Prof. Dr. Gerrit Augustinus Siwabessy, yang lebih dikenal dengan julukan “Upuleru”, adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia modern. Lahir pada 19 Agustus 1914 di Ullath, Saparua, Maluku Tengah, Siwabessy tidak hanya menjadi dokter dan ilmuwan, tetapi juga pelopor dalam bidang kesehatan masyarakat dan teknologi nuklir di Indonesia. Ia menjabat sebagai Menteri Kesehatan Republik Indonesia selama 12 tahun (1966–1978), periode terlama dalam sejarah jabatan tersebut, serta memimpin Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) dari 1964 hingga 1973. Hingga wafatnya pada 11 November 1982 di Jakarta, Siwabessy meninggalkan warisan yang terus dikenang melalui infrastruktur kesehatan, kemajuan teknologi nuklir, dan dedikasinya pada kemajuan bangsa.
Latar Belakang dan Kehidupan Awal

Gerrit Siwabessy lahir di desa kecil Ullath, Saparua sebagai putra bungsu dari empat bersaudara, dari keluarga petani cengkeh. Ayahnya, Enoch Siwabessy, meninggal ketika Gerrit berusia satu tahun, meninggalkan ibunya, Naatje Manuhutu, untuk membesarkan empat anak. Naatje kemudian menikah lagi dengan Yakub Leuwol, seorang guru sekolah dasar yang memberikan stabilitas sosial dan ekonomi bagi keluarga. Latar belakang Maluku-nya membentuk identitas Siwabessy, namun juga menghadirkan tantangan, terutama selama masa pendudukan Jepang dan revolusi kemerdekaan, ketika orang-orang Ambon sering dicurigai sebagai “antek Belanda” karena hubungan historis mereka dengan kolonial Belanda.
“Beta senantiasa menyertai ‘tuan guru’ Leuwol yang berturut-turut ditempatkan sebagai guru di Larike, Tawiri, dan Lateri,” kenang Siwabessy, menggambarkan perjuangan pendidikan awalnya di Ambon bersama ayah tirinya, Yacub Leuwol.
Meski berasal dari daerah terpencil, Siwabessy menunjukkan bakat luar biasa sejak dini. Ia menyelesaikan pendidikan MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Ambon pada 1931 dengan nilai yang begitu tinggi sehingga ia memperoleh beasiswa dari pemerintah Hindia Belanda untuk melanjutkan studi kedokteran di Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) di Surabaya. Pendidikan ini menjadi batu loncatan bagi kariernya yang gemilang.
Pendidikan
Pendidikan Siwabessy mencerminkan ketekunan dan kemampuan intelektualnya yang luar biasa di tengah keterbatasan sumber daya. Di NIAS, Surabaya, ia menyelesaikan ujian “Semi Arts” (setara Sarjana Kedokteran) pada 1941 dan menjalani praktik klinik (co-schaap). Berkat informasi dari Dr. Aziz Saleh, ia mengetahui tentang ujian Arts di Sekolah Tinggi Kedokteran Universitas Indonesia di Batavia. Bersama beberapa rekannya dari NIAS yang telah lulus ujian Semi Arts, ia berangkat ke Batavia dan berhasil lolos sebagai dokter penuh pada 15 Desember 1942, di tengah pendudukan Jepang.
Pada 1949, atas rekomendasi Dr. Johannes Leimena, Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Siwabessy memperoleh beasiswa British Council untuk belajar di Universitas London, termasuk di pusat-pusat radiologi di Manchester dan London. Di sana, ia menonjol dalam studinya dan hanya dalam tiga bulan diangkat sebagai asisten, dipercaya memimpin sebuah bangsal di Rumah Sakit Hammersmith, dan diberi sekretaris asal Inggris untuk tugas administratif—pencapaian luar biasa bagi seorang Asia pada masa itu. Ia juga mempelajari sistem kesejahteraan kesehatan Inggris, yang kemudian menjadi inspirasi bagi program Asuransi Kesehatan (Askes) di Indonesia. Selain radiologi dan radioterapi, ia berkenalan dengan para ahli fisika nuklir, kimia, dan biologi, serta mendokumentasikan penggunaan terapi radiasi untuk pengobatan kanker, yang kelak ia terapkan di Indonesia.
Perjalanan Sang Upuleru: Visi Kemanusiaan dan Inovasi
Dalam bahasa Maluku Tengah, “Upuleru” berarti “dewa” atau “pelindung”, mencerminkan kepribadiannya yang karismatik, visioner, dan inspiratif. Teman-temannya di NIAS memberikan julukan ini karena kepemimpinannya yang alami dan kemampuannya untuk memotivasi orang lain di tengah tantangan masa kolonial dan revolusi.
