Berburu Kuskus di Seram Barat: Peran Phalanger dalam Ekonomi Subsistensi di Maluku Tengah

Share:

Berburu Kuskus

Ekspedisi berburu kuskus sering kali direncanakan sebelum acara khusus (misalnya, perayaan ulang tahun) untuk menyediakan daging bagi para tamu. Namun, dalam praktiknya, perburuan sering kali dilakukan secara spontan, karena masyarakat setempat sering mencari alasan untuk menghabiskan waktu di hutan.

Para pemburu sering menyatakan bahwa mereka lebih suka menghabiskan waktu dan tinggal di hutan dibandingkan di desa. Hutan sering dianggap sebagai lingkungan yang lebih nyaman dan santai. Berburu kuskus dianggap menyenangkan serta menjadi alasan yang baik untuk tinggal di hutan.

Ekspedisi berburu bisa selesai dalam beberapa hari. Selain berburu, perjalanan ini hampir selalu mencakup:

  1. Mengumpulkan berbagai sumber daya hutan,
  2. Bertemu dengan anggota desa lain yang sedang mencari sumber daya hutan,
  3. Memperbaiki, merawat, dan mengisi kembali berbagai tempat tinggal di hutan (walang), serta
  4. Menjelajahi lokasi baru untuk eksploitasi sumber daya hutan lebih lanjut, pembangunan kebun hutan, dan konstruksi walang.

Kuskus juga sering diburu selama aktivitas lain yang berlangsung lama di hutan.

Tim berburu terdiri dari siapa saja yang ingin ikut serta. Ukuran kelompok pemburu bervariasi dari dua atau tiga orang hingga sepuluh orang atau lebih. Tim berburu hampir selalu terdiri dari pria dewasa (termasuk remaja laki-laki), meskipun perempuan sering pergi ke hutan untuk mengumpulkan sumber daya arboreal.

Teknik Berburu

Berbagai teknik berburu dan perangkap digunakan untuk menangkap kuskus. Senapan angin sering kali menjadi senjata pilihan. Namun, karena senapan angin langka di desa, busur dan panah dari kayu keras masih sering digunakan. Busur dan panah dianggap sebagai senjata tradisional untuk berburu kuskus.

Para pemburu biasanya menjelajahi lokasi berburu di siang hari dan kembali ke tempat tersebut pada malam hari, di mana mereka menunggu dan mendengarkan suara kuskus. Senter sering digunakan untuk membutakan sementara kuskus dan menemukan target, baik di pohon maupun di tanah. Setelah ditemukan, kuskus ditembak dengan senapan angin atau panah.

Beberapa teknik berburu lain termasuk:

  • Pemukulan dengan tongkat kayu – umumnya dilakukan oleh anak laki-laki muda untuk memukul kuskus yang telah jatuh atau dipaksa turun dari pohon.
  • Penggunaan tombak – meskipun jarang digunakan, tombak sering dibawa ke hutan dan kadang digunakan untuk membunuh mangsa yang sudah tertangkap.
  • Menyamarkan diri dan menunggu mangsa – pemburu bersembunyi di tempat tertentu dan meniru suara kuskus untuk menariknya keluar dari persembunyiannya.

Sementara itu, senapan ikan bertali karet juga dilaporkan digunakan oleh seorang pemburu dari Pulau Ambon yang sering datang ke Seram untuk mencari daging.

Anjing sering menemani ekspedisi berburu, tetapi jarang digunakan secara aktif untuk berburu kuskus.


Perbedaan Teknik Berburu di Siang dan Malam Hari

Metode berburu kuskus berbeda antara siang dan malam hari.

Berburu di Siang Hari

Pada siang hari, kuskus umumnya diburu bersamaan dengan kegiatan pengumpulan sumber daya hutan dan pencarian makanan lainnya.

  • Cara yang paling umum dilakukan adalah menemukan tempat peristirahatan kuskus di siang hari, yang biasanya berada di cabang pohon besar.
  • Jika kuskus terlihat di pohon yang mudah dipanjat, seorang anak laki-laki (biasanya berusia 10–13 tahun) akan memanjat pohon, menangkap kuskus dengan memegang ekornya, lalu membantingnya ke batang pohon hingga mati.
  • Jika kuskus berada di pohon yang sulit dijangkau, maka biasanya ditembak dengan senapan angin atau panah. Namun, metode ini kurang berhasil dibandingkan menangkapnya langsung dari pohon.

