Benteng Hectoria (Oma – Haruku)


Sedikit informasi yang diketahui tentang Benteng Hectoria, yang terletak di desa Oma, Pulau Haruku.
Benteng ini pertama kali didirikan pada tahun 1627 sebagai pos kayu yang ditempati oleh sepuluh tentara dan seorang sersan. Pos ini dibangun di tengah perkebunan pala dan cengkih, yang membuatnya sangat rentan terhadap serangan penduduk setempat yang menolak dominasi VOC.
Antara April dan Juli 1636, benteng ini mengalami serangkaian serangan dari pasukan pemberontak yang dipimpin oleh Leliato. Pada tahun 1644, gempa bumi menyebabkan kerusakan besar pada benteng ini, dan VOC akhirnya memutuskan bahwa lokasinya tidak strategis karena rentan terhadap serangan dari bukit di sekitarnya serta sulitnya pasokan air bersih.
Pada tahun 1656, benteng ini ditinggalkan dan digantikan oleh benteng baru yang dibangun di dekat desa Haruku. Saat ini, hanya fondasi batu dari benteng Hectoria yang masih tersisa, dan sebuah rumah penduduk telah dibangun di atasnya.
Benteng Beverwijk (Nusalaut)


Di Pulau Nusalaut, terdapat reruntuhan sebuah benteng kecil yang awalnya disebut sebagai blokhaus. Pada tahun 1656, Gubernur Arnold de Vlaming van Oudshoorn menamakan benteng ini Beverwijk, sesuai dengan kota kelahirannya di Belanda.
Benteng ini dijaga oleh seorang sersan dan 20 tentara dengan empat meriam kecil. Meskipun pulau ini relatif damai, benteng ini tetap dijaga untuk mengontrol penduduk dan melindungi perdagangan VOC di daerah tersebut.
Pada tahun 1817, selama pemberontakan Pattimura, benteng ini hanya memiliki satu tentara Eropa dan dua prajurit Jawa sebagai penjaga. Benteng ini dengan mudah direbut oleh pemberontak, tetapi setelah Belanda berhasil memulihkan kekuasaan mereka, benteng ini akhirnya dibiarkan terbengkalai.
Saat ini, reruntuhan benteng masih dapat dilihat, dengan dinding batu karang setinggi beberapa meter yang masih berdiri.
Benteng Overburg (Luhu – Seram)


Pada tahun 1628, VOC mendirikan sebuah pos perdagangan di Luhu, salah satu daerah produksi dan pusat pengumpulan cengkih di Pulau Seram. Awalnya, pos ini berbentuk rumah kayu yang kemudian terbakar. Pada tahun 1631, pos ini digantikan oleh bangunan berbatu yang didirikan oleh Letnan Walraven bersama 40 prajurit VOC.
Namun, karena sulitnya mendapatkan air bersih di lokasi ini, Gubernur Artus Gijsels (1631-1634) memindahkan pos tersebut ke muara sungai di dekat pantai dan menamainya Benteng Bullebak. Penggantinya, Antoni van den Heuvel (1634-1635), menganggap benteng ini tidak diperlukan dan memerintahkan agar benteng tersebut dihancurkan.
Penduduk setempat merasa tidak terlindungi setelah benteng ini dihancurkan dan meminta VOC untuk membangun kembali benteng pertahanan. Gubernur Johan Ottens (1637-1641) memerintahkan pembangunan sebuah pos baru dengan rumah batu pertahanan (blokhuis), yang kemudian diperluas menjadi benteng di bawah Gubernur Gerard Demmer (1642-1647).
Hingga Perang Ambon (1651-1656), Benteng Overburg menjadi salah satu benteng terkuat dalam pemerintahan VOC di Ambon. VOC menggunakan benteng ini untuk mengontrol produksi dan perdagangan cengkih serta untuk menekan perdagangan ilegal yang dilakukan oleh penduduk setempat.
Ketika perang berkecamuk, VOC menumpas perlawanan penduduk dengan menghancurkan desa-desa dan mendeportasi sebagian besar penduduk setempat. Hutan cengkih di sekitar benteng juga dihancurkan untuk mengurangi ancaman dari pihak lokal.
Pada 29 Juli 1654, terjadi serangan di Kahouli, dekat Luhu, di Pulau Seram bagian barat. Makassar, yang merupakan sekutu penduduk Hoamoal dalam Perang Besar Ambon (1651-1656), membangun dua benteng di sekitar hutan sagu yang menjadi sumber makanan utama bagi para pejuang mereka.
Pasukan VOC yang dipimpin oleh Mayor Verheijden berhasil merebut dan menduduki benteng ini. Namun, menurut catatan Rumphius, bau busuk dari mayat prajurit Makassar yang tewas di lokasi tersebut memaksa pasukan VOC untuk meninggalkan dan membakar benteng itu dalam waktu singkat.
Ilustrasi serangan ini menunjukkan Benteng Overburg di Luhu sebagai basis serangan VOC. Dari benteng ini, pasukan Belanda bergerak ke arah dua benteng Makassar dan menyerangnya secara langsung. Dalam ilustrasi, juga terlihat kapal-kapal perang lokal sekutu VOC yang mendukung serangan ini.
Pada tahun 1697, Pemerintah VOC di Ambon memutuskan untuk menutup beberapa benteng kecil guna mengurangi biaya pemeliharaan. Namun, Benteng Overburg menjadi pengecualian dan tetap beroperasi. Bahkan hingga abad ke-19, benteng ini masih digunakan untuk mempertahankan kekuasaan kolonial di Pulau Seram.
Pada tahun 1862, tentara kolonial akhirnya meninggalkan benteng ini secara permanen. Setelah kebakaran besar pada tahun 1897 yang menghancurkan benteng dan sebagian besar desa di sekitarnya, penduduk setempat menggunakan reruntuhan benteng sebagai sumber bahan bangunan. Akibatnya, yang tersisa hingga saat ini hanyalah sebagian bastion barat daya dan beberapa bagian dinding serta fondasi benteng.
Saat ini, hanya sedikit yang tersisa dari Benteng Overburg, dan lokasinya sudah banyak berubah.
Benteng Den Bosch (Kaibobo – Seram)

