Broery Marantika, atau yang juga dikenal sebagai Broery Pesulima, adalah nama yang tak asing di hati pecinta musik Indonesia. Dengan suara emosional yang khas dan lagu-lagu penuh makna, ia telah mengukir sejarah sebagai salah satu penyanyi legendaris tanah air. Dari Ambon, Maluku, hingga panggung internasional, perjalanan hidup Broery adalah kisah tentang bakat, perjuangan, dan cinta yang abadi.
Bakat Musik dari Tanah Ambon
Broery Marantika lahir dengan nama Simon Dominggus Pesulima pada 25 Juni 1948 di Ambon, Maluku. Ia adalah anak dari pasangan Gijsberth Pesulima dan Wilmintje Marantika, namun dibesarkan oleh keluarga pamannya, Pdt. Simon Marantika. Nama “Marantika” yang ia gunakan sebagai nama panggung diambil dari keluarga ibunya. Broery memiliki tiga saudara laki-laki: Henky, Freejohn, dan Helmi Pesulima, yang juga dikenal sebagai penyanyi.
Sejak kecil, Broery menunjukkan bakat musik yang luar biasa. Ia aktif di paduan suara gereja di Ambon, tempat ia pertama kali mengasah kemampuan vokalnya. Lingkungan gereja yang kental dengan musik rohani membentuk dasar emosi dalam nyanyiannya, yang kelak menjadi ciri khasnya. Pada 1964, di usia 16 tahun, Broery memenangkan kontes menyanyi yang diadakan oleh Radio Republik Indonesia (RRI) di Ambon, sebuah kemenangan yang menjadi batu loncatan awal kariernya.
Broery semula diharapkan ayahnya masuk sekolah pendeta. Karena itu ia mengikuti pendeta Marantika saat pindah tugas ke Jakarta, Broery dimasukkannya dalam rombongan koor gereja. Selama 5 tahun sebagai penyanyi solo di gereja, setiap hari Minggu Broery mendampingi oomnya berkhotbah di gereja Effatha yang terletak di samping rumah mereka di Kebayoran. Tetapi gereja ternyata tidak cukup memberi ruang baginya. Sebagi anak muda, ia mulai dipengaruhi “wabah Elvis” yang memang sedang melanda anak-anak muda di seluruh dunia termasuk Indonesia.
Karier Broery Marantika melesat berkat kemampuannya menyampaikan emosi di setiap lagu yang dinyanyikannya, menjadikannya sosok yang tak terlupakan dalam sejarah musik Indonesia. Selain memiliki banyak penggemar di Indonesia, suaranya juga berhasil menarik perhatian pendengar di Singapura dan Malaysia. Kisah cintanya yang kontroversial dan perjalanan spiritualnya menambah keunikan sosoknya, membuatnya semakin diingat hingga saat ini.
Dari Paduan Suara Gereja ke Panggung Musik Nasional
Karier musik Broery dimulai di usia muda, dimana pengaruh musik dari ayahnya yang seorang konduktor paduan suara gereja dan kesukaannya terhadap musik Barat membuatnya lebih mengenal lagu-lagu asing.
Setelah melalui berbagai ujian, Broery akhirnya mendaftar di berbagai festival musik. Ia memperoleh pengakuan pertama saat menjadi juara III di Bintang Radio Ambon pada tahun 1964, dan semakin dikenal setelah menjuarai Festival Pop Singer di Jakarta pada tahun 1968. Sukses ini membukakan jalan baginya menuju puncak popularitasnya di era 1970-an.
Akhirnya Broery masuk anggota band, mula-mula pada band Aflagatha bersama Remy Leimena, dimana ia memainkan instrumen bongo dan sekali-sekali juga menyanyi. Tidak lama kemudian ia pindah ke band Bhayangkara, untuk akhirnya pindah lagi ikut dalam band The Riza’s. Sementara itu ia berkenalan dengan Jack Lesmana, dan diajak membawakan lagu-lagu jazz. Karirnya mulai mendapat bentuk ketika ia bergabung dengan The Pro’s.
Mengenai kemampuannya berimprovisasi, Broery pernah menyatakan, “Saya sangat terpengaruh oleh Nat King Cole dan penyanyi kulit hitam lainnya, yang saya kenali melalui buku. Mereka berasal dari Afrika dan merupakan kaum tertindas yang tidak memiliki pilihan selain bekerja. Untuk mengatasi kelelahan, kejenuhan, atau ketakutan, mereka menyanyi. Nyanyian mereka berasal dari jiwa, bukan sekadar dari pikiran. Itulah alasan musik mereka disebut Soul. Mereka percaya jika mereka menyanyi dengan penuh rasa, mungkin Tuhan akan mendengar penderitaan mereka. Teriakan mereka pun unik dan tidak teratur, kadang terdengar seperti tawa namun disertai tangisan; itulah improvisasi.