Berburu di Malam Hari

Berburu di malam hari dilakukan khusus untuk mencari kuskus dan tidak disertai dengan aktivitas lain.

  • Para pemburu biasanya menunggu dalam posisi tersembunyi di lokasi yang telah dipilih sebelumnya, sambil mendengarkan suara pergerakan kuskus.
  • Pada malam hari, kuskus hampir selalu diburu menggunakan senapan angin atau panah.
  • Para pemburu juga sering meniru suara kuskus untuk menarik perhatian dan mendekatkannya ke area berburu (lihat juga Ellen 1972: 229).

Ritual dan Kepercayaan dalam Berburu Kuskus

Meskipun tidak ada ritual perburuan khusus yang dilakukan hanya untuk kuskus, berbagai praktik kepercayaan dilakukan untuk meningkatkan peluang keberhasilan berburu.

Beberapa ritual yang dilakukan termasuk:

  • Berdoa sebelum berburu.
  • Minum minuman beralkohol sebelum berburu di malam hari (katanya untuk menjaga tubuh tetap hangat).
  • Membawa jimat sederhana, seperti gelang bambu atau tanaman tertentu, untuk perlindungan dan keberuntungan.
  • Tidak membawa uang ke dalam hutan, karena diyakini akan membawa kesialan.

Ellen (1972: 228) mencatat bahwa di kalangan suku Nuaulu di Seram Selatan, kuskus tergolong dalam kategori simbolik peni (hewan buruan besar) yang melibatkan aturan pembagian tertentu serta persembahan kepada roh leluhur setiap kali seekor kuskus dibunuh.

Ia juga menyebutkan bahwa beberapa orang Nuaulu menyimpan rahang kuskus sebagai trofi untuk keberuntungan dalam berburu di masa depan atau sebagai bukti keahlian berburu seseorang.

Selain itu, meskipun perangkap dan jerat kadang digunakan untuk menangkap kuskus, selama penelitian ini tidak ditemukan perangkap khusus untuk kuskus di Seram. Namun, di Kepulauan Aru, perangkap dan jerat sering digunakan untuk menangkap kuskus (Healey 1995).


Pemrosesan Kuskus Setelah Diburu

Setelah kuskus tertangkap, proses pembersihannya dilakukan dengan cepat dan efisien:

  1. Perut kuskus dibelah menggunakan pisau, lalu isi perutnya dikeluarkan.
  2. Isi perut yang dianggap tidak layak dikonsumsi dibuang dengan cara memotong usus di beberapa tempat dan menekannya agar isinya keluar.
  3. Setelah itu, bangkai kuskus dibawa kembali ke walang (pondok di hutan) untuk proses selanjutnya.

Di walang, organ dalam kuskus segera dimasak untuk dimakan.

  • Organ dalam kuskus biasanya dimasak dengan cabai, garam, jeruk kecil, dan papeda (bubur sagu). Kadang-kadang, darah kuskus juga ditambahkan untuk memberikan rasa yang lebih kuat.
  • Semua orang yang ada di walang berbagi makanan ini. Secara tradisional, laki-laki makan lebih dulu, tetapi dalam praktiknya, semua orang sering makan bersama.
  • Makanan sering kali dilengkapi dengan ulat kayu besar, kemungkinan dari spesies Oryctes rhinoceros atau Passalidae, yang juga dikonsumsi oleh masyarakat setempat.

Setelah organ dalam dimasak, daging kuskus diproses lebih lanjut:

  • Kuskus biasanya tidak langsung dikonsumsi, melainkan diasapi terlebih dahulu agar lebih awet.
  • Bangkai kuskus ditusuk dengan bambu atau kayu, lalu ditempatkan di atas rak di atas api untuk diasapi selama satu hari atau lebih.
  • Rambut kuskus biasanya tidak dicukur atau dikuliti, tetapi dibakar hingga habis.

Daging kuskus yang telah diasapi kemudian dibawa kembali ke desa untuk dibagikan sesuai dengan kontribusi para pemburu. Namun, mereka yang membutuhkan daging untuk acara khusus sering mendapat prioritas.