Julukan ini juga mencerminkan peran Siwabessy sebagai pelindung kesehatan rakyat Indonesia. Selama menjabat sebagai Menteri Kesehatan, ia dikenal sebagai sosok yang berdedikasi untuk melindungi masyarakat dari penyakit dan kemiskinan melalui program-program inovatif. Memoarnya, yang diterbitkan pada 1979 dengan judul Upuleru, menjadi bukti bagaimana ia merangkum perjuangan hidupnya sebagai pelayan bangsa. Julukan ini kini menjadi simbol warisannya sebagai tokoh yang membawa harapan dan kemajuan bagi Indonesia. Pada 1931, ia menyelesaikan pendidikan MULO di Ambon dan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi kedokteran di NIAS, Surabaya.
Dr. Meutia Farida Hatta Swasono (putri Bung Hatta), mengenang Siwabessy sebagai sosok yang ramah namun tegas. “Walaupun seorang ilmuwan yang keras hati, kalau beliau tertawa, matanya ikut tertawa,” ujarnya. Prof.Dr. Emil Salim mengenangnya seperti ini, “Siwabessy dikenal sebagai putra Ambon yang sangat nasionalis, berbeda dari stereotip orang Ambon yang sering dianggap pro-Belanda pada masa itu. Ia menjadi salah satu tokoh Ambon yang aktif dalam perjuangan kemerdekaan, memperjuangkan semangat nasionalisme melalui organisasi seperti Jong Ambon.”
Sebagai seorang radiolog, Siwabessy selalu mendorong inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Saat memperdalam pendidikannya di London pada 1949, ia melihat bagaimana pengobatan kanker di sana sudah memanfaatkan penyinaran atom. Pengalaman ini membuka wawasannya, yang kemudian ia terapkan di Indonesia, menjadi pelopor radioterapi di tanah air. Di Inggris, ia juga terkesan dengan sistem asuransi kesehatan nasional yang diperkenalkan Perdana Menteri Inggris dari Partai Sosialis. Ia menyaksikan langsung bagaimana anaknya mendapatkan layanan kesehatan gratis karena dijamin negara, sebuah pengalaman yang begitu membekas. Ketika kembali ke Indonesia, ia mengembangkan Badan Penyelenggara Dana Pemeliharaan Kesehatan (BPDPK) atau Asuransi Kesehatan (Askes) bagi pegawai negeri sipil, yang ia cita-citakan sebagai embrio asuransi kesehatan semesta, mencakup seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Visi Siwabessy tentang teknologi nuklir berfokus pada manfaat kemanusiaan, bukan kehancuran. “Yang hendak kami perlihatkan bukan daya destruktifnya yang menimbulkan malapetaka, melainkan penggunaannya untuk tujuan-tujuan yang membawa manfaat bagi kehidupan manusia,” tegasnya. Pada 1954, setelah Amerika Serikat melakukan uji coba bom hidrogen, Presiden Soekarno meresmikan Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) pada 1962, dengan Siwabessy sebagai Direktur Jenderal pertama. Ia kemudian diangkat sebagai Menteri Tenaga Atom Nasional pada 1965, merintis penggunaan teknologi nuklir untuk kesehatan, pertanian, dan energi.
Pada 1966, atas permintaan Presiden Soekarno, Siwabessy menjadi Menteri Kesehatan hingga 29 Maret 1978, melayani dua presiden dengan karakter yang sangat berbeda—Soekarno dan Soeharto. Ia meninggalkan dua terobosan besar yang masih relevan hingga kini. Pertama, keberhasilannya mengeliminasi cacar di Indonesia melalui kampanye global bersama WHO, sebuah prestasi yang mendapat penghargaan internasional. “Dengan penuh keberanian, beliau menyatakan Indonesia ikut dalam upaya global untuk menghilangkan cacar dari muka bumi, dan itu berhasil,” kenang seorang kolega. Kedua, konsep Puskesmas yang ia kembangkan menjadi model kesehatan masyarakat yang diakui dunia, menekankan tanggung jawab masyarakat terhadap kesehatannya melalui pendekatan preventif, promotif, dan pemberdayaan. Program Sarana Air Minum dan Jamban Keluarga (Samijaga) yang ia inisiasi juga menjadi cikal bakal Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), yang kemudian diadopsi sebagai salah satu tujuan MDGs (Millennium Development Goals). Siwabessy memiliki visi jauh ke depan, memahami bahwa lingkungan yang sehat adalah kunci untuk rakyat yang sehat.