Sejak awal, saya sudah berimprovisasi. Bagi saya, nyanyi adalah mengekspresikan jiwa, bukan hanya mengingat dan menghafal. Saya paling tidak suka menghafal. Saya menyanyi dengan hati. Itulah sebabnya, setelah rekaman, saya sering lupa apa yang saya nyanyikan, karena saya tidak bergantung pada ingatan, melainkan pada luapan jiwa itu.”
Bersama The Pro’s di Kancah Internasional
Tahun 1967, Broery bergabung dengan grup musik The Pro’s, yang saat itu didukung oleh Pertamina. Grup ini didirikan oleh Dimas Wahab (bass), Pomo (alat tiup), Enteng Tanamal (gitar), dan Fuad Hasan (drum). Meski awalnya sempat diragukan, Broery akhirnya membuktikan bahwa suaranya memiliki daya tarik yang unik.
“Saya menghadiri sebuah pesta secara tidak sengaja. Saat Broery menyanyi, saya langsung melihat sesuatu yang tidak dimiliki penyanyi lain. Sejak saat itu, saya yakin dia memiliki potensi besar,” ujar Dimas Wahab.
Nama The Pro’s berasal dari singkatan The Professionals, karena para anggotanya dikenal sebagai musisi profesional. Grup ini dikenal luas setelah tampil dalam misi kebudayaan di Amerika Serikat (AS) untuk memperkenalkan musik Indonesia.
Saat tampil di La Paloma, Jakarta, The Pro’s tertarik dengan permainan keyboard Soesman Abadi yang saat itu masih bermain di sebuah band lokal. Broery dan anggota lainnya berhasil meyakinkan Abadi untuk bergabung.

Ketika tampil di New York, lagu-lagu daerah Indonesia seperti “Lembe Lembe” mendapat perhatian khusus, terutama karena aransemen musiknya yang berpadu dengan nuansa Latin Amerika ala Santana. Selain itu, lagu “Payung Fantasi” juga menjadi daya tarik, bersama dengan lagu-lagu Barat seperti “Blowing in the Wind”, “It’s Impossible”, dan “Danny Boy”.
The Pro’s juga menjadi grup musik pertama dari Indonesia yang tampil di Amerika dengan bayaran sangat tinggi. Pada malam Tahun Baru 1992, mereka mendapatkan honor sebesar 100.000 dolar AS untuk tampil di Grand Hyatt Hotel.
“Saat itu, The Pro’s adalah salah satu grup musik dengan bayaran tertinggi. Namun, jika dibandingkan dengan kondisi industri musik saat ini, mungkin ceritanya akan berbeda,” kenang Dimas.
Sebelum kembali ke Indonesia, Broery dan Djoko Sudarsono sempat pergi ke Jepang dan membentuk grup The Spokies, yang tampil di berbagai tempat hiburan disana.
Broery sendiri mengakui bahwa kesuksesannya tidak hanya berasal dari bakat alami, tetapi juga dari kemampuannya dalam mengelola diri sebagai seorang seniman. Puncak ketenarannya dimulai ketika ia membawakan lagu “Angin Malam” ciptaan A. Riyanto pada tahun 1969, setelah The Pro’s kembali dari Singapura.
Tangga Festival
Namanya mencuri perhatian penggemar musik Indonesia. Pada tahun 1971-1972, hasil angket siaran musik ABRI menempatkan Broery sebagai penyanyi favorit kedua setelah Muchsin Alatas. Setahun kemudian, ia terpilih sebagai penyanyi terfavorit dengan suara terbanyak dalam angket tersebut.
Ajang festival lagu pertama yang diikutinya adalah lomba bintang radio RRI di Ambon tahun 1964, di mana ia meraih juara 3 untuk kategori hiburan. Pada tahun 1968, ia berpartisipasi dalam lomba penyanyi pop se-Jakarta dan menjadi runner-up di bawah Franz Daromes. Di festival lagu pop nasional edisi perdana tahun 1973, Broery berhasil meraih gelar juara dengan lagu “Romy dan Juli,” “Cash Away Loneliness” sebagai lagu wajib, dan “Gubahanku” karya Gatot Sunyoto. Kemenangannya membawanya ke festival World Pop Song di Budokan, Tokyo, Jepang, meskipun ia tidak berhasil meraih predikat apapun di ajang tersebut.
