De Linkse Flits: Perjalanan Simon Tahamata, Pionir Maluku di Sepak Bola Belanda

Share:

Simon Tahamata, yang dikenal sebagai “De Linkse Flits” atau “Kilatan Kiri” di lapangan, adalah salah satu ikon sepak bola Belanda yang membawa kebanggaan bagi komunitas Maluku. Dengan kecepatan, teknik, dan visi permainan yang luar biasa sebagai sayap kiri, ia tidak hanya mencatatkan sejarah di klub-klub besar seperti Ajax dan Standard Liège, tetapi juga menjadi simbol ketangguhan dan identitas bagi diaspora Maluku di Belanda.

Mari kita ikuti kisah perjalanan hidup Simon Tahamata, dari kamp pengungsian hingga menjadi pelatih yang menginspirasi generasi muda.

Dari Kamp Pengungsian ke Lapangan Hijau

Simon Melkianus Tahamata lahir pada 26 Mei 1956 di Vught, Belanda, di sebuah kamp pengungsian untuk warga Maluku. Keluarganya adalah bagian dari diaspora Maluku yang bermigrasi ke Belanda setelah Perang Dunia II, mencari kehidupan baru di tengah penindasan di bekas koloni Belanda, Indonesia. Simon besar dalam kondisi yang penuh tantangan, di mana komunitas Maluku sering menghadapi diskriminasi dan kesulitan sosial. Dalam sebuah wawancara, ia pernah berkata, “Saya punya paspor Belanda, lalu mengambil kewarganegaraan Belgia. Tapi itu hanya kertas. Saya orang Maluku, kalau kamu belum melihatnya (tertawa).”

Identitas Malukunya sangat kuat, meskipun ia lahir di Belanda. Pada 1970-an, komunitas Maluku di Belanda melakukan aksi-aksi protes keras, seperti pembajakan kereta api dan sekolah di Assen pada 1977, untuk menuntut perhatian atas kondisi hidup mereka yang buruk. Simon, yang saat itu sedang naik daun sebagai pemain sepak bola, mengakui bahwa ia bisa saja menjadi bagian dari aksi tersebut jika tidak memilih jalur olahraga. “Saya tidak tinggal di kamp terburuk, tapi saya bisa saja menjadi salah satu pembajak,” ujarnya, mencerminkan realitas keras yang dihadapi komunitasnya.

Simon sangat kecewa atas perlakuan pemerintah Belanda terhadap ayahnya:

Cara pemerintah Belanda memperlakukan kami, itu sangat keterlaluan dan sangat mendalam. Kenyataan bahwa ayah kami diperlakukan seperti itu setelah semua yang mereka lakukan untuk Belanda di Indonesia, sungguh tidak baik.”

SIMON TAHAMATA

Karier Klub: Kilatan di Sayap Kiri

Simon memulai karier sepak bolanya di klub lokal TSV Theole di Tiel sebelum bergabung dengan akademi Ajax Amsterdam, salah satu klub terbesar di Belanda. Berikut adalah perjalanan kariernya di berbagai klub:

Simon Tahamata sebagai pemain muda di TSV Theole dari Tiel, dan bersama timnya, Theole C1 akhir tahun 60-an.
Simon duduk di paling kiri [De voetbalarchivaris – FB]

Ajax Amsterdam (1976–1980)

Simon debut untuk Ajax pada 24 Oktober 1976 melawan FC Utrecht dengan skor telak 7-0. Bersama Ajax, ia meraih tiga gelar Eredivisie (1976–1977, 1978–1979, 1979–1980) dan menjadi runner-up pada 1977–1978. Ia juga tampil di tiga final piala nasional, memenangkan satu di antaranya. Puncak kariernya di Ajax adalah membawa tim mencapai semifinal Piala Eropa I (sekarang Liga Champions) pada 1979–1980, meskipun akhirnya kalah dari Nottingham Forest. Namun, Simon merasa kurang dihargai oleh manajemen Ajax. Pada 1979, ia nyaris dipindahkan ke Vitesse Arnhem, sebuah klub yang sedang berjuang menghindari degradasi, sebuah langkah yang ia tolak. Pada 1980, Ajax menjualnya ke Standard Liège tanpa melibatkannya dalam keputusan, sebuah keputusan yang ia sesali hingga kini.

Standard Liège (1980–1984)

Di Belgia, Simon bergabung dengan Standard Liège dan dilatih oleh Ernst Happel serta Raymond Goethals. Ia memenangkan dua gelar juara nasional Belgia (1981–1982, 1982–1983) dan satu Piala Belgia (1980–1981). Ia juga membawa Standard ke final Piala Eropa II (sekarang Liga Europa) pada 1981–1982. Di klub ini, ia awalnya bermain sebagai sayap kiri, namun kemudian diberi kebebasan sebagai penyerang kedua oleh Goethals. Meski hanya mencetak 4 gol dalam 34 pertandingan di musim pertamanya, kontribusinya dalam permainan tim sangat dihargai.

