Sebuah kalimat dari podium pers Jerusalem telah menyayat jutaan hati orang Kristen sedunia. Namun di balik badai kecaman itu, ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar — dan lebih berbahaya — tentang bagaimana kekuasaan modern meminjam bahasa iman untuk membenarkan perang.
Ada momen-momen dalam sejarah ketika sebuah kalimat tunggal — entah disengaja atau tidak — membuka jurang yang selama ini tertutup rapat di bawah permukaan. Pada malam 19 Maret 2026, di hadapan para wartawan asing di Jerusalem, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengucapkan kalimat yang mungkin akan diingat bukan sebagai kutipan dari buku sejarah, melainkan sebagai batu karang yang mengubah arus sungai geopolitik.
“History proves that, unfortunately and unhappily, Jesus Christ has no advantage over Genghis Khan — because if you are strong enough, ruthless enough, powerful enough, evil will overcome good.”
BENJAMIN NETANYAHU – PM ISRAEL
“Sejarah membuktikan bahwa, sayangnya dan dengan berat hati, Yesus Kristus tidak memiliki keunggulan atas Genghis Khan — karena jika Anda cukup kuat, cukup kejam, cukup berkuasa, kejahatan akan mengalahkan kebaikan.”
Ia mengklaim itu kutipan dari Will Durant. Ia mungkin benar secara akademis. Tapi benar secara akademis dan tepat secara moral adalah dua hal yang bisa berjarak ribuan mil jauhnya. Dan malam itu, jarak itu terasa seperti jurang antara sorga dan bumi — bukan karena Netanyahu menyebut nama Yesus, melainkan karena ia menggunakan nama itu untuk melegitimasi satu doktrin yang paling tua dan paling berbahaya dalam sejarah umat manusia: bahwa kekuatan brutal adalah satu-satunya bahasa yang dipahami dunia.
Bukan Soal Kutipan — Soal Konteks yang Dipilih
Ketika Netanyahu bereaksi keesokan harinya, ia menulis di X: “I did not denigrate Jesus Christ at my news conference.” Ia menyebut Durant sebagai “pengagum besar Yesus Kristus.” Secara teknis, ini bisa dibenarkan. Will Durant memang mengagumi Yesus sebagai tokoh moral. Namun Durant juga — dalam semangat intelektual yang sama — menulis bahwa peradaban yang tidak mampu mempertahankan diri akan lenyap, tidak peduli seberapa luhur moralitasnya.
Tapi inilah masalahnya: Netanyahu tidak sedang memberikan kuliah sejarah. Ia sedang menjustifikasi serangan militer gabungan Israel-Amerika Serikat terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari 2026 — sebuah tindakan yang telah memantik perang regional dengan korban di kedua sisi perbatasan. Dan dalam konteks itu, ia memilih — dari sekian banyak kata yang tersedia baginya — untuk menyebut nama Yesus Kristus sebagai entitas yang “tidak memiliki keunggulan.”
Pilihan kata adalah pilihan moral. Seorang pemimpin negara yang berpengalaman seperti Netanyahu tahu persis apa yang ia ucapkan dan kepada siapa. Konferensi pers itu berbahasa Inggris, ditujukan kepada pers asing, dan dikonsumsi oleh dunia Barat yang mayoritasnya Kristen. Jika ini adalah “kesalahan”, maka ia adalah kesalahan yang terlalu presisi untuk disebut kecelakaan.
Pilihan kata adalah pilihan moral. Seorang pemimpin yang berpengalaman tahu persis apa yang ia ucapkan — dan kepada siapa. Tidak ada “kecelakaan” di podium seorang negarawan.
JM
Yesus vs. Jenghis Khan — Perbandingan yang Melukai Karena Tepat Menyasar
Mari kita berhenti sejenak dan rasakan berat dari perbandingan ini bagi mereka yang meyakininya. Bagi 2,4 miliar umat Kristen di seluruh dunia, Yesus Kristus bukan sekadar tokoh moral atau reformator sosial abad pertama. Ia adalah Allah yang menjelma manusia. Ia adalah Firman yang menjadi daging. Ia adalah “Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.” Ia adalah Raja di atas segala raja — bukan karena kekuatan pedang, melainkan karena kedalaman kasih yang rela mati tanpa melawan.