“Sebetulnya beta tidak terlalu tertarik pada radiologi. Semasa mahasiswa beta lebih banyak tertarik pada bidang fisika, dan karena hubunganku dengan dr. Latumeten, kepala Rumah Sakit Jiwa Lawang, beta tertarik pula pada bidang psikiatri (ilmu jiwa klinis). Namun demi kelangsungan hidup, beta rela bekerja dalam bidang radiologi. Dengan demikian beta masuk ke bidang yang sama sekali baru bagiku. Tidak kuduga ketika itu, bahwa keputusan yang kuambil secara terpaksa ini akan menentukan jalan hidup kemudian, baik pada masa krisis pada pendudukan Jepang maupun dalam masa revolusi dan masa merdeka,” tulis Siwabessy dalam memoarnya “Upuleru”.
Semasa hidupnya, Siwabessy menerima banyak penghargaan penting dari dalam dan luar negeri. Ia dikenang sebagai sosok dengan integritas tinggi, selalu konkret dalam tindakan, dan mampu menginspirasi orang-orang di sekitarnya. Perjalanan Sang Upuleru adalah bukti bagaimana seorang putra Maluku dapat mengubah wajah kesehatan dan teknologi Indonesia melalui visi kemanusiaan dan inovasi.
Karier dan Kontribusi
1. Karier Awal dan Perjuangan Kemerdekaan
Pada 1941, akibat situasi darurat Perang Dunia II, Siwabessy ditempatkan sebagai dokter di pusat pengeboran minyak Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) di Cepu, Jawa Tengah. Di sana, ia menghadapi diskriminasi rasial dari seorang perawat Belanda, Zuster den Helder, yang meragukan kemampuannya karena ia pribumi. Namun, Siwabessy membuktikan kompetensinya, mendapatkan pengakuan dari pimpinan rumah sakit. Selama pendudukan Jepang, ia menghadapi kecurigaan karena latar belakang Ambon-nya, tetapi tetap setia pada perjuangan kemerdekaan.
Setelah kemerdekaan, Siwabessy semakin aktif dalam organisasi nasional, bertemu dengan tokoh-tokoh seperti Dr. Johannes Leimena, dan terlibat dalam Vereniging Ambonsche Studenten (VAS) serta Memadjoekan Cultuur Maloekoe (MCM), yang mempromosikan budaya Maluku sekaligus semangat nasionalisme. Peran ini menunjukkan komitmennya untuk menyatukan identitas lokal dan nasional.
2. Menteri Kesehatan RI (1966–1978)
Sebagai Menteri Kesehatan selama 12 tahun, Siwabessy memimpin transformasi sistem kesehatan nasional di tengah tantangan politik dan ekonomi pasca-Gestapu dan transisi ke Orde Baru. Kontribusinya meliputi:
- Pemberantasan Penyakit Menular: Siwabessy memimpin kampanye eradikasi cacar bersama World Health Organization (WHO), berhasil menyatakan Indonesia bebas cacar dalam enam tahun (1969–1974). Ia juga mencapai status bebas polio pada 1974, sebuah prestasi yang diakui secara internasional oleh WHO.
- Pembangunan Infrastruktur Kesehatan: Ia memperluas jaringan pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas), membawa layanan kesehatan ke daerah-daerah terpencil. Program ini menjadi tulang punggung sistem kesehatan Indonesia hingga kini.
- Program Samijaga: Melalui Sarana Air Minum dan Jamban Keluarga (Samijaga), Siwabessy meningkatkan akses air bersih dan sanitasi, mengurangi penyak behavioral seperti diare dan kolera.
- Cikal Bakal BPJS Kesehatan: Ia mendirikan Badan Penyelenggara Dana Pemeliharaan Kesehatan, yang menjadi dasar sistem jaminan kesehatan nasional modern, terinspirasi dari sistem kesejahteraan kesehatan yang ia pelajari di Inggris.
- Pendidikan dan Pelatihan: Siwabessy meningkatkan pelatihan tenaga medis dan mengirim dokter serta perawat untuk belajar ke luar negeri, bekerja sama dengan WHO dan UNICEF untuk program nutrisi dan kesehatan ibu-anak.
- Pengendalian Obat dan Makanan: Ia memperkenalkan regulasi untuk memastikan keamanan obat dan makanan, meningkatkan standar kesehatan masyarakat.