Kuskus muda yang tertangkap hidup kadang-kadang dijadikan hewan peliharaan atau dilepaskan kembali ke hutan.


Nilai Ritual dan Simbolik Kuskus dalam Budaya Maluku

Kuskus bukanlah satu-satunya sumber daging di Maluku Tengah. Masyarakat juga mengonsumsi burung, reptil, kelelawar, babi, kambing, dan rusa, serta berbagai hasil laut. Namun, di masa lalu, kuskus mungkin memiliki peran yang lebih penting sebagai sumber protein utama.

Ada dua alasan utama mengapa eksploitasi kuskus menurun saat ini:

  1. Pelarangan dalam Islam: Kuskus dianggap haram oleh sebagian besar masyarakat Muslim di Maluku. Ketika Islam diperkenalkan dan diadopsi secara luas, perburuan kuskus menurun drastis.
  2. Masuknya spesies mamalia lain: Kehadiran sapi, kambing, babi, dan hewan ternak lainnya membuat masyarakat memiliki pilihan daging lain yang lebih disukai.

Namun, bagi kelompok yang masih berburu kuskus, dagingnya sangat dihargai. Hal ini tidak hanya karena rasanya, tetapi juga karena nilai budaya dan simboliknya.

  • Kuskus sering disajikan dalam perayaan ulang tahun, pernikahan, Natal, dan acara penting lainnya.
  • Kuskus juga memiliki makna ritual dalam upacara kelahiran dan inisiasi anak laki-laki. Sebagai contoh, dalam ritual “anak keluar rumah,” seorang bayi pertama kali diperkenalkan ke dunia luar, dan kuskus sering dimasukkan dalam acara ini untuk menjamin bahwa si anak kelak akan menjadi pemburu yang sukses.
  • Dalam beberapa kelompok di Seram, kuskus dianggap sebagai hewan totem yang memiliki makna spiritual penting.

Selain itu, Ellen (1972) mencatat bahwa perburuan kuskus mungkin memiliki hubungan simbolis dengan praktik perburuan kepala (headhunting), yang dulunya merupakan bagian dari budaya di Maluku.

  • Dengan berakhirnya praktik perburuan kepala, beberapa ritual yang sebelumnya membutuhkan kepala manusia mungkin telah digantikan dengan kepala kuskus.
  • Dalam beberapa konteks, kuskus juga dikaitkan dengan kesuburan, keberhasilan, dan asal-usul leluhur.

Kuskus juga dihargai karena statusnya sebagai daging liar.

  • Banyak penduduk lokal lebih menyukai daging hasil buruan dibandingkan daging ternak.
  • Daging kuskus dan babi hutan adalah dua jenis daging yang paling banyak disebutkan oleh para informan sebagai makanan favorit.

Kesimpulan

Kuskus telah berperan lebih dari sekadar sumber daging—hewan ini memiliki nilai penting dalam subsistensi, budaya, dan ritual masyarakat Maluku.

Namun, perburuan kuskus di Maluku semakin menurun karena faktor agama dan perubahan preferensi makanan. Hanya beberapa kelompok yang masih mempertahankan tradisi berburu dan mengonsumsi kuskus.

Perubahan pola makan akibat urbanisasi dan berkurangnya ketergantungan pada sumber daya hutan dapat berdampak besar pada gizi, budaya, dan lingkungan masyarakat Maluku di masa depan.