Penduduk Kaibobo telah setia kepada VOC sejak tahun 1605, setelah Benteng Victoria direbut oleh Belanda dari Portugis. Sebagai imbalan atas dukungan mereka, VOC melindungi Kaibobo dari desa tetangga Luhu, yang merupakan musuh mereka, dan mengizinkan mereka berdagang secara bebas.
Kaibobo adalah salah satu desa utama di pesisir selatan Seram bagian barat. Tidak seperti sebagian besar wilayah Ambon, penduduk Kaibobo dengan cepat memeluk agama Kristen setelah kedatangan Belanda. Mereka juga diwajibkan untuk melakukan kerja wajib bagi VOC, seperti membantu pembangunan benteng atau menyediakan bahan bangunan untuk proyek VOC di daerah sekitarnya.
Pada tahun 1695, VOC membangun sebuah benteng bernama Den Bosch di Kaibobo untuk melindungi wilayah ini dari ancaman bajak laut dan pemberontakan lokal.
Sekitar tahun 1687, VOC, yang dibantu oleh penduduk setempat, membangun sebuah gereja di Kaibobo. Desa itu menyediakan kayu yang digunakan oleh VOC untuk pagar, atau pagar kayu, untuk pemukiman terdekat.
Saat ini, tidak ada lagi sisa-sisa benteng yang dapat ditemukan, tetapi catatan sejarah menunjukkan bahwa benteng ini memainkan peran penting dalam mempertahankan kepentingan VOC di Seram.
Benteng Vlissingen (Nusa Ela – Seram)


Pada tahun 1638, Gubernur Johan Ottens memberikan perintah untuk membangun sebuah benteng di Nussatello, pulau paling utara dari kelompok Nusatelu di pantai barat laut Ambon, untuk mengawasi rute pelayaran antara Ambon dan Seram. Disini, sebuah benteng pertahanan kecil berbentuk segitiga didirikan dan dijaga oleh seorang kopral dengan delapan prajurit serta empat meriam kecil.
VOC menyebut kepulauan ini dengan nama ‘De Drie Gebroeders’, Tiga Bersaudara. Meskipun ukurannya kecil, Nusa Telu/Kepulauan Tiga ini memasok cengkeh dalam jumlah besar kepada Kompeni. Hanya ada satu pejabat VOC yang diberi kewenangan untuk mengatur perdagangan di Nusa Telu.
Selang beberapa waktu terbangunlah sebuah Benteng kecil yang diberi nama Fort Vlissingen atau Fort Hatua atau Fort Ureng di atas sebuah bukit kecil di ujung timur Nusa Ela.
Selama pemberontakan terhadap VOC yang meletus di Ternate, benteng ini dijarah dan dibakar pada tahun 1651. Setelah Gubernur Arnold de Vlaming van Outshoorn berhasil menekan pemberontakan tersebut, benteng itu diambil kembali dan dibangun kembali. Pada tahun 1697, diputuskan untuk menghemat biaya pada pekerjaan pertahanan di Ambon, dan benteng ini tidak lagi dijaga secara permanen. Benteng tersebut kemungkinan masih digunakan sebagai pos pengamatan hingga dijarah dan dibakar oleh Papua pada tahun 1762.
Saat ini, hanya tersisa reruntuhan dinding berbentuk segitiga yang ditumbuhi semak-semak.
Benteng Hardenbergh (Serikambello – Seram)