3. Pionir Teknologi Nuklir
Sebagai Menteri Badan Tenaga Atom Nasional (1964–1973), Siwabessy dikenal sebagai “Bapak Atom Indonesia”. Ia memimpin pembangunan reaktor nuklir serbaguna di Bandung, meskipun Indonesia saat itu kekurangan sumber daya manusia dan teknologi. Setelah kembali dari London, ia mendirikan Institut Radiologi di bawah Kementerian Kesehatan dan memperkenalkan radioterapi untuk pengobatan kanker, yang kini terlihat di Departemen Radioterapi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dan fasilitas kedokteran nuklir di RSPAD Gatot Subroto. Kontribusinya di bidang ini berawal dari pengalamannya mempelajari terapi radiasi di London, di mana ia berinteraksi dengan ahli fisika nuklir, kimia, dan biologi.
Pada 1952, setelah ledakan bom hidrogen oleh Amerika Serikat, Presiden Soekarno menunjuk Siwabessy untuk memimpin Institut Radiologi guna menangani isu dampak nuklir. Pada 1954, ia mendirikan Komite Penyelidikan Radioaktivitas dan Lembaga Tenaga Atom di bawah Sekretariat Negara, serta Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam di Universitas Indonesia, di mana ia menjadi Dekan pertama (1963–1965). Penyelidikan yang dipimpinnya di wilayah timur Indonesia memastikan tidak adanya kontaminasi debu radioaktif dari uji coba nuklir di Pasifik, menenangkan kekhawatiran nasional. Ia juga memperluas pemahaman bahwa teknologi nuklir tidak hanya untuk persenjataan atau energi, tetapi juga untuk kesehatan, pertanian, peternakan, industri, dan lingkungan.
Pada 1962, Soekarno meresmikan Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN), dengan Siwabessy sebagai Direktur Jenderal pertamanya. Ia diangkat sebagai Menteri BATAN pada 1965, memimpin pengembangan teknologi nuklir untuk tujuan damai. Reaktor nuklir di Tangerang Selatan, yang dinamakan Reaktor Serbaguna G.A. Siwabessy, diresmikan pada 20 Agustus 1987 sebagai penghormatan atas visinya. Reaktor ini, terbesar di Asia Tenggara, menjadi simbol kemajuan Indonesia di bidang teknologi nuklir. Untuk kontribusinya, Siwabessy dianugerahi Bintang Mahaputera III pada 1976, mengakui perannya dalam memajukan energi nuklir di Indonesia.
4. Peran Politik dan Sosial
Siwabessy memainkan peran penting dalam transisi politik dari Soekarno ke Soeharto. Pada 1966–1967, ia memimpin pembersihan elemen komunis di Kementerian Kesehatan, memastikan stabilitas institusi di tengah gejolak politik. Ia juga mendukung ideologi Pancasila sebagai landasan negara dan menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) hingga wafatnya. Dedikasinya pada persatuan nasional terlihat dari keterlibatannya dalam organisasi budaya dan nasionalis, seperti Jong Ambon, yang menjembatani identitas Maluku dengan semangat kebangsaan Indonesia.
Tantangan dan Keunikan
Siwabessy menghadapi berbagai tantangan, mulai dari diskriminasi rasial di Cepu hingga kecurigaan politik selama pendudukan Jepang dan revolusi. Meski awalnya tidak berminat pada radiologi, ia menguasai bidang ini dan menjadikannya alat untuk memajukan kesehatan Indonesia. Kemampuannya untuk beradaptasi dengan konteks politik yang berubah—dari kolonial, pendudukan Jepang, kemerdekaan, hingga Orde Baru—menunjukkan kecerdasan strategisnya. Sebagai putra Maluku, ia berhasil mengatasi stigma regional dan membuktikan bahwa talenta dari daerah terpencil dapat bersinar di panggung nasional.
Penghargaan dan Warisan
Siwabessy menerima Bintang Mahaputera Utama (1968) dan Bintang Mahaputera III (1976) atas jasanya di bidang kesehatan dan nuklir. Ia juga dianugerahi banyak perhargaan WHO untuk keberhasilan pemberantasan cacar dan polio. Warisannya diabadikan dalam:
- Jalan Prof. Dr. G.A. Siwabessy di kampus Universitas Indonesia, Depok (diresmikan 2009).
- Auditorium Kementerian Kesehatan yang dinamakan sesuai namanya.