Catatan

  1. Kelompok yang dibahas dalam makalah ini merujuk secara khusus pada beberapa desa Kristen di Seram.
    Beberapa informasi dikumpulkan selama berbagai survei yang dilakukan di Ambon, Buru, Haruku, dan Saparua. Bukti arkeologis yang tersedia saat ini juga mencakup Maluku Utara, sebagian Sulawesi, dan wilayah Papua Nugini. Meskipun fokus utama penelitian ini adalah Maluku Tengah, beberapa kesimpulan dapat diterapkan pada wilayah Maluku secara keseluruhan. Namun, ada kemungkinan bahwa beberapa daerah, seperti bagian tenggara Maluku, memiliki perbedaan signifikan dibandingkan dengan Maluku Tengah atau Maluku Utara karena berbagai alasan. Oleh karena itu, pembaca harus memahami bahwa penelitian ini lebih relevan dengan Maluku Tengah dan hanya secara longgar menggeneralisasikan wilayah Maluku lainnya.
  2. Ekonomi subsistensi berbasis arboreal (terkadang disebut arborikultur) mengacu pada sistem ekonomi di mana pemeliharaan, pengelolaan, dan eksploitasi sumber daya hutan arboreal menjadi aspek utama.
    Contoh paling menonjol adalah peran sentral pohon sagu (Metroxylon sagu) di Maluku. Pohon cengkeh dan pala juga merupakan komponen ekonomi utama. Namun, berbagai sumber daya hutan lainnya, seperti pohon buah dan pohon penghasil kacang (Canarium indicum), juga berkontribusi signifikan terhadap ekonomi subsistensi. Secara keseluruhan, banyak kelompok di Maluku bergantung pada sumber daya arboreal dalam sistem subsistensi terestrial mereka.
  3. Istilah “hutan primer” dalam konteks ini mengacu pada hutan matang yang saat ini tidak dikelola dan tidak mengalami eksploitasi manusia secara langsung atau berulang dalam waktu yang lama.
    Namun, sejak manusia mulai menghuni Maluku, kemungkinan besar sejak akhir Pleistosen, lingkungan telah mengalami perubahan, baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Hal ini mencakup dampak langsung akibat aktivitas manusia serta konsekuensi tidak langsung, seperti perubahan ekosistem akibat praktik penggunaan lahan. Oleh karena itu, hutan primer yang ada saat ini mungkin pada masa lalu telah dikelola atau mengalami dampak akibat praktik manusia, termasuk introduksi spesies tumbuhan asing.
  4. Sebenarnya, kuskus tidak termasuk dalam kategori makanan yang haram atau tidak boleh dikonsumsi dalam Islam.
    Namun, ada beberapa kemungkinan alasan mengapa kuskus dianggap sebagai makanan terlarang dalam komunitas Muslim di Maluku:
    • (1) Dagingnya memiliki bau yang sangat menyengat.
    • (2) Hewan ini sering mencuci wajahnya dengan urinnya sendiri.
    • (3) Bentuk tubuhnya menyerupai manusia.
    • (4) Kuskus hidup di habitat yang beragam dan tidak spesifik.
    Jim Collins (komunikasi pribadi) mengemukakan bahwa alasan-alasan ini mungkin layak untuk dieksplorasi lebih lanjut. Pemahaman tentang alasan-alasan serupa yang berlaku untuk makanan yang dilarang dalam Islam dapat membantu mengonfirmasi atau membantah salah satu atau lebih dari kemungkinan-kemungkinan ini.
  5. Terkait suku Nuaulu, Ellen (1972: 229) menyebutkan ritual yang berkaitan dengan perburuan, pengolahan, dan konsumsi kuskus: “Ketika proses memasak kuskus selesai, tusukan kayu (asumate) tempat kuskus dimasak akan ditancapkan ke tanah dengan keyakinan bahwa roh kuskus yang telah mati akan kembali dalam tubuh kuskus lain, sehingga meningkatkan keberuntungan dalam berburu. Dalam konteks ini, tindakan tersebut dapat dipahami sebagai cara untuk mengembalikan roh kuskus ke tempatnya yang seharusnya dalam kosmos, serta memastikan kesinambungan siklus perburuan. Selain itu, praktik ini juga dianggap sebagai tanda yang mengundang leluhur untuk ikut serta menikmati makanan. Tusukan kayu (asumate) juga berfungsi sebagai bukti keterampilan berburu seseorang dan menjadi simbol prestise.”
  6. Ellen (1972: 229) mencatat bahwa suku Nuaulu menguliti kuskus, kadang-kadang saat hewan tersebut masih hidup.
    Kulit kuskus juga dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, termasuk pembuatan topi di Papua. Selain itu, tulang kuskus (terutama rahangnya) kadang digunakan sebagai alat seperti bor, pengukir, atau perkakas lainnya (Ellen 1993: 35).

Sumber: Kyle Latinis, Universitas Hawai‘i – Hunting the Cuscus in West seram: The Role of the Phalanger in Subsistence Economies in Central Maluku (1996).

error: Content is protected !!