Perahu Tempur Maluku di Pesisir Australia: Jejak Kontak Lintas Laut yang Nyaris Terlupakan

Share:

Di sebuah tebing berbatu di wilayah barat laut Arnhem Land, Australia—tepatnya di kawasan yang dikenal sebagai Awunbarna atau “Gunung Berongga”—dua lukisan perahu kuno tersimpan dalam diam selama ratusan tahun. Namun, ini bukan sekadar gambar nelayan atau kapal dagang biasa. Kedua perahu itu dilukis dengan detail luar biasa: tiang utama, layar persegi panjang, dayung, bendera segitiga, bahkan hiasan haluan berbentuk lingkaran bersinar—yang oleh para ahli disebut sebagai sun wheel atau “roda matahari”. Yang lebih mengejutkan lagi, perahu-perahu ini bukan milik orang Makassar dari Sulawesi—kelompok pelaut Asia Tenggara yang paling dikenal dalam sejarah kontak awal dengan Australia—melainkan berasal dari Maluku Tenggara, khususnya dari Kepulauan Tanimbar.

Penemuan ini—yang dipublikasikan (2023) dalam jurnal Historical Archaeology—membuka lembaran baru dalam narasi kontak antarbudaya di kawasan utara Australia. Untuk pertama kalinya, seni cadas Aborigin memberikan bukti arkeologis langsung bahwa bukan hanya Makassar yang pernah melintasi Selat Arafuru menuju pesisir Australia, tetapi juga pelaut dari kepulauan yang jauh di timur Nusantara: Maluku.

Seni Cadas yang Menceritakan Kisah Perang dan Perdagangan

Lukisan perahu di Awunbarna, yang diberi kode Awunbarna 1 dan Awunbarna 2, berbeda dari kebanyakan gambar kapal dalam seni cadas Arnhem Land. Mayoritas gambar kapal di wilayah tersebut menggambarkan perahu Makassar—kapal penangkap teripang berlambung lebar dan tinggi—atau kapal Eropa seperti lugger dan kapal uap dari era kolonial akhir abad ke-19. Namun, kedua perahu di Awunbarna memiliki ciri khas yang sangat berbeda:

  • Lambung panjang dan rendah (low freeboard),
  • Ujung haluan dan buritan melengkung tinggi,
  • Tiang tunggal dengan layar persegi panjang,
  • Bendera segitiga dan panji di kedua ujung kapal,
  • Hiasan haluan berupa “roda matahari” yang bersinar.

Ciri-ciri ini sangat mirip dengan perahu tempur tradisional Maluku—yang dikenal sebagai korakora, belang, atau arumbai. Perahu-perahu ini bukan digunakan untuk menangkap teripang atau berdagang biasa, melainkan sebagai kapal perang seremonial yang digunakan dalam ekspedisi tempur, perburuan kepala, dan penangkapan budak. Mereka dihiasi dengan papan haluan (kora ulu) dan papan buritan (kora muri) yang diukir rumit—simbol kehormatan, kekuatan, dan status sosial dalam budaya Maluku Tenggara.

Salah satu contoh nyata papan haluan semacam itu kini disimpan di Metropolitan Museum of Art, New York, dengan tinggi mencapai 163 cm. Dalam tradisi Maluku, papan-papan ini hanya dipasang saat perahu digunakan untuk misi penting, dan dilepas serta disimpan saat tidak digunakan.

Mengapa Perahu Maluku Sampai di Australia?

Lalu, bagaimana mungkin perahu tempur dari Kepulauan Tanimbar—yang terletak lebih dari 1.000 km di utara Australia—bisa muncul dalam seni cadas Arnhem Land?

Ada dua kemungkinan utama:

  1. Pelaut Maluku benar-benar mengunjungi pesisir utara Australia, mungkin untuk mencari teripang, mutiara, kulit penyu, atau bahkan budak—jauh sebelum atau bersamaan dengan aktivitas Makassar.
  2. Orang Aborigin sendiri yang pernah bepergian ke kepulauan Maluku—baik sebagai kru kapal, tawanan, atau tamu dagang—dan melihat langsung perahu-perahu tempur ini, lalu menggambarkannya setelah kembali ke tanah air.

Bukti historis mendukung kemungkinan pertama. Laporan dari tahun 1645 oleh Adriaen Dortsman, seorang penjelajah Belanda, menyebutkan bahwa penduduk “pulau-pulau di tenggara Banda” (termasuk Tanimbar dan Aru) sering berlayar ke pesisir utara Australia. Mereka bukan hanya penangkap ikan, tetapi juga pelaut yang terampil dan berani—dikenal karena ekspedisi tempur jarak jauh dan jaringan perdagangan maritim yang luas.

