Ale Rasa Beta Rasa: Menyusun Sejarah Bersama di Ambon

Share:

Anak-anak Australia kini mulai belajar di sekolah mengenai genosida terhadap kaum Aborigin yang terjadi pada abad ke-19. Memang menyakitkan. Karena itu, selama berpuluh-puluh tahun di Jerman dan di Australia dulu, hal-hal ini tak pernah disinggung. Setiap masyarakat harus menghadapi setan-setannya sendiri.

Perang saudara seperti yang terjadi di Ambon barangkali jauh lebih menyakitkan lagi, karena melibatkan dua pihak yang hampir sama. Hal itu akan kita dalami lebih jauh sebentar lagi.

Bercerita memang tidak mudah, sebab rasa sakitnya mendalam, dan tabunya kuat. Tetapi ada berbagai cara untuk bercerita. Bisa jadi sebagian cara lebih memungkinkan dibanding cara yang lain.

Izinkanlah saya terlebih dahulu membahas beberapa alasan yang sering disebutkan untuk menghalangi peringatan kejadian-kejadian nyata perang saudara Ambon tahun 1999-2002. Saya akan mencoba menjawab tiap alasan. Setelah itu perkenankan saya mengusulkan tiga unsur dalam penceritaan secara publik yang dapat dicoba.

Di Ambon, menurut penemuan saya, terdapat sebuah tabu, sebuah larangan yang kuat atas penyebutan cerita-cerita kerusuhan. Mengapa larangan tersebut terasa begitu kuat? Saya kira, alasan-alasannya dapat dibagi ke dalam tiga kelompok. Semuanya dimaksudkan untuk menjaga agar kerusakan tidak terjadi kembali. Yang pertama menyangkut keserasian sosial, yang kedua menyangkut kehormatan bagi lembaga- lembaga penting, dan yang ketiga menyangkut trauma pribadi.

Alasan pertama yang menabukan bercerita tentang kerusuhan Ambon di depan publik adalah ketakutan bahwa cerita akan mengganggu keserasian dan keharmonisan sosial yang rapuh. Orang Kristen akan kembali menuduh Muslim, Muslim menuduh Kristen. Tidak akan ada kesepakatan mengenai apa yang telah terjadi. Semua orang menganggap versi dialah yang benar.

Alasan ini tampak sangat masuk akal. Kita semua menginginkan perdamaian, bukan kekerasan kembali. Namun, ada juga dua masalah dengan alasan ini. Pertama, alasan ini memperlihatkan konsepsi tentang sejarah yang keliru, dan kedua, alasan ini terlalu gampang menjadi tameng bagi orang yang tangannya berlumuran darah agar kejahatannya tidak diketahui umum.

Alasan ini didasarkan pada konsepsi sejarah yang keliru karena ia mengandaikan hanya pengalaman ‘aku’ yang boleh disebut sejarah, sedangkan pengalaman ‘kamu’ tidak. Itu justru bukan sejarah. Sejarah adalah belajar tentang kehidupan orang lain. Agar menjadi manusia seutuhnya, kita harus belajar merasakan apa yang dirasakan orang lain. “Ale rasa beta rasa” – tidak salah, itulah semangat penyusunan sejarah yang sebenarnya.

Alasan ini juga terlalu mudah menjadi tameng bagi penjahat perang, dan memang sering digunakan untuk itu. Itulah sebabnya pembantaian massal yang terjadi pada tahun 1965-66 sampai hari ini belum pernah terungkap secara publik. Para pembunuh adalah anggota berbagai organisasi yang telah menjadi mitra militer.

Dalam hal perang saudara di Ambon, menurut pendapat saya, ada juga anggota organisasi-organisasi yang bermasalah. Termasuk lembaga agama beserta politik – gereja, masjid, partai-partai politik. Akhir tahun 1990-an itu adalah zaman reformasi, demokratisasi, dengan mobilisasi intensif di wilayah politik dan agama. Aturan main belum jelas, aparat keamanan terpecah dan lemah. Gereja-gereja di Ambon ada yang terlibat dalam kekerasan, masjid-masjid di Ambon ada yang terlibat. Seharusnya merekalah yang lebih dahulu memecahkan tabu dan mengatakan “kami bersalah”.