Feyenoord (1984–1987)

Simon kembali ke Belanda pada 1984 untuk bergabung dengan Feyenoord. Namun, periode ini tidak menghasilkan trofi signifikan baginya.

Beerschot dan Germinal Ekeren (1987–1996)

Kembali ke Belgia pada 1987, Simon bermain untuk Beerschot dan kemudian Germinal Ekeren. Bersama Germinal, ia mencapai final Piala Belgia pada 1994–1995. Ia resmi pensiun pada 1 Juli 1996 setelah karier yang panjang dan penuh prestasi, dengan total 13 gol dalam 109 pertandingan untuk Ajax dan berbagai trofi di Belanda dan Belgia.

Karier Internasional: Membela Oranje

Simon debut untuk tim nasional Belanda pada 22 Mei 1979 di Bern, Swiss, dalam pertandingan peringatan 75 tahun FIFA melawan Argentina. Ia mencatatkan 22 caps dan mencetak 2 gol untuk Oranje, dengan pertandingan terakhirnya pada 21 Desember 1986 melawan Siprus di Limassol. Sayangnya, ia tidak dipilih oleh pelatih Ernst Happel untuk skuad Piala Dunia 1978 di Argentina, meskipun Happel kemudian menjadi pelatihnya di Standard Liège. Pada 1979, menjelang Kejuaraan Eropa UEFA 1980, Simon merilis single berjudul “We Gaan Naar Rome” setelah Belanda lolos ke delapan besar, sebuah lagu yang mencerminkan popularitasnya di kalangan penggemar sepak bola.

Debut di Tim Oranye pada tahun 1979 – [kikuitgevers.nl]

Karier Pasca-Pensiun: Menginspirasi Generasi Muda

Setelah pensiun, Simon beralih profesi menjadi pelatih:

  • Pelatih Muda: Ia bekerja sebagai pelatih muda di Standard Liège, Germinal Beerschot, dan Ajax Amsterdam. Ia juga sesekali bermain untuk tim veteran Ajax, yang dikenal sebagai Lucky Ajax.
  • Al-Ahli (2009–2014): Pada 2009, ia menjadi pelatih teknis untuk tim yunior U-10 hingga U-15 di klub Arab Saudi, Al-Ahli.
  • Kembali ke Ajax (2014): Sejak Oktober 2014, Simon kembali ke Ajax sebagai pelatih keterampilan teknis untuk tim yunior, fokus melatih pemain sayap secara individual.
  • Simon Tahamata Soccer Academy (STSA): Pada September 2015, ia mendirikan Simon Tahamata Soccer Academy (STSA), yang menawarkan pelatihan khusus untuk pemain berbakat berusia 8 hingga 14 tahun dengan karakter “sulit” atau latar belakang budaya yang menantang. Akademi ini bertujuan memaksimalkan kualitas sepak bola dan karakter pemain.

Pada Maret 2024, Simon memutuskan meninggalkan Ajax untuk membangun akademi sepak bola di Berlin. Dalam perpisahan emosional, suporter Ajax membentangkan spanduk bertuliskan “Oom Simon Terima Kasih” dengan warna bendera Republik Maluku Selatan (biru, putih, hijau, merah), sebagai tanda penghargaan atas dedikasinya. Simon berkata, “Tanpa klub Ajax, aku hanya mas-mas Maluku Selatan biasa.

Perpisahan bersama fans Ajax “Oom Simon Terima Kasih” – [IG]

Warisan dan Pengaruh

Simon Tahamata adalah pionir bagi komunitas Maluku di Belanda, membuka jalan bagi talenta Maluku lainnya seperti Giovanni van Bronckhorst, John Heitinga, dan Denny Landzaat. Ia memenangkan total empat gelar nasional bersama Ajax dan Standard Liège, serta mencapai dua final turnamen Eropa. Sebagai sayap kiri, ia dikenal karena kecepatan, teknik, dan visi permainan yang luar biasa, meskipun ia mengakui tidak terlalu produktif dalam mencetak gol.

Identitas Malukunya menjadi bagian penting dari kariernya. Ia sering salah dianggap sebagai orang Suriname, namun dengan tegas ia menyatakan, “Sampai sekarang, banyak orang mengira saya dari Suriname. Saya jujur di media dan dunia sepak bola kalau saya orang Maluku.” Perjuangannya sebagai orang Maluku di Belanda, di tengah diskriminasi pada 1970-an, menjadikannya simbol ketangguhan dan kebanggaan bagi komunitasnya.

Hingga kini, pada usia 68 tahun, Simon tetap aktif di dunia sepak bola melalui akademinya, fokus mengembangkan talenta muda dari latar belakang sulit. Warisannya sebagai “De Linkse Flits” terus menginspirasi, baik di Belanda, Belgia, maupun komunitas Maluku di seluruh dunia, menunjukkan bahwa seorang anak dari kamp pengungsian dapat menjadi kilatan terang di lapangan hijau.


WHAT A PERFORMANCE FROM TAHAMATA | Ajax – PSV (11-11-1979) – [Eredivisie Archief – Youtube]
error: Content is protected !!