Di festival Pop Song kedua tahun 1974, Broery mempertahankan prestasinya dengan lagu “Cinta” karya Titik Puspa, mengalahkan Trio Bimbo, Andi Meriem Matalata, dan Melky Goeslaw. Ia kembali mewakili Indonesia di Tokyo, tetapi sayangnya gagal meraih posisi terhormat.
Karya Ikonik dan Penghargaan
Broery dikenal dengan lagu-lagu yang penuh perasaan dan melodi yang indah. Beberapa karya terkenalnya meliputi:
- Angin Malam (1962)
- Mawar Berduri (1964)
- Mimpi Sedih
- Duri Dalam Cinta
- Surat Untuk Kekasih (memenangkan Malaysia Official Music Industry Award (AIM) 1997)
- Hapuslah Air Mata
- Kharisma Cinta (duet dengan Dewi Yull)
Album-albumnya juga mendapat tempat di hati penggemar, seperti:
- The Best Collection of Broery Marantika (1992, dirilis oleh Warner Music WEA di Kuala Lumpur)
- In the Gelora Cinta (1993)
- Kasihku Bukan Cintamu (1995)
- 20 Special Nostalgia (duet dengan Dewi Yull)
- 30 Years in Review (kumpulan lagu-lagu hits seperti “Angin Malam” dan “Mimpi Sedih”)

Broery meraih banyak penghargaan sepanjang kariernya:
- Pada 1991, ia memenangkan enam kategori di Jakarta Music Festival, termasuk Best Music Video, Clip, Soundtrack, dan Producer untuk lagu “Once There Was Love”.
- Pada 1996, ia meraih The Best Soundtrack Album untuk film Hapuslah Air Mata di Malaysia.
- Pada 1997, lagu “Surat Untuk Kekasih” memenangkan Malaysia Official Music Industry Award (AIM), menegaskan pengaruhnya di kancah internasional.
Filmografi
Selain sebagai penyanyi, Broery juga dikenal sebagai aktor. Ia membintangi beberapa film pada era 1970-an, seperti Akhir Sebuah Impian (1971), di mana ia menyanyikan dua lagu, “Angin Malam” dan “Mimpi Sedih”. Film lainnya yang melibatkan Broery:

- Akhir Sebuah Impian (Begitu Kehendak Tuhan) (1973) – Pemeran Utama
- Kasih Sayang (1974) – Pemeran Utama
- Perempuan Histeris (1976) – Pemeran Utama
- Impian Perawan (Melati) (1976) – Pemeran Utama
- Istriku Sayang Istriku Malang (1977) – Pemeran Utama
- Lagu Untukmu (1973) – Pemain
- Bawang Putih (1974) – Pemain
- Jangan Biarkan Mereka Lapar (1974) – Pemain
- Sesuatu yang Indah (1976) – Pemain
- Wajah Tiga Perempuan (1976) – Pemain
- Brandal-brandal Metropolitan (1971) – Pemeran Pembantu
- Matahari Hampir Terbenam (1971) – Pemeran Pembantu
Pengaruh Internasional dan Kejayaan di Malaysia
Broery Marantika juga sempat mengukir perjalanan karier gemilang di Malaysia pada era 70-an dan 80-an. Popularitasnya mulai mencuat setelah membintangi film Akhir Sebuah Impian bersama Emillia Contessa, yang tayang di Malaysia pada tahun 1973. Keberhasilan film tersebut membuka lebih banyak peluang bagi Broery, terutama ketika ia beradu akting dengan diva Malaysia, Sharifah Aini, dalam film Hapuslah Air Matamu pada tahun 1976.
Hapuslah Air Matamu menjadi fenomena luar biasa. Film ini mempertemukan dua bintang besar Malaysia dan Indonesia, menciptakan ledakan box office. Album soundtrack-nya pun meledak di pasaran, bahkan dirilis ulang beberapa kali karena permintaan yang tinggi. Lagu-lagu dari album ini mendominasi tangga lagu populer dan menjadi pilihan utama dalam program lagu permintaan. Broery mempersembahkan penampilan solonya lewat lagu-lagu seperti Hapuslah Airmatamu, Haruskah Kita Berpisah, dan Sabar Menanti, serta berduet dengan Sharifah Aini untuk lagu-lagu abadi Seiring Jalan dan Perasaan Hati.