Jenghis Khan, sebaliknya, adalah arsitek pembantaian paling masif dalam sejarah pra-modern. Ia mendirikan kerajaan di atas lautan darah — dari Beijing hingga Baghdad, dari Samarkand hingga Kyiv. Para sejarawan memperkirakan kematian akibat penaklukan Mongol mencapai 40 juta jiwa. Sungai-sungai berubah warna merah. Perpustakaan Bagdad — jantung peradaban Islam saat itu — dibakar dan buku-bukunya dilemparkan ke sungai Tigris hingga airnya berwarna hitam dari tinta.
Ketika Netanyahu berkata bahwa Yesus “tidak memiliki keunggulan” atas Jenghis Khan, secara tersirat ia sedang berkata bahwa kelembutan adalah kelemahan, kasih adalah naivitas, dan kebenaran sejati hanya bisa diraih melalui kekuatan paksa. Bagi seorang Kristen yang taat, ini bukan hanya penghinaan terhadap figur agama — ini adalah penolakan terhadap seluruh fondasi iman mereka.
Pastor Munther Isaac dari Betlehem — yang diyakini sebagai kota kelahiran Yesus itu sendiri — merespons dengan kata-kata yang menikam: “Netanyahu, and his Christian Zionist supporters, are making a mockery of the ethics of Jesus.” Ini bukan sekadar kemarahan seorang imam. Ini adalah duka yang mendalam dari seorang warga Palestina yang melihat nama Tuhannya digunakan sebagai legitimasi dari kekuasaan yang menghancurkan tanah leluhurnya.
📖 Paradoks Teologis yang Ditinggalkan Netanyahu
Doktrin Kristen tentang kemenangan Kristus — yang dikenal sebagai Christus Victor — justru menegaskan hal yang berlawanan dari klaim Netanyahu. Yesus tidak kalah karena lemah; Ia menang justru melalui kelemahan yang dipilih secara sadar. Salib bukan simbol kekalahan — ia adalah simbol dari kemenangan yang melampaui logika kekuatan duniawi. Mengatakan Yesus “tidak unggul” atas Jenghis Khan sama artinya dengan tidak memahami — atau sengaja mengabaikan — inti dari teologi Kristen itu sendiri.
Ironi Besar: Menghancurkan Fondasi Aliansi yang Dibutuhkan
Jika ada satu hal yang membuat pernyataan Netanyahu lebih ironis dari sekadar blunder diplomatik, maka itu adalah fakta berikut: dukungan terkuat Israel di Amerika Serikat selama beberapa dekade terakhir datang justru dari kalangan Kristen Evangelikal.
Komunitas Kristen Zionis di Amerika — yang percaya bahwa berdirinya negara Israel adalah pemenuhan nubuat alkitabiah — telah menjadi salah satu kelompok lobi paling berpengaruh dalam politik luar negeri AS. Mereka mendukung pendanaan militer untuk Israel, memilih kandidat presiden yang pro-Israel, dan memberikan legitimasi moral bagi kebijakan yang paling kontroversial sekalipun. Dalam banyak hal, mereka adalah aset geopolitik yang tak ternilai bagi Netanyahu.
Dan dalam satu kalimat, Netanyahu menggores luka di jantung komunitas itulah. Akun konservatif berbasis Kristen di Amerika meledak dengan kemarahan yang tidak terduga. Salah satu yang paling keras: “HOW can ‘Christian Zionists’ continue to reconcile and support a man and country that LITERALLY HATES and MOCKS our Lord and Savior Jesus Christ?”
Ini adalah pertanyaan yang mungkin tidak bisa dijawab dengan mudah. Dan ini adalah keretakan yang mungkin membutuhkan waktu lama untuk diperbaiki — jika memang bisa diperbaiki.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, yang tentu tidak melewatkan momen ini, langsung menuding bahwa pernyataan Netanyahu mencerminkan “penghinaan terbuka terhadap Yesus Kristus” — dan menambahkan betapa anehnya seorang pemimpin yang sangat bergantung pada niat baik umat Kristen Amerika justru melukai perasaan mereka di depan kamera internasional.
Dukungan terkuat Israel selama dekade-dekade terakhir datang dari komunitas Kristen Evangelikal Amerika. Dan dalam satu kalimat, Netanyahu menggores luka tepat di jantung komunitas itu sendiri.— Analisis Geopolitik
“Might Makes Right” — Doktrin Lama Berpakaian Baru
Di balik kontroversi religius, ada sesuatu yang lebih mendasar yang perlu diurai: Netanyahu tidak sedang membuat pernyataan tentang agama. Ia sedang mengumumkan sebuah pandangan dunia.
Pandangan dunia itu bernama realpolitik dalam versi paling telanjangnya — atau dalam bahasa filsafat politik, might makes right: bahwa kekuatan, bukan kebenaran, yang menentukan hasil sejarah. Bahwa moralitas adalah kemewahan yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang sudah menang. Bahwa di dunia ini, hanya ada dua pilihan: menjadi Jenghis Khan, atau menjadi korban Jenghis Khan.
Ini bukan pandangan yang asing. Thucydides menulis versi serupa dalam Dialogue of the Melians: “the strong do what they can and the weak suffer what they must.” Machiavelli mempopulerkannya. Nietzsche memperdalamnya. Dan kini, di tahun 2026, ia diucapkan dari podium seorang perdana menteri yang sedang memimpin negaranya ke dalam perang yang paling berbahaya sejak pendiriannya.
Yang membuat ini lebih mengkhawatirkan bukan bahwa Netanyahu memegang pandangan ini secara pribadi — banyak pemimpin militer memegang versi yang sama. Yang mengkhawatirkan adalah bahwa ia mengucapkannya secara publik, sebagai justifikasi resmi, dalam konteks yang sangat spesifik: untuk membenarkan serangan preventif terhadap Iran yang telah memulai eskalasi regional.
Dengan kata lain: ia tidak sedang mengutip Durant untuk menjelaskan sejarah. Ia sedang menggunakan Durant untuk menjelaskan dirinya sendiri — dan kebijakan yang ia pilih.
Kritik Teologis: Iman yang Dibenturkan dengan Logika Kuasa
Para teolog Kristen yang merespons pernyataan ini tidak sekadar marah karena perasaan mereka terluka. Mereka marah karena, dari kacamata teologi, pernyataan Netanyahu mengandung kesalahan yang sangat mendasar tentang cara kerja sejarah dan cara kerja Tuhan di dalam sejarah.
- Pertama, soal definisi “menang.” Netanyahu mendefinisikan kemenangan sebagai kelangsungan hidup secara fisik dan militer. Dalam kerangka ini, Jenghis Khan menang karena kerajaannya bertahan. Yesus kalah karena Ia mati disalibkan. Tetapi dalam kerangka teologi Kristen, definisi “menang” ini adalah reduksi yang fatal. Kemenangan Kristus bukan dihitung dari berapa banyak wilayah yang ditaklukkan, melainkan dari berapa banyak hati yang diubahkan. Dan dua ribu tahun kemudian, 2,4 miliar orang masih menyebut nama-Nya — sementara Kekaisaran Mongol sudah menjadi abu sejarah.
- Kedua, soal “kekuatan yang menentukan.” Teologi Kristen — khususnya dalam doktrin Christus Victor yang dirumuskan oleh Gustaf Aulén — justru mengajarkan bahwa kekuatan tertinggi bukan kekuatan senjata, melainkan kekuatan kasih yang rela berkorban. Salib bukan simbol kelemahan yang memalukan; ia adalah senjata yang paling berbahaya karena ia mengalahkan kejahatan dari dalam — bukan dengan membalas kekerasan dengan kekerasan, tetapi dengan menyerap kekerasan itu dan mengubahnya menjadi kasih karunia.