Benteng Hardenbergh adalah sebuah benteng yang merupakan peninggalan dari Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), sebuah perusahaan dagang Belanda yang memiliki pengaruh sangat besar pada masa pemerintahan kolonial di Indonesia. Ketika pertama kali ditemukan, kondisi fisik bangunan tersebut hanya menyisakan sisa-sisa pondasi berbentuk segi empat, yang menunjukkan bahwa benteng ini pernah berdiri kokoh di masa lalu. Di tengah-tengah sisa pondasi tersebut, terdapat tangga yang mungkin dulu digunakan sebagai akses naik ke bagian atas dari bangunan.
Berdasarkan data pictorial Belanda yang dicatat pada tahun 1644, Benteng Hardenbergh termasuk dalam kategori bangunan pertahanan yang berbentuk persegi panjang dan memiliki dua lantai. Pada sisi samping bangunan tersebut, terdapat tangga yang dirancang untuk memberikan akses ke lantai dua. Dalam dokumen sejarah tersebut juga dijelaskan bahwa benteng ini merupakan bagian dari satu kompleks yang lebih besar, yang terdiri dari beberapa bangunan lain yang saling terhubung dan dikelilingi oleh pagar yang berfungsi sebagai pelindung. Hal ini menunjukkan bahwa Benteng Hardenbergh bukan hanya sebuah struktur pertahanan, tetapi juga merupakan bagian integral dari tata letak dan fungsi pertahanan pada masa itu.
Desa Serikkembelo, dulunya dikenal sebagai Cambello, secara tradisional berada di bawah kekuasaan Raja Ternate, yang sedang berjuang melawan Perusahaan Spanyol. Pada tahun 1607, Laksamana Matelieff setuju dengan raja ini bahwa VOC akan melindunginya terhadap Spanyol, dengan imbalan cengkeh dari seluruh pulau Maluku. Cambello adalah salah satu tempat pertama di mana VOC, berdasarkan kontrak dengan raja, diizinkan mendirikan kantor perdagangan dan benteng. Selain itu, Cambello adalah salah satu pemasok cengkeh yang paling penting.
Benteng Delfshaven & Vollenhoven (Kisar)


Pulau kecil Kisar terletak di sebelah utara Timor Timur. Pulau ini merupakan bagian dari gugusan pulau yang dahulu dikenal oleh Belanda sebagai Kepulauan Barat Daya. Pada tahun 1668, VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) menetap di Kisar, yang sebelumnya berada di bawah kendali Portugis.
Pada awalnya, Belanda mengambil alih benteng tua peninggalan Portugis dan menamainya kembali sebagai Benteng Delfshaven. Sesuai dengan tradisi bangunan Portugis, benteng ini dibangun di daratan, tepatnya di atas sebuah bukit. Namun, Belanda lebih memilih strategi pertahanan yang berbeda. Mereka cenderung membangun benteng di tepi pantai agar lebih mudah mengontrol perairan dan akses masuk ke pulau. Oleh karena itu, Belanda memulai pembangunan benteng baru di tepi pantai.
Setelah Benteng Vollenhoven selesai dibangun, benteng lama di Kota Lama ditinggalkan. Dari posisi benteng yang baru ini, Belanda dapat mengontrol teluk dan jurang yang menjadi jalur utama menuju pedalaman pulau. Pada tahun 1819, Pulau Kisar kehilangan fungsinya sebagai pos militer.
Sementara itu, selama masa kolonial, berkembanglah populasi campuran yang dipengaruhi oleh budaya Portugis dan Belanda. Hingga saat ini, masih ada keluarga di Kisar yang memiliki nama keluarga Belanda. Pengaruh Eropa juga masih dapat ditemukan dalam arsitektur bangunan di pulau ini.
Pada tahun 1848, Benteng Vollenhoven digambarkan sebagai sebuah struktur berbentuk persegi, dengan dinding setinggi tiga meter dan tebal satu meter, terbuat dari batu karang. Benteng ini juga memiliki bastion (menara penjagaan) di dua sudut yang berlawanan, serta gerbang utama di sisi timur.
Sementara itu, Benteng Delfshaven berada dalam kondisi yang lebih buruk. Seiring berjalannya waktu, keadaan semakin berubah, dan kini sisa-sisa Benteng Vollenhoven semakin berkurang, begitu pula dengan Benteng Delfshaven. Dari Benteng Delfshaven, hanya beberapa fragmen dinding yang tersisa di Kota Lama. Dahulu, benteng ini memiliki dimensi 21 x 28 meter, namun kini hanya puing-puingnya yang dapat ditemukan.
Benteng Kota Lama (Wokam-Aru)