Karier musik Broery terus menanjak ketika ia menjadi salah satu artis pertama yang bergabung dengan label WEA (sekarang Warner Music) di Malaysia. Album perdananya bersama WEA, Mimpi di Siang Hari, diproduksi oleh komposer ternama Ahmad Nawab. Album ini menimbulkan kontroversi karena beberapa lagu ciptaan Ahmad Nawab sebelumnya telah direkam untuk album Sudirman bersama EMI. Meski demikian, baik versi Broery maupun Sudirman mendapatkan sambutan hangat dari penggemar. Lagu Rindumu Rinduku dari album ini bahkan menjadi lagu klasik yang tetap dikenang hingga kini.
Setelah sukses dengan Mimpi di Siang Hari, Broery melanjutkan dengan album keduanya, Senja di Kuala Lumpur, yang kembali diproduseri oleh Ahmad Nawab. Album ini melahirkan hit besar Setulus Cinta, lagu tema untuk film Superstar: Bintang Pujaan, yang awalnya dinyanyikan oleh Sharifah Aini untuk kebutuhan film tersebut.

Broery kemudian mencoba mengambil kendali penuh atas karyanya dengan merilis album Broery ’81, yang diproduserinya sendiri. Namun, berbeda dengan dua album sebelumnya, Broery ’81 kurang berhasil dari segi komersial dan tidak menghasilkan banyak lagu hit.
Tidak menyerah, Broery kembali dengan album Balada Seorang Nelayan Tua, kali ini di bawah label Malaysia Recording Corporation (MRC), namun tetap menggandeng Ahmad Nawab sebagai produser. Judul lagunya, Balada Seorang Nelayan Tua, karya Ismail Ahmad Nawab, sukses menjuarai Pesta Lagu Malaysia 1984. Dalam album ini, Broery juga memperkenalkan pendatang baru dari Singapura, Linda Elizabeth, yang berduet dengannya dalam lagu Masa Itu Emas dan Seindah Senyuman. Kesuksesan ini membuka jalan bagi Linda Elizabeth untuk merilis album solo berjudul Hati Sepi Seorang Perempuan.
Melalui film dan musik, Broery Marantika tidak hanya membangun nama besar di tanah kelahirannya, tetapi juga meraih tempat istimewa di hati masyarakat Malaysia. Karyanya hingga kini tetap dikenang sebagai bagian dari khazanah seni budaya Malaysia-Indonesia.
Melodi Cinta: Kisah Perjalanan Cinta Broery Marantika
Kisah cinta Broery Marantika adalah perjalanan yang penuh lika-liku dan emosional, dimulai dengan pertemuan yang tak terduga dengan Widyawati pada tahun 1967. Mereka bertemu di sebuah pesta remaja di Kebayoran Baru, yang segera membawa mereka menjadi sepasang kekasih. Namun, hubungan ini tidak berjalan mulus. Ketika Broery mengunjungi rumah Widyawati untuk pertama kalinya, ketidaksetujuan sang ibu membuat mereka harus merahasiakan hubungan itu. Dengan penuh perjuangan, Broery nekat melompati pagar dan masuk lewat jendela untuk bertemu Widyawati. Sayangnya, cinta mereka harus berakhir dengan kesedihan, berpucuk pada perpisahan saat Widyawati jatuh ke pelukan Sophan Sophiaan, lawan mainnya di film Pengantin Remaja, dan menikah pada tahun 1972. Meski terluka, Broery berupaya menerima kenyataan hidup dan mendedikasikan lagu “Romi dan Yuli” untuk Widyawati pada festival lagu Popsong Nasional 1973.
Pada tahun 1976, Broery menemukan cinta baru dalam diri Christine Hakim, seorang aktris berbakat yang ia temui saat syuting film Impian Perawan. Keduanya merasakan koneksi yang dalam, yang semakin kuat ketika mereka bekerja bersama dalam album Dinda Kanda dan film Sesuatu yang Indah. Meskipun hubungan mereka mendapat perhatian besar dari media dan ada spekulasi tentang pernikahan, perbedaan keyakinan akhirnya memisahkan mereka.