- Reaktor Serbaguna G.A. Siwabessy di Tangerang Selatan, simbol kontribusinya di bidang nuklir.
- Publikasi: Memoar Upuleru (1979) dan buku peringatan Sang Upuleru: Peringatan 100 Tahun Prof. Dr. G.A. Siwabessy (2014) mengabadikan perjuangannya.
Pada 2023, Universitas Pattimura dan Pemerintah Provinsi Maluku mengusulkan Siwabessy sebagai Pahlawan Nasional, mengakui dampak besar karyanya bagi Indonesia. Wakil Gubernur Maluku, Barnabas Natanhiel Orno, menegaskan bahwa Siwabessy memenuhi semua syarat sebagai akademisi, pejuang, dan budayawan, serta berperan dalam momen-momen penting bagi bangsa, termasuk pengembangan teknologi nuklir dan fondasi kesehatan nasional.
Penghargaan Siwabessy Awards dan G.A. Siwabessy Memorial Lecture
Untuk menghormati kontribusi Siwabessy di bidang teknologi nuklir, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) menyelenggarakan Siwabessy Award dan G.A. Siwabessy Memorial Lecture. Penghargaan ini, yang dimulai pada 2022, bertujuan untuk mengapresiasi individu atau tokoh dari kalangan akademisi, profesional, industri, atau perusahaan yang telah menghasilkan prestasi dan inovasi luar biasa dalam bidang ketenaganukliran di Indonesia. Siwabessy Award memberikan hadiah sebesar Rp400 juta, sementara G.A. Siwabessy Memorial Lecture, sebuah orasi ilmiah, memberikan penghargaan Rp25 juta kepada individu yang telah berkontribusi dalam penemuan, pengembangan, dan penyebarluasan ilmu pengetahuan nuklir.
Pada 2024, untuk pertama kalinya, Siwabessy Award diberikan kepada Prof. Dr. Zaki Su’ud, M.Eng., Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung (ITB). Zaki, yang menyelesaikan studi magister dan doktoral di Tokyo Institute of Technology, dikenal atas keahliannya dalam merancang reaktor nuklir dan sistem keamanannya, serta pengembangan komputer klaster untuk analisis reaktor nuklir yang canggih. Pada tahun yang sama, Dr. Liem Peng Hong, seorang ahli nuklir diaspora Indonesia yang berkarya di Jepang, menyampaikan G.A. Siwabessy Memorial Lecture. Liem, lulusan Universitas Gadjah Mada dan Tokyo Institute of Technology, berkontribusi dalam penelitian desain reaktor riset fluks tinggi dan bekerja di Pusat Reaktor Serba Guna G.A. Siwabessy. Ia juga memiliki pengalaman langsung dengan insiden nuklir di Jepang, seperti kecelakaan JCO Tokaimura (1999) dan Fukushima Dai-Ichi (2011).
Meskipun dimulai pada 2022, Siwabessy Award tidak menemukan penerima yang memenuhi kriteria pada dua tahun pertama (2022–2023). Pada 2023, BRIN menyelenggarakan G.A. Siwabessy Memorial Lecture dengan mengundang dua ahli radiologi dari Tsinghua University, Dr.-Ing. Yuliang Sun dan Dr. Jun Sun, untuk berbagi wawasan tentang teknologi nuklir. Keberhasilan pemberian penghargaan pada 2024 menandakan komitmen BRIN dan LPDP untuk memajukan sumber daya manusia di bidang nuklir, sejalan dengan visi Siwabessy untuk memanfaatkan teknologi nuklir bagi kesehatan, pertanian, industri, dan lingkungan.
Kesimpulan
Prof. Dr. G.A. Siwabessy, atau “Upuleru”, adalah simbol dedikasi, inovasi, dan pelayanan bagi bangsa. Dari pemberantasan penyakit menular hingga pengembangan teknologi nuklir, ia membuktikan bahwa visi dan kerja keras dapat mengatasi keterbatasan. Julukan “Upuleru” tidak hanya mencerminkan kepemimpinannya, tetapi juga semangatnya untuk melindungi dan memajukan rakyat Indonesia. Warisannya, dari Puskesmas hingga Reaktor Serbaguna G.A. Siwabessy, serta penghargaan Siwabessy Award yang dinamakan atas namanya, terus membentuk wajah kesehatan dan teknologi Indonesia modern. Sebagai putra Maluku yang menjadi kebanggaan nasional, Siwabessy layak dihormati sebagai salah satu pahlawan terbesar Indonesia.