Tidak banyak yang diketahui tentang benteng di Wokam yang untuk waktu yang lama akan menjadi benteng Belanda paling timur di kepulauan tersebut. Benteng ini terletak di dalam kepulauan Aru, selatan New Guinea. Saat ini, benteng dan desa terdekat dikenal sebagai Kota Lama, yang berarti kota tua. Wokam adalah pemukiman terbesar di Kepulauan Aru. Pada tahun 1659, VOC membangun benteng di sini untuk mengendalikan pertumbuhan dan perdagangan pala di pulau tersebut. Sejarawan Belanda François Valentyn mengunjungi pos tersebut sekitar akhir abad ke-17. Ia mencatat bahwa benteng tersebut terdiri dari palisade dan dijaga oleh seorang sersan, seorang kopral dan sekitar 10 prajurit. Pos VOC yang terpencil ini tampaknya ditinggalkan pada tahun 1792 setelah pemberontakan lokal.
Pada abad kesembilan, beberapa pengamat Belanda mencatat reruntuhan benteng tersebut, yang tampaknya telah dibangun dari batu pada suatu saat, dengan menara pertahanan blok. Sisa-sisa struktur ini, sebuah sumur, dan gereja yang dibangun di sampingnya masih digunakan pada tahun 1840 dan masih terlihat hingga hari ini. Reruntuhan berdiri sekitar 20 meter dari garis air di tengah perkebunan kelapa. Segmen dinding yang masih berdiri membentuk dua ruangan dengan ukuran masing-masing 10 x 14,5 meter. Sisa-sisa tersebut sebagian besar tertutup tanaman.
Baterai Batavia (Banda)


Baterai Batavia adalah salah satu struktur pertahanan baru yang dibangun dengan tergesa-gesa pada akhir abad ke-18 untuk melindungi Banda dari invasi Inggris. Tugas utama baterai-baterai ini adalah menembaki kapal-kapal yang mendekat dan mencegah pendaratan; baterai ini bukanlah bangunan pertahanan yang dapat dipertahankan secara menyeluruh seperti benteng-benteng yang lebih besar. Batavia dan baterai serupa, Sibergsburg, dibangun di Gunung Api untuk mengawasi Selat Lonthor antara Lonthor dan Gunung Api.
Namun, pada akhirnya baterai-baterai ini tidak banyak membantu Belanda; ketika Inggris menyerang pada tahun 1796, Banda dengan cepat menyerah. Pada tahun 1803, Banda dikembalikan kepada Belanda berdasarkan ketentuan Perjanjian Amiens. Namun, pada tahun 1810, ketika konflik kembali berkecamuk, pertahanan Banda sekali lagi dengan cepat jatuh ke tangan Inggris.
Bahkan pada tahun 1803, ketika Inggris mengembalikan Banda kepada Belanda, baterai-baterai tersebut sudah dalam kondisi rusak, dan baterai itu dengan cepat berubah menjadi reruntuhan. Saat ini, masih ada beberapa sisa yang dapat ditemukan, tetapi bentuk dasar baterai tersebut sudah tidak dapat diidentifikasi.
Kesimpulan
Benteng-benteng yang dibangun oleh VOC di Ambon dan kepulauan sekitarnya memiliki peran penting dalam mengamankan monopoli perdagangan rempah-rempah Belanda. Benteng-benteng ini tidak hanya berfungsi sebagai pertahanan militer, tetapi juga sebagai pusat administrasi dan simbol kekuasaan kolonial di Maluku.
Namun, seiring dengan menurunnya dominasi VOC dan meningkatnya perlawanan dari penduduk setempat, banyak benteng ini yang akhirnya ditinggalkan dan hancur. Beberapa benteng, seperti Benteng Victoria dan Benteng Belgica, masih berdiri hingga saat ini dan menjadi situs sejarah yang dilestarikan.
Benteng-benteng ini menjadi saksi bisu dari sejarah kolonialisme di Indonesia serta perjuangan rakyat Maluku dalam melawan penjajahan.
Sumber: Atlas of Mutual Heritage