Selain itu, peneliti linguistik Antoinette Schapper (2021) menemukan kata pinjaman dari bahasa Maluku dalam bahasa Aborigin di Australia utara—khususnya untuk menyebut penyu sisik. Ini mengindikasikan kontak langsung yang cukup intens, bahkan sebelum era teripang Makassar berkembang pesat pada abad ke-18.

Makna Simbolis: Kekuasaan, Ancaman, dan Identitas

Yang menarik, seniman Aborigin tidak sembarang memilih kapal untuk dilukis. Di banyak situs, kapal Makassar digambarkan sebagai bagian dari hubungan yang relatif damai—nelayan yang datang setiap musim, berdagang, dan berinteraksi secara resiprokal. Namun di Awunbarna, yang dipilih adalah perahu perang.

Ini menunjukkan bahwa kontak dengan pelaut Maluku mungkin tidak selalu damai. Perahu-perahu ini adalah simbol kekuatan militer, ancaman, dan dominasi. Bendera segitiga dan sun wheel bukan hanya hiasan—mereka adalah tanda bahwa kapal tersebut “panas” (hot), dalam arti siap berperang atau menjalankan misi kekerasan.

Dalam budaya Tanimbar, sun wheel di haluan perahu melambangkan status tempur dan keberanian. Menurunkan bendera setelah pertempuran berarti “kekuatan magis telah dinonaktifkan” dan kemenangan dirayakan dengan pesta. Jadi, bagi masyarakat Aborigin yang melihat kapal ini—entah di laut Australia atau di pelabuhan Maluku—kehadirannya pasti meninggalkan kesan mendalam.

Menggugat Narasi Tunggal “Makassan”

Temuan ini juga mengguncang asumsi lama bahwa semua kontak maritim di utara Australia hanya melibatkan “orang Makassar”. Faktanya, awak kapal yang datang dari Nusantara sangat beragam: Bugis, Jawa, Madura, Banjar, Kei, Tanimbar, Aru, dan banyak lagi. Mereka semua mungkin disebut “Makassar” dalam dokumen kolonial—karena Makassar adalah pusat perdagangan—namun secara etnis, bahasa, dan budaya, mereka sangat berbeda.

Dengan mengidentifikasi perahu Maluku di seni cadas, para peneliti kini bisa mulai mengurai kompleksitas sejarah kontak awal—bukan hanya sebagai kisah perdagangan damai, tapi juga sebagai medan pertemuan yang kadang penuh kekerasan, ketegangan, dan pertukaran budaya yang kompleks.

Jejak yang Hampir Hilang, Kini Ditemukan

Keberadaan perahu Maluku di Arnhem Land juga memiliki implikasi kronologis penting. Karena tidak ada laporan Eropa abad ke-19 yang menyebutkan kapal tempur seperti ini di perairan Australia, kemungkinan besar kunjungan mereka terjadi sebelum tahun 1800—mungkin bahkan sejak awal abad ke-17. Ini mendukung hipotesis bahwa kontak maritim antara Australia utara dan Asia Tenggara lebih awal dan lebih beragam daripada yang selama ini diyakini.

Lukisan di Awunbarna, dengan demikian, bukan sekadar gambar. Mereka adalah arsip visual dari pertemuan lintas budaya yang nyaris lenyap dari sejarah tertulis—namun tersimpan dalam pigmen ocher merah di dinding batu selama berabad-abad.

Penutup: Menulis Ulang Sejarah dari Batu

Penemuan perahu perang Maluku di Arnhem Land mengingatkan kita bahwa sejarah tidak hanya ditulis oleh penakluk atau pedagang, tapi juga oleh pelukis gua, yang dengan sapuan kuas dari bulu burung atau jari tangan, merekam dunia yang mereka saksikan.

Kini, berkat kolaborasi antara arkeolog, ahli kelautan, sejarawan, dan pemilik tanah adat seperti Charlie Mangulda dari suku Amurdak, kisah ini perlahan dihidupkan kembali—bukan sebagai narasi pinggiran, tapi sebagai bagian utuh dari sejarah global Australia.

Dan mungkin, di gua-gua lain di Arnhem Land yang belum dieksplorasi, masih tersimpan jejak kapal-kapal lain—dari Bali, dari Filipina, dari Timor—yang menunggu gilirannya untuk bercerita.


Referensi Utama:
de Ruyter, M., Wesley, D., van Duivenvoorde, W., Lewis, D., & Johnston, I. (2023). Moluccan Fighting Craft on Australian Shores: Contact Rock Art from Awunbarna, Arnhem Land. Historical Archaeology, 57, 14–31. https://doi.org/10.1007/s41636-023-00390-7


error: Content is protected !!