Setelah gagal dengan hubungan sebelumnya, pada tahun 1981, Broery menikah dengan artis Malaysia, Anita Sarawak. Pernikahan ini menjadi salah satu yang paling menghebohkan pada masanya, karena keduanya berasal dari latar belakang budaya yang berbeda. Demi pernikahan ini, Broery bahkan memutuskan untuk berpindah agama dan menjadi seorang Muslim, mengubah namanya menjadi Broery Ridwan Abdullah. Meskipun cinta mereka tampaknya kuat, pernikahan ini hanya bertahan lima tahun dan berakhir dengan perceraian pada tahun 1985 tanpa anak.

Berselang tiga tahun setelah perceraiannya dengan Anita, Broery menemukan cinta sejatinya dalam diri Wanda Irene Latupeirissa, seorang mahasiswa hukum dari Ambon. Mereka menikah pada 26 Desember 1988, saat Wanda berusia 19 tahun. Hubungan mereka dipenuhi kebahagiaan dan cinta, melahirkan dua anak, Indonesia Putra dan Nabila Methaya. Setelah menikah, keduanya membangun keluarga yang harmonis, meskipun kini Wanda dan anak-anaknya menetap di Amerika Serikat, tetap menjaga tradisi dan nilai-nilai kultural mereka.
Broery juga telah memiliki seorang putra yang lahir pada tahun 1971 bernama Trian Kayhatu dari hubungan sebelumnya dengan kekasihnya, Astrid Kayhatu.
Perjalanan cinta Broery adalah cermin dari pergulatan dan harapan, diwarnai dengan kenangan manis serta luka yang mendalam, menciptakan kisah yang menginspirasi tentang pencarian cinta sejati.
“Aku Jatuh Cinta”: Awal Comeback Sang Legenda
Setelah bercerai, Broery kembali ke Indonesia dan menghadapi banyak tantangan, termasuk penurunan kemampuan bernyanyi dan kesulitan dalam bisnisnya.

Namun, takdir mempertemukannya dengan Rinto Harahap, yang memanggilnya kembali ke dunia musik dengan lagu “Aku Jatuh Cinta.” Lagu ini menjadi batu loncatan untuk kembalinya Broery ke panggung musik, dan album tersebut sukses menghidupkan kembali kariernya. Meskipun menyanyikan lagu-lagu Rinto yang sering dianggap ‘cengeng’, interpretasi menawan Broery membuat lagu-lagu tersebut terasa lebih berarti.
Aku Jatuh Cinta menjadi hit besar dan mengangkat namanya ke puncak karier. Semua lagu di album itu, termasuk hits seperti Benci Tapi Rindu, Cindy, Dingin, dan Bila Kau Seorang Diri, ditulis oleh Rinto Harahap. Setelah sukses dengan album ini, Broery merilis beberapa album dan single bernuansa pop ala Rinto Harahap.
Salah satu karyanya yang penting adalah album Bahasa Cinta, yang dikerjakan dengan dukungan Erwin Gutawa sebagai Music Director dan Vina Panduwinata sebagai vokalis tamu. Album ini segera populer, berkat Oddie Agam, pencipta lagu terkenal saat itu. Selain Bahasa Cinta, lagu duet dengan Vina, Untuk Apa Lagi, juga menjadi hits. Duet lainnya, I Need Someone, meraih popularitas setelah dirilis dalam album kompilasi dengan lirik yang diubah menjadi Kasih. Pada tahun 1988, Broery merilis album Rinto berjudul Aku Begini Engkau Begitu, dikenal dengan lirik ikonik tentang ‘buah semangka berdaun sirih.’
Kemudian, pada tahun 1996, Broery berkolaborasi dengan Dewi Yul dalam lagu Jangan Ada Dusta di Antara Kita, karya Harry Tasman. Dengan aransemen sederhana dan interpretasi tulus, lagu ini menjadi all-time hits dengan penjualan tinggi. Kolaborasi ini membuka jalan bagi duo Broery dan Dewi untuk menghasilkan beberapa lagu hits selanjutnya, termasuk album Rindu yang Terlarang dan Karisma Cinta.
Tidak banyak orang yang menyadari bahwa Broery, sosok yang terkenal di dunia musik, pernah menjadi manajer tim sepak bola Liga Galatama, Jaka Utama yang berbasis di Lampung. Dalam perannya sebagai manajer, dia tidak hanya mengatur strategi tim, tetapi juga terlibat langsung dalam meningkatkan semangat para pemain. Selain itu, Broery juga dikenal sebagai pencipta lagu Mars yang dikhususkan untuk para suporter Jaka Utama, yang semakin menguatkan ikatan antara tim dan para penggemarnya. Lagu ini menjadi simbol semangat juang dan dukungan dari seluruh fans yang selalu setia mendampingi tim di setiap pertandingan.
