki potensi yang luar biasa. Ia dapat menciptakan masa depan yang baru untuk agama di Ambon. Tidak lagi defensif, tidak lagi menantang, tidak lagi terikat dengan struktur kekuasaan, melainkan terbuka, manusiawi, dan penuh pembebasan.

Ketiga, camkanlah tempat. Peringatan harus dibumikan, harus memiliki tempat yang nyata, sama seperti kehidupan manusia. Perang 15 tahun yang lalu pada dasarnya adalah pertempuran untuk merebut tempat yang penting – tanah adat, rumah, masjid, gereja, bahkan toko. Apakah sudah ada sebuah monumen sederhana di Jalan A.Y. Patty untuk mengenang kematian pejuang laki-laki maupun perempuan dalam pertempuran yang berlangsung di sana? Apakah sudah ada tanda kecil di pos penyeberangan antara wilayah merah dan putih, tempat tentara dulu menjaga? Tak perlu besar, keterangan singkat saja – inilah dulu batas yang memisahkan musuh, kini menjadi tempat pertemuan.

Rumah ibadah sering menjadi sasaran khusus. Monumen identitas. Apakah rumah-rumah ibadah itu, yang kini terbangun kembali, kelihatan lain dari dulu? Apakah pengunjung hari ini di rumah ibadah tersebut tahu bahwa rumah tersebut pernah menjadi simbol perang bukan simbol perdamaian? Bagaimana gedung masjid dan gedung gereja menjadi bagian dari beban sakral untuk menyusun sejarah?

Akhir kata, saya ingin melontarkan sebuah ide, atau lebih tepat sebuah pertanyaan. Apakah Ambon memerlukan sebuah museum perdamaian dan rekonsiliasi? Atau mungkin lebih sederhana – sebuah ruangan saja, berisi pameran tetap?

Gong Perdamaian Dunia dibuka di Ambon, tanggal 25 November 2009. Sangat bagus. Ada foto-foto kerusuhan, foto aparat mencoba menghentikannya, foto penandatanganan deklarasi perdamaian. Monumennya megah, diresmikan oleh presiden, dengan lampu sorot, di lokasi yang amat menonjol di depan kantor gubernuran. Apabila pada Hari Perdamaian Dunia tahun ini para elit lokal kembali berkumpul di monumen ini, maka itu akan menjadi simbol penting itikad baik untuk menjaga keserasian sosial di masa depan.

Namun saya tetap menduga Ambon masih terbuka untuk museum dengan model lain juga. Museum yang menjadi milik rakyat, yang menjadi tempat pertemuan yang akrab, museum yang menitikberatkan pengalaman orang biasa. Museum tersebut dapat memamerkan peta, foto, video, lagu, poster, dan barang-barang lain tentang kerusuhan tahun 1999-2002. Lebih penting lagi, museum perdamaian dan rekonsiliasi dapat menjadi tempat yang hidup. Tempat pertemuan Kristen dengan Muslim, untuk melakukan refleksi, untuk mengingat, untuk diskusi bersama, untuk menghormati orang mati. Untuk menjadi sumber harapan baru. Untuk memandang ke belakang sekaligus ke depan. Untuk rekonsiliasi melalui kebenaran.

Museum semacam ini, kalau jadi, harus menjadi museum berani. Dengan komitmen paling tinggi kepada kerakyatan, terilhami beban sakral untuk membangun dialog berdasarkan pemahaman terhadap sejarah, beban sakral untuk menciptakan masa depan lebih baik melalui pengetahuan tentang masa lampau. Museum sejenis harus melawan tekanan dari lembaga-lembaga yang belum siap untuk mengucapkan kata “maaf”. Ia tidak boleh takut, tidak boleh kompromi dengan apa yang disebut “kebenaran” yang berat sebelah yang sering terdengar selama kerusuhan berlangsung. Museum sejenis akan menjadi seperti museum Holocaust di Berlin, atau Tugu Perang Vietnam di Washington – yang ingin berkata: “Inilah yang telah terjadi; lihatlah itikad kami untuk mencegahnya terulang lagi.”

Kini buku yang mulai digagas tahun 2007 ini telah menjadi kenyataan. Kesunyian di seputar kerusuhan 1999-2002 mulai pecah. Sesuatu yang dulu tidak mungkin, terbukti mungkin juga. Cerita pribadi dalam buku ini semuanya disampaikan dengan kejujuran yang luar biasa. Tidak gampang, memperlihatkan perasaan paling pribadi di depan publik. Lebih luar biasa lagi, seluruh penulis berasal dari komunitas yang dulu saling berhadapan dengan muka geram. Hal ini saja cukup untuk menjadikan buku ini sebuah monumen sejarah.

Lagi pula isinya tidak sepele. Bagi saya, menarik dicatat betapa mirip bahasa yang dipakai penulis baik yang Salam maupun Sarane. Pada saat paling genting, sambil memikul beban pribadi – rumah dibakar, badan diancam sabetan parang, telinga dihantam kata-kata tajam – semua berusaha membuka diri kepada orang lain. Seperti ditulis oleh Bang Abidin Wakano, ia “berupaya untuk menjadi jembatan dan oase bagi semua orang di tengah kondisi seperti saat itu.” Upaya ini dengan sendirinya membuat para penulis merenungkan agamanya. Thamrin Ely bahkan berharap sesama orang Maluku mau mencontoh Bertrand Russell, belajar beradab dengan sebuah kecerdasan yang tidak butuh agama. Paling tidak, kebanyakan penulis berharap agama dapat dipraktikkan secara lebih dialogis, lebih plural. Jacky Manuputty menulis: “Beta percaya bahwa Kristen tak akan pernah menjadi Sarane tanpa berjalan dalam relasi ‘masu-kaluar’ (saling memintal) dengan saudara-saudara Muslim yang Salam, begitu pula sebaliknya.” Hasbollah Toisuta bermimpi tentang orang yang telah “meraih kembali pusaka kemanusiaan orang basudara yang selama ini hilang ditelan keganasan nafsu angkara murka yang tak berperasaan.”

“Beta percaya bahwa Kristen tak akan pernah menjadi Sarane tanpa berjalan dalam relasi ‘masu-kaluar’ dengan saudara-saudara Muslim yang Salam, begitu pula sebaliknya.”

jacky manuputty

PENULIS: Prof. Gerry van Klinken – University of Amsterdam

error: Content is protected !!