Jumat Agung: Makna, Sejarah, dan Tradisi

Share:

Jumat Agung adalah hari dalam kalender Kristen yang memperingati penyaliban Yesus Kristus di Yerusalem sekitar 2.000 tahun yang lalu. Kematian dan kebangkitan Kristus menjadi inti ajaran Kristen, di mana kematian-Nya dipahami sebagai pengorbanan untuk dosa seluruh dunia, dan kebangkitan-Nya sebagai kemenangan atas kematian. Jumat Agung jatuh pada akhir Pekan Suci, yang dimulai dengan Minggu Palma—hari ketika Yesus masuk ke Yerusalem dengan penuh kemenangan—dan berakhir dengan penangkapan, pengadilan, serta eksekusi-Nya oleh otoritas Romawi.

Mengapa Disebut “Jumat Agung”?

Asal-usul istilah “Jumat Agung” tidak sepenuhnya jelas. Bukti menunjukkan bahwa orang Anglo-Saxon dulu menyebutnya sebagai “Long Friday” (Jumat Panjang), dan istilah ini masih digunakan oleh orang Denmark. Oxford English Dictionary mencatat referensi tentang “Guode Friday” dalam teks abad ke-13 berjudul South English Legendary, yang menyiratkan bahwa kata “guode” berarti “suci.” Beberapa teori lain berpendapat bahwa istilah ini berasal dari bahasa Jerman, Gottes Freitag, yang berarti “Jumat Tuhan.” Menurut BBC, istilah Good Friday pertama kali muncul dalam teks The South English Legendary sekitar tahun 1290.

Kisah Penyaliban dalam Kitab Perjanjian Baru

Empat Injil dalam Perjanjian Baru adalah satu-satunya sumber sejarah yang menceritakan peristiwa menjelang penyaliban Yesus. Meskipun mereka memiliki kisah utama yang serupa, terdapat perbedaan dalam beberapa rincian. Yesus dieksekusi selama perayaan Paskah Yahudi, ketika Yerusalem dipenuhi oleh para peziarah. Saat itu, kota tersebut berada di bawah pendudukan Romawi.

Dalam Injil, Yesus dielu-elukan oleh kerumunan orang ketika memasuki Yerusalem dengan menunggangi keledai. Injil Sinoptik (Matius, Markus, dan Lukas) mencatat bahwa Yesus masuk ke Bait Suci, membalikkan meja para penukar uang, dan mengusir para pedagang (Markus 11:18-19). Sementara itu, dalam Injil Yohanes, peristiwa ini diletakkan di awal pelayanan Yesus.

Pada malam sebelum penyaliban-Nya, Yesus makan malam bersama murid-murid-Nya dalam Perjamuan Terakhir. Setelah itu, Ia pergi ke Taman Getsemani untuk berdoa. Di sana, Ia ditangkap oleh pasukan yang dikirim oleh imam-imam kepala dan pemuka Yahudi. Injil Yohanes menyebutkan bahwa pasukan yang menangkap Yesus termasuk sekelompok tentara Romawi.

Proses Pengadilan Yesus

Menurut Injil Sinoptik, Yesus diinterogasi oleh Sanhedrin (dewan pemimpin agama Yahudi) pada pagi hari. Dalam Injil Yohanes, Yesus pertama-tama diinterogasi oleh Hanas, mertua dari Imam Besar Kayafas, sebelum akhirnya dihadapkan ke Kayafas sendiri. Setelahnya, Yesus diserahkan kepada Pontius Pilatus, gubernur Romawi di Yudea, dengan tuduhan menghujat agama, menyesatkan bangsa, menentang pajak kepada Kaisar, dan mengklaim dirinya sebagai raja (Lukas 23:2).

Pilatus sendiri tidak menemukan kesalahan dalam diri Yesus. Namun, karena tekanan dari para pemimpin Yahudi dan kerumunan orang yang menuntut eksekusi, ia akhirnya menyerahkan Yesus untuk disalibkan.

Bagaimana Yesus Dieksekusi?

Yesus dicambuk, dipermalukan, dan akhirnya dibawa ke Golgota, tempat penyaliban. Dalam perjalanan, seorang pria bernama Simon dari Kirene dipaksa untuk membantu-Nya memikul kayu salib. Yesus disalibkan di antara dua penjahat. Menurut Injil Lukas, salah satu penjahat menghina-Nya, tetapi yang lain membela-Nya dan dijanjikan tempat di surga oleh Yesus.