Selamat Tinggal – Pamit
Menjelang akhir hayatnya, Broery sedang mempersiapkan lagu “Selamat Tinggal” (aslinya: “Pamit”) karya komposer Gesang, pencipta “Bengawan Solo”. Hadi Sunyoto, pemilik HP Record yang memproduseri album-album Broery, menyatakan bahwa album “Selamat Tinggal” seharusnya dirilis pekan depan, seminggu sebelum kematiannya. Tanpa diduga, judul album itu menjadi ucapan perpisahan Broery yang wafat sebelum album terbarunya selesai.
Hadi menjelaskan bahwa album solo ini berisi 9 lagu. Dalam lagu unggulan “Selamat Tinggal”, Broery menyanyikannya sendiri, dengan latar suara Dewi Yul yang membacakan narasi. “Kayak satu firasat ya,” kata Hadi. Meski demikian, mereka tetap akan meluncurkan album tersebut sesuai jadwal. “Untuk video klip, pakai saja yang sudah ada,” tambah Hadi.
PAMIT - Gesang
Ijinkan aku pergi
Apalagi yang engkau tangisi
Semogalah pengganti ku
Dapat lebih mengerti hati mu
Memang berat ku rasa
Meninggalkan kasih yang ku cinta
Namun bagaimana lagi
Semuanya harus ku jalani
Selamat tinggal ku doakan
Kau selalu bahagia
Hanya pesan ku
Jangan lupa kirimkan kabar mu
Bila suatu hari
Dia membuat kecewa di hati
Batin ini takkan rela
Mendengar mu hidup menderita
Sayang walau kemesraan kita sesaat
Namun kau tetap di jiwaku
Ku iringi kepergian mu dengan ikhlas hati
Semoga kelak kita kan bersatu lagi
Selamat tinggal ku doakan
Kau selalu bahagia
Hanya pesan ku
Jangan lupa kirimkan kabar mu
Bila suatu hari
Dia membuat kecewa di hati
Batin ini takkan rela
Mendengar mu hidup menderita
Selamat tinggal kasih
Selamat jalan sayang
Kesehatan Broery mulai menurun pada akhir 1990-an. Ia mengalami stroke pertama pada 1998, yang membuatnya sering keluar masuk rumah sakit. Meski sempat pulih dan merilis album duet dengan Dewi Yull, ia mengalami stroke kedua pada 14 Mei 1999 saat sedang menyanyi di gereja. Stroke kedua ini melumpuhkannya, membuatnya tidak bisa berbicara dan hanya bisa terbaring dengan mata tertutup. Setelah berjuang selama lebih dari satu setengah tahun, Broery meninggal dunia pada 7 April 2000 di Rumah Sakit Puri Cinere, Depok, pada usia 51 tahun.
Warisan dan Pengaruh
Broery Marantika meninggalkan warisan yang tak ternilai dalam dunia musik Indonesia. Lagu-lagunya, seperti “Angin Malam”, “Aku Jatuh Cinta”, dan “Hapuslah Air Mata”, tetap abadi dan sering dinyanyikan ulang oleh penyanyi muda hingga kini. Ia dikenal sebagai penyanyi yang mampu menyampaikan emosi mendalam melalui suaranya, sebuah keahlian yang membuatnya dicintai oleh berbagai generasi.
Broery juga menjadi inspirasi bagi keluarganya. Anaknya, Tian Kayhatu dan Nabila Methaya Pesulima, mengikuti jejaknya sebagai penyanyi, melanjutkan legacy musik keluarga Pesulima. Pengaruhnya tidak hanya terasa di Indonesia, tetapi juga di Malaysia, di mana ia dianggap sebagai salah satu penyanyi asing paling sukses pada masanya.
Melodi yang Tak Pernah Usai
Broery Marantika adalah simbol bakat dan ketangguhan dari Maluku. Dari paduan suara gereja di Ambon hingga panggung internasional, ia membuktikan bahwa seorang anak dari daerah dapat mengukir nama di dunia. Meski hidupnya penuh liku—dari gemerlap karier hingga perjuangan melawan penyakit—melodi yang ia ciptakan tetap hidup, mengalun seperti angin malam yang membawa kenangan indah. Broery bukan hanya seorang penyanyi; ia adalah legenda yang lagu-lagunya akan terus menggetarkan jiwa, menghubungkan masa lalu dengan masa kini, dan menginspirasi masa depan.