Apa yang akan terjadi kalau alasan keharmonisan sosial tetap menghalangi cerita-cerita? Saya khawatir hasilnya malah lebih buruk lagi. Ke arah itulah jalan menuju masyarakat munafik. Di publik diam, sedangkan di balik pintu banyak cerita, berat sebelah semua. “Saya adalah korban, merekalah yang bersalah, kita hanya membela diri”. Anak akan bertumbuh menjadi orang yang curiga terhadap orang lain. Itulah jalan mempertahankan perpecahan-perpecahan dalam masyarakat. Bukan itu masyarakat yang kita semua idamkan.

Alasan kedua yang digunakan untuk menganggap tabu bercerita, saya menduga, adalah kekhawatiran bahwa lembaga-lembaga penting dalam masyarakat akan dipermalukan. Orang akan kehilangan respek terhadap pemerintah dan agama. Kerusuhan tahun 1999-2002 dianggap memalukan bagi Ambon, memalukan bagi agama kita. Rasa malu dianggap hal yang negatif. Orang tak boleh kehilangan muka, tak boleh dibuat merasa malu.

Sama dengan alasan pertama tadi, alasan ini pun banyak positifnya. Kita hanya akan merasa malu tentang hal yang kita lakukan sendiri. Alasan ini adalah pengakuan terselubung bahwa yang berperang di Ambon adalah orang Ambon sendiri. Perang ini tidak didatangkan oleh Jakarta tetapi muncul di Ambon sendiri. Memang perang ini adalah malapetaka – tak seorang pun orang Ambon yang ingin memulai perang. Tetapi ia bukan seluruhnya malapetaka seperti tsunami yang terjadi tanpa tanggung jawab manusia. Alih-alih menghentikan perang, ada orang yang sengaja mengompori agar perang bertambah panas. Alih-alih mencari keadilan, ada orang yang sengaja membuat tuduhan yang tidak benar. Paling tidak sebagian tanggung jawab terletak di Ambon sendiri, bukan pada orang pinggiran di Ambon, tetapi pada orang yang dihormati, orang penting, orang bisnis, orang politik, orang agama, dan tokoh. Ada orang yang memang pantas merasa malu. Rasa malu adalah langkah awal menuju perubahan. Saat kita merasa malu, kita sedang berkata: “Itu memang salah, jangan sampai kita mengulanginya.” Maka ada segi positif dari alasan yang berkata bahwa cerita-cerita kerusuhan membuat orang malu.

Sementara malu itu sakit, kata maaf-lah yang paling sulit diucapkan. Lembaga yang berkuasa – termasuk lembaga gereja, lembaga ulama, partai politik, kantor gubernur, kantor bupati, komando militer atau kepolisian – sering enggan memohon maaf. Alasannya takut dipandang lemah sehingga tidak lagi dihormati.

Karena itu upaya mengungkapkan sejarah harus bersifat demokratis. Saya yakin perubahan terletak pada generasi baru, termasuk generasi yang terwakili di sini. Generasi baru akan bertanya kepada generasi tua: Mengapa kau lakukan itu? Generasi muda akan menyampaikan pertanyaan yang perlu disampaikan. Mereka akan bertanya kepada gereja – mengapa kau diam? Bertanya kepada polisi – mengapa kau memihak? Bertanya kepada ulama – mengapa kau menyebarkan kebencian? Hanya dengan cara begitulah, hidup beragama dan hidup bernegara akan memasuki era baru yang lebih baik.

Alasan ketiga untuk mempertahankan tabu bercerita, barangkali, adalah kekhawatiran bahwa cerita akan membangkitkan kembali trauma psikologis yang lama. Orang yang dulu menderita mimpi buruk tidak ingin melihatnya kembali. Alasan ini, sebagaimana dua alasan sebelumnya, banyak sekali benarnya. Kebenaran historis bagi sebagian orang merupakan pembebasan dan penyembuhan, tetapi bagi sebagian lain justru memicu kembali mimpi buruk. Bisa saja pengungkapan sejarah kerusuhan tidak bermanfaat bagi semua. Kita harus benar-benar sensitif dalam masalah ini.

error: Content is protected !!