Sejarah mencatat banyak kisah tentang orang-orang Maluku yang merantau ke Belanda, tetapi tidak banyak yang seistimewa kisah dua bersaudara, Johannes Everhardus (Nannie) dan Willem Karel (Wim atau Empie) Tehupeiory. Mereka adalah dua pemuda asal Ambon yang pada awal abad ke-20 menjadi pelopor dalam dunia akademik dan kedokteran di negeri penjajah. Kisah mereka dituangkan dalam novel sejarah Tussen Ambon en Amsterdam, yang tidak hanya mengungkap perjalanan hidup mereka tetapi juga memberikan gambaran tentang hubungan kompleks antara Hindia Belanda dan pemerintah kolonial Belanda.
Perjalanan Akademik dan Perjuangan di Negeri Orang
Kisah ini terbagi menjadi tiga bagian utama: Nannie en Empie, Wim en Anna, dan Empie. Bagian pertama mengisahkan bagaimana kedua saudara ini berhasil menyelesaikan pendidikan mereka di Hindia Belanda sebelum melanjutkan studi kedokteran di Universitas Amsterdam. Prestasi akademik mereka luar biasa, tetapi yang membuat mereka lebih istimewa adalah keterlibatan mereka dalam berbagai kegiatan lain.
Nannie, misalnya, menjadi penulis buku Onder de Dajaks in Centraal-Borneo, yang disebut-sebut sebagai salah satu karya terbaik yang pernah ditulis oleh seorang pribumi dalam bahasa Belanda. Namun, di luar pencapaian akademik dan kepenulisan, mereka juga berperan sebagai pembela kepentingan rekan-rekan sebangsanya. Sayangnya, perjalanan Nannie terhenti secara tragis ketika ia meninggal akibat kecelakaan setelah memperoleh gelar dokternya.
Cinta, Pengabdian, dan Pergulatan Hidup
Bagian kedua dari novel ini menyoroti perjalanan hidup Empie, yang kemudian lebih dikenal sebagai Wim setelah menikah dengan seorang wanita Belanda bernama Anna Ommering. Keduanya kembali ke Hindia Belanda, di mana Wim aktif dalam berbagai organisasi sosial dan akademik, termasuk mendirikan Vereniging van Inlandse Geneeskundigen dan Ambons Studiefonds untuk mendukung pendidikan pemuda Maluku.
Namun, perjalanan mereka tak selalu mulus. Setelah beberapa tahun di Hindia Belanda, mereka kembali ke Belanda, tetapi Wim kesulitan mendapatkan pekerjaan. Dengan harapan memperbaiki kondisi finansial keluarga, ia memutuskan untuk kembali ke Hindia Belanda selama lima tahun. Keputusan ini, meskipun awalnya menjanjikan, justru membawa konflik yang semakin memperumit kehidupannya.
Perjuangan Terakhir dan Kejatuhan Empie
Dalam bagian ketiga, Wim kembali dipanggil dengan nama lamanya, Empie, karena ia kini hidup terpisah dari keluarganya. Berusaha membangun praktik medisnya sendiri sebagai Dokter Djawa, ia bekerja keras dan sempat menikmati keberhasilan. Namun, investasi yang salah membuatnya jatuh dalam krisis keuangan. Istrinya, Anna, mengajukan gugatan cerai, tetapi ditolak karena alasan hukum. Di tengah kesulitan itu, Empie mengalami serangkaian stroke yang membuatnya lumpuh. Ia menghabiskan sisa hidupnya dalam kondisi yang memilukan hingga akhirnya meninggal di Jakarta pada tahun 1946.

Warisan yang Terlupakan
Johannes Everhardus dan Willem Karel Tehupeiory adalah dua sosok luar biasa yang di awal abad ke-20 membuka jalan bagi generasi intelektual Maluku. Sebagai dokter, akademisi, dan aktivis, mereka dihormati oleh banyak kalangan, baik pribumi maupun kolonial. Namun, setelah Perang Dunia II dan perjuangan kemerdekaan Indonesia, kisah mereka perlahan tenggelam dalam bayang-bayang sejarah.
Berdasarkan arsip pribadi Wim Tehupeiory yang luas, novel Tussen Ambon en Amsterdam menggali kembali kisah luar biasa ini. Tidak hanya sekadar kisah sukses, buku ini juga menyoroti dilema yang dihadapi para intelektual Hindia Belanda, yang di satu sisi memiliki kecintaan terhadap tanah kelahiran, tetapi di sisi lain tidak bisa sepenuhnya melepaskan diri dari pengaruh negeri penjajah.

Tentang Penulis
Herman Keppy, seorang jurnalis dan peneliti kelahiran Amsterdam tahun 1960, adalah putra dari seorang ayah Maluku dan ibu Belanda. Ia telah menulis beberapa buku sejarah dan novel, termasuk Tussen Ambon en Amsterdam yang pertama kali diterbitkan pada tahun 2004. Melalui karyanya ini, Keppy menghidupkan kembali jejak langkah dua saudara yang sempat terlupakan, sekaligus memberikan wawasan baru tentang sejarah hubungan Maluku dan Belanda.
Kisah dua bersaudara Tehupeiory adalah pengingat bahwa di balik catatan kolonialisme, selalu ada individu-individu yang berjuang, berprestasi, dan mencoba menjembatani dua dunia yang sering kali bertentangan. Dengan segala lika-likunya, perjalanan hidup mereka tetap menjadi inspirasi bagi generasi masa kini dan mendatang.
Luar biasa dalam beberapa hari ini bro menulis banyak sekali kisah orang Maluku yang sangat masif.Generadi muda Maluku perlu mengetahui ini dan menjadikannya sebagai semangat untuk mengisi kemerdekaan ini menuju Indonesia Emas. Begitu banyak kisah tentang para pendahulu kita yang bisa dijadikan sebagai Icin bahan suru teladan yang tidak terlupakan. Terima kasih bro bisa jadi muatan lokal yang sangat berharga. God bless bro bersama keluarga. Bro Beta usul jangan disimpan di FB saja tetapi juga buat link untuk YouTube atau instagram.
Danke Prof…🙏