Di kayu salib, Yesus mengucapkan beberapa perkataan terakhir. Dalam Injil Matius dan Markus, kata-kata terakhir-Nya adalah kutipan dari Mazmur 22: “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Sementara itu, dalam Injil Lukas, Ia menyerahkan roh-Nya kepada Tuhan dengan berkata, “Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan roh-Ku.” Dalam Injil Yohanes, kata-kata terakhir-Nya adalah: “Sudah selesai.”

Menurut Injil, berbagai kejadian luar biasa menyertai kematian Yesus. Kegelapan meliputi seluruh negeri dari tengah hari hingga pukul tiga sore, dan tirai Bait Suci terbelah dua (Lukas 23:45). Injil Matius juga mencatat adanya gempa bumi, bebatuan yang terbelah, dan kuburan yang terbuka, serta orang-orang kudus yang telah meninggal bangkit kembali (Matius 27:51-52).

Penderitaan, Harapan, dan Keselamatan

Dari sudut pandang serdadu Romawi yang bertugas di Golgota, hari itu tampak seperti eksekusi biasa. Namun, ketika ia menatap sosok yang tergantung di kayu salib, ada sesuatu yang berbeda. Pria ini tidak meronta, tidak mengutuk. Mata-Nya yang penuh luka justru memancarkan kasih yang dalam. “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Kalimat itu menghantam hatinya seperti gelombang besar. Ia telah menyalibkan banyak orang, tetapi belum pernah melihat seseorang mati dengan penuh pengampunan.

Ketika langit menghitam dan bumi bergetar, serdadu itu jatuh berlutut. “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!” Seruannya menggema di antara pekikan ketakutan orang-orang yang berlarian. Dalam sekejap, ia menyadari bahwa Jumat ini bukanlah sekadar hari eksekusi, tetapi hari penebusan dunia.

Siapa yang Bertanggung Jawab atas Kematian Yesus?

Dalam Injil, para penulis berusaha membebaskan Pilatus dari tanggung jawab dalam eksekusi Yesus dan menyalahkan pemuka agama Yahudi. Namun, beberapa bagian dari narasi ini telah digunakan untuk membenarkan antisemitisme sepanjang sejarah. Dalam Injil Matius, Pilatus membasuh tangannya di hadapan orang banyak, menyatakan bahwa ia tidak bersalah atas darah Yesus. Kerumunan kemudian menjawab: “Biarlah darah-Nya tertanggung atas kami dan anak-anak kami” (Matius 27:24-25), ayat yang sering disalahgunakan untuk membenarkan kebencian terhadap orang Yahudi.

Sejarawan modern berpendapat bahwa penyaliban adalah metode eksekusi Romawi untuk pemberontak politik. Oleh karena itu, dari sudut pandang historis, Yesus dieksekusi karena dianggap sebagai ancaman politik oleh Romawi.

Dimana Yesus Dikuburkan?

Tempat tradisional penyaliban, pemakaman, dan kebangkitan Yesus sekarang ditandai oleh Gereja Makam Kudus di Yerusalem. Situs ini diyakini telah dibangun atas perintah Kaisar Konstantinus Agung setelah kunjungan ibunya, Helena, ke Tanah Suci pada abad ke-4. Di dalamnya terdapat bukit yang diyakini sebagai Kalvari dan makam batu dari abad pertama.

Situs lain yang diusulkan sebagai makam Yesus adalah Makam Taman, yang ditemukan pada tahun 1867 di luar tembok kota dekat Gerbang Damaskus.

Bagaimana Jumat Agung Dikenang?

Jumat Agung diperingati oleh umat Kristen di seluruh dunia dengan ibadah dan ritual khusus. Salah satu tradisi paling terkenal adalah perjalanan melintasi 14 stasiun salib yang menggambarkan perjalanan Yesus menuju penyaliban. Stasiun-stasiun ini terdiri dari berbagai peristiwa yang dicatat dalam Injil, seperti saat Yesus dijatuhi hukuman mati oleh Pilatus hingga pemakaman-Nya.

Di Yerusalem, para peziarah mengikuti Via Dolorosa (Jalan Kesengsaraan), yang diyakini sebagai rute yang ditempuh Yesus menuju Golgota. Di Roma, Paus memimpin prosesi Via Crucis menuju Koloseum. Drama publik besar-besaran juga digelar di berbagai belahan dunia, seperti Oberammergau Passion Play di Bavaria yang sudah dipentaskan setiap 10 tahun sejak 1634, serta peragaan ulang Passion of Christ di Meksiko yang menarik jutaan pengunjung.

Jumat Agung adalah hari refleksi dan perenungan bagi umat Kristen, mengingat pengorbanan Yesus bagi umat manusia serta harapan akan kebangkitan dan kehidupan yang kekal.


error: Content is protected !!