- Ketiga, dan mungkin yang paling menusuk: bahwa logika Netanyahu — jika diteruskan ke konsekuensi logisnya — tidak hanya menafikan Yesus. Ia menafikan seluruh tradisi etika yang lahir dari iman Abrahamik, termasuk yang ada dalam Yudaisme itu sendiri. Para nabi Israel — Amos, Yesaya, Mikha — justru berdiri di hadapan raja-raja yang kuat dan berkata: “Keadilan, bukan kekuatan, yang Tuhan tuntut darimu.” Netanyahu, tanpa sadar, sedang berdiri di sisi yang berlawanan dengan nabi-nabi leluhurnya sendiri.
🕯 Suara dari Betlehem
“Netanyahu dan pendukung Zionis Kristen-nya sedang mempermalukan etika Yesus. Pernyataannya tidak hanya membandingkan Yesus dengan Jenghis Khan, tetapi juga menyiratkan bahwa jalan Yesus adalah naivitas, sementara pendekatan ‘yang kuat yang benar’ adalah yang sesungguhnya membiarkan kebaikan mengalahkan kejahatan.”
— Pastor Munther Isaac, Gereja Lutheran Betlehem, Palestina
Doktrin Christus Victor (Kristus Sang Pemenang)
Doktrin Christus Victor (Kristus Sang Pemenang) adalah pandangan mengenai penebusan dosa yang dipopulerkan kembali oleh teolog Swedia, Gustaf Aulén, melalui bukunya yang berpengaruh pada tahun 1931, “Christus Victor: An Historical Study of the Three Main Types of the Idea of Atonement”.
- Definisi Inti: Penebusan dipahami sebagai kemenangan Kristus atas kuasa-kuasa kegelapan—dosa, kematian, dan Iblis—yang membelenggu manusia. Ini bukan sekadar transaksi hukum, melainkan sebuah peperangan dan kemenangan dramatis.
- Fokus Teologi: Aulén berpendapat bahwa pandangan ini adalah pemahaman yang dominan di gereja mula-mula (Bapa Gereja) dan teologi Lutheran awal, berbeda dengan model “penggantian hukuman” (penal substitution) yang dominan di Barat sejak abad pertengahan.
- Kemenangan, Bukan Hukuman: Dalam Christus Victor, salib bukanlah tempat di mana Allah murka dan menghukum Yesus, melainkan tempat di mana Allah di dalam Kristus berdamai dengan dunia dan mengalahkan kuasa jahat yang menawan manusia.
- Rekonsiliasi (Pendamaian): Kemenangan ini membebaskan manusia dari perbudakan kuasa dosa dan kematian, sehingga memungkinkan hubungan yang baru dan bebas antara manusia dengan Allah.
- Peran Yesus: Yesus dipandang sebagai Pemenang yang menembus belenggu iblis melalui kematian dan kebangkitan-Nya.
Aulén berusaha mengembalikan fokus pada aspek “drama” dan kemenangan dalam karya keselamatan, yang menurutnya sering hilang dalam perdebatan hukum mengenai penebusan dosa.
Pola yang Berulang — Kali Ini Lebih Mahal Harganya
Ini bukan pertama kalinya Netanyahu menggunakan kutipan Durant yang sama. Ia juga mengucapkannya pada Oktober 2023, tak lama setelah serangan Hamas 7 Oktober, sebagai framing untuk mendefinisikan konflik Gaza sebagai perang peradaban melawan barbarisme. Saat itu, kutipan itu mencapai tujuannya: ia memosisikan Israel sebagai benteng moralitas yang terpaksa menggunakan kekerasan demi bertahan hidup.
Namun pada Maret 2026, konteksnya telah berubah secara dramatis. Israel tidak lagi dalam posisi defensif yang mudah dijelaskan. Serangan terhadap Iran pada Februari 2026 adalah tindakan preventif — sebuah pilihan strategis yang memiliki korban di kedua sisi dan yang memantik eskalasi regional. Dalam konteks inilah kutipan yang sama terasa berbeda: bukan lagi sebagai pembelaan diri yang simpatik, melainkan sebagai deklarasi doktrin perang yang provokatif.
Dan ketika yang dikutip adalah Yesus Kristus — sosok yang namanya dipanggil oleh mayoritas sekutu paling penting Israel — maka kalkulasinya berubah total. Ini bukan lagi soal apakah kutipan itu akurat secara historis. Ini soal apakah seorang pemimpin memiliki kebijaksanaan untuk mengetahui kapan harus diam.
Apa yang Sesungguhnya Sedang Dipertaruhkan
Di atas semua kontroversi diplomatik dan teologis, ada satu pertanyaan yang lebih dalam yang dibuka oleh pernyataan Netanyahu — pertanyaan yang melampaui satu kalimat dari satu podium di Jerusalem.
Pertanyaan itu adalah: Apakah kita, sebagai umat manusia di abad ke-21, masih percaya bahwa ada sesuatu yang lebih tinggi dari kekuatan militer yang menentukan arah sejarah?
Jika jawabnya tidak — jika kita setuju dengan Netanyahu bahwa kebaikan tanpa kekuatan adalah naivitas yang berbahaya, dan bahwa Jenghis Khan dan Yesus pada akhirnya setara dalam “ketidakmampuan mereka melawan kejahatan” — maka implikasinya mengerikan. Maka setiap tindakan agresi yang dilakukan oleh yang kuat adalah justifikasi dirinya sendiri. Maka hukum internasional adalah ilusi. Maka hak asasi manusia adalah kemewahan yang hanya berlaku ketika kekuatan mengizinkannya.
Ini bukan hiperbola. Ini adalah konsekuensi logis dari doktrin yang diumumkan Netanyahu dari podiumnya. Dan ketika doktrin itu diucapkan bukan dalam buku teks filsafat tetapi dalam konferensi pers oleh seorang kepala negara yang sedang memimpin perang, maka ia berhenti menjadi abstrak dan menjadi nyata — senyata peluru yang menembus daging.
Para teolog dan pastor yang marah bukan sekadar membela nama Tuhan mereka dari penghinaan. Mereka secara intuitif menangkap sesuatu yang penting: bahwa ketika seorang pemimpin negara secara terbuka menyatakan bahwa “jalan Yesus adalah naivitas,” ia sedang memberi sinyal bahwa baginya, tidak ada etika yang lebih tinggi dari kepentingan nasional yang didukung oleh kekuatan militer. Dan sinyal itu, dalam konteks perang yang sedang berlangsung, adalah sinyal yang harus diwaspadai oleh semua orang.
Penutup: Kalimat yang Tidak Bisa Ditarik Kembali
Netanyahu berkata: “No offense was meant.” Mungkin ia benar. Mungkin ia benar-benar tidak bermaksud menyinggung umat Kristen. Tapi dalam politik — seperti dalam teologi — niat tidak selalu menentukan dampak. Yang menentukan dampak adalah kata-kata yang terucap, konteks di mana ia terucap, dan telinga yang mendengarnya.
Dan kata-kata itu kini telah menyebar, telah ditonton 25 juta kali, telah dibaca di gereja-gereja di Tennessee dan Texas, di kapel-kapel di Seoul dan Lagos, di biara-biara di Roma dan Jerusalem — sebuah Jerusalem yang ironinya adalah kota tempat Yesus itu sendiri dihukum mati oleh kekuatan negara yang pada zamannya juga percaya bahwa kekuatanlah yang menentukan segalanya.
Sejarah punya cara yang aneh untuk berulang. Romawi percaya pada kekuatan. Kekuatan itu menyalibkan seorang pengkhotbah Yahudi dari Nazareth. Dan dua ribu tahun kemudian, nama pengkhotbah itu masih bergema di setiap sudut bumi — sementara Roma sudah menjadi museum.
Siapa yang “tidak memiliki keunggulan” di sini?
Itulah pertanyaan yang mungkin Netanyahu lupa untuk memasukkannya ke dalam kutipan Will Durantnya.
Ketika seorang pemimpin negara menyatakan bahwa “jalan Yesus adalah naivitas,” ia sedang memberi sinyal bahwa tidak ada etika yang lebih tinggi dari kepentingan nasional yang didukung kekuatan militer. Dalam konteks perang yang sedang berlangsung, itu adalah sinyal yang berbahaya.
JM
3 thoughts on “Ketika Tuhan Dibanding-bandingkan: Netanyahu, Yesus, dan Logika Kekerasan yang Menjadi Doktrin”
